
Rakha langsung menghampiri Ayunda, dia tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh mahasiswa nantinya, dia ingin menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka saat ini.
"Ayun," lirih Rakha saat dia sudah berdiri berhadapan.
"Tidak perlu katakan apa-apa sekarang, kita bisa selesaikan masalah ini di rumah," ujar Ayunda bijak.
Ayunda tidak mau teman-teman di kampus mencurigai hubungan dirinya dan Rakha.
"Baiklah, sekarang kamu main ke rumah Erika dulu, nanti aku jemput ke sana," ujar Rakha.
"Erika, aku titip Ayunda, ya," ujar Rakha lagi pada Erika.
"Baik, Tuan muda," sahut Erika.
Setelah itu Ayunda dan Erika pun melangkah menuju parkiran.
Ayunda berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis. Dia berusaha menenangkan dirinya, dia juga berusaha untuk berpikiran positif pada suaminya.
Sesampai di rumah Erika, Ayunda takjub melihat rumah Erika, dia terlihat hidup berkecukupan.
Selama Ayunda kenal Erika baru kali ini dia main ke rumah Erika karena setiap kali pulang sekolah atau kuliah dia langsung ke rumah tuan Adhitama karena begitulah perintah dari tuan Adhitama.
"Wah, rumah kamu besar juga ya, Rik." Ayunda mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah Erika.
"Alhamdulillah, sejak papa pergi, tuan Adhitama tidak lupa memberikan kami uang bulanan dengan jumlah yang sangat besar sehingga kami bisa hidup seperti ini, rumah pun beliau yang belikan," ujar Erika menceritakan kehidupannya.
Saat ini, Erika tinggal bersama ibu dan adiknya.
Kesejahteraan mereka sudah ditanggung oleh tuan Adhitama, jadi ibu Erika tidak perlu susah payah mencari pekerjaan untuk kehidupannya.
Ayunda semakin kagum dengan papa mertuanya itu, hati pria itu benar-benar bagaikan permata.
Dia mau membantu siapa pun tanpa kenal bulu, Ayunda pun semakin bersyukur dipertemukan Allah dengan tuan Adhitama yang baik hati.
"Yuk, ikut gue, kayaknya nyokap lagi di taman belakang," ajak Erika.
Erika menarik lengan Ayunda dan membawa Erika ke taman belakang.
Ayunda pun mengikuti langkah sahabatnya menuju kamar belakang.
"Assalamu'alaikum, Ma." Erika langsung duduk di samping mamanya yang kini sedang asyik menyulam.
"Wa'alaikummussalam," jawab mama Erika.
__ADS_1
Mama Erika menoleh ke arah putrinya, lalu dia juga melihat Ayunda yang berdiri tak jauh dari tempat Erika.
"Ma, kenalkan ini. Ayunda yang sering aku ceritain sama mama, baru kali ini aku bisa bawa Ayunda ke sini," ujar Erika memperkenalkan Ayunda pada mamanya.
"Salam kenal, Tante," ujar Ayunda sambil mengulurkan tangannya.
"Jangan panggil Tante, ah. Panggil mama saja," ujar Aisyah, wanita yang telah melahirkan Erika.
"Eh, iya, Ma." Ayunda pun hendak duduk di samping Erika.
"Jangan duduk di sana, sini di samping mama," ujar Aisyah dengan penuh rasa kasih sayang.
Aisyah menepuk bangku panjang sisi kanannya, agar dia duduk di antara dua wanita bersahabat itu.
"Mama senang kamu bisa main ke sini, mama sudah lama ingin bertemu dengan kamu," ujar Aisyah.
Aisya teringat dengan cerita Erika yang bilang kalau Orang tua Ayunda tega menjual dirinya pada tuan Adhitama untuk membayar hutang mereka. Makanya, Aisyah ingin berbagi kasih sayang pada wanita malang itu.
Ayunda merasa terharu mendapat perlakuan hangat dari mama Erika, dia menyesal baru bisa bertemu dengan mama Erika sekarang.
Jika dia mengenal mama Erika sejak lama maka dia akan mendapatkan kasih sayang dari mama Erika sejak lama.
"Mhm, maaf, Ma. Baru kali ini aku bisa keluar dari rumah papa, aku takut papa marah kalau aku keluyuran," ujar Ayunda.
"Udah sore, kamu makan malam di sini ya, Nak. Mama masakin kamu makanan spesial," ujar Aisyah dengan penuh kasih sayang.
"Mhm, boleh, Ma." Ayunda mengangguk.
Sementara itu Rakha kini tengah duduk di sebuah bangku taman tugu merpati, dia menunggu kedatangan wanita yang sudah berani meneror dirinya.
Rakha harus menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh wanita yang sudah ditolongnya itu.
Dia merasa menyesal menolong wanita itu.
"Lebih baik waktu itu aku membiarkannya mati," gumam Rakha di dalam hati.
"Aku pikir kamu tidak akan datang," ujar Ratih yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Ratih duduk tepat di samping Rakha.
"Ternyata kamu sangat mencintaiku, sehingga kamu masih peduli denganku," ujar Ratih tak tahu diri.
"Aku tidak mau banyak cerita. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Rakha terus terang.
__ADS_1
Rakha tidak mau berlama-lama bertemu dengan wanita yang kini dibencinya.
"Hahaha, aku tidak minta banyak. Aku hanya ingin kamu menikah denganku," ujar Ratih santai.
Rakha membulatkan matanya, dia tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh wanita tak tahu diri itu.
"Kamu jangan mengada-ada, aku tidak bisa menikah denganmu, karena aku sudah memiliki istri yang sangat kusayangi," bantah Rakha menggelengkan kepalanya.
"Hanya satu itu permintaanku, aku ingin kamu bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam rahimku," ujar Ratih dengan lantang.
"Astaghfirullahal'adzim, ini tidak mungkin!" teriak Rakha frustasi.
"Jika kamu tidak mau bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandunganku, maka aku akan mengedarkan semua foto-foto mesra kita ke seluruh media sosial," ujar Ratih mengancam Rakha lagi.
Rakha terdiam dia tampak berpikir keras.
Dia tidak mau mengambil keputusan dengan gegabah, Rakha harus melakukan sesuatu agar dia bisa menyelesaikan masalah ini tanpa mencoreng nama baiknya sebagai dosen terbaik di Universitas Andalas.
"Kamu bisa berpikir terlebih dahulu, aku akan memberimu waktu satu Minggu untuk menjawab permintaanku," ujar Ratih.
Setelah itu Ratih pun berdiri lalu dia meninggalkan Rakha yang kini masih terpaku.
Rakha mulai memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ya Allah, bantu hamba dalam menyelesaikan masalah ini, jangan sampai aku terjebak dalam pernikahan yang sama sekali tidak aku ketahui asal usul wanita itu," gumam Rakha.
Seketika Rakha mendapatkan suatu ide, lalu dia pun berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Rakha melangkah menuju parkiran, dia langsung masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobilnya langsung menuju rumah Erika.
Rakha sudah tak sabar untuk bertemu dengan istrinya, dia tidak ingin Ayunda salah paham terhadapnya, dia juga tidak mau Ayunda bersedih karena masalah ini.
Sepanjang perjalanan pikirannya hanya tertuju pada Ayunda, di saat dia ingin cepat di saat itu pula Rakha terjebak macet karena memang biasanya pada pukul 18.00-19.00 kawasan pusat kota memang sering terjadi macet.
Rakha sampai di rumah Erika setelah maghrib, kebetulan Rakha sudah berhenti shalat di mesjid yang ditemuinya di jalan menuju rumah Erika.
"Assalamu'alaikum," ucap Rakha saat dia telah berdiri di depan pintu rumah Erika.
"Sepertinya itu tuan muda, mama bukain pintu dulu, ya." Aisyah menghentikan pekerjaannya memghidang makanan di atas meja makan.
Dia melangkah menuju pintu rumah, setelah itu membawa masuk Rakha langsung ke ruang makan untuk ikut makan malam bersama.
Rakha langsung memeluk Ayunda saat dia melihat sang istri.
__ADS_1
Bersambung...