
Sepanjang pelajaran berlangsung, Baim masih saja memikirkan siapa sebenarnya Ayunda, dan Baim sama tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru, tatapannya tertuju ke depan kelas tapi pikirannya melayang entah ke mana.
Sebenarnya Baim mulai merasa penasaran dengan kehidupan Ayunda, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Ayunda dan Erika sangatlah tertutup.
Melihat cara Erika yang menjaga Ayunda secara ekstra membuat Baim tidak bisa mendekati Ayunda lebih dekat.
"Baim," panggil Guru yang sedang mengajar.
Hal ini membuat semua mata yang ada di kelas itu tertuju pada Baim.
Baim kaget saat mendengar namanya disebut oleh guru yang sedang mengajar.
"Mhm, i-iya, Buk," lirih Baim.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tolong jelaskan kembali materi yang baru saja ibu jelaskan," ujar Bu guru pada Baim.
"Hah?" Baim bingung.
Dia sama sekali tidak tahu apa yang baru saja dijelaskan oleh gurunya.
"Mhm," gumam Baim sambil menggaruk kepalanya.
"Berdiri! Makanya kalau guru menjelaskan pelajaran itu didengar bukannya melamun," nasehat bu guru kepada Baim.
Ayunda menoleh ke arah Baim, dia heran melihat sikap Baim.
"Apa yang terjadi pada Baim? biasanya dia selalu fokus selama pelajaran berlangsung," gumam Ayunda merasa kasihan pada Baim yang mendapat hukuman dari bu guru.
Baim boleh duduk setelah mata pelajaran kimia berakhir. bu guru menyuruh Baim untuk duduk sebelum dia meninggalkan kelas.
"Im, tumben lu bengong?" tanya Erika pada Baim di waktu istirahat.
"Mhm, kebetulan gue lagi nggak fokus," jawab Baim asal.
Ayunda menautkan kedua alisnya, dia merasa ada sesuatu yang beda pada Baim hari ini.
"Apakah kamu ada masalah?" tanya Ayunda pada Baim.
Baim hanya bisa menggelengkan kepalanya.
****
__ADS_1
Saat waktu pulang sekolah tiba, Ayunda langsung melangkah menuju gerbang sekolah, dia langsung mendapati mobil Rakha yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah.
Gadis belia itu langsung melangkah menuju mobil Rakha, tanpa basa-basi dia masuk ke dalam mobil.
Saat berada di dalam mobil Ayunda meraih tangan Rakha lalu menyalami tangan suaminya dan tak lupa pula mencium punggung tangan sang suami.
Dari kejauhan Baim melihat apa yang dilakukan oleh Ayunda. meskipun Ayunda telah mengatakan bahwa Raka adalah abangnya, Baim tidak bisa percaya begitu saja, bahkan dia mengingat Ayunda memutuskannya di saat dia tak lagi pergi sekolah berbarengan dengan Erika.
"Apakah Ayunda memiliki hubungan khusus dengan pria itu?" tanya Baim di dalam hati.
"Kamu ganti bajunya di SPBU aja, ya," ujar Rakha.
Mengingat perjalanan menuju desa Ayunda yang harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam hingga 6 jam, Rakha tidak mau sampai di desa saat hari sudah gelap.
Ayunda hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang suami.
Tak berapa lama perjalanan mereka berhenti di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar, dan saat itu Rakha menyuruh Ayunda mengganti seragam sekolah yang dikenakannya.
"Pergilah, aku akan menunggumu di sini," ujar Rakha pada Ayunda.
Ayunda mengambil tas yang berisi pakaian miliknya, lalu dia turun dari mobil.
Gadis itu melangkah menuju toilet umum yang ada di SPBU tersebut.
Ayunda masuk ke dalam toilet, dia langsung mengganti pakaiannya. Dia sendiri memang merasa gerah mengenakan seragam sekolah untuk melakukan perjalanan jauh.
"Ayun, kita duduk di belakang," ujar Rakha saat Ayunda hendak membuka pintu mobil bagian depan.
Rakha kini telah duduk anteng di bangku belakang, ayo menoleh ke arah Rakha, sedangkan Anton kini yang telah duduk di bangku kemudi.
Rakha sengaja membawa Anton, karena dia tidak ingin lelah mengendarai mobil seorang diri, lagi pula Rakha juga tidak paham dengan rute perjalanan yang akan mereka kunjungi.
Akhirnya Ayunda beralih ke pintu mobil bagian belakang, dia duduk di samping Rakha.
Anton baru saja diantar oleh rekan kerjanya, mereka sudah berjanji akan bertemu di SPBU tersebut.
Anton pun mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Ayunda dan Rakha duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Perlahan mobil pun meninggalkan kota Padang. Baru saja satu jam perjalanan, Ayunda merasa sangat pusing. Ayunda tidak kuat lagi, dan dia bersiap hendak memuntahkan isi perutnya.
"Anton, berhenti!" seru Rakha saat melihat Ayunda tengah susah payah menahan gejolak dari dalam perutnya.
Seketika Anton menghentikan mobilnya, tak menunggu lama Ayunda langsung keluar dari mobil. Lalu dia pun mulai memuntahkan gelombang yang tak tertahan dari dalam perutnya.
__ADS_1
"Hoeks." Susah payah Ayunda menanggung rasa mual seorang diri.
Dia terlihat kesal pada Rakha yang tampak cuek pada dirinya, seolah-olah Ayunda dan Rakha tak memiliki hubungan apa-apa.
"Sudah?" tanya Rakha pada Ayunda saat istrinya itu membuka pintu mobil.
Ayunda hanya diam, dia menatap kesal pada Rakha. Dia masuk ke dalam mobil, lalu duduk kembali di samping Rakha.
"Nih," lirih Rakha pada Ayunda.
Rakha menyodorkan tisu pada Ayunda. Ayunda mengambil tisu itu, dia masih menatap kesal pada Rakha.
"Mungkin kamu memang tidak menganggap aku siapa-siapa dalam hidupmu," gumam Ayunda di dalam hati.
"Nih, minumlah." Rakha memberikan sebotol air mineral serta satu tablet anti mual.
"Minumlah, supaya kamu merasa lebih enakan," lirih Rakha masih dengan nada datarnya.
Rakha menatap dalam pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Dia bertanya-tanya di dalam hati seperti apakah karakter pria yang telah dinikahinya itu.
Terkadang cuek, dan terkadang perhatian tidak jelas. Hal ini membuat Ayunda bingung bersikap terhadap suaminya.
"Ambillah, obat ini akan menghilangkan rasa mual yang kamu rasakan," ujar Rakha.
Ayunda mengambil obat itu, lalu dia pun meminumnya. Tak berapa lama setelah Ayunda meminum obat itu, Ayunda merasa kantuk mulai melandanya.
Dengan susah payah dia menahan rasa kantuk itu, tapi dia pun tertidur.
Ayunda menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat duduknya, tapi sesekali kepalanya jatuh miring ke arah posisi Rakha.
Melihat hal itu, Rakha pun berinisiatif untuk merebahkan Kepala Ayunda ke pahanya.
Dia membiarkan Ayunda terlelap di atas pahanya yang kekar. Di alam bawah sadarnya Ayunda merasakan kenyamanan dan kehangatan menyelinap di hatinya saat mendapatkan perlakuan manis dari sang suami.
Ayunda juga dapat merasakan aroma tubuh Rakha yang menyeruak dari tubuh kekarnya, hal itu membuat Ayunda semakin nyenyak dalam tidurnya.
Dia merasa enggan untuk terjaga, dan terus menikmati sikap manis sang suami.
Rakha menatap dalam pada wajah polos gadis belia yang terlelap di atas pangkuannya, Rakha merasa iba dan kasihan padanya.
Rakha mengingat penderitaan hidup Ayunda yang diceritakan oleh papanya beberapa hari yang lalu.
Tanpa disadarinya, Rakha mengangkat tangannya lalu mengelus lembut kepala sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Apa? Dia mengelus kepalaku," lirih Ayunda.
Bersambung...