
Sementara itu Ayunda disekap di sebuah rumah kosong, rumah itu terlihat lusuh dan kotor, dia terbangun karena obat bius yang diberikan padanya telah hilang.
Dia membuka matanya perlahan-lahan lalu dia memperhatikan ke sekitarnya.
Dia tak dapat melihat apa-apa karena ruangan itu sangat minim pencahayaan.
"Di mana aku sekarang?" lirih Ayunda.
Ayunda ingin bergerak tapi dia baru menyadari saat ini tangan dan kakinya tengah diikat.
Dia kini terbaring di atas tempat tidur, dengan kedua tangannya diikat di ujung tempat tidur. Begitu juga dengan kakinya.
"Astaghfirullah, aku di mana? Kenapa aku bisa berada di sini?" gumam Ayunda di dalam hati.
Ayunda berusaha mengedarkan pandangannya di ruang yang redup itu, dia tidak bisa melihat apa pun di sana, dia juga tidak melihat ada orang di rumah itu.
"Di mana aku?" lirih Ayunda.
"Aaaa." Ayunda berusaha berteriak berharap ada yang mendengarnya.
Dia terus berteriak.
"Tolong!" teriak Ayunda lagi.
Berkali-kali dia berteriak tak satu pun orang yang datang untuk menolongnya. Jantungnya mulai berdetak dengan kencang, dia mulai merasa takut.
"Ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa aku sampai berada di sini," lirih Ayunda mulai menangis.
Dia pun melihat ke arah tangannya yang kini terikat, meskipun dia tak dapat melihat dengan jelas, Ayunda berusaha membuka tali yang mengikat tangannya.
Berkali-kali dia berusaha membuka tali itu, tapi dia masih saja tidak bisa membukanya. Simpul tali yang mengikat tangan Ayunda terlihat begitu kuat.
Pergelangan tangannya mulai memerah dan terasa sangat sakit, akhirnya Ayunda pun pasrah. Dia berharap seseorang akan datang menolong dirinya.
Satu jam berlalu, tak seorang pun yang datang menghampirinya.
"Ya Allah, siapa yang membawa aku ke sini? Siapa yang tega mengurungku di tempat asing seperti ini," lirih Ayunda.
"Apakah aku akan mati di sini?" Ayunda mulai memikirkan hal-hal yang tidak diinginkannya.
Buliran bening kini mulai jatuh membasahi pipinya.
Malam semakin larut, ruangan tempat Ayunda berada kini terlihat semakin gelap tanpa ada pencahayaan sedikitpun.
__ADS_1
Suara binatang malam pun terdengar saling menyahut, dia menutup matanya di dalam gelapnya ruangan itu.
Ayunda tidak tahu harus berbuat apa lagi, rasa takut terus menghantui dirinya. Hingga akhirnya dia pun tak sadarkan diri karena rasa takut yang terus menghantuinya dan juga rasa lelah tak bertenaga karena belum satu pun makanan yang masuk ke dalam perutnya kecuali tadi pagi saat dia hendak berangkat ke kampus.
Malam pun berlalu tanpa disadari Ayunda yang hilang kesadaran sejak tadi malam, hingga pagi pun datang.
Cahaya mentari mulai menyelinap di sela-sela jendela ruangan itu, kini sinar matahari menyilaukan mata Ayunda sehingga Ayunda pun terbangun dari tidurnya, bisa dibilang dari pingsannya.
Dia masih seorang diri di ruangan itu, dia tidak melihat seorang pun datang menemuinya di sana.
Ayunda semakin bingung dengan apa yang menimpanya, Ayunda kembali melihat tali yang mengikat tangannya, kini pergelangan tangannya mulai terlihat berdarah karena dia terus berusaha untuk melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
****
Sementara itu Rakha dan Robby tidak menemukan Ayunda di rumah kontrakan yang waktu itu dikunjungi Ratih, mereka hanya mendapatkan informasi bahwa seorang pria tinggal di rumah kontrakan itu, tapi mereka tidak tahu siapa pria yang menempati rumah tersebut.
"Bagaimana, Rob? Sudah ada kabar dari teman-temanmu?" tanya Rakha pada Robby.
Rakha sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sudah satu hari tak ditemukan.
"Belum, hanya saja,--" Robby menggantung ucapannya.
Dia terlihat memikirkan cara bagaimana menyampaikan informasi dari temannya itu agar Rakha percaya.
"Hanya saja apa? Katakan padaku!" desak Rakha pada Robby.
"Tidak mungkin, ini semua pasti ada hubungannya dengan Ratih," bantah Rakha.
Rakha tidak percaya apa yang dikatakan oleh Robby, mana mungkin ada orang lain yang ingin menjauhkan dirinya dari Ayunda selain Ratih, saat ini hanya Ratih yang sangat berambisi untuk mendapatkan dirinya.
"Tapi, kami tetap memantau apa yang dilakukan oleh Ratih," ujar Robby berusaha menenangkan Rakha.
"Robby, ini sudah satu hari Ayunda tidak ditemukan, kali ini bukan dia yang kabur, tapi Ayunda diculik," ujar Rakha tak bisa tenang.
"Iya, Bro. Kita akan tetap cari lokasi Ayunda saat ini." Robby mulai berpikir.
"Apakah Ayunda membawa ponsel?" tanya Robby saat teringat sesuatu.
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa." Rakha pun hendak mencoba menghubungi nomor ponsel Ayunda, tapi Robby menghalanginya.
Robby takut penculik Ayunda mengetahui ponsel Ayunda berdering.
Robby pun meminta nomor ponsel Ayunda pada Rakha, lalu dia pun mengirimkan nomor tersebut pada temannya yang jago dalam dunia IT.
__ADS_1
Mereka melacak keberadaan nomor ponsel tersebut, berharap saat ini ponsel Ayunda masih aktif.
"Ganbate!" seru Robby saat mendapat pesan dari temannya.
"Gimana, Rob? Ada kabar tentang Ayunda?" tanya Rakha pada Robby mendengar seruan Robby.
"Mhm, iya. Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Robby.
Rakha dan Robby pun langsung masuk ke dalam mobil.
Kini Robby yang mengendarai mobilnya, dia mengarahkan mobilnya ke daerah Lubuk Minturun.
Robby mendapatkan informasi saat ini ponsel Ayunda tengah berada di daerah Lubuk Minturun, jadi mereka akan mencari Ayunda ke arah yang disebutkan oleh teman Robby tersebut.
Sambil berkomunikasi dengan temannya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Cepat, Rob!" seru Rakha.
Kecepatan mobil Rakha sudah di atas rata-rata, dia masih merasa laju mobil itu masih pelan karena saking ingin cepat bertemu dengan istrinya.
"Ini sudah di atas 100 km/jam, Kha," ujar Robby.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu istriku, aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Rakha pada Robby.
"Kamu tenang, dan jangan lupa terus berdo'a. Semoga Ayunda baik-baik saja," ujar Robby.
Konsentrasi Robby terganggu karena berbicara dengan Rakha.
Bruk Brakk.
Robby tak sengaja melindas lubang, bersyukur dengan cepat dan kuat Robby mengendalikan stir mobil, sehingga tak terjadi apa-apa pada mereka.
Setelah kejadian itu, Rakha menjadi diam, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya sedangkan Ayunda belum ditemukan.
Robby juga diam, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju lokasi yang ditunjukkan pada mereka.
Setengah jam perjalanan mereka pun sampai di lokasi yang ditunjukkan oleh teman Robby.
Saat mereka sampai di tempat tujuan, Robby dan Rakha turun dari dalam mobil, mereka melangkah lalu terlihat Robby menyusuri jalan setapak.
Rakha mengikuti langkah Robby yang terus berkomunikasi dengan temannya.
Mereka sudah memasuki kawasan hutan, setelah mereka melangkah sekitar 20 menit.
__ADS_1
Mereka mendapati seorang pria duduk di sebuah batu besar.
Bersambung...