
Ayunda menganggukkan kepalanya, dia mencoba untuk mempercayai suaminya.
Rakha tersenyum, lalu dia merangkul tubuh istrinya dengan erat.
Rakha mulai bersyukur memiliki istri yang baik seperti Ayunda. Dukungan dari Ayunda membuat Rakha yakin bahwa Ayunda adalah istri terbaik dalam hidupnya.
Setelah itu mereka pun beranjak tidur, berusaha memejamkan mata mengistirahatkan tubuh dan mata serta otak dari berbagai masalah yang tengah mereka hadapi.
Keesokan harinya, mereka memulai aktivitas seperti biasanya. Rakha mengantarkan Ayunda ke kampus, berhubung pagi ini Rakha tidak memiliki jadwal mengajar Rakha menurunkan Ayunda tak jauh dari gedung Fakultas.
"Sayang, aku harus menemui seseorang. Kamu masuk duluan, ya," ujar Rakha sambil mengusap lembut kepala istrinya.
"Kamu mau ke mana, Bang?" tanya Ayunda.
"Aku harus meminta bantuan temanku untuk mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang bernama Ratih," jawab Rakha.
"Oh, ya udah, kalau begitu. Kamu hati-hati ya, Bang," ujar Ayunda.
"Mhm, iya." Rakha pun mengecup lembut puncak kepala Ayunda.
Ayunda menyalami dan menciumi punggung tangan sang suami, setelah itu dia turun dari mobil, lalu melangkah masuk menuju kelas.
Rakha kembali melanjutkan mobilnya setelah memastikan sang istri masuk ke dalam gedung fakultas.
Dia berencana akan menemui teman lamanya.
Hampir 30 menit perjalanan Raka pun sampai di daerah pasir Jambak, yang mana temannya itu bekerja serabutan di pesisir pantai bagian pasir Jambak.
Rakha yakin temannya itu pasti ada di tempat karena setiap kali Rakha mencarinya dia selalu ada di lokasi pesisir.
Rakha memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah kayu yang terlihat sangat sederhana, dia turun dari mobilnya.
Lalu Rakha melangkah menuju belakang rumah tersebut, di sana dia melihat seorang pria yang seumuran dengannya yang kini terlihat semakin kurus, kulitnya pun mulai semakin hitam karena terus menentang panasnya terik matahari.
Rakha melihat pria itu tengah membolak-balikkan ikan asin yang sedang dijemurnya.
"Sepertinya usahamu ini semakin maju, sampai-sampai kamu tidak menyadari kehadiranku," ujar Rakha setelah berada di samping pria tersebut.
Si pria menolehkan wajahnya ke arah asal suara yang menyapa dirinya.
__ADS_1
Dia membulatkan matanya saat melihat sosok sahabat karibnya sewaktu SMA kini berada tepat di hadapannya.
"Rakha!" pekik si pria itu senang.
"Bagaimana kabarmu, Rob?" tanya Rakha dengan senyuman di wajahnya.
Rakha hendak memeluk tubuh Robby yang penuh keringat, tapi Robby menghalanginya.
"Maaf, Bro. Aku kotor banget, nih," ujar Robby.
"Ayo, ke rumah," ajak Robby.
Robby pun mengajak Rakha melangkah menuju pondok kecil yang dimilikinya.
Di belakang rumah itu terdapat sebuah bangku panjang yang biasa digunakan Robby untuk beristirahat sambil menjaga ikan-ikan yang sedang dijemurnya.
"Ada apa gerangan kamu datang ke sini?" tanya Robby pada Rakha.
Robby tahu betul bagaimana kesibukan Rakha sehari-hari. Dia tahu bahwa Rakha tidak akan mencarinya ke gubuk kecilnya jika tidak ada suatu hal yang penting.
"Mhm, aku rindu padamu," ujar Rakha jujur.
Rakha sering kali mengajak Robby bekerja di perusahaan papanya, tapi Robby menolak karena dia tidak mau berhenti berusaha dengan mengolah ikan laut menjadi ikan asin, karena ini adalah pekerjaan yang ditekuni kedua orang tuanya.
Dengan melanjutkan usaha kedua orang tuanya.
Saat Robby baru saja tamat SMA, kedua orang tuanya meninggalkan dunia, lalu dia pun tak lagi melanjutkan kuliahnya.
Robby memilih untuk melanjutkan pekerjaan kedua orang tuanya, karena tidak mau melihat pelanggan setia kedua orang tuanya kecewa tidak ada pasokan ikan asin dari keluarganya.
"Kalau kamu memang rindu padaku, kamu pasti datang mengunjungiku ke sini, selama ini aku tidak pernah pergi kemana-mana selalu ada di sini," ujar Robby.
"Mhm " Rakha hanya bergumam karena dia tidak tahu harus berbicara apa membalas perkataan sang sahabat.
Hampir 2 tahun terakhir dia tidak pernah lagi datang mengunjungi Robby di pondok kecilnya.
"Rob, Aku butuh bantuan kamu," ujar Rakha jujur.
Rakha pun mulai memberitahukan tujuan kedatangannya menemui Robby.
__ADS_1
"Begini, Rob,--"
Perlahan tapi pasti Rakha menceritakan semua masalah yang terjadi pada dirinya saat ini, dia berharap Robby bisa mencari tahu siapa sosok Ratih yang telah merusak rumah tangganya.
Robby mengangguk-angguk paham apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Dari apa yang dikatakan Rakha, Robby sudah tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Ya udah, kamu tenang aja. Nanti aku akan suruh teman-temanku untuk cari tahu siapa wanita yang namanya Ratih itu, aku juga akan usahakan cari tahu tujuan dari wanita itu," ujar Robby.
"Mhm, Terima kasih ya, Rob. Hanya kamu yang tahu dan bisa bantu aku," ujar Rakha.
"Oh, ya. Aku juga minta tolong, cari tahu foto-foto yang ada sama si Ratih itu asalnya dari mana dan kalau bisa tolong aku, buat lenyapkan video serta foto-foto itu," ujar Rakha lagi.
"Tenang, aku akan coba selesaikan masalah itu, yang penting sekarang kamu fokus sama istrimu, dan buat dia yakin bahwa kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Ratih," ujar Robby menasehati Rakha.
"Itu pasti, aku tidak mau lagi kehilangan dia, dia yang hanya pergi satu Minggu saja telah membuat aku pusing tujuh keliling, bahkan hidupku terasa sangat hampa tanpa dia," ujar Rakha.
"Eh, ada tamu," ujar seorang wanita yang baru saja datang.
Sepertinya wanita itu baru saja pulang dari pasar, karena terlihat di tangannya terdapat beberapa barang-barang belanjaan.
"Iya, Dek. Ini teman SMA abang dulu, namanya Rakha." Robby memperkenalkan Raka pada wanita yang merupakan istrinya.
"Hai, Bang Rakha," sapa si wanita.
"Rakha, kenalkan ini istriku namanya Cinta," ujar Robby memperkenalkan wanita yang hampir 2 tahun ini menjadi istrinya.
Rakha tersenyum lalu dia mengeluarkan tangannya sebagai tanda saling mengenal di antara mereka berdua.
"Tunggu sebentar ya, Bang. aku buatkan air minum terlebih dahulu, masa iya panas-panas begini temannya nggak dikasih minum," ujar Cinta dengan ramah.
"Eh, enggak usah repot-repot, Dek," ujar Rakha basa-basi.
"Jarang-jarang bang Rakha bertamu di rumah sederhana milik kami, ya harus minum dulu dong." Cinta bergegas melangkah menuju dapur kecil yang ada di rumahnya, dia menyiapkan segelas teh untuk Rakha dan suaminya.
Setelah tehnya jadi, cinta pun membawa dua gelas teh tersebut ke tempat Raka dan Robby sedang duduk, dia juga tidak lupa menyuguhkan beberapa potong goreng pisang yang tadinya sempat dibeli di pasar.
Saat cinta meletakkan teh dan goreng pisang itu di atas meja dia melihat ponsel Rakha yang di sana terpajang foto Ratih.
"Bang Rakha siapanya Ratih?" tanya Cinta yang berhasil membuat Raka dan Robby membulatkan matanya.
__ADS_1
Bersambung...