
Rakha tak bisa menahan diri untuk menghardik istrinya yang kini masih mematung di tempatnya.
Padahal Rakha sudah jelas-jelas mengajak sang istri untuk keluar kamar dan makan malam bersama dengan tuan Adhitama.
Ayunda kaget mendengar suara Rakha yang mulai meninggi.
"Kamu dengar enggak, sih? Apa yang sudah aku bilang?" bentak Rakha kesal.
"I-iya, Tuan," lirih Ayunda.
Dia pun bergegas membuka mukenanya dan meletakkan mukenanya itu di tempatnya.
Setelah itu dia pun melangkah terburu-buru hendak keluar dari kamar. Saking takutnya dengan bentakan Rakha, Ayunda tak lagi melihat Rakha yang masih berdiri di ambang pintu, lagi-lagi Ayunda melakukan suatu kecerobohan di hadapan suaminya.
Rakha pun menjitak kepala istrinya.
"Kamu punya mata, enggak? Selalu saja bersikap ceroboh," ujar Rakha kesal.
Setelah itu mereka pun melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Ayunda masih mengelus kepalanya yang terasa sakit karena jitakan sang suami.
"Kamu kenapa, Ayun?" tanya Tuan Adhitama pada Ayunda yang masih memegangi kepalanya.
"Mhm," gumam Ayunda bingung harus menjawab apa.
"Dasar lebay, baru juga aku jitak pelan sudah meringis kesakitan, huhft," gumam Rakha di dalam hati.
Ayunda menoleh ke arah sang suami, dia pun menciut saat melihat sorot mata sang suami yang bagaikan ingin memakan dirinya.
"Kejedot pintu, Pa," jawab Ayunda berbohong.
Dia tidak mungkin berkata jujur, bisa jadi suaminya akan membunuhnya jika dia mengadu apa yang telah dilakukan sang suami padanya.
"Lain kali kamu harus hati-hati ya, Nak," ujar Tuan Adhitama.
"I-iya, Pa," lirih Ayunda.
"Cih, dasar manja banget sih?" gumam Rakha di dalam hati.
Entah mengapa Rakha sedikit kesal melihat tingkah papanya yang sangat perhatian pada sang istri.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya tuan Adhitama lagi pada Ayunda.
"Alhamdulillah, sudah mendingan, Pa," jawab Ayunda.
"Ya sudah, ayo kita makan. Kamu harus makan yang banyak agar kamu cepat sembuh," ujar tuan Adhitama.
__ADS_1
"Iya, Pa. Aku akan makan banyak," lirih Ayunda.
Setelah itu Ayunda pun mengambil piring yang ada di hadapan suaminya, lalu mengambilkan nasi untuk sang suami.
"Tuan muda mau makan apa?" tanya Ayunda.
Gadis belia itu lupa dengan panggilan yang harus diucapkannya pada sang suami di hadapan tuan Adhitama.
"Ayun, kamu itu istri Rakha, tidak pantas kamu memanggil suamimu dengan kata tuan, kamu harus memanggil Rakha dengan sebutan 'Bang'." Tuan Adhitama memperingati Ayunda dengan kata-katanya.
"Eh, i-iya, Pa," lirih Ayunda.
"B-ba-bang, ka-kamu mau makan dengan apa?" tanya Ayunda pada Rakha.
Rakha tersenyum di dalam hati melihat wajah Ayunda yang pucat dan takut kepadanya.
Wajah istrinya yang ketakutan melihat dirinya membuat Rakha mulai terhibur, ada sisi lucu yang ditangkapnya dalam raut ketakutan sang istri.
"Terserah, ambilkan yang menurut kamu enak," ujar Rakha.
Akhirnya Ayunda mengambilkan rendang ayam dan sambel Pete yang ada di atas meja.
Ayunda sangat suka dengan sambel Pete, jadi menurutnya Rakha akan suka dengan pilihannya.
"Kamu suka sambel Pete?" tanya Rakha dengan tatapan tidak suka.
"Ayun," lirih tuan Adhitama mengingatkan Ayunda.
"Eh, i-iya, Bang. Aku sangat suka sambel Pete," jawab Ayunda dengan polos.
"Cobalah dulu, mana tahu kamu ketagihan dengan sambel ini," ujar tuan Adhitama pada putranya.
"Tapi, Pa,--"
"Cobalah dulu, mana tahu pilihan istrimu justru enak bagimu," ujar tuan Adhitama.
Tuan Adhitama memotong ucapan Rakha, akhirnya Rakha tak berkata apa-apa lagi.
Dia pun memakan makanan yang sudah diambilkan oleh istrinya.
Ayunda juga tidak lupa mengambilkan makanan untuk Tuan Adhitama, Setelah itu mereka pun menikmati hidangan makan malam bersama.
Tak banyak kata yang mereka ucapkan selama mereka menikmati makanan, hanya dentingan sendok dan garpu beradu di atas piring yang terdengar di ruang makan itu.
Ayunda terlihat makan dengan lahapnya, dia merasa bosan yang menghabiskan makanan satu hari ini di dalam kamar.
Tuan Aditama tersenyum melihat Ayunda yang makan dengan lahapnya, dia berharap gadis itu lekas sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasanya.
__ADS_1
"Ayun," lirih Tuan Aditama setelah mereka selesai menghabiskan makanan yang di piring mereka.
Ayunda menoleh ke arah Tuan Adhitama menanggapi panggilan pria tua itu.
"Ayahmu saat ini tengah sakit keras, Apakah kamu ingin menemuinya?" tanya Tuan Adhitama pada Ayunda.
Saat hari pernikahan Ayunda dan Rakha, Tuan Aditama memang tidak mengizinkan Somad bertemu dengan putrinya, apalagi di saat itu Ayunda mengabaikan keberadaan pria yang sudah membesarkannya itu.
Seketika Ayunda terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Sesaat hatinya merasa sedih mendengar keadaan pria yang selama ini membesarkan dirinya meskipun dalam keadaan sulit.
Di sisi lain, dia masih kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh pria tersebut, dia tidak menyangka Ayah kandungnya rela menebus hutang yang digalinya dengan dirinya.
Rakha menatap Ayunda dalam, pria tampan yang sudah sah menjadi suami Ayunda itu merasa sedih untuk melihat raut wajah istrinya.
Seolah-olah dia mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut.
"Jika kamu mau menemui ayahmu, hari Sabtu aku akan menemanimu pulang ke desa," ujar Rakha.
Ayunda menoleh ke arah Rakha, dia tidak percaya pria dingin dan kasar itu mau menemaninya pulang ke desa untuk menemui orang tua jahatnya.
"Iya, aku akan menemanimu ke desa." Rakha meyakinkan istrinya.
"Baiklah, aku akan menemui ayah," lirih Ayunda mengambil sebuah keputusan.
Dia takut terjadi apa-apa pada pria yang sudah tega menjual dirinya, walaupun begitu dia harus berusaha berlapang dada untuk memaafkan apa yang telah dilakukan oleh ayah dan ibunya.
Bukankah sebagai seorang anak, Ayunda harus berbakti kepada orang tuanya meskipun orang tuanya tidak bisa menjadi orang tua yang baik baginya.
"Baiklah kalau begitu, pulang sekolah kita akan langsung pergi ke desa," ujar Rakha lagi.
Setelah itu mereka berbincang-bincang sejenak, tak banyak pembicaraan yang mereka bahas Rakha dan Tuhan Aditama berbicara tentang usaha yang tengah mereka jalani.
Sedangkan Ayunda hanya mendengarkan pembicaraan dua pria beda usia tersebut.
"Ayunda, jika kamu sudah mengantuk tidurlah terlebih dahulu. mungkin papa dan Rakha masih banyak yang dibicarakan," ujar Tuan Aditama kepada menantunya.
"Baiklah, Pa. kalau begitu aku pamit tidur terlebih dahulu," ujar Ayunda.
Setelah itu Ayunda pun berdiri dan melangkah menuju kamar, dia merasa terbebaskan dari pria dingin yang sejak tadi bersamanya.
"Rakha," lirih tuan Adhitama setelah memastikan Ayunda meninggalkan ruang makan.
"Ada apa, Pa?" tanya Rakha kepada ayahnya.
Dia melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pria yang sangat dibanggakan itu.
__ADS_1
Bersambung...