
"Aauuw," pekik Rakha menahan rasa sakit tepat di wajahnya.
Dia merasakan panas di pipinya, Rakha pun tersungkur ke lantai, pukulan yang diberikan oleh pria itu membuat Raka tidak bisa menyeimbangi tubuhnya.
"Ini semua pasti gara-gara kamu! kamu yang telah menghancurkan masa depan putriku!" bentak si pria yang baru saja memukul Rakha.
Seorang pria yang hampir berumur sama dengan tuan Adhitama tidak dapat lagi menahan emosinya. Dia mengira Rakha adalah pria yang telah menghancurkan hidup putrinya.
"Pak, Hentikan!" teriak wanita yang berada di sampingnya.
"Lihat, Bu! Pria ini sudah menghancurkan hidup Ratih, dia pasti tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Ranti," teriak si pria tua itu lagi.
"Pak, kamu jangan ceroboh. Belum tentu dia yang memiliki hubungan dengan Putri kita, seharusnya kamu tanya dulu siapa dia," ujar si wanita tua menasehati suaminya.
Si pria tua itu pun menghentikan aksinya, dia masih ingin menghujani Rakha dengan bogem mentahnya, tapi seketika dihentikannya setelah mendengar ucapan sang istri.
"Jangan sembarangan menjadikan orang kambing hitam," ujar wanita itu.
"Maaf, Pak, Bu. Saya tidak ada hubungannya dengan putri ibu, jadi, saya harus pergi," ujar Rakha.
Rakha pun hendak berpamitan dengan kedua orang tua wanita yang ditolongnya tadi.
"Tidak bisa, anda belum bisa meninggalkan tempat ini. Kami ingin kejelasan dari putri kami," ujar si pria tua.
"Tapi, saya di sini hanya membantu membawa putri kalian ke rumah sakit," ujar Rakha berusaha menghindar.
"Jika kamu mau pergi, tinggalkan kartu identitasmu!" ujar si pria tua itu pada Rakha.
Mau tak mau Rakha pun meninggalkan sebuah kartu nama, dia memberikan kartu nama itu pada wanita paruh baya yang bersama si pria tua itu.
"Maafkan, sikap suami saya ya, Nak. Saat ini suami sedang panik dan kalut," ujar si wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu, bisakah saya sekarang izin pulang," ujar Rakha pada mereka.
Si wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya.
Rakha pun langsung melangkah keluar dari kawasan rumah sakit, kepalanya semakin pusing dengan masalah yang baru saja terjadi.
Rakha masuk ke dalam mobil, lalu dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju rumah.
Malam ini dia akan beristirahat, dia lelah mencari Ayunda selama 2 hari ini, besok dia berencana akan melaporkan hilangnya Ayunda pada polisi.
****
__ADS_1
Dua hari telah berlalu, Rakha masih saja belum menemukan Ayunda, Rakha juga belum mendapatkan kabar dari polisi mengenai keberadaan Ayunda.
Hari ini rencananya Rakha akan menyebarkan foto Ayunda di seluruh kota Padang, dia berharap dengan ini akan memudahkan dirinya mencari istrinya.
Tuan Adhitama membiarkan Rakha berjuang seorang diri, dia ingin melihat bentuk tanggung jawab Rakha terhadap Ayunda.
Sekaligus tuan Adhitama ingin memberi pelajaran pada putranya, dan berharap dengan kejadian ini Rakha sadar akan pentingnya sosok Ayunda di dalam hidupnya.
Saat Rakha sedang sibuk mengedarkan foto-foto Ayunda, seseorang menghubungi dirinya.
"Halo," ujar Rakha mengangkat panggilan itu.
Rakha berharap panggilan tak dikenal itu adalah seseorang yang telah menemukan Ayunda karena Rakha memberikan nomor ponselnya di setiap lembaran foto yang disebarkannya.
"Pak, ini saya ibunya Ratih," ujar seorang wanita di seberang sana.
Rakha menghela napas sedih.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Rakha.
"Pak, saya boleh minta bantuan bapak?" ujar Ibu Ratih, wanita yang tempo hari di tolong Rakha.
"Iya, Bu. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Rakha.
"Mhm, bisakah bapak datang ke rumah sakit?" tanya Ibu Ratih pada Rakha.
"Baiklah, Bu. Saya akan usahakan datang ke rumah sakit nanti sore, karena saat ini saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," sahut Rakha.
Rakha tidak bisa menolak permintaan
wanita paruh baya itu, karena dia teringat dengan sosok ibunya.
Seumur hidupnya, Rakha tidak pernah mengecewakan ibunya, jadi dia juga tidak mau mengecewakan wanita lain.
Rakha pun kembali melanjutkan usahanya dalam mencari Ayunda, dia terus menelusuri jalan-jalan yang ada di kota Padang.
Setelah shalat ashar, Rakha pun mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit untuk memenuhi permintaan ibu Ratih.
Saat dalam perjalanan Rakha masih berhenti di beberapa tempat yang menurutnya banyak orang yang akan melihat foto Ayunda di sana.
Dia pun menempelkan beberapa foto Ayunda, setelah itu dia pun melanjutkan perkataannya menuju rumah sakit untuk menemui pasien yang bernama Ratih.
Pada pukul 17.00 Rakha sudah sampai di rumah sakit, dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Ratih telah berada di ruang rawat, kebetulan ibu Ratih telah mengirimkan ruangan tempat Ratih di rawat melalui pesan singkat.
Sebelum Rakha masuk ke dalam rumah sakit, Rakha kembali membuka ponselnya untuk melihat nomor kamar yang diberitahukan oleh ibu Ratih tadi.
Setelah mengingat nomor ruang tempat Ratih di rawat, Rakha langsung melangkah menuju ruang rawat tempat Ratih berada.
Rakha memasuki lift, karena ruang rawat Ratih berada di lantai 5. Rakha melangkah menuju ruang rawat Ratih dengan sekeranjang buah-buahan yang tadi sengaja dibelinya di pinggir jalan.
Pria itu sengaja membeli oleh-oleh untuk gadis yang dikabarkan berniat bunuh diri waktu itu, dia hanya ingin menghibur gadis itu, mungkin dengan oleh-oleh dari Rakha bisa membuat dia melupakan masalah yang tengah dihadapinya.
Rakha melangkah mencari ruang Anggrek nomor 517. Dia pun berhenti saat telah berada di depan ruang itu.
Rakha melihat gadis bernama Ratih itu berbaring di atas tempat tidur dari sebuah kaca bening di pintu masuk.
Sekilas pikiran Rakha tertuju pada Ayunda, postur tubuh Ratih yang hampir sama dengan Ayunda membuat Rakha terus mengingat Ayunda.
Tiga hari tak bertemu Ayunda, kini dia mulai merasa membutuhkan kehadiran wanita yang sudah satu setengah tahun menjadi istrinya, wanita yang sangat sabar hidup bersamanya tanpa adanya cinta dan kasih sayang yang dicurahkannya.
Rakha masih dapat mengingat dengan jelas ucapan Ayunda terakhir kalinya, yang menolak akan kekangan yang dilakukan Rakha terhadap dirinya, dia tidak diizinkan dekat dengan siapa pun, tapi dia juga tidak bisa jatuh cinta pada suaminya sendiri.
Rakha semakin menyesali apa yang telah dilakukannya terhadap Ayunda, dia berjanji di dalam hati akan memulai membina rumah tangganya dengan Ayunda jika dia sudah menemukan wanita itu.
"Ayun, aku akan mencoba untuk mencintaimu, meskipun akan sulit untuk aku lakukan," lirih Rakha.
Tok tok tok.
Rakha mengetuk pintu ruangan itu, lalu dia pun membuka sedikit pintu ruangan itu.
"Pak, ayo masuk!" ajak Aminah, ibu Ratih.
Aminah memasang wajah yang sangat ramah di hadapan Rakha.
Rakha tersenyum lalu melangkah menghampiri Ratih yang kini terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.
"Terima kasih, Pak Rakha sudah mau datang ke sini," ujar Aminah lagi.
Rakha memperhatikan Ratih, sebagian wajahnya terlihat diperban, karena memang sebagian wajahnya luka-luka akibat kecelakaan itu.
Tak berapa lama Rakha di sana, Pak Santoso masuk ke dalam kamar itu, dia senang melihat Rakha yang sudah ada di ruang rawat putrinya.
"Ratih, Ratih bangun," ujar Pak Santoso membangunkan putrinya.
"Lihatlah, calon suamimu telah datang," ujar Pak Santoso.
__ADS_1
Rakha langsung memutar bola matanya tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Santoso.
Bersambung...