
Saat luka yang ditorehkan Rakha membuat Ayunda gelap mata, dia yang baru saja melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim langsung berdiri, lalu dia pun mengambil sebuah tas ransel.
Ayunda mengisi ranselnya dengan beberapa pakaian miliknya, setelah itu dia pun keluar dari kamar mengendap-endap, seolah-olah keberuntungan tengah berpihak padanya, saat itu semua pelayan tengah menikmati makan malam.
Saat Ayunda berada di gerbang pun, dia tidak menemukan satpam jaga di sana.
"Untung, satpam lagi tidak ada di pos jaga, ini menjadi kesempatan terbaik untuk aku kabur dari sini," gumam Ayunda di dalam hati.
Ayunda keluar dari gerbang kediaman Tuan Adhitama, dia melangkah menelusuri jalan tanpa arah.
Saat dia melangkah sesekali dia menoleh ke arah belakang, untuk berjaga entah ada yang mencarinya.
Di gerbang komplek perumahan, Ayunda melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya.
Bergegas Ayunda mencari tempat persembunyian. Ayunda dapat melihat dengan jelas bahwa Rakha kini mulai mencari dirinya.
Ayunda sudah yakin sekali bahwa tak berapa lama kepergiannya, pasti semua orang di rumah itu akan mencari dirinya. Makanya sejak tadi dia selalu waspada memperhatikan arah belakang berharap tak akan ada yang bisa menemukannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Anton tiba-tiba datang dari belakang Ayunda.
"Astaghfirullah," pekik Ayunda kaget.
Beruntung Rakha sudah menjauh dari posisinya saat ini.
"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan Anton. Semua usahaku pun sia-sia," gumam Ayunda di dalam hati.
Ayunda merasa kesal karena saat ini semua rencananya gagal.
"Begitu ketatnya pengawasan tuan Adhitama terhadap diriku sehingga selangkah saja aku keluar dari rumah itu, dia langsung bisa menemukan aku," gumam Ayunda lagi.
"Ayo ikut aku!" ajak Anton pada Ayunda.
"Pak Anton, aku mohon lepaskan aku, biarkan aku kabur dari rumah tuan Adhitama, aku mohon," ujar Ayunda memohon agar Anton membiarkan dirinya pergi.
"Ikutlah denganku sekarang juga," ajak Anton.
Akhirnya Anton pun membawa Ayunda kembali ke kediaman tuan Adhitama.
Kini Ayunda duduk di sofa ruang tamu berhadapan dengan Tuan Adhitama. Ayunda terus meremas ujung roknya karena dia sangat takut dimarahi oleh tuan Adhitama.
"Ayun," lirih tuan Adhitama dengan nada tenang.
Ayunda mengangkat wajahnya, dia menatap mata tuan Adhitama, pandangan pria tua yang berwibawa menyejukkan hati Ayunda yang saat ini terluka ulah Rakha.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya tuan Adhitama.
Ayunda hanya bisa diam, dia tidak bisa mengatakan apa yang telah dilakukan oleh Rakha.
Beberapa menit tuan Adhitama menunggu Ayunda berbicara, tapi Ayunda masih diam. Sama sekali gadis belia di hadapannya itu tak bersuara.
"Apakah kamu tahu bagaimana kehidupan di luar sana? Apakah kamu yakin kamu akan selamat tinggal di luar rumah ini?" tanya tuan Adhitama.
Ayunda tertegun mendengar ucapan tuan Adhitama, dia tak menyangka tuan Adhitama sangat peduli akan dirinya.
"Di luar sana banyak orang jahat yang akan membuatmu sengsara, seharusnya kamu bersyukur bisa tinggal di sini," ujar tuan Adhitama menasehati Ayunda.
"Mhm, maafkan aku, Pa." Hanya itu yang dapat diucapkan Ayunda karena dia kini sadar apa yang telah dilakukannya merupakan sebuah kesalahan.
"Kamu tidak salah, tapi Rakha harus diberi pelajaran," ujar tuan Adhitama.
Ayunda menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan tuan Adhitama.
"Apa maksud papa?" lirih Ayunda bertanya.
"Mhm, kamu harus ikuti apa yang papa katakan," ujar Tuan Aditama.
Ayunda masih belum mengerti apa yang dimaksud tuan Adhitama.
"Ayo, Ayun. Kamu harus ikut, papa," ujar Tuan Adhitama pada Ayunda.
"Baiklah, Pa," sahut Ayunda.
Setelah itu mereka pun keluar rumah, semua orang di rumah itu diminta untuk tutup mulut, anggap tak seorangpun yang pernah melihat Ayunda setelah keluar dari rumah tadi malam.
Tuan Adhitama membawa Ayunda ke rumah salah satu temannya yang bernama Gayatri.
Gayatri tinggal di sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota, sehingga Ayunda akan aman berada di sana.
"Ya Allah, papa Adhitama benar-benar baik padaku, dia sangat mengerti luka yang ada di dalam hatiku ini, mulai saat ini aku hanya ingin membahagiakannya. Aku akan melakukan apa yang diinginkan olehnya," gumam Ayunda di dalam hati sebelum dia memejamkan matanya.
****
Satu minggu berlalu, Rakha mulai merasa lelah mencari Ayunda, satu minggu dia tidak masuk mengajar di kampus, hari ini dia mulai beraktivitas seperti biasa.
Dengan usaha yang telah dilakukannya, dia berharap Ayunda akan cepat ditemukan.
Rakha tidak bisa terus-terusan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang dosen, ini adalah tanggung jawabnya pada negara.
__ADS_1
Sehingga hari ini dia pun menyiapkan diri untuk berangkat ke kampus.
"Bagaimana, Rakha? Apakah kamu sudah menemukan Ayunda?" tanya tuan Adhitama pada putranya saat mereka hendak menikmati menu sarapan pagi ini yang telah tersedia di atas meja.
"Belum, Pa." Rakha hanya menjawab dengan singkat.
Rakha mengambil selembar roti dan mengolesi roti itu dengan selai coklat, dari caranya menyiapkan roti untuk dimakannya terlihat dengan jelas bahwa Rakha masih tak bersemangat untuk memulai harinya.
"Untuk lain kali, kamu harus bisa menjaga perasaan dan hatinya. Seorang wanita itu jika telah terluka dia akan sulit untuk melupakannya," nasehat tuan Adhitama.
Rakha hanya diam, beberapa hari ini tuan Adhitama kembali menasehati putranya.
Rasanya Rakha mulai capek mendengarkan perkataan yang itu-itu saja setiap harinya.
Baru kali ini Rakha melihat papanya sangat peduli pada orang lain dari pada putranya sendiri.
Baru saja Rakha menghabiskan satu potong roti, dia langsung berdiri dan berpamitan untuk berangkat ke kampus.
Nafsu makan Rakha hilang begitu saja setelah mendengar ucapan papanya.
Rakha keluar dari rumah, dia pun langsung masuk ke dalam mobilnya yang telah terparkir tepat di depan pintu utama rumah.
Rakha melajukan mobilnya, lalu meninggalkan kediamannya menuju kampus.
Saat sampai di kampus, Rakha berpapasan dengan Dona, tapi dia mengabaikan sosok wanita murahan seperti Dona.
Rakha memilih menjauh dari Dona, begitu juga dengan Dona, dia tak lagi berani mendekati Rakha sejak Rakha mengancam dirinya.
"Jika kau masih ingin hidup tenang seperti yang kamu inginkan, maka jauhi aku. Jika kamu bersikeras untuk tetap mendekatiku, maka akan aku pastikan semua orang tahu kebenaran tentang dirimu," ujar Rakha waktu itu mengancam Dona.
Sejak kejadian itu, Dona tak berani lagi mengusik Rakha, dia tidak mau nama baiknya tercoreng, di juga meminta barang bukti yang ada di tangan Rakha sebagai jaminan.
Sesampai di ruang dosen Rakha pun duduk di tempatnya, dia membuka laptopnya dan mempersiapkan materi pelajaran hari ini yang akan diajarkan pada mahasiswanya.
Hari ini Rakha memiliki jadwal kuliah di kelas Ayunda, awalnya dia tak ingin masuk tapi kewajibannya membuat dia harus melangkahkan kakinya menuju kelas itu.
Pada pukul 10.00, Rakha telah berada di dalam kelas.
Dia membaca absen mahasiswa sebelum memulai pembelajaran hari ini.
"Ayunda Rahayu," panggil Rakha saat nama istrinya.
"Hadir, Pak!" sahut Ayunda.
__ADS_1
Bersambung...