
Rakha membiarkan Ayunda memeluk sebelah kakinya, saat ini dia belum bisa membagi perhatiannya pada Ayunda karena pekerjaannya, hingga akhirnya Ayunda pun terlelap di sampingnya.
Pada pukul 00.35. Ayunda terbangun dari tidurnya, dia masih melihat Rakha sibuk dengan laptopnya.
Dia mengucek matanya, dan memastikan saat ini suaminya masih belum tidur.
"Bang," lirih Ayunda.
"Mhm," gumam Rakha menanggapi panggilan sang istri tanpa menoleh kepadanya.
"Kamu belum tidur? Pekerjaannya masih banyak, ya?" tanya Ayunda.
dia menatap kasihan kepada sang suami yang kini masih sibuk dengan laptopnya, entah apa yang kini dilakukan oleh suaminya dengan laptop tersebut sehingga matanya tak teralihkan dari layar laptop.
"Dikit lagi, Sayang. Aku sedang membuat laporan bulanan," jawab Rakha.
Seketika Ayunda merasa bersalah karena dirinya telah mengganggu pekerjaan sang suami, seandainya tadi dia tidak menggunakan laptop suaminya mungkin saat ini pekerjaan sang suami sudah selesai.
Ayunda terbangun dari tidurnya, lalu dia pun mengambil posisi duduk.
"Ini semua pasti gara-gara aku, seandainya tadi, kamu enggak bantuin tugas aku dulu, pasti pekerjaan bang Rakha udah selesai," ujar Ayunda
"Enggak kok, Sayang. Memang ini sedikit rumit bikinnya, makanya lama. Kamu jangan merasa bersalah gitu, ini sebentar lagi selesai," ujar Rakha.
Rakha menghibur istrinya yang terlihat bersedih, dan menyalahkan dirinya sendiri.
Ayunda merebahkan kepalanya di pundak Rakha.
"Maafkan aku ya, Bang. Aku malah jadi beban untukmu," lirih Ayunda sendu.
Rakha menoleh ke arah istrinya dia pun menatap dalam sang istri, lalu menangkup wajah wanita yang kini benar-benar telah mengisi hatinya.
"Hei, jangan menyalahkan diri sendiri, kamu tidak salah. Sebagai suamimu, aku akan melakukan apa saja untuk membantumu menyelesaikan segala rintangan dalam hidupmu," ujar Rakha.
"Tapi," lirih Ayunda terputus karena Rakha membungkam mulut Ayunda dengan bi***nya.
"Tidak ada tapi-tapian, aku ini suamimu," ujar Rakha lagi.
"Ya udah, kamu tidur dulu, ya," ujar Rakha meminta Ayunda untuk kembali tidur agar dia bisa kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku enggak ngantuk, aku temani kamu saja, Bang," ujar Ayunda membantah.
Dia sama sekali tidak mengantuk.
Rakha menghela napas panjang, akhirnya dia pun menutup laptopnya, Rakha memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya besok pagi.
Dia tidak mau Ayunda kurang tidur, karena besok Ayunda harus kuliah.
Rakha meletakkan laptopnya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Apakah kamu mau aku kasih obat tidur, supaya kamu bisa tidur nyenyak?" tanya Rakha sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Rakha sudah siap untuk beraksi lagi, sebagai seorang pria normal yang baru merasakan ni***nya surga dunia akan ketagihan setelah melakukan pertama kali.
Dia pun mulai memangsa sang istri, akhirnya Ayunda tak sanggup berbuat apa-apa. Dia pasrah dengan apa yang kini dilakukan oleh sang suami.
Mereka pun kembali tenggelam dalam pergulatan panas di tengah malam yang dingin.
__ADS_1
Setelah aksinya selesai, Rakha memeluk erat tubuh p***s sang istri, lalu membawa wanitanya tidur dan memulai mimpi indah di malam itu.
****
Keesokan paginya, setelah shalat subuh Rakha kembali membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai kemarin malam.
"Bang, aku ke bawah dulu, ya. Mana tahu Bi Nur udah datang," ujar Ayunda pada suaminya.
Memang mereka sudah meminta Bi Nur untuk datang pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan mereka.
"Iya," sahut Rakha.
Setelah itu Ayunda turun ke lantai bawah, dan membiarkan Rakha menyelesaikan pekerjaannya.
"Bu Nur udah datang?" tanya Ayunda pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
"Eh, Nona sudah bangun?" tanya Bi Nur tanya balik.
"Iya, Bu. Aku mau bantu-bantu di dapur sekalian belajar masak," ujar Ayunda pada wanita paruh baya itu.
"Mhm, boleh, Nona. Mungkin pagi ini kita bikin nasi goreng aja dulu, ya. Soalnya Ibu dapat perintah mendadak datang ke sini," ujar Bi Nur.
"Iya, Bu. Enggak apa-apa, kita bikin yang simple aja dulu," ujar Ayunda menanggapi ucapan Bi Nur.
Mereka pun mulai memasak, Ayunda membantu Bi Nur menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak nasi gorengnya.
Tak berapa lama, mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka.
Kini mereka tengah menghidang nasi goreng yang baru saja mereka masak.
"Beres!" seru Ayunda senang.
"Baik, Nona," sahut Bi Nur.
Sembari menunggu Ayunda yang melangkah ke lantai dua, Bi Nur mulai membersihkan perkakas kotor yang tadi mereka gunakan untuk memasak.
"Bang, pekerjaannya sudah selesai?" tanya Ayunda pada Rakha setelah Ayunda berada di dalam kamar.
"Udah, ini baru saja selesai," jawab Rakha sambil mematikan laptopnya.
"Sarapannya udah siap, kita sarapan, yuk," ajak Ayunda.
Rakha pun meletakkan laptopnya di atas meja, lalu dia menarik tubuh kecil istrinya hingga Ayunda jatuh di pangkuannya.
"Sarapan apa?" tanya Rakha menggoda sang istri.
Kali ini mereka benar-benar tengah hanyut dalam keindahan cinta yang baru saja mereka mulai.
Seketika wajah Ayunda berubah merah, dia mengingat adegan-adegan panas yang mereka lakukan 2 malam ini.
"Ish, kamu apaan sih, Bang. Kita harus ke kampus," ujar Ayunda tersipu malu.
"Hehehe, wajah kamu lucu banget kalau lagi malu-malu begini," ujar Rakha sambil mencubit lembut pipi Ayunda yang masih berwarna merah.
"Ish, menyebalkan," lirih Ayunda.
Setelah itu Ayunda berdiri, dia pun melangkah menuju lemari untuk mengganti pakaiannya, dia bersiap-siap untuk berangkat kuliah, tapi Rakha masih senang menggoda istrinya.
__ADS_1
Dia melangkah menghampiri sang istri, lalu memeluk Ayunda dari belakang.
Ayunda kaget saat baru saja melepas pakaiannya. Dia tak menyangka sang suami akan melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya.
"Auuw, kamu ngapain, Bang?" tanya Ayunda dengan suara bergetar.
"Aku menginginkanmu," bisik Rakha membuat seketika tubuh Ayunda berdesir.
"Bang, kita harus siap-siap ke kampus," ujar Ayunda berusaha menghindari apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Mhm, bagaimana kalau kita tidak usah ke kampus hari ini," goda Rakha lagi.
Sepertinya Rakha mulai senang menggoda istrinya yang masih saja malu-malu di hadapannya, padahal aksinya tidak kalah mengagumkan dalam hal ra***g.
"Sudahlah, Bang. Aku tidak mau kena marah sama dosen killer," ujar Ayunda.
Ayunda pun berusaha melepaskan diri dari kungkungan sang suami.
Rakha pun. melepaskan istrinya, dia pun langsung mengganti pakaiannya untuk berangkat ke kampus.
Setelah itu mereka turun ke lantai satu, di sana Bi Nur sudah selesai membereskan perkakas yang kotor dia pun bersiap untuk makan di ruang belakang.
"Bu, kita makan bareng di sini," ajak Ayunda.
"Mhm, tidak usah Nona. Saya makan di belakang saja," jawab Bi Nur.
"Ayolah, Bi. Makan bareng kami di sini," ajak Rakha setuju dengan usulan istrinya.
"Mhm," gumam Bi Nur tampak bingung.
"Ayolah, Bu. Temani putrimu makan," ujar Ayunda.
Setelah itu Ayunda menggandeng lengan wanita paruh baya itu dan membawanya duduk di kursi meja makan.
Mau tak mau akhirnya Bi Nur pun ikut sarapan bersama mereka.
Ayunda senang melihat Bi Nur yang mau makan bersama mereka.
"Mulai sekarang, kita akan bareng di meja makan ini, Bu," ujar Ayunda pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya.
Bi Nur terharu mendengar ucapan Ayunda, dia tidak menyangka hati Ayunda benar-benar lembut, dia bersyukur gadis desa itu bisa mendamping putra majikannya.
Mereka menyantap makanan mereka masing-masing.
"Bu, kami berangkat ke kampus dulu, ya," ujar Rakha pada Bi Nur setelah mereka menghabiskan makanan yang ada di piring mereka masing-masing.
Ayunda dan Rakha berpamitan pada Bi Nur, lalu mereka keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Rakha pun melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya menuju kampus.
Jarak kampus dan rumah mereka sekarang tak terlalu jauh, sehingga 10 menit perjalanan mereka pun sampai di kampus.
"Bang, aku turun di sini aja, ya," lirih Ayunda seperti biasa minta diturunkan jauh dari gedung fakultas karena dia masih belum siap untuk membuka hati dirinya saat ini.
"Ya udah, semangat ya belajarnya," ujar Rakha memberi semangat pada sang istri
Ayunda mengangguk dan turun dari mobil.
__ADS_1
Dia pun melangkah menuju gedung Fakultas. Saat dia baru saja sampai di depan gedung dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Bersambung...