
"Apa maksud anda?" tanya Rakha tak terima.
Rakha yang tadi duduk, kini dia berdiri tidak terima dengan ucapan yang dikatakan oleh Santoso.
Aminah langsung menginjak kaki Santoso, dia memberi kode pada suaminya untuk bisa menjaga ucapannya.
"Mhm, Ratih bilang. Pria yang harus bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya adalah pria yang mengantarkannya ke sakit ini," ujar Santoso mengabaikan peringatan dari istrinya tadi.
Rakha tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Santoso, dia tidak terima dituduh begitu saja oleh keluarga Santoso.
"Kalian tidak bisa fitnah saya! Saya bisa menuntut kalian, atas pencemaran nama baik," ujar Rakha emosi.
Niat baiknya mengunjungi Ratih atas permintaan Aminah disalahgunakan oleh pihak Ratih.
Rakha kini menatap tajam ke arah Aminah.
"Jadi ini tujuan ibuk minta saya datang ke sini? Padahal saya mau datang ke sini karena mengingat hati seorang ibu, seumur hidup saya, saya tidak pernah menyakiti hati ibu saya. Saya mengabulkan permintaan ibu mengingat ibu saya sudah tiada," ujar Rakha kecewa.
Aminah menggelengkan kepalanya, dia berharap Rakha tidak marah padanya.
Rakha hendak keluar dari ruangan itu.
"Jika kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan pada putri saya, maka saya akan melaporkanmu ke polisi," ancam Santoso.
Pria itu mengabaikan ucapan Rakha yang akan menuntut mereka.
"Silakan, saya akan tuntut anda atas pencemaran nama baik, saya tidak pernah melakukan hal yang tidak se***oh pada putri anda," ujar Rakha tegas.
Rakha pun keluar dari ruang rawat Ratih, dia meninggalkan mereka begitu saja.
Di saat Rakha masih bingung memikirkan masalahnya yang belum selesai dengan Ayunda, kini datang masalah lain yang akan mengganggu hidupnya.
"Astaghfirullahal'adzim," lirih Rakha.
Rakha mengusap kasar wajahnya.
"Cobaan apa lagi yang Engkau berikan pada hamba ya Allah?" gumam Rakha.
Rakha pun langsung keluar dari rumah sakit,lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pikirannya yang kalut membuat suasana hatinya tak stabil, bersyukur dalam kondisi seperti itu, dia sampai di rumah dalam keadaan selamat.
****
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, Ayunda tengah menyantap hidangan makan malam bersama wanita paruh baya.
Wanita itu merupakan teman dari tuan Adhitama. Tuan Adhitama sengaja menyembunyikan Ayunda di rumah teman lamanya agar Rakha dapat mengambil pelajaran dari perbuatannya.
Meskipun tuan Adhitama tidak tahu inti permasalahan yang tengah dihadapi Rakha dan Ayunda, tapi dia tahu betul di antara Rakha dan Ayunda belum ada rasa cinta di antara mereka.
Hubungan mereka saat ini hanya sebagai status suami istri yang tercatat di mata hukum dan agama, Ayunda bertahan di sisi Rakha selama ini hanya ingin melihat tuan Adhitama bahagia.
"Makannya enak, ya," ujar Gayatri sambil tersenyum pada Ayunda.
"Iya, Bu. Apalagi masakan ibu enak sekali," ujar Ayunda memuji masakan Gayatri.
Dua hari tinggal di rumah Gayatri, Ayunda sudah mulai akrab dengan wanita yang bisa diperkirakan umurnya hampir sama dengan ibu kandung Ayunda.
Kebetulan saat ini Gayatri tinggal sendiri di rumahnya, karena anak-anaknya tengah merantau di luar kota, anak-anak Gayatri yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, membuat Gayatri merasa kesepian, jadi dia sangat senang dengan kehadiran Ayunda di rumahnya.
"Ibu memang hobi masak, tapi hobi itu hanya dipendam karena tak ada yang mau dimasakin, semua anak-anak ibu berada jauh dari kota Padang, jadi Ibu hanya masak untuk diri sendiri," cerita Gayatri.
"Tapi, kalau aku di sini ibu rajin masak, aku mau dong diajari masak," ujar Ayunda.
"Tenang saja, nanti kalau kamu mau belajar masak, kamu bisa datang ke sini," ujar Gayatri lagi.
"Selama aku di sini, aku boleh belajar masak kan, Bu," ujar Ayunda.
"Nak," lirih Gayatri.
"Mhm," gumam Ayunda.
"Apakah ibu boleh menanyakan sesuatu?" tanya Gayatri pada Ayunda.
Dia mulai mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.
"Boleh, apa yang ingin ibu tanyakan?" tanya Ayunda mulai penasaran.
"Mhm, apakah kamu mencintai Rakha?" tanya Gayatri pada Ayunda.
Gayatri memang diminta tuan Adhitama untuk mencari informasi tentang bagaimana isi hati gadis belia yang polos itu.
"Mhm, kenapa ibu bertanya seperti ini?" tanya Ayunda.
Ayunda merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Gayatri.
"Tidak apa-apa, ibu hanya ingin bertanya," jawab Gayatri.
__ADS_1
"Mhm, tidak tahu, Bu." Ayunda mengangkat bahunya, dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap si beruang kutub itu.
"Kenapa tidak tahu?" tanya Gayatri
Saat ini Gayatri memasang wajah polos, dia juga berusaha meyakinkan Ayunda bahwa saat ini dia bisa dijadikan tempat berbagi.
"Mhm, entahlah. Aku sendiri tidak bisa mengetahui apa yang aku rasakan terhadap beruang kutub itu," cerita Ayunda.
"Apa! Beruang kutub?" Gayatri menautkan kedua alisnya.
Dia tampak heran dengan sebutan yang baru saja di ucapkan oleh Ayunda terhadap Rakha.
Gayatri tersenyum, begitu juga dengan Rakha mereka sama-sama tersenyum mengingat panggilan yang diberikan Ayunda pada Rakha sangat lucu.
"Habis, Bang Rakha itu orangnya dingin banget. Senyum jarang, sekali bertemu dia enggak mau banyak cerita," cerita Ayunda mengingat sosok pria yang sudah bersamanya selama satu setengah tahun terakhir.
"Hehehe, kamu ada-ada saja," ujar Gayatri.
"Begitulah, Bu. Kehidupanku bersamanya monoton tak ada perkembangan sedikit pun," ujar Ayunda lagi.
"Lalu, apakah kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya?" tanya Gayatri lagi.
Di saat wanita paruh baya itu menanyakan perasaannya, sebenarnya hati Ayunda telah terisi oleh sosok Baim, tapi dia berusaha menahan diri karena dia ingat dengan statusnya saat ini.
Tidak pantas baginya berharap dapat bersatu dengan Baim, karena dia sudah sah menjadi istri Rakha.
Ayunda hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menjawabnya, jangan dipaksakan, ibu hanya sekadar ingin tahu saja, kok," ujar Gayatri.
"Ya sudah, kalau gitu setelah ini kamu istirahat, ya," ujar Gayatri pada Ayunda.
Ayunda menganggukkan kepalanya.
Setelah itu dia pun berdiri dan mulai membantu Gayatri untuk merapikan meja makan, dia meletakkan piring-piring kotor di tempat pencucian piring, lalu dia mulai membersihkan piring-piring yang kotor.
Setelah selesai membersihkan dapur, Ayunda beranjak ke kamar yang di sediakan Gayatri untuk dirinya.
Ayunda merasa bosan tinggal di rumah wanita paruh baya itu dia tidak bisa melakukan apa pun.
Tiga hari tinggal di rumah Gayatri membuat Ayunda jenuh tapi syukurlah dia tidak hidup Luntang-lantung di luaran sana.
Ayunda kini membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di saat dia memberanikan diri kabur dari kediaman tuan Adhitama.
__ADS_1
Bersambung...