Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ancaman Rakha


__ADS_3

Langkah Ayunda terhenti, hal ini membuat Baim juga menghentikan langkahnya.


"Ayo, pulang sekarang juga!" ujar Rakha kesal.


Rakha mendapat kabar Ayunda tengah berada di mall dari mata-matanya langsung meninggalkan kelasnya dan menyusul Ayunda.


Dia semakin emosi saat mendapat kabar Ayunda tengah berbicara dengan seorang pria.


"Ayun," seru Baim kaget melihat Ayunda kini ditarik paksa oleh pria yang bersamanya.


Baim ingin sekali mengejarnya, tapi seorang pria berbadan kokoh menghentikan langkahnya, hingga akhir Baim hanya bisa memperhatikan Ayunda terus menjauh dari posisinya saat ini.


"Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apakah pria itu kekasih Ayunda?" gumam Baim di dalam hati.


Baim coba mengingat bahwa pria yang abru saja membawa Ayunda merupakan pria yang mengantarkan Ayunda ke sekolah.


"Pria itu kelihatannya sudah berumur, mana mungkin kekasih Ayunda. Jika dia Abang Ayunda, kenapa dia tidak membawa Ayunda begitu saja?" gumam Baim lagi.


"Woi!" teriak Erika mengagetkan Baim yang terlihat bengong.


Erika mengikuti arah pandangan Baim, tapi dia tidak dapat melihat siapa pun di sana.


"Astaghfirullah, Erika. Lu ngagetin gue aja," gerutu Baim.


"Lagian, lu kenapa bengong gitu, sih?" tanya Erika menyerocos tak keruan.


"Mhm, aku melihat Ayunda dibawa sama cowok," jawab Baim masih memandangi titik Ayunda hilang tadi.


"Apa? Ayunda dibawa siapa?" tanya Erika panik.


"Gue juga Enggak tau, tapi kelihatannya dia marah banget sama Ayunda," ujar Baim.


"Terus mereka ke mana?" tanya Erika semakin panik.


Erika tidak bisa tinggal diam, dia takut Rakha akan salah paham padanya.


Erika pun mengejar Rakha dan Ayunda, dia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling mall.


Erika turun dari lantai 3 ke lantai 2 sambil terus mencari sosok Ayunda dan Rakha, dengan susah payah dia mencari mereka, tapi sama sekali dia tidak menemukan Ayunda dan Rakha.


Ayunda dan Rakha kini telah berada di dalam mobil, Rakha melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata sebagai tanda saat dia sangat marah pada istrinya.


Selama ini Rakha memberi kebebasan pada Ayunda tanpa mengikat Ayunda sedikitpun, dia juga tidak ingin teman-teman Ayunda tahu akan statusnya saat ini.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?" bentak Rakha pada Ayunda saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Kali Ini Rakha benar-benar marah, tatapan matanya begitu tajam, wajahnya memerah Manahan amarah yang kini sudah memuncak.


Ayunda hanya diam, dia tahu saat ini dia telah melakukan kesalahan, seharusnya dia memberi tahu Rakha terlebih dahulu saat berangkat ke mall tadi.


"Apa kamu mau aku melakukan sesuatu agar kamu sadar dengan status kamu saat ini?" tanya Rakha pada Ayunda.

__ADS_1


Ayunda terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Rakha, pikirannya kini tertuju pada hal-hal yang tidak diinginkannya.


"Ya Allah, apa yang akan dilakukan si beruang kutub padaku? Apakah dia ingin melakukan kewajibannya sebagai suami padaku?" gumam Ayunda di dalam hati.


Dia benar-benar takut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Rakha.


Selama ini dia sangat bersyukur dengan sikap Rakha yang tidak menginginkan dirinya karena dia masih bisa menjaga keper****annya.


Ayunda masih belum siap untuk melayani Rakha.


Tiba-tiba Ayunda bersimpuh di kaki Rakha.


"Maafkan aku, aku salah. Ba-bang Rakha boleh menghukumku selain,--" Ayunda sengaja menggantung ucapannya karena dia sendiri tak berani mengucapkannya.


Rakha berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ayunda, Rakha menggenggam erat lengan Ayunda.


Dia menatap tajam pada Ayunda.


"Sekali lagi kamu melakukan hal yang sama, aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran," ujar Rakha mengancam Ayunda.


Rakha pun meninggalkan Ayunda begitu saja, dia tak tahu harus berbuat apa.


Sebagai seorang suami, Rakha tidak suka melihat Ayunda berdekatan dengan pria lain, tapi dia sendiri belum bisa mencintai Ayunda.


Dia hanya tidak mau apa yang sudah menjadi miliknya disentuh oleh orang lain.


Rakha pun melangkah menuju ruang kerjanya, hanya ruang kerja yang bisa menjadi tempat baginya untuk menenangkan diri dan pikirannya.


Sementara itu Ayunda terduduk di lantai, dia menyesali kebodohannya yang mau aja disentuh oleh Baim, meskipun hatinya masih ada untuk pria itu tapi sebagai seorang istri, Ayunda tidak pantas melakukan apa yang sudah dilakukannya hari ini.


Seharusnya dia bisa menjaga harga dirinya dan harga diri suaminya, meskipun belum ada yang tahu tentang pernikahannya kecuali rekan dan keluarga Rakha.


Tok tok tok.


Baru saja Rakha duduk di ruang kerjanya, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Siapa?" teriak Rakha.


"Saya, Tuan. Erika," jawab Ayunda dari luar ruang kerja Rakha.


"Masuk!" teriak Rakha.


Erika pun membuka pintu dengan wajah takutnya, dia sangat takut untuk menghadapi tuan muda Rakha, tapi Erika mau meluruskan permasalahan yang baru saja terjadi.


Erika tidak mau tuan muda Rakha menyalahkan Ayunda atas peristiwa hari ini.


Erika melangkah masuk dan berdiri tepat di depan meja kerja Rakha yang mana pria tampan itu tengah duduk tepat di hadapan Erika


"Ada apa?" tanya Rakha datar.


Erika menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Katakan? Apa yang ingin kamu katakan!" ujar Rakha datar tanpa menoleh ke arah Erika yang kini berdiri di hadapannya.


"Maafkan saya, Tuan. Apa yang terjadi hari ini adalah kesalahan saya," ujar Erika mengakui kesalahannya.


"Tadi saat pulang sekolah saya mengajak Ayunda menuju mall, yang mana Ayunda keberatan dengan ajakan saya, tapi saya yang maksa Ayunda untuk ikut dengan saya," jelas Erika.


"Mhm," gumam Rakha menanggapi cerita Erika.


"Saya mohon, Tuan muda tidak marah pada Nona muda, Nona muda sama sekali tidak salah," ujar Erika lagi.


"Apa menurut kamu dia pantas berduaan di sana dengan pria lain? Bahkan dia berpegangan tangan dengan pria itu," ujar Rakha geram.


Rakha tak mempermasalahkan apa yang dilakukan Erika, tapi dia tidak terima Ayunda berdekatan dengan Baim.


"Maaf, Tuan. Mengenai hal ini, saya sudah lalai menjaga perintah dari Tuan." Erika mengakui kesalahan yang telah dilakukannya.


Erika terus membela Ayunda agar Rakha dapat meredam emosi dan amarahnya terhadap Ayunda.


"Mulai hari ini kamu harus bisa pastikan Ayunda dan pria itu tidak ada hubungan apa-apa, aku tidak mau melihat sekali lagi hal yang sama," ujar Rakha pada Erika.


"Baik, Tuan. Saya akan lebih ekstra lagi dalam menjalankan tugas yang tuan berikan," ujar Erika.


"Pergilah," ujar Rakha.


Rakha pun menyuruh Erika keluar dari ruang kerjanya.


"Mhm, apakah saya boleh bertemu dengan Ayunda, Tian?" tanya Erika.


Erika ingin menemui Ayunda, dia ingin memastikan keadaan Ayunda saat ini.


"Ayunda berada di kamarku," jawab Rakha.


Secara tidak langsung, Rakha mengizinkan Erika untuk bertemu dengan Ayunda.


"Baiklah, Tuan. Saya ingin menemui Ayunda terlebih dahulu," ujar Erika dengan wajah berseri-seri.


Dia bersyukur, tuan muda Rakha tidak mempermasalahkan lebih dalam masalah ini.


Hari ini dia hanya mendapatkan peringatan dari Rakha.


Erika melangkah menuju kamar Rakha yang berada berseberangan dengan kamar Ayunda sebelumnya.


Tok tok tok.


Erika mengetuk pintu kamar Rakha sebelum masuk ke dalam kamar itu, tapi tak seorang pun menyahut dari dalam kamar itu.


Hal ini membuat Erika memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tuan muda Rakha.


"Ayun," pekik Erika saat melihat Ayunda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2