Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Foto dan Video hilang begitu Saja


__ADS_3

"Di mana foto-foto itu? Kenapa bisa hilang semua?" lirih Ratih.


"Mungkin karena ini, Rakha tidak datang hari ini!" lirih Ratih lagi.


Ratih yakin, Rakha sudah melakukan sesuatu sehingga semua foto dan video yang disimpannya hilang begitu saja.


Saat ini Ratih kehilangan kekuatannya untuk menekan Rakha, dia tidak bisa diam begitu saja.


Ratih langsung pulang, dia menghentikan sebuah go**k lalu minta diantarkan ke rumahnya.


Dia juga mencoba untuk mencari file foto dan video yang manjadi kekuatannya di laptop miliknya yang ada di rumah.


Sesampai di rumah Ratih langsung membuka laptopnya, tapi semuanya hilang begitu saja. Dia juga tidak menemukan foto-foto dan video itu.


"Ke mana file-file foto itu?" gumam Ratih mulai panik.


Dia bingung harus melakukan apa saat ini.


"Tidak! Tidak!" teriak Ratih.


"Tidak, semua yang sudah aku rencanakan tidak boleh gagal, aku ingin hidup senang dengan Rakha!" teriak Ratih panik.


Dia kembali mengotak-atik laptopnya berharap file-file itu masih tersimpan di laptopnya.


Salah satu teman Robby berhasil mengambil laptop Ratih, dan menghapus file yang ada di sana. Bersyukur teman Robby pintar dalam hal teknologi sehingga dia bisa menghapus file-file tersebut secara permanen.


Ratih mengusap wajah nya kasar, dia terduduk di atas tempat tidur.


"Ratih!" apa yang kamu lakukan?" tanya Aminah heran melihat apa yang dilakukan oleh putrinya.


Sejak tadi Aminah mendengar putrinya berteriak dari kamar, dia merasa khawatir, akhirnya dia pun menghampiri putrinya yang ada di kamar tersebut.


"Mhm, tidak ada apa-apa, Bu," jawab berarti berbohong.


Ratih tidak mau rencananya dan ayahnya gagal karena ibunya mengetahuinya.


Wanita yang sudah melahirkannya itu pasti tidak akan setuju dengan rencana mereka, jadi menyembunyikan semuanya dari wanita paruh baya itu lebih baik daripada menceritakan semua yang kini tengah mereka rancang.


"Lalu kenapa kamu teriak-teriak bikin orang panik aja," keluh Aminah pada putrinya.


Dia terpaksa meninggalkan pekerjaannya di dapur karena mengkhawatirkan keadaan Sang Putri.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Ibu sih terlalu lebay," ujar Ratih.


"Ya udah, ibu keluar dulu, aku mau ngerjain tugasku," ujar Ratih meminta ibunya keluar dari kamarnya.


Mau tak mau Aminah pun keluar dari kamar putrinya, dia heran melihat tingkah putrinya yang terlihat menyimpan sesuatu darinya.


"Apa sebenarnya yang kini disembunyikan Ratih?" gumam Aminah sembari melangkah kembali menuju dapur.

__ADS_1


Tak berapa lama Santoso mengetuk pintu kamar putrinya.


Tok tok tok tok.


"Duh, siapa lagi yang mengganggu aku," keluh Ratih kesal sembari melangkah menuju pintu dan membuka pintu kamarnya.


"Ayah," lirih Ratih


"Bagaimana Ratih Apakah kamu berhasil? Kapan kamu akan menikah dengan Rakha?" tanya Santoso tidak sabar ingin menjadi ayah mertua dari Rakha.


"Gagal, Yah," jawab Ratih dengan wajah kusutnya.


"Apa? Kamu gagal?" pekik Santoso tidak percaya.


Padahal dia sudah susah payah menyediakan foto-foto jebakan yang sudah diberikan temannya padanya.


Santoso rela membayar mahal untuk mendapatkan foto-foto itu, dan kini putrinya menghilangkannya begitu saja.


"Lalu bagaimana ini?" bentak Santoso kesal pada putrinya.


"Aku juga tidak tahu, Yah," lirih Ratih menundukkan kepalanya.


"Tidak bisa, kita harus membuat kembali foto-foto itu, kita harus bisa memberi tekanan pada Rakha agar dia mau menikah denganmu," ujar Santoso menggebu-gebu.


Dia terlihat tengah memikirkan cara agar bisa mendapatkan kembali foto-foto yang dengan susah payah didapatnya.


Di tempat lain, Rakha dan Ayunda kini menikmati makan malam dengan hati yang lapang di rumahnya.


Saat ini dia masih saja mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Alhamdulillah, masalah sudah selesai, Robby, temanku sudah membereskan segala hal tentang gadis licik itu," jawab Rakha lega.


"Syukurlah, Bang. Kalau begitu, aku sangat senang dengan apa ya kamu katakan, aku lega, Bang," ujar Ayunda.


"Tapi, kita harus tetap berhati-hati pada wanita seperti Ratih," ujar Rakha mengingatkan dirinya dan sang istri.


Rakha takut wanita licik seperti Ratih Itu menyakiti istrinya.


"Iya, Bang. Lagian ke mana aku pergi selalu ada kali dan Erika, insya Allah aku aman, kok," ujar Ayunda dengan penuh percaya diri.


"Iya, kalau pun begitu kamu harus tetap berhati-hati. Siapapun itu, kalau sudah ada kesempatan dalam berbuat, mereka tidak peduli dengan siapa mangsa mereka" ujar Rakha menasehati Ayunda.


Ayunda menganggukkan kepalanya.


Tawa canda menikmati makan malam yang sederhana di ruang makan itu.


Setelah makan malam Rakha dan Ayunda beranjak menuju kamar, seperti biasa mereka akan melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Ayunda dan Rakha kini sibuk dengan laptop mereka masing-masing, kini mereka fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari tugas mereka pun selesai, pada pukul 22.00 pasangan suami istri itu pun beranjak untuk tidur.


"Sayang," lirih Rakha setelah mereka berbaring di atas tempat tidur.


"Mhm," gumam Ayunda menanggapi panggilan itu.


"Besok, aku akan pergi seminar ke Jakarta. Jadi, kamu tinggal di rumah papa dulu, ya," ujar Rakha memberitahukan rencana seminar yang ditugaskan dari kampus.


"Mhm, ya udah," lirih Ayunda.


Sebenarnya Ayunda merasa sedih akan ditinggal oleh Rakha, karena beberapa hari ini dia merasa terbiasa dengan keberadaan Rakha di sampingnya, dia sudah merasa bergantung pada sang suami.


"Kenapa? Kamu sedih?" tanya Rakha pada sang istri.


Dia dapat melihat raut wajah sedih dari sang istri.


"Mhm, enggak, kok," lirih Ayunda berbohong.


Ayunda juga tidak mau, suaminya merasa keberatan meninggalkan dirinya, padahal dia tengah menjalani tugas dari kampus.


"Kalau seandainya kamu enggak kuliah, aku pasti bawa kamu. Aku mau kamu cepat selesai kuliah, dan kita fokus sama keluarga kita," ujar Rakha.


"Enggak apa-apa, kok, aku tinggal sama papa aja, lagian selama kuliah aku kan bareng Erika," ujar Ayunda.


"Ya udah, kalau gitu. Ayo, kita tidur, besok kamu harus kuliah," ujar Rakha.


Ayunda mengangguk.


Mereka pun mulai memejamkan mata untuk beristirahat agar esok hari dapat menjalankan aktivitas dengan semangat.


****


Di pagi hari yang cerah, Ayunda dan Rakha mulai menjalani aktivitas mereka.


"Kamu hati-hati, ya. Kalau udah sampai di Jakarta langsung kabari aku," ujar Ayunda sebelum turun dari mobil suaminya.


Rakha merasa saat ini dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa tanpa gangguan Ratih, karena dia juga yakin Ratih tidak akan berani lagi memperlihatkan wajahnya di hadapan mereka.


"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati, ya." Rakha mengelus lembut kepala Rakha.


"Siap, Bos!" seru Ayunda.


Dengan hati riang, Ayunda turun dari mobil. Dia tidak mau memperlihatkan rasa sedihnya di depan Rakha, agar Rakha bisa menjalani tugasnya dengan tenang tanpa mengkhawatirkan dirinya.


Ayunda melangkah masuk ke dalam gedung Fakultas, kebetulan suasana masih sangat sepi.


Dia terus melangkah menuju kelas, saat di perjalanan seseorang menutup hidung Ayunda dengan sapu tangan yang berisi obat bius, hingga akhirnya Ayunda pingsan dan dia pun membawa Ayunda keluar dari gedung itu.


Bersambung...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2