
Ayunda baru saja membuka matanya, perlahan dia mulai melihat samar-samar keadaan di sekitarnya.
Ayunda mengedarkan pandangannya, dia melihat semua yang ditangkap indera penglihatannya serba berwarna putih.
"Ya Allah, di mana aku sekarang? Apakah aku sudah meninggal?" lirih Ayunda.
Saat ini dia membayangkan kejadian di beberapa kisah orang yang sudah meninggal di TV-TV yang biasa ditontonnya saat mengisi waktu kosong.
"Sayang, kamu sudah bangun?" lirih Rakha.
Rakha kini telah berada di samping istrinya, dia menggenggam erat tangan sang istri.
Ayunda menolehkan wajahnya, samar-samar Ayunda menangkap sosok yang sangat dirindukannya.
"Bang Rakha," lirih Ayunda.
Ayunda pun berusaha bangkit, dia ingin memeluk tubuh sang suami dengan erat karena dia tidak ingin berpisah lagi dengan sosok yang sangat dirindukannya selama dia diculik.
Tapi, apalah daya tubuh Ayunda yang masih sangat lemah, baru saja dia ingin bangkit, dia kembali terjatuh ke atas tempat tidur.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Rakha panik.
Rakha langsung membantu Ayunda untuk menyetel posisi duduk brangkar yang ditempati Ayunda.
Kini Ayunda lebih mudah untuk duduk.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Rakha kini duduk di samping tempat tidur Rakha.
"Mau peluk kamu," lirih Ayunda malu-malu.
Rakha pun langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Aku merindukan kamu, Bang," lirih Ayunda.
Tak tahu mengapa Ayunda teringat malam yang gelap dilaluinya seorang diri saat berada di rumah kosong tengah hutan itu.
Ayunda pun kini menangis terisak di dalam pelukan sang suami.
Rakha menautkan kedua alisnya, dia mulai panik dan khawatir dengan apa yang sudah terjadi pada sang istri, Rakha sudah membayangkan hal-hal buruk telah dilewati oleh wanita yang sangat dicintainya saat ini.
"Sayang, apa yang telah terjadi?" tanya Rakha cemas.
__ADS_1
"Huhuhu." Tangisan Ayunda semakin menjadi membuat Rakha bingung.
Akhirnya Rakha pun memeluk dengan erat tubuh istrinya yang terlihat semakin kurus.
Dia membiarkan Ayunda kini menangis melepaskan rasa sesak di dadanya, agar Ayunda dapat menceritakan apa yang telah terjadi dengan tenang, sembari Rakha terus berdo'a agar Ayunda tidak dilecehkan oleh penculiknya.
Setelah beberapa menit Ayunda menangis, kini dia terlihat lebih tenang, wanita itu menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya, Rakha juga membantu Ayunda mengusap air matanya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rakha.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?" tanya Rakha lagi pada sang istri.
Dia menghujani istrinya dengan rentetan pertanyaan lalu memberi waktu pada sang istri untuk bercerita.
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padaku, karena pagi itu seseorang menarik tubuhku, lalu aku sudah tak sadarkan diri. Saat petang datang, aku terbangun dan melihat diriku telah berada di atas tempat tidur dengan tangan dan kaki yang terikat hingga malam pun datang, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri tapi aku tak bisa hingga aku kembali tak sadarkan diri, mungkin karena rasa takut karena gelapnya tempat itu." Ayunda menghela napas sejenak dan setelah itu kembali bercerita.
"Di saat pagi datang, aku kembali mencoba melepaskan diri, dan Alhamdulillah aku bisa lepas dari ikatan itu. Dan akhirnya aku terus berjalan menyusuri hutan belantara itu sehingga aku menemukan aliran sungai, aku pun memilih untuk menelusuri aliran sungai itu agar aku bisa menemukan pemukiman penduduk, di saat itu aku melihat seorang pria, aku ingin berlari tapi aku sudah tak sadarkan diri, dan aku sangat bersyukur bisa berada di sini dan kembali bertemu denganmu," ujar Ayunda panjang lebar.
"Alhamdulillah, aku juga bersyukur bisa menemukanmu, bersyukur papa cepat bertindak dan mengerahkan orang-orangnya untuk mencarimu, dan aku pun menemukanmu di pinggir sungai itu," ujar Rakha juga menceritakan bahwa pria yang dilihat Ayunda waktu itu adalah Rakha.
"Aku takut berpisah denganmu, aku tidak mau jauh-jauh darimu lagi, Bang," lirih Ayunda pada Rakha memohon.
"Iya, Sayang. Setelah ini aku akan menyediakan bodyguard untukmu, kamu akan dijaga ketat di mana pun kamu berada sehingga tak seorang pun yang akan berani mengganggumu," ujar Rakha.
"Terima kasih, Sayang," lirih Ayunda.
"Ehem." Tuan Adhitama berdehem saat dia telah berada di ruang rawat menantunya.
"Eh, Papa," lirih Ayunda dan Rakha gugup.
Mereka malu karena didapati saat tengah berpelukan satu sama lain
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Tuan Adhitama pada menantunya.
Ayunda tersenyum pada papa mertuanya.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Papa senang kamu ditemukan lebih awal,kalau tidak,--" Tuan Adhitama menggantung ucapannya sambil melirik ke arah Rakha.
Tuan Adhitama sengaja berkata seperti itu pada menantunya agar Rakha sadar dengan kelalaian yang telah dilakukannya.
Sebagai putra dari seorang pebisnis handal, Rakha harus bisa lebih waspada lagi untuk ke depannya.
__ADS_1
Terlebih saat ini Rakha tengah menghadapi masalah yang cukup serius dengan adanya ancaman dari Ratih, itu artinya mereka harus lebih hati-hati di setiap langkah dan di setiap waktu.
"Alhamdulillah, Pa," lirih Ayunda.
"Mulai hari ini, Erika akan selalu ada di sampingmu," ujar Tuan Adhitama.
Rakha dan Ayunda hanya bisa mengangguk mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Tuan Adhitama.
Tak berapa lama Rakha teringat akan satu hal, akhirnya dia pun membisikkan sesuatu pada papanya.
Ayunda hanya heran melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
Tak berapa lama setelah itu, Tuan Adhitama pun keluar dari ruangan itu, dia langsung menemui dokter yang bertanggung jawab atas Ayunda.
"Dok, saya minta tolong untuk memeriksa kondisi fisik Ayunda, saya khawatir telah terjadi hal-hal buruk pada menantu saya," ujar Tuan Adhitama pada dokter.
"Baiklah, Tuan. Kami akan melakukan apa yang tuan minta," ujar Dokter menyanggupi permintaan Tuan Adhitama.
"Saya harap hasilnya langsung laporkan pada saya tanpa sepengetahuan menantu saya, karena saya takut Ayunda merasa syok jika memang pikiran buruk kami telah menimpa dirinya," ujar Tuan Adhitama lagi meminta dokter untuk merahasiakan hasil pemeriksaan itu nantinya.
Setelah itu Tuan Adhitama pun meninggalkan rumah sakit.
****
"Anton! Buatlah perhitungan dengan pria yang telah berani menculik Ayunda," perintah Tuan Adhitama pada kaki tangannya.
"Baik, Tuan," sahut Anton.
Tuan Adhitama kini telah menemukan seorang pria yang telah menculik Ayunda.
Kini pria itu tengah disekap Anton di sebuah tempat.
"Cari tahu, siapa yang menyuruh pria itu melakukan semua ini," ujar Tuan Adhitama lagi.
"Siap, Tuan," sahut Anton menanggapi ucapan majikannya.
Anton pun Meninggalkan tuan Adhitama yang kini duduk di sebuah kursi kebesarannya yang ada di ruang kerjanya.
Tiga hari berlari, Ayunda pun sudah mulai sehat dan akhirnya dia pun diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
Sebelum keluar dari rumah sakit, dokter memberikan selembar kertas yang berisi mengenai kondisi fisik Ayunda.
__ADS_1
Tuan Adhitama membuka kertas itu dengan perasaan campur aduk.
Bersambung...