
Ayunda melihat dengan jelas seorang wanita memeluk suaminya dengan erat.
Pemandangan itu membuat hati Ayunda terasa panas, dua tidak tahu siapa wanita yang berani memeluk tubuh sang suami.
Seorang wanita yang menutupi sebagian wajahnya dengan rambutnya telah berani memeluk Rakha di depan para mahasiswa dan mahasiswinya.
Ayunda perlahan melewati Rakha yang kini berada di dalam pelukan wanita asing baginya.
Rakha melihat dengan jelas tatapan penuh kecewa di mata Ayunda.
Dia pun berusaha mendorong wanita asing itu dan ingin mengejar Ayunda yang sudah melangkah menuju kelas.
Beberapa mahasiswa mulai berkerumun di sana menyaksikan apa yang tengah terjadi di antara si dosen killer dan wanita yang sama sekali tak mereka kenali.
Rakha ingin mengejar Ayunda tapi wanita itu menarik tangan Rakha sehingga Rakha menghentikan langkahnya.
"Jangan tinggalkan aku begitu saja!" ujar si wanita dengan nada penuh penekanan.
Rakha terdiam sejenak.
"Jika kamu berani meninggalkanku sekarang, kamu akan menyesali apa yang akan terjadi," ujar si wanita yang seingat Rakha bernama Ratih.
Ratih bicara masih dengan nada yang sangat pelan, sehingga hanya mereka berdua yang mendengar percakapan di antara mereka.
Sementara itu mahasiswa yang berkerumun berada di tempat yang memang agak berjarak dari mereka.
Mereka hanya berbisik-bisik sambil menerka apa yang telah terjadi di antara keduanya.
Rakha membalikkan tubuhnya dia menatap tajam ke arah wanita yang sempat ditolongnya beberapa hari yang lalu.
"aku sudah katakan pada kedua orang tuamu, jika kalian berbuat macam-macam terhadapku, maka aku siap menjelaskan kalian ke dalam penjara atas tuduhan pencemaran nama baik," ancam Rakha pada Ratih.
"Silakan! aku tidak takut, karena aku sendiri memiliki bukti-bukti atas hubungan yang terjadi di antara kita," ujar Ratih balik mengancam Rakha.
Rakha menautkan kedua alisnya, dia tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Ratih.
"Sudahlah, kamu tidak perlu mengada-ada," bantah Rakha.
Si dosen killer itu masih berusaha bersikap tenang karena dia tahu bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.
"aku tidak mengada-ngada, apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran, tapi jika kamu memang mau aku menyebarkan bukti-bukti hubungan kita, dengan senang hati aku akan menyebarkannya ke seluruh media sosial yang ada," ancam Ratih serius..
Ratih sedikitpun tidak takut seolah-olah apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
Wanita itu benar-benar ingin meminta sebuah tanggung jawab dari Rakha.
"Kau sudah gila!" ujar Rakha tegas.
"Baiklah, ini buktinya!" ujar Ratih tegas sambil menyodorkan sebuah ponsel kepada Rakha.
__ADS_1
Rakha mengambil ponselnya itu, lalu melihat satu per satu foto yang ada di ponsel itu.
Rakha melihat dengan jelas, di sana terpampang fotonya bersama Ratih, mereka terlihat bagaikan pasangan yang dimabuk cinta.
Tapi, Rakha tidak pernah melakukan apa yang dilakukan pria yang ada di dalam foto tersebut.
"Tidak mungkin, ini fitnah!" ujar Rakha.
Rakha langsung menghapus file-file foto itu.
"Kamu bisa saja hapus foto-foto itu, aku masih punya file yang lain," ujar Ratih dengan santai.
"Oke, kita bisa bicarakan masalah ini nanti. Aku mohon jangan bikin keonaran di sini, nanti akan aku hubungi," ujar Rakha.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kedatanganmu di taman merpati nanti sore," ujar Ratih.
Setelah itu Ratih pun meninggalkan Rakha, dia pergi dengan wajah yang sangat puas.
"Silakan kalian bubar!'" teriak Rakha pada semua orang yang masih berdiri memperhatikan dirinya.
Rakha pun melangkah masuk ke dalam gedung Fakultas, dia ingin mengejar Ayunda, tapi Ayunda kini telah berada di kelasnya dan siap untuk mengikuti mata kuliah pertama.
"Ayun, lu kenapa?" tanya Erika berbisik di telinga Ayunda.
Erika merasa aneh saat melihat wajah Ayunda yang sembab. Dia dapat memastikan bahwa sahabatnya baru saja menangis.
"Udah, jangan bahas dulu, nanti waktu istirahat aku cerita," jawab Ayunda.
Erika merasa khawatir dengan sahabatnya.
Sepanjang mata kuliah berlangsung Erika terus menerus memperhatikan Ayunda yang berusaha fokus mendengarkan presentasi yang sedang berlangsung.
Drrrttt.
Ponsel Erika bergetar pertanda sebuah pesan masuk.
Dia pun langsung membuka ponselnya, dia melihat sebuah pesan di aplikasi hijau.
Erika langsung membuka pesan yang ternyata pesan tersebut merupakan pesan dari Rakha.
"Ada apa tuan muda mengirimi aku pesan?" gumam Erika di dalam hati.
Erika pun membuka pesan itu.
๐ Tuan Muda Rakha.
Erika, nanti pulang kuliah kamu bawa Ayunda ke rumahmu dulu, dan pastikan dia baik-baik saja.
Erika menautkan kedua alisnya setelah membaca pesan dari tuan muda.
__ADS_1
"Pasti sudah terjadi masalah lagi di antara mereka lagi," gumam Erika di dalam hati.
Erika bergegas menyimpan ponselnya di dalam tas. Lalu kembali memperhatikan presentasi yang sedang berlangsung.
"Lu tenang aja, Rika. Nanti waktu istirahat Ayunda pasti menceritakan apa yang telah terjadi," gumam Erika lagi.
Saat jam istirahat makan siang, Ayunda mengajak Erika melangkah ke kantin.
"Apa yang terjadi?" tanya Erika pada Ayunda setelah mereka duduk di sebuah kursi yang ada di kantin.
Ayunda tampak menghela napas panjang, dia mencoba menenangkan dirinya yang saat ini tengah bergemuruh.
Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya.
Belum mulai Ayunda menceritakan masalah yang tengah dihadapinya, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Erika.
Di sana terlihat sebuah status akun teman kuliah Erika yang memasangkan sebuah foto yang kini menjadi gosip hangat di kampus.
"What? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Siapa wanita ini?" tanya Erika pada Ayunda sambil menunjukkan status tersebut.
"Mhm, entahlah. Aku sendiri tidak tahu siapa wanita itu. Tapi, dengan berani dia memeluk tubuh Bang Rakha di hadapan banyak mahasiswa. Kenapa nasibku begitu menyakitkan?" Ayunda pun mulai menjatuhkan air matanya yang sejak tadi di usahahkannya tidak jatuh membasahi pipinya.
Erika yang tadinya duduk di hadapan Ayunda, kini berpindah duduk di samping Ayunda. Dia mengusap lembut punggung Ayunda yang kini mulai bergetar karena menangis.
"Lu tenang, ya, mungkin saja Ini hanya salah paham, kita tunggu penjelasan dari tuan muda." Erika berusaha menasehati Ayunda.
Dia juga menghibur sahabatnya itu agar tidak menangis lagi.
"Nanti, pulang kuliah lu main ke rumah gue aja dulu, biar lu bisa memenangkan diri," ajak Erika.
Ayunda menoleh ke arah, mungkin saat ini bantuan Erika sangatlah berarti baginya. Tidak mungkin rasanya Ayunda kabur lagi dalam situasi seperti ini. Apalagi dia baru saja kabur, dan baru 3 hari dia kembali.
"Benarkah? Kamu ngebolehin aku ke rumah kamu dulu?" tanya Ayunda dengan polosnya.
"Ya iyalah, lu kan sahabat gue," ujar Erika.
"Terima kasih ya, Rika," lirih Ayunda.
"Ya udah kita makan dulu, biar pikiran kita tenang," ajak Erika.
Setelah itu, Ayunda dan Erika pun memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.
Mereka menikmati makanan yang mereka pesan, meskipun Ayunda tak berselera makan, tapi Erika terus menyemangati Ayunda sehingga makanan yang ada di piring Ayunda pun habis tak bersisa.
Hari ini Ayunda dan Erika tidak masuk kuliah setelah Dzuhur sehingga mereka bisa langsung pulang.
Mereka kini melangkah keluar dari gedung Fakultas.
Di saat itu Ayunda berpapasan dengan Rakha.
__ADS_1
Bersambung...