Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Patricia


__ADS_3

"Hah, kenapa memang?" tanya Ayunda heran.


Erika menghela napas panjang, lalu dia mengambil ponselnya dan memotret wajah Ayunda yang kini berantakan.


Wajah Ayunda terlihat acak-acakan, dia juga dapat melihat dengan jelas belas liptinnya belepotan ke sana ke mari.


"Astaghfirullah," pekik Ayunda kaget saat melihat pantulan wajahnya yang dipotret Erika.


"Ka, ayo temani aku ke toilet," ujar Ayunda memohon pada Erika.


Mau tak mau Erika pun menemani Ayunda menuju ke kamar mandi. Erika tidak mau Ayunda hilang lagi seperti beberapa hari yang lalu, dia juga belum bisa tenang karena dalang dibalik penculikan itu belum ditemukan.


Mereka melangkah menuju kamar mandi sebelum kelas mata kuliah selanjutnya dimulai.


Saat mereka melangkah menuju toilet mereka tidak sengaja bertemu dengan Rakha.


Erika melihat dengan jelas bibir Rakha yang juga belepotan berwarna merah, sehingga Erika dapat mengerti situasi yang telah terjadi antara Ayunda dan Sang dosen killer.


"Maaf, Tuan muda," lirih Erika menghentikan langkah Rakha.


"Ada apa?" tanya Rakha dengan gaya sok keren.


"Itu bibirnya kenapa merah-merah," bisik Erika.


Setelah itu Erika pun menarik Ayunda dan mengajaknya pergi sedangkan Rakha kelabakan dengan apa yang dikatakan oleh Erika, dia pun melihat pantulan dirinya di cermin yang terpajang di dinding lorong itu.


Rakha melihat dengan jelas, di bibirnya terlihat warna merah.


"Ya ampun, ini pasti lipstik si Ayunda," gumam Rakha sambil menghapusnya.


Dia pun bergegas menuju toilet terdekat, dia tidak mungkin masuk kelas dengan keadaan seperti itu.


Setelah membersihkan wajahnya di toilet, Rakha tersenyum mengingat kelakuan konyolnya terhadap sang istri pagi ini.


"Entah mengapa aku bisa jadi seperti ini setelah bertemu denganmu," gumam Rakha.


Rakha pun keluar dari toilet lalu melangkah menuju kelas dan bersiap untuk mengajar setelah memastikan penampilan baik-baik saja.


"Kamu ngomong apa sama Bang Rakha?" tanya Ayunda pada Erika.


"Hahaha, aku ngeledekin dia. Bisa-bisanya berbuat mesum di kampus," lirih Erika tambah bersalah.


Seketika wajah Ayunda berubah menjadi merah menahan rasa malu, dia yakin Erika sudah mengetahui apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan sang suami.


"Hahaha." Erika tertawa lepas melihat ekspresi Ayunda yang malu berat.

__ADS_1


"Ish, kamu," lirih Ayunda.


Hanya itu yang bisa dikatakannya agar Erika berhenti menertawakan dirinya.


"Kalian itu aneh, ya. Kenapa tidak publikasikan saja langsung hubungan kalian di depan semua orang supaya tak ada cewek-cewek kampus ini mengejar-ngejar tuan muda lagi," ujar Erika.


"Maksud kamu?" tanya Ayunda menautkan kedua alisnya.


"Ayunda, lu itu nyadar enggak, sih. Kalau banyak mahasiswi dan dosen wanita yang single mengejar-ngejar suami lu?" ujar Erika memberi penjelasan yang masih saja belum dimengerti Ayunda.


Ayunda hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


"Dasar, anak kecil udah praktek aja masih aja enggak ngerti apa yang diomongin," gerutu Erika.


"Udahlah, ganti topik. Udah selesai belum?" tanya Erika pada Ayunda.


"Mhm," gumam Ayunda sambil mengangguk.


Ayunda mengabaikan ucapan Erika tadi, dia tahu banyak wanita yang mengagumi suaminya, tapi dia tidak perlu memberitahukan statusnya pada semua orang.


"Yuk, nanti telat," ajak Erika.


Erika pun menarik tangan Ayunda keluar dari toilet setelah memastikan penampilan Ayunda sudah mulai rapi.


Saat istirahat makan siang, Ayunda dan Erika memilih menikmati makan siang di kantin.


Saat mereka menunggu pesanan mereka datang, teman Ayunda dan Erika pun ikut bergabung dengan mereka.


Dia duduk di samping mereka tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Ayunda dan Erika tersenyum padanya, tapi wanita itu membalas tatapan mereka dengan sinis.


Erika menautkan kedua alisnya heran melihat sikap temannya itu.


"Hei, Ayunda!" ujar si wanita itu pada Ayunda dengan sinis.


"Ya," lirih Ayunda.


Ayunda merasa tidak nyaman dengan sikap wanita itu padanya.


"Kamu, cari muka ya sama Pak Rakha, jadi mahasiswi itu jangan caper, dong," ujar Si wanita pada Ayunda.


Ayunda dan Erika saling melempar pandangan, dia heran melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu.


"Mhm, maksud lu apa, Patricia?" tanya Erika kesal melihat wanita yang bernama Patricia itu tiba-tiba melabrak Ayunda.

__ADS_1


"Ini lho teman lu, bisa-bisanya cari perhatian Pak Rakha, semua orang juga tahu kalau gue itu fans berat Pak Rakha," ujar Patricia jujur.


Patricia pun memberitahukan secara terang-terangan bahwa dia adalah calon pelakor baginya.


"Hahahaha." Erika tertawa mendengar ucapan Patricia yang terdengar sangat bodoh.


Ayunda dan Erika menang tak banyak tahu menahu gosip yang ada di kampus, karena mereka sibuk memikirkan tugas dari pada nongkrong tidak jelas di kampus.


"Lu itu bodoh atau Oo*?" ujar Erika sambil tertawa.


Hal ini membuat Patricia semakin bingung.


Ayunda masih diam berusaha mencerna situasi saat ini, bukannya Ayunda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Patricia. Tapi, dia hanya tidak mau ribut-ribut di kantin.


"Hei, Rika! Lu jaga mulut lu, ya." Patricia mulai emosi.


"Udahlah, kalau kamu fans sama Pak Rakha, ambil saja! Berusahalah dengan sekuat tenaga mengambil hatinya, tapi jika suatu hari nanti dia lebih memilih aku, jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku," ujar Ayunda pada Patricia.


Setelah itu, Ayunda pun berdiri dan mengajak Erika berpindah tempat.


"Lu kenapa, Yun? Mending katakan padanya kalau lu itu istrinya Tuan muda," ujar Erika kesal dengan sikap Ayunda yang memilih untuk diam dan menghindar.


"Orang seperti dia tidak perlu diladeni," ujar Ayunda santai.


Patricia hanya bisa menatap kesal ke arah Ayunda dan Erika, dua tidak menyangka wanita culun dan kampungan menurutnya itu berani mengancam dirinya.


Hatinya semakin memanas mendengar Ayunda juga menginginkan pria yang selama ini dikaguminya.


Dia pun duduk dan menghela napas kasar, dia kembali menunggu makanannya yang sejak tadi belum juga datang sambil menatap kesal ke Ayunda dan Erika.


Tak berapa lama Ayunda dan Erika menunggu, pelayan pun datang menghampiri mereka sambil membawa makanan yang mereka pesan tadi.


Lalu 2 wanita itu pun mulai menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.


Tiba-tiba, seorang pria tampan datang menghampiri mereka. Pria tampan itu memberikan senyuman yang sangat menawan pada Ayunda.


Dari kejauhan Patricia melihat pria yang menghampiri Ayunda dan Erika, dia tak percaya apa yang kini ditangkap oleh matanya.


"Tidak mungkin," lirihnya tak percaya.


Dari kejauhan Patricia melihat pria itu duduk tepat di samping Ayunda.


Hati Patricia pun semakin panas dia tidak terima pria yang dikaguminya itu satu meja dengan Ayunda dan Erika.


Patricia berdiri, dia langsung menghampiri Ayunda tanpa pikir panjang, Patricia mengambil gelas yang berisi es teh lalu menyiramkan es teh itu pada Ayunda.

__ADS_1


Semua orang yang melihat hal itu, mereka menatap heran.


Bersambung...


__ADS_2