
Erika menghampiri Ayunda yang masih duduk lemas di lantai, dia sangat terpukul mendengar amarah Rakha.
Ancaman Rakha membuat dirinya tak tahu harus berbuat apa.
Saat ini Ayunda bingung dalam menghadapi Rakha, karena dia sendiri tidak tahu dengan perasaannya pada Rakha, dia juga tidak tahu perasaan Rakha terhadap dirinya.
"Ayun, apa yang terjadi?" tanya Erika pada Ayunda.
Erika pun menghampiri Ayunda, lalu dia mengajak Ayunda duduk di atas tempat tidur.
"Rika, aku tak tahu harus berbuat apa, hiks." Ayunda memeluk Erika erat.
Gadis belia itu pun meluapkan rasa sesak di dadanya pada sang sahabat.
Erika membalas pelukan Ayunda.
"Rika, menurut kamu, apa yang harus aku lakukan? Saat ini statusku memang istri bagi bang Rakha, tapi dia sama sekali tidak pernah menganggap diriku ada di dalam kehidupannya." Ayunda mulai mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.
"Dia mengekang aku untuk berbuat hal-hal yang tidak diinginkannya, sedang dia sendiri tidak pernah menanyakan apa sebenarnya yang aku mau," ujar Ayunda lagi.
"Aku bingung, dia itu anggap aku sebagai apa? Apakah dia mencintaiku? Apakah dia benar-benar ingin menjadikan aku istrinya? Jika memang dia aku ingin. menjadi istrinya aku mungkin bisa bersikap untuk menjaga hatiku hanya untuknya, tapi jika nanti aku sudah jatuh cinta padanya dan ternyata dia tidak mencintaiku? Aku pasti akan kecewa," ujar Ayunda lagi.
Ayunda terus mengeluarkan keluh kesahnya pada Erika, sementara itu Rakha mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayunda melalui cctv yang sengaja dipasang Rakha di dalam kamarnya, dia menyambungkan cctv itu ke ponselnya.
Rakha terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Ayunda.
"Ya Allah, aku sendiri juga telah salah padanya. Aku mengekang kehidupannya tapi aku tidak bisa memberi kepastian padanya," gumam Rakha juga merasa bersalah.
"Haruskah aku melepaskannya begitu saja, lalu bagaimana hidupnya setelah ini?" gumam Rakha lagi.
Rakha juga tidak tega menceraikan Ayunda, tapi dia sendiri belum bisa mencintai Ayunda.
Yang ada di benak Rakha saat ini hanya menyelamatkan hidup Ayunda hingga dia tamat SMA.
Rakha belum memikirkan apa yang akan dilakukannya terhadap Ayunda setelah gadis belia itu tamat SMA.
Bagi Rakha, sekolah Ayunda lebih penting untuk saat ini, dia tidak mau status Ayunda sebagai istrinya terbongkar di sekolah sehingga dia takut Ayunda dikeluarkan dari sekolah itu.
"Ayun, menurut gue, sekarang lebih baik kamu fokus dengan sekolahmu, lupakan hal yang akan mengganggu pikiranmu tentang sekolah. Jika gue bisa, gue akan bilang sama tuan muda untuk tidak terlalu bersikap keras sama lu," ujar Erika menasehati Ayunda.
__ADS_1
Erika merasa kasihan pada sahabatnya, dia tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Ayunda, mungkin Erika sendiri tidak akan sanggup.
"Kalau lu ada masalah sama tuan muda, kamu boleh kok cerita sama aku," ujar Erika pada Ayunda.
"Iya, Rika. Gue akan cerita sama lu, tapi gue bisa cerita cuma pas di sekolah," ujar Ayunda.
"Lho? Ponsel lu mana?" tanya Erika menautkan dahi.
Setahunya Ayunda sudah memiliki ponsel yang dibelikan tuan Adhitama waktu itu.
"Mhm, i-itu." Ayunda pun menceritakan apa yang telah terjadi pada ponselnya.
Hampir satu bulan Ayunda tak pernah lagi menggunakan benda pipih itu.
"Ya ampun, kenapa tuan muda sejahat itu? Apa jangan-jangan tuan muda cemburu?" gumam Erika.
Ayunda sempat mendengar apa yang dikatakan oleh Erika.
"Dia itu bukan cemburu, hanya saja dia tidak mau aku itu dekat sama siapa pun yang namanya laki-laki," ujar Ayunda jujur.
"Bang Rakha itu hanya tahu marah-marahin aku, kalau aku salah dia selalu menjitak kepalaku, dia enggak pernah mikir kalau jitakannya itu bikin kepalaku sakit," ujar Ayunda lagi bercerita pada Erika.
"Benarkah? Aku enggak nyangka tuan muda seperti itu, semoga saja tuan muda berubah deh. Semoga kamu dan tuan muda bisa jadi pasangan yang langgeng," ujar Erika berusaha menghibur Ayunda.
****
Saat malam tiba, Ayunda membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ayunda memiringkan badannya membelakangi Rakha. Dia tidak mau melihat pria dingin seperti beruang kutub itu.
Ayunda masih sedih dengan apa yang dikatakan oleh Rakha tadi siang.
Dia masih mengingat ucapan Rakha.
Apa kamu mau aku melakukan sesuatu agar kamu sadar dengan status kamu saat ini?
Sekali lagi kamu melakukan hal yang sama, aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran.
Ayunda belum bisa menghilangkan kata-kata itu dari benaknya.
__ADS_1
"Apa yang akan beruang kutub itu lakukan jika aku melakukan kesalahan yang sama," gumam Ayunda di dalam hati.
Rakha baru saja masuk ke dalam kamar, dia melihat istrinya yang berbaring membelakangi dirinya.
Rakha terlihat bingung harus bagaimana, karena dia kini merasa bersalah pada istrinya.
Rakha menatap dalam pada wanita yang kini berbaring di atas tempat tidur itu.
Ayunda mulai menangis, dia tak sanggup menahan air matanya.
Gadis belia itu mulai meratapi jalan hidupnya yang sulit.
Rakha yang ikut berbaring di samping Ayunda dapat mendengar isakkan tangis istrinya, dia melihat dengan jelas tubuh sang istri bergetar menahan Isak tangisnya.
Rakha pun mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang istri, lalu dia menarik tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya, awalnya Ayunda menolak, tapi entah mengapa akhirnya dia luluh dan dia membiarkan sang suami mendekap erat tubuhnya.
"Hiks, maafkan aku, maafkan aku." Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Ayunda.
Rakha mengusap lembut punggung Ayunda, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Rakha hanya ingin menenangkan diri istrinya yang kini mungkin terguncang akibat dirinya sendiri.
Ayunda pun merasakan kehangatan yang diberikan oleh sang suami.
"Ya Allah, mungkinkah aku bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk pria seperti Bang Rakha? Aku hanya seorang gadis desa yang berasal dari keluarga miskin dan hancur, tak ada yang bisa dibanggakan dalam diri ini. Apakah aku pantas berada di dalam kehidupan pria sempurna seperti Bang Rakha?" gumam Ayunda di dalam hati setelah dia merasa hatinya sedikit tenang.
Ayunda merasa minder untuk memberikan hatinya pada pria dingin bagaikan beruang kutub seperti Rakha.
Setelah beberapa menit dia berada di dalam dekapan Rakha, Ayunda menggeliatkan tubuhnya, lalu dia pun bangkit dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk tepat di hadapan Rakha.
Rakha menautkan kedua alisnya heran melihat apa yang dilakukan oleh Ayunda.
"Ada apa?" tanya Rakha heran.
"Bang, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ayunda memberanikan diri untuk mempertanyakan posisinya saat ini dalam kehidupan pria tampan yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Rakha.
Rakha pun bangun dan mengambil posisi duduk tepat di hadapan Ayunda.
__ADS_1
"Bang, aku ingin tahu bagaimana posisi diriku di dalam hidupmu? Akankah mungkin aku bisa menjadi wanita satu-satunya yang ada dalam kehidupanmu?" tanya Ayunda pada Rakha.
Bersambung...