Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ayunda kembali.


__ADS_3

Rakha kaget mendengar suara wanita yang selama ini dicari-carinya.


Rakha menoleh ke arah asal suara wanita yang telah membuat dirinya stres satu minggu ini.


Ayunda hanya diam membalas tatapan Rakha, Erika tersenyum melihat reaksi Rakha yang terpaku, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Saat ini Rakha ingin sekali menghampiri Ayunda lalu memeluk tubuh istrinya yang telah menghilang selama 1 minggu. Dia juga ingin membentak dan memarahi Ayunda. Di hatinya kini bercampur aduk di antara marah, kesal dan bahagia.


"Mhm, Ayunda Rahayu, mana tugas yang kemarin saya berikan padamu?" tanya Rakha pada Ayunda.


Seketika Rakha memiliki ide untuk bisa berinteraksi dengan Ayunda.


"Astaghfirullah, aku lupa," lirih Ayunda.


Ayunda menoleh ke arah Erika, dengan santai Erika berdiri ke depan.


Dia memberikan tugas makalah yang telah dikerjakannya pada Ayunda.


"Ini, coba kamu bawa ke depan," ujar Erika menyelamatkan sahabatnya.


"Hah?" Ayunda masih bengong.


"Cepatan! Nanti tuan muda marah lagi," bisik Erika di telinga sahabatnya.


Ayunda pun mengambil makalah yang ada di tangan Erika. Lalu dia pun melangkah ke depan membawa makalah yang telah ada di tangannya.


"Ini, Pak." Ayunda meletakkan makalah itu di atas meja.


Rakha menatap terpaku pada istrinya kini yang ada di hadapannya. Dia perlahan berdiri tanpa pikir panjang, Rakha menarik tangan Ayunda keluar dari kelas.


Semua mahasiswa yang ada di kelas hanya memandangi apa yang terjadi. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.


Saat mereka berada di ambang pintu kelas, Rakha menghentikan langkahnya.


"Lanjutkan presentasi hari ini. Koordinator kelas, jangan lupa bikin laporan presentasinya!" perintah Rakha pada semua siswa yang ada di dalam kelas itu.


"Ya ampun, Tuan Muda, hahaha." Erika tertawa lucu melihat ekspresi si tuan muda yang selalu bersikap dingin di mata Ayunda.


Erika membayangkan apa yang akan terjadi pada Ayunda, dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


Teman-teman sekelas Erika pun menatap heran ke arah Erika.


"Rika, ada apa? Siapa tuan muda?" tanya salah satu temannya yang penasaran apa sebenarnya yang telah terjadi.


Seketika Erika terdiam, dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak ada apa-apa," ujar Erika masih menahan tawanya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu ketawa seperti itu?" tanya teman Erika lagi.


"Enggak ada apa-apa," jawab Erika.


"Kamu payah, Rik. Masa iya, teman kamu dihukum, kamu malah ketawa enggak jelas gitu, tertawa di atas penderitaan teman itu namanya," tukas teman lainnya tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Erika.


"Huhhft." Erika hanya menghela napas panjang.


"Maaf," lirih Erika sambil nyengir kuda.


Gadis itu memilih untuk duduk di kursinya.


Tak berapa lama setelah itu, acara presentasi pada mata kuliah manajemen perkantoran dimulai. presentasi dipandu oleh koordinator bidang studi tersebut.


Rakha membawa Ayunda masuk ke dalam ruangannya, setiap dosen memiliki ruangan khusus, tapi dia jarang menggunakannya, ruangan itu hanya digunakannya di saat memeriksa tugas-tugas mahasiswa atau di saat dia ingin beristirahat.


Rakha pun mengunci pintu ruangannya, dia langsung memeluk dengan erat tubuh Ayunda.


"Kamu ke mana saja? Kenapa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku?" bisik Rakha.


Rakha mengabaikan Ayunda yang hanya diam, dia tidak membalas pelukan sang suami sedikitpun.


Hati Ayunda masih terluka, dia memutuskan untuk kembali masuk kuliah karena dia merasa bosan selama tinggal di rumah Gayatri.


Menurutnya lebih baik dia pergi ke kampus untuk melanjutkan kuliahnya daripada berdiam diri di rumah teman Papa mertuanya itu.


Tek.


Rakha menjitak kepala istrinya yang nakal.


"Kenapa kau melakukan hal ini?" Rakha kembali mengulangi pertanyaannya.


"Aduh, sakit," lirih Ayunda meringis kesakitan.


Dia mengelus lembut kepalanya yang baru saja di jitak oleh sang suami.


"Kamu jahat," ketus Ayunda kesal.


"Bukannya minta maaf dengan apa yang sudah dilakukannya padaku, kamu malah menyiksaku lagi," gerutu Ayunda memasang wajah cemberut.


"Lain kali, kalau aku kabur aku nggak kembali lagi deh," ujar Ayunda lagi masih dengan wajah cemberut.


Ayunda memanyunkan bibirnya kesal pada sosok beruang kutubnya.


Rakha tersenyum melihat aksi Ayunda, bukannya dia menyesali apa yang sudah dilakukannya.pada istri kecilnya.


Kali ini Rakha tidak bisa menahan diri untuk membungkam mulut istrinya dengan bibirnya.

__ADS_1


Ayunda kaget saat mendapat perlakuan itu dari sang suami, sontak dia ingin menghindar tapi Rakha justru menahan tengkuk Ayunda sehingga Ayunda tidak dapat berbuat apa-apa lagi.


Perlahan melepaskan ci***nnya, lalu dia menangkup wajah Ayunda, dia kembali menikmati manisnya bi**r sang istri yang sudah lama tak disentuhnya.


Entah mengapa Ayunda juga menikmati apa yang dilakukan oleh sang suami kepadanya.


Sesaat mereka tenggelam dalam manisnya rasa yang mereka sendiri tidak tahu rasanya apa.


Setelah beberapa lama, Ayunda tersadar dari apa yang dilakukannya. Dia sontak mendorong tubuh suaminya, hingga Rakha membentur dinding. Setelah itu Ayunda memukul-mukul dada bidang suaminya.


Ayunda meluapkan rasa kesal yang masih tersimpan di hatinya.


Rakha kaget, lalu dia pun langsung memeluk kembali tubuh sang istri dengan erat, sehingga Ayunda pun menghentikan gerakannya.


"Maaf, maafkan aku, aku minta maaf," lirih Rakha.


Hati Ayunda mulai plong setelah mendengar permintaan maaf dari sang suami. Hatinya lega, karena sejak tadi hanya ini yang ingin didengarnya.


"Kamu yakin minta maaf atas kesalahanmu?" lirih Ayunda pelan.


"Iya, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi, mulai hari ini kita akan mulai rumah tangga kita dari awal. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu," ujar Rakha berjanji pada sang istri.


Rakha ingin menebus rasa bersalahnya pada sang istri dengan berusaha menjadi suami yang baik untuk Ayunda.


Meskipun dari awal hubungan mereka hanya sebatas surat di atas kertas, kini Rakha akan menjadikan pernikahan mereka sebagaimana pernikahan yang dijalani oleh setiap pasangan suami istri.


Rakha mengecup lembut puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Aku harap jangan tinggalkan aku lagi," lirih Rakha berbisik di telinga Ayunda.


"Mhm," gumam Ayunda.


"Ya sudah, kalau begitu kamu masuk kelas lagi," ujar Rakha sambil mengacak-acak rambut Ayunda.


"Mhm," gumam Ayunda mengangguk.


Ayunda bersiap untuk keluar dari ruangan Rakha, tapi Rakha menahan tangan Ayunda, setelah itu dia pun menarik tangan Ayunda.


Dia kembali memeluk erat tubuh Ayunda dengan erat.


"Aku mohon jangan pergi lagi, cukup aku stres dalam satu Minggu ini memikirkan dirimu," ujar Rakha mengaku bahwa dia tak sanggup hidup tanpa kehadiran Ayunda di sampingnya.


Ayunda tersenyum dia sangat bersyukur mendengar apa yang telah dikatakan oleh sang suami.


Hatinya merasa lega, dia yakin suatu hari nanti dia akan menemukan kebahagiaannya.


"Terima kasih, Ya Allah," gumam Ayunda di dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2