
Ayunda tidak lupa mendaftarkan Erika sang sahabat, dia yakin Erika akan ikut, karena jika dia ikut Rakha pasti menyuruh Erika untuk ikut juga.
Selesai mendaftar Ayunda langsung melangkah menuju kelas, dia menunggu Erika di kelas.
"Rika, tumben kamu datang terlambat?" tanya Ayunda pada Erika saat melihat sahabatnya masuk ke dalam kelas.
"Mhm, ada kendala di jalan," jawab Erika santai.
"Oh iya, Rika. Tadi aku liat pengumuman di papan pengumuman. Kampus sedang mengadakan acara hiking dan camping, kamu lihat?" tanya Ayunda.
"Mhm iya." Erika mengangguk.
"Aku udah daftar, dan aku juga daftarin kamu. Kamu mau ikut, kan?" tanya Ayunda.
Ayunda yakin sekali Erika akan ikut dalam acara itu.
"Hah? Lu mau ikutan? Lu juga daftarin gue?" tanya Erika.
Bukannya Erika tidak mau ikut, tapi Erika sangat malas melakukan acara apapun dengan teman-teman yang lain entah mengapa sejak kuliah, dia lebih suka menikmati hidupnya sendiri dari pada berteman dengan banyak orang, itu pun dia berteman dengan Ayunda karena memang sudah sahabatan sejak SMA.
"Kamu enggak mau ikut, ya?" tanya Ayunda sedikit kecewa melihat ekspresi Erika.
"Bukannya gue enggak mau ikut, tapi ya enggak mood aja," lirih Erika.
"Tapi, kalau lu ikut, mau tak mau gue juga harus ikut. Gue akan selalu ada di mana lu berada, hahaha, sesuai perintah tuan muda," ujar Erika lagi.
"Benarkah?" Seketika wajah Ayunda yang mulai sendu kembali sumringah.
__ADS_1
Erika pun mengangguk mengiyakan ucapan Ayunda.
Pada saat jam makan siang, Erika dan Ayunda asyik menikmati makan siangnya, sepengetahuan Ayunda hari ini sang suami akan sibuk karena banyak hal yang harus diselesaikannya.
"Ayun." Tiba-tiba Rakha kini sudah berdiri tepat di samping Ayunda.
Dia menatap sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ayunda mengangkat wajahnya, dia kaget melihat keberadaan Rakha di kantin.
"Mhm, Bang Rakha, kamu di sini?" lirih Ayunda.
Ayunda terlihat bingung, dia bingung melihat suaminya yang berbeda hari ini.
"Setelah makan aku tunggu kamu di ruanganku," ujar Rakha dengan datar.
Ayunda menautkan kedua alisnya, dia berusaha menerka-nerka apa yang membuat suaminya kembali dingin seperti beruang kutub.
"Ada apa?" tanya Erika juga ikut penasaran dengan raut wajah sang tuan muda.
"Enggak tahu." Ayunda mengangkat bahunya.
"Bang Rakha suruh aku ke ruangannya habis ini," tambah Ayunda.
"Tapi kok tampangnya menyeramkan amat, seperti mau memakan orang saja," ujar Erika menyampaikan pendapatnya.
"Tau, ah. Biarin aja, yuk lanjut makan," ajak Ayunda santai.
__ADS_1
Meskipun bingung, Ayunda tetap melanjutkan makan siangnya. Setelah itu, dia pun langsung menuju ruangan Rakha.
Erika mengantarkannya hingga depan ruang dosen, setelah itu langsung menuju kelas.
"Gue tunggu di kelas saja, ya. Gue enggak mau jadi tukang tepukin nyamuk," ujar Erika.
"Oke," sahut Ayunda.
Ayu dan pun melangkah masuk ke dalam ruang dosen, ruangan itu terlihat sepi, mungkin karena waktu istirahat banyak dosen yang juga sedang bersantap makan siang di tempat lain.
Tok tok tok.
Ayunda mengetuk pintu ruangan Rakha sebelum dia masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Masuk!" teriak Rakha dari dalam ruangannya.
Ayunda pun mendorong pintu ruangan Rakha, dia melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Seketika Ayunda merasa asing berada di ruangan itu, dia melihat tatapan sang suami sangat tak bersahabat, hal ini membuat Ayunda merasa gugup dan takut.
Dia berdiri tak berapa langkah dari pintu. Rakha yang tadi duduk di kursi kebesarannya, kini pun dia sudah berdiri tepat di hadapan sang istri.
Tek.
Rakha menjitak kepala Ayunda, setelah sekian lama dia tidak melakukan hal itu, kini dia kembali mengulanginya.
"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Rakha.
__ADS_1
Rakha menatap tajam ke arah Ayunda.
Bersambung...