
Ayunda mempercepat langkahnya, dia meninggalkan Baim begitu saja.
"Ayun!" teriak Baim.
Baim mempercepat langkahnya, dia mengejar Ayunda hingga akhirnya mereka sampai di dalam kelas.
Ayunda bersyukur saat melihat Erika sudah duduk di bangkunya.
"Erika, syukur kamu udah di sini." Ayunda menghela napas lega.
"Mhm, kenapa?" tanya Erika.
"Baim ngejar-ngejar aku, bantu aku buat bisa menghindar darinya," ujar Ayunda.
"Ayun! Kamu kenapa?" tanya Baim datang menghampiri kekasihnya.
Ayunda hanya menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup mengatakan apa yang telah terjadi, dia juga tidak mau semua teman-teman di sekolahnya tahu, jika dirinya sudah menikah.
Sesuai perjanjian, pernikahan mereka akan dirahasiakan untuk sementara waktu.
Erika berdiri, dia menarik lengan Baim menuju bangku Baim.
"Lu apa-apaan, Rik?" tanya Baim protes.
"Im, gue minta sama lu, mulai hari ini lu jangan pernah ganggu Ayunda lagi," ujar Erika tegas.
"Tapi, apa alasannya, Rik?" tanya Baim tidak terima.
"Maaf, Im. Gue enggak bisa kasih tahu alasannya, menurut gue lebih baik lu lupain Ayunda, dan jauhi dia," ujar Erika memberi saran pada Baim.
"Enggak bisa gitu, dong. Gue harus tahu apa alasannya," ujar Baim masih tetap bersikeras.
"Im, beri Ayunda waktu untuk menyampaikan alasannya, tapi saat ini gue mohon jangan ganggu dia." Erika memohon pada Baim.
Baim terdiam melihat Erika yang memohon padanya, dia pun mulai bertanya-tanya di dalam hati.
"Baiklah, aku akan menunggu Ayunda menjelaskan alasannya." Baim pun duduk.
Dia mulai membuka buku pelajarannya. Sesekali dia menoleh ke arah Ayunda.
"Ayun, apa sebenarnya salahku padamu?" gumam Baim.
Baim berusaha menguatkan hatinya. Dia berusaha sabar untuk menunggu kekasihnya itu menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi.
Tak berapa lama setelah itu, bel masuk berbunyi, mereka pun mulai belajar.
Saat pelajaran berlangsung Ayunda sesekali menoleh ke arah Baim.
__ADS_1
"Maafkan aku, Baim. Aku tidak bisa melanjutkan apa yang telah terjadi di antara kita," gumam Ayunda di dalam hati.
Ayunda mengusap air matanya yang membasahi pipinya, dia tak kuat melihat Baim yang terlihat sangat kecewa.
Pada jam pelajaran olah raga semua siswa keluar dari kelas, mereka melanjutkan pelajaran di lapangan.
Semua siswa mengganti pakaiannya di ruang ganti, Baim hanya bisa menatap Ayunda yang melangkah menuju ruang ganti.
Ayunda sempat melihat Baim yang menatapnya sepanjang langkah.
Lagi-lagi Ayunda hanya bisa meminta maaf di dalam hati.
"Ayun, apa sebenarnya masalah yang tengah kamu hadapi, kenapa kamu tidak menceritakan masalahmu padaku? Mana tahu kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama," lirih Baim kecewa.
Mereka pun berbaris di lapangan sesuai perintah dari guru olah raga.
"Baiklah, anak-anak kita akan mulai pelajaran olah raga hari ini dengan pemanasan keliling lapangan," ujar guru olah raga memulai pelajaran hari ini.
semua siswa pun melakukan pemanasan dengan berlari keliling lapangan, Ayunda berlari secara perlahan tanpa disadarinya Baim sudah berada di sampingnya.
"Ayun," lirih Baim.
Ayunda kaget saat menyadari bahwa pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya berada tepat di sampingnya.
Ayunda mempercepat langkahnya agar dia bisa menghindari Baim.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, mungkin hubungan kita cukup sampai di sini," ujar Ayunda memutuskan hubungannya dengan Baim sambil melangkah berlari mengelilingi lapangan.
"Ayun, bisakah kamu memberikan penjelasan padaku," pintar Baim memohon kepada wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sudahlah lupakan aku dan lupakan semua kisah yang telah terjadi di antara kita," ujar Ayunda.
Setelah itu Ayunda pun menghampiri Erika yang kini sedang asyik berlari bersama teman lainnya.
Priiittt.
Terdengar guru olahraga membunyikan peluit untuk mengumpulkan para siswa, ini menjadi kesempatan buat Ayunda untuk bisa kembali menghindar dari Baim yang masih mencoba mendekatinya.
Pelajaran olahraga hari ini mereka isi dengan bermain basket.
Guru olahraga telah membagi siswa menjadi beberapa tim, dua tim untuk perempuan dan dua tim untuk laki-laki.
Saat ini pertandingan antara tim wanita, Ayunda dan Erika dapat satu tim.
Mereka pun mulai bermain basket sesuai kemampuan mereka masing-masing.
Di kelas XI IPA 1 itu tak banyak siswi yang mengerti cara bermain basket. Mereka bermain sesuka hati mereka tanpa ada aturan.
__ADS_1
Saat Ayunda tengah membawa bola basket menuju ring basket seorang siswi meluruskan kakinya tepat di depan Ayunda yang sedang berlari sehingga Ayunda jatuh ke tanah.
Entah mengapa kepala Ayunda terasa sangat pusing, dan dia pun jatuh pingsan.
Baim melihat apa yang terjadi di lapangan, tanpa pikir panjang dia pun berlari menghampiri Ayunda yang kini terbaring di atas tanah.
Baim mengangkat tubuh Ayunda seorang diri, dia menggendong Ayunda menuju UKS.
Di UKS dia pun memberitahukan apa yang telah terjadi pada Ayunda pada petugas UKS.
Petugas UKS mulai memeriksa keadaan Ayunda saat ini.
Baim dan Erika menemani Ayunda yang masih belum sadarkan diri di atas tempat tidur yang ada di UKS.
"Rika," lirih Baim.
Baim memanggil Erika yang saat ini duduk tepat di samping tempat tidur Ayunda.
"Mhm," gumam Erika menanggapi panggilan Baim.
"Lu, lanjut belajar saja. Biar gue yang ngejagain Ayunda," ujar Baim menawarkan diri.
"Tidak usah, Lu aja yang lanjut belajar," ujar Erika menolak tawaran Baim.
Erika takut Ayunda marah padanya, karena saat ini Ayunda telah meminta pada dirinya untuk menjauhkan dirinya dari sosok Baim.
"Erika, gue mohon," lirih Baim memohon pada wanita yang bertugas menjaga Ayunda di setiap langkahnya.
Erika menatap dalam pada Baim, dia tidak sanggup melihat Baim yang memelas memohon di hadapannya.
"Benar, ya. Lu tidak boleh mengganggu Ayunda, dengan mempertanyakan apa yang telah terjadi," ujar Erika abadi peringatan kepada Baim.
Baim menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Erika.
Erika pun meninggalkan Baim yang kini duduk di sebuah kursi tepat di samping Ayunda.
Tak berapa lama menunggu, Ayunda menggerakkan tangannya. Baim tak sengaja melihat tangan ayahnya yang bergerak, dia pun berdiri dan menghampiri Ayunda.
Ayunda kaget saat melihat Baim berada di sampingnya. gadis itu berusaha untuk duduk, namun kepalanya yang masih pusing membuatnya jatuh, bersyukur Baim sanggup menyambut tubuh Ayunda yang jatuh, sehingga Ayunda jatuh tepat di dalam pelukan Baim.
"Tenanglah, saat ini kamu harus istirahat terlebih dahulu," ujar Baim sembari membaringkan tubuh ayunan di atas tempat tidur yang ada di UKS tersebut.
"Kamu itu masih lemah. Jangan terlalu banyak gerak dulu," ujar Baim menasehati.
Sesaat Baim mengabaikan permasalahan yang ada di antara dirinya dan Ayunda.
Bersambung...
__ADS_1