
Ayunda terdiam mendengar ucapan sang suami, dia sama sekali tidak merasa bersalah.
Dia terus mencoba berpikir di mana letak kesalahan yang telah dilakukannya.
"Kenapa diam? Jawab pertanyaanku!" bentak Rakha kesal pada sang istri.
"Ta-tapi a-aku tidak tahu salah apa?" lirih Ayunda gugup.
Kali ini amarah Rakha membuat Ayunda takut, sekian lama mereka bersama sudah lama Rakha tidak pernah marah padanya.
Rakha menghela napas panjang, dia berusaha menurunkan emosinya, karena tidak tega melihat wajah takut sang istri.
"Apa yang sudah kamu lakukan pagi ini?" tanya Rakha pada Ayunda.
"Mhm." Ayunda mulai berpikir.
"Apakah Bang Rakha marah padaku karena aku sudah mendaftarkan diriku dalam acara hiking dan camping itu tanpa izinnya?" gumam Ayunda mulai menyadari arah pembicaraan Rakha.
Ayunda pun langsung merangkul lengan sang suami, dia mencoba merayu Rakha yang kini wajahnya mulai biasa, rasa marahnya mulai berkurang karena kasihan pada Ayunda.
"Sayang," lirih Ayunda mulai merayu sang suami.
Baru kali ini Ayunda memanggil suaminya dengan sebutan 'Sayang'.
__ADS_1
Rakha menautkan kedua alisnya, dia menunggu ucapan Ayunda selanjutnya.
"Mhm, maafkan aku kalau salah. Tapi, aku benar-benar mau ikut acara hiking dan camping itu," rengek Ayunda yakin inilah menjadi penyebab kemarahan sang suami.
"Tapi, kamu tahu kan keadaan mu saat ini? Apakah kamu lupa dengan berbagai kejadian yang telah terjadi menimpa dirimu?" tanya Rakha.
Ayunda terdiam, dia tahu betul keadaannya saat ini, posisinya masih berada dalam situasi yang berbahaya karena banyak orang yang ingin mengganggu kehidupan Rakha dan dirinya.
"Sayang, seharusnya kamu minta izin terlebih dahulu padaku tentang masalah ini, agar tidak terjadi hal-hal buruk padamu," ujar Rakha sambil mengelus pelan rambut Ayunda.
"Maafkan aku Bang," lirih Ayunda yang telah menyadari kesalahannya.
"Sudahlah, kita bahas ini nanti. Kamu harus kuliah," ujar Rakha.
Rakha tidak suka melihat wajah istrinya yang kini mulai sendu.
"Kalau kamu mau ikut enggak apa-apa. Nanti aku akan sediakan pengawal khusus untuk kamu," lirih Rakha.
"Benarkah?" tanya Ayunda sumringah.
Ternyata niatnya untuk mengundurkan diri itu tak sepenuhnya datang dari hatinya. Dia masih ingin ikut serta dalam acara tersebut.
"Iya," lirih Rakha sambil mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang,' ucap Ayunda.
Ayunda pun mencium pipi sang suami, lalu dia pergi meninggalkan sang suami di ruangannya.
Rakha tersenyum melihat tingkah Ayunda. Lalu dia pun bersiap untuk keluar dari ruangannya karena beberapa menit lagi ada jadwal mengajar.
"Pak Rakha," sapa salah seorang dosen yang telah berumur sambil tersenyum pada dosen tampan itu.
"Iya, Bu." Rakha terlihat bingung dengan sikap dosen itu.
"Habis ngapain sama mahasiswi di ruangannya, Pak?" goda si dosen lagi.
"Mhm," gumam Rakha semakin bingung.
"Sebelum keluar, alangkah lebih baik Pak Rakha bercermin terlebih dahulu," bisik si ibu dosen lalu pergi meninggalkan Rakha yang masih bingung.
Akhirnya Rakha kembali masuk ke ruangannya, lalu dia berdiri tepat di depan cermin yang memang tersedia di ruangan itu.
Pria tampan itu sukses membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang terjadi, Rakha melihat dengan jelas, di bagian pipinya terlihat tanda merah berbentuk bibir.
Sudah bisa dipastikan, tanda merah itu adalah bekas bibir Ayunda yang tadi telah menciumnya
"Astaghfirullah," lirih Rakha merasa malu.
__ADS_1
Seketika wajahnya memerah menahan malu.
Bersambung....