Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Nasehat Tuan Adhitama


__ADS_3

"Seorang suami sangat berhak akan tubuh istrinya, dan aku akan mengambil hakku," ujar Rakha.


Perlahan Rakha mulai membuka pakaiannya, dia mulai mengecup setiap bagian tubuh istrinya yang membuat tubuh sang istri menegang dan merasakan getaran hebat dari dalam tubuhnya.


"Ini yang kamu inginkan agar kamu tahu dan sadar siapa dirimu?" ujar Rakha lagi.


Rakha terus me****s bukit kembar di balik kaca mata hitam milik sang istri yang selama ini tidak pernah disentuhnya.


Kini harga diri Ayunda terasa dicabik-cabik oleh suaminya sendiri. Bukan seperti ini yang diinginkannya selama ini, dia ingin suaminya menyentuhnya karena memang atas dasar saling suka.


Kali ini Ayunda merasa Rakha sama sekali tidak menghargai dirinya sebagai sang istri karena amarah di dalam hatinya.


Entah kekuatan dari mana muncul dari dalam diri Ayunda, gadis belia itu mendorong tubuh Rakha hingga sang suami jatuh terhempas di samping Ayunda.


Dia bergegas berdiri, lalu menarik selimut.


"Cukup!" bentak Ayunda dengan wajah yang telah basah dengan air mata.


"Selama ini aku tetap bertahan di sampingmu sebagai rasa hormat aku padamu dan papa, aku bertahan hidup terkekang olehmu. Aku tak berbuat apa yang kamu tak suka, tapi hari ini kau sudah menginjak-injak harga diriku, apakah itu yang disebut seorang suami!" bentak Ayunda.


"Kau memang berhak atas tubuh ini! Tapi, tidak seperti itu caranya! Kau menginginkan tubuhku, tapi hatimu untuk orang lain, aku bukanlah wanita ja***g pemuas na**u," ujar Ayunda lagi meluapkan rasa sesak yang dada di hatinya.


"Kau berjanji padaku akan melindungiku, akan menjagaku, apakah seperti ini yang namanya melindungi dan menjaga?" bentak Ayunda lagi.


Gadis itu terus menggebu-gebu menyampaikan pahitnya luka yang ditorehkan Rakha hari ini padanya.


"Aku harus menutup hatiku untuk siapa pun yang ada di luar sana, tapi aku tak berani untuk membuka hatiku untukmu karena aku tahu kau tidak mencintaiku. Kau sangat egois! Kau ingin aku tetap ada di sampingmu, tapi Kau sama sekali tidak peduli dengan hatiku!!!" Ayunda mencerca Rakha habis-habisan.


Dia mengumpat apa yang telah dilakukan Rakha padanya selama satu setengah tahun ini.


Ayunda telah berusaha menjadi istri Rakha sebaik mungkin, meskipun hanya sekadar istri di atas kertas.


Dia berada di sisi Rakha, tapi suaminya tidak pernah mencintai dirinya. Rakha memang tidak pernah menyakiti dirinya, tapi kali ini sikap Rakha membuat. Ayunda tidak dihargai sedikitpun oleh pria yang sudah berjanji padanya untuk menjaga dan melindungi dirinya.

__ADS_1


Ayunda pun berlari menuju kamar mandi, dia berdiam diri di sana sambil mengguyurkan tubuhnya dengan air yang ada di shower.


Ayunda pun menangis sejadi-jadinya, dia mengeluarkan semua rasa kecewa dan lukanya di bawah guyuran shower.


Rakha terdiam di tempatnya, dia sadar akan kesalahannya, meskipun Rakha tahu Baim hanya membantu sang istri, tapi dia tidak bisa menahan diri saat Ayunda berpelukan dengan pria lain.


Perlahan Rakha bangun dari posisi berbaringnya lalu dia mengenakan kembali kemejanya yang tadi dilepasnya.


Setelah itu Rakha pun keluar dari kamar, dia melangkah menuju ruang kerjanya. Hanya ruang kerja menjadi tempat pelarian Rakha, dia hanya bisa menenangkan diri dari segala masalah yang datang menghampirinya.


Satu jam di dalam kamar mandi, Ayunda pun mulai membersihkan dirinya. Setelah itu perlahan dia keluar dari kamar mandi, Ayunda yakin saat ini Rakha pasti sudah tak berada di kamar itu karena setiap kali pertengkaran yang terjadi di antara mereka, pria itu pasti keluar dari kamarnya.


Ayunda pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib karena sebentar lagi waktu maghrib pun masuk.


Dengan menyembah Allah, Ayunda mulai tenang dia terus berserah diri pada Allah akan perjalanan hidupnya.


Ayunda masih mengingat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Rakha tadi terhadap dirinya, sebenarnya Rakha boleh saja menyentuh dirinya karena mereka adalah suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


Rakha berhak melakukan apa saja terhadap dirinya, tapi Ayunda tidak terima dengan apa yang dilakukan Rakha padanya.


Lagi-lagi air mata Ayunda mulai membasahi pipinya, dia kembali menangis dan terisak saat mengingat perlakuan suaminya terhadap dirinya.


Sementara itu dari ruang kerjanya, Rakha yang baru saja menyelesaikan shalat maghrib, lalu dia membuka ponselnya, dia memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya di dalam kamar.


Rakha telah memasang cctv di setiap sudut kamar, sehingga dia bisa memantau apa yang dilakukan istrinya di dalam kamar.


Kini hati Rakha mulai menyesali apa yang telah dilakukannya terhadap Ayunda, Rakha juga mengingat kembali kelakuannya pada istrinya tadi.


Rakha mengusap kasar wajahnya.


"Maafkan aku, Ayun," lirih Rakha.


Hatinya merasa kasihan pada Ayunda yang kini telah merebahkan tubuhnya di atas sajadahnya.

__ADS_1


Ayunda berbaring masih mengenakan mukenanya.


Setelah satu jam Rakha masih melihat Ayunda berbaring di atas lantai, hatinya mulai merasa iba pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu, tapi Rakha masih enggan untuk mengakui kesalahannya.


Saat waktu makan malam tiba, Rakha pun turun ke lantai 1, dia meminta Bi Nur untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya.


Rakha mengatakan bahwa Ayunda akan makan malam di kamar karena Ayunda kecapekan.


Malam ini Rakha tidak nafsu untuk makan, hanya sekadar mengisi perutnya agar ada tenaga untuk mengangkat Ayunda pindah dari lantai ke atas tempat tidur.


"Ada masalah apa lagi, Rakha?" tanya tuan Adhitama setelah mereka menyelesaikan makan malam.


"Mhm, tidak ada apa-apa, Pa. Hanya masalah kecil," jawab Rakha.


"Rakha, papa tidak suka jika kamu menyakiti Ayunda. Jika kamu menyakitinya, maka papa yang akan memberi pelajaran padamu," ujar tuan Adhitama yang merasa saat ini ada masalah antara Ayunda dan putranya.


"Iya, Pa. Aku akan menyelesaikan masalah ini," sahut Rakha.


Rakha tahu saat ini dia salah, tapi egonya tidak mau menyesali apa yang sudah dilakukannya karena Rakha sudah pernah memberi peringatan pada Ayunda untuk tidak dekat dengan pria lain selain dirinya.


Meskipun kejadian di mall tadi hanyalah sekadar kecelakaan.


"Rakha, sebelum kamu menyakiti Ayunda, kamu harus ingat bagaimana kehidupan gadis malang itu. Papa membawanya masuk ke dalam rumah ini karena papa merasa kasihan padanya, dan papa tidak mau dia semakin tersiksa saat tinggal di rumah kita karena itu akan menjadi dosa bagi kita." Tuan Adhitama mengingatkan Rakha untuk tidak bersikap ceroboh.


"Baik, Pa." Rakha menganggukkan kepalanya.


Setelah itu dia minta izin pada papanya untuk meninggalkan ruang makan.


Rakha akan kembali ke ruang kerja, tapi Bi Nur datang menghampirinya.


"Tuan muda, Nona Ayun, nona Ayunda tidak ada di kamarnya," ujar Bi Nur panik.


"Apa?" pekik Rakha.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2