
Ayunda melangkah turun dari lantai dua satu persatu anak tangga dituruninya.
Dia diiringi oleh Erika, kini semua mata tertuju pada gadis belia yang masih duduk di bangku SMA itu.
Rakha mengangkat wajahnya dan memandangi wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Apa? Bocah tengil dan ceroboh itu menjadi istriku? Apakah papa bercanda dengan pernikahan ini?" gumam Rakha di dalam hati.
Dia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi, dia tak menyangka papanya akan menikahkan dirinya dengan anak angkat yang baru saja diperkenalkan sang papa padanya.
Sekilas dia mengakui bahwa bocah tengil dan ceroboh itu terlihat cantik dengan gaun pengantin yang berwarna putih.
"Dona bukanlah wanita yang baik untukmu, jadi terimalah Ayunda sebagai pendamping hidup bagimu," bisik tuan Adhitama yang kini berdiri di samping dirinya.
"Apakah tidak ada wanita lain yang bisa papa pilihkan untukku?" tanya Rakha sambil berbisik.
"Tidak ada, hanya gadis ini yang papa rasa pantas dan cocok untukmu, tidak perlu berdebat lagi," ujar tuan Adhitama.
Somad melihat kecantikan putrinya, putrinya jauh lebih terawat bersama tuan Adhitama dari pada bersama dirinya.
Melihat, Ayunda hidup bahagia bersama tuan Adhitama, bahkan kini dia sudah sah menjadi istri pewaris tunggal tuan Adhitama.
Penyesalan kembali menghantui dirinya, dia menyesal telah menjual putrinya.
Buliran bening kini mulai membasahi pipi pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu.
Sedangkan Siti melihat kesal ke arah Ayunda, dia iri dengan apa yang kini didapatkan oleh anak tirinya itu.
Dia tidak menyangka anak yang selama ini dibencinya mendapatkan suami kaya raya.
"Ayun," lirih Somad.
Dia ingin menghampiri gadis kecil yang hidup bersamanya selama ini, tapi Tuan Adhitama menarik tangannya dan memberi peringatan agar Somad tidak mendekati wanita yang sudah sah menjadi menantunya itu.
Somad hanya bisa pasrah, dia menatap sedih pada putrinya yang melintas tepat di hadapannya.
__ADS_1
Sebenarnya Ayunda melihat keberadaan Ayah kandungnya di sana, tapi hatinya yang masih terluka tidak bisa membuat dirinya menoleh ke arah pria yang selama ini menjadi banggaannya.
Erika membawa Ayunda berdiri tepat di samping Rakha.
"Sekarang mempelai pria memberikan maharnya kepada mempelai wanita." Pak penghulu menuntun Rakha agar memberikan mahar sebagai bukti janji yang baru saja diucapkannya.
Rakha menoleh ke arah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya, mau tak mau dia pun mengambil seperangkat alat shalat yang telah tersedia di sana dan memberikan mahar tersebut kepada Ayunda.
Ayunda menerima seperangkat alat shalat sebagai bukti ijab kabul yang baru diucapkan oleh pria yang kini sudah sah menjadi suaminya, setelah itu Ayunda pun meraih tangan Rakha, dia menciumi punggung tangan pria yang kini sudah sah menjadi imam dalam hidupnya.
Setelah acara serah terima mahar, penghulu pun meminta kedua mempelai untuk melakukan prosesi pengambilan foto sebagai kenang-kenangan dalam hidup mereka.
Dengan berat hati Rakha pun melakukan apa yang diminta oleh sang penghulu, karena papanya juga mendesak dirinya untuk melakukan hal itu.
Mereka pun melakukan pengambilan foto dengan suasana yang tegang, karena mereka satu sama lain belum saling mengenal, selama ini mereka selalu bertemu di dalam hal-hal yang tak terduga.
"Anton, bawa mereka pergi dari sini!" perintah tuan Adhitama tidak mau berlama-lama melihat orang tua yang tidak punya hati itu.
"Tuan, saya mohon izinkan saya untuk bertemu dengan putri saya meskipun sejenak," ujar Somad memohon kepada Tuan Adhitama.
Rasa kesal tuan Adhitama pada orang tua Ayunda masih melekat di hatinya.
Somad menundukkan kepalanya, dia sadar bahwa saat ini Ayunda tak lagi menganggap dirinya sebagai orang tua, kedatangannya ke kediaman Tuan Adhitama hanyalah menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah untuk menikahkan putrinya.
Akhirnya Somad dan istrinya pun keluar dari rumah mewah itu, Somad menatap dalam kepada putrinya yang kini tengah bersalaman dengan beberapa tamu, dia juga melihat saat itu Ayunda memperhatikan dirinya.
Hati Ayunda begitu terluka, sehingga saat ini dia belum bisa menerima dan memaafkan apa yang telah dilakukan oleh ayah kandungnya dan ibu tirinya.
"Maafkan aku, Yah. saat ini aku belum bisa untuk bertemu denganmu karena rasa sakit itu masih belum sembuh," gumam Ayunda di dalam hati.
Tanpa disadarinya buliran bening jatuh membasahi pipinya melepas kepergian Ayah kandungnya.
Rakha tak sengaja melihat istrinya menangis, dia juga memperhatikan sorot mata sang istri yang mengiringi langkah Somad dan istrinya.
Acara akad nikah pun selesai, beberapa tamu mulai meninggalkan kediaman Tuan Adhitama.
__ADS_1
saat para tamu sudah tidak ada lagi di kediaman Tuan Aditama, Raka dan Ayunda pun berpindah ke kamar.
Ayunda hendak melangkah menuju kamarnya, sedangkan Rakha melangkah menuju kamarnya yang ada di depan kamar Ayunda.
Rakha menghentikan langkahnya, lalu menatap wanita yang kini berdiri. tepat di sampingnya.
"Pergilah ke kamarmu!" ujar Rakha cuek.
Ayunda pun melangkah meninggalkan Rakha, dia hanya mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya saat ini, meski pernikahan ini terjadi hanyalah karena sebuah pengorbanan untuk menjaga nama baik tuan Adhitama.
"Dasar wanita bodoh!" ujar Rakha pada Ayunda.
Rakha pun melangkah masuk ke dalam kamarnya, dia mengabaikan apa yang dilakukan oleh Ayunda.
Saat berada di kamarnya, Ayunda ingin mengganti gaun pengantinnya dengan pakaian biasa karena dia sudah mulai gerah dengan gaun yang dikenakannya saat ini.
Ayunda membuka lemari, dia ingin mengambil piyama miliknya tapi saat dia baru saja membuka lemarinya, dia sama sekali tidak melihat pakaian miliknya ada di lemari itu.
"Hah? pakaianku ada di mana?" tanya Ayunda di dalam hati.
akhirnya Ayunda pun mengambil telepon yang ada di nakas di samping tempat tidur, dia menekan tombol panggil Bi Nur.
"Bi, bisa ke atas sebentar," pinta Ayunda kepada wanita paruh baya itu.
Tak berapa lama Bi Nur datang dan masuk ke dalam kamar Ayunda.
"Apa yang Nona lakukan di sini?" tanya Bi Nur.
"Ini kan kamar saya, Buk. saya ingin istirahat di sini, tapi saat saya buka lemari tak satupun pakaian saya ada di sana?" ujar Ayunda mengungkapkan keluhannya kepada wanita paruh baya itu.
"Mhm, begitu ceritanya," gumam bi Nur mengangguk.
"Nona, pakaian milik Nona sudah tidak ada lagi di kamar ini, semua barang-barang milik Nona sudah dipindahkan ke kamar tuan muda." Bi Nur menjelaskan.
Bersambung...
__ADS_1