
"Rakha, papa harap kamu bisa bersikap lembut pada Ayunda. Jangan terlalu keras padanya." Tuan Adhitama menasehati putranya.
Tuan Adhitama sempat mendengar suara ribut-ribut dari kamar putranya, dan dia pun langsung mencari tahu apa yang terjadi.
Kebetulan dia melihat Bi Nur keluar dari kamar itu tak berapa lama setelah kejadian tadi sore, dan wanita paruh baya itu pun menceritakan apa yang baru saja terjadi antara Ayunda dan Rakha.
"Apa maksud papa berkata hal ini? Apakah Ayunda mengadukan kejadian tadi sore pada papa?" gumam Rakha di dalam hati.
Rakha terlihat kesal.
"Rakha, kamu tahu hidup Ayunda sejak kecil sangatlah menderita, papa harap kamu tidak menambah penderitaannya lagi. Papa harap dengan menjadi suaminya kamu bisa membuat dia bahagia," pinta tuan Adhitama pada putra semata wayangnya.
Rakha hanya diam, dia tidak membalas ucapan papanya. Rakha takut salah bicara pada Papanya.
Untuk saat ini Rakha belum bisa menganggap Ayunda sebagai istrinya, tapi dia tidak suka melihat Ayunda berdekatan dengan siapa pun.
Hati Rakha saat ini masih tertuju pada seorang wanita yang ada di hatinya, wanita yang telah berhasil mengisi hati Rakha dan menjadi cinta pertamanya.
Hingga saat ini hatinya masih terisi untuk wanita tersebut.
"Papa tahu kamu tidak mencintai Ayunda, tapi apa salahnya kamu mencoba untuk mencintainya," ujar tuan Adhitama penuh harap.
"Apa bisa kita mencintai 2 orang wanita sekaligus, Allah menciptakan hanya satu hati untuk manusia?" gumam Rakha di dalam hati.
Rakha belum bisa membagi cintanya pada gadis desa yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Tuan Adhitama berdiri lalu dia meninggalkan Rakha yang masih diam memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Papanya.
Setelah berbicara dengan pria yang selalu dibanggakannya itu, Rakha melangkah menuju kamar.
Rakha melihat Ayunda telah berbaring di atas tempat tidur, gadis belia itu sudah terlelap.
Pada hari Sabtu pagi, Rakha meminta Ayunda untuk menyiapkan pakaiannya. mereka akan langsung berangkat dari sekolah Ayunda ke desa.
"Sepulang sekolah kita akan langsung berangkat ke desamu, jadi persiapkanlah barang-barangmu sekarang." Rakha mengingatkan Ayunda akan keberangkatan mereka ke desa, tempat Ayunda dibesarkan.
Ayunda mengangguk, dia mengambil sebuah tas, dan mengisi tes tersebut dengan beberapa pakaian yang akan dibutuhkannya.
__ADS_1
Mereka memang berencana tidak akan menginap di desa, hanya saja Rakha meminta Ayunda untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk baju ganti.
Setelah barang-barang Ayunda siap, Mereka pun keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi sebelum melaksanakan aktivitas mereka hari ini.
Hari ini Rakha tidak memiliki kegiatan yang padat, dia hanya mengantar Ayunda ke sekolah lalu bertemu dengan temannya di cafe sembari menunggu Ayunda pulang sekolah.
Setelah sarapan Ayunda berpamitan pada Tuan Adhitama lalu mereka pun melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil.
Rakha sudah mulai terbiasa mengantarkan Ayunda ke sekolah setiap hari. Ayunda juga sudah mulai terbiasa menjalani hari-hari bersama pria dingin seperti beruang kutub itu.
selama ini di antara keduanya tidak banyak bicara, mereka mulai terbiasa dengan kehidupan mereka berdua meskipun belum ada interaksi yang membuat mereka rasa lebih dekat.
Hanya saja sikap Raka yang biasanya keras pada Ayunda mulai sedikit berubah setelah nasehat dari Tuan Adhitama.
Begitu juga dengan Ayunda, dia mulai terbiasa dengan hal-hal yang tidak disukai oleh Raka. Dia selalu berusaha untuk tidak melakukan apa yang tidak disukai Rakha dan melakukan apa yang diinginkan oleh pria berstatus suami tersebut.
"Aku tunggu kamu di sini pada jam pulang sekolah," ujar Rakha sebelum Ayunda turun dari mobil.
Ayunda menganggukan kepalanya lalu dia mengulurkan tangannya dan meraih tangan suaminya, Ayunda menyalami sang suami serta menciumi punggung tangannya.
Setelah itu Ayunda turun dari mobil, tanpa disadarinya sepasang mata melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Ayunda kepada Rakha.
Saat Rakha hendak melajukan mobilnya, dia melihat Baim menghampiri Ayunda yang hendak masuk gerbang sekolah.
Rakha melihat keakraban yang ada di antara mereka, entah mengapa ada rasa suka saat melihat Ayunda dekat dengan pria selain dirinya.
Ayunda memang tidak lagi berkomunikasi dengan Baim, tapi dia juga tidak menutup komunikasi dengan pria yang kini mulai dianggapnya sebagai seorang sahabat.
Awalnya Ayunda ingin menjauh dari Baim, tapi permintaan Baim untuk tidak menjauh darinya membuat Ayunda tidak tega menghindari pria baik hati itu.
Hingga akhirnya Ayunda memilih tetap berteman dengan Baim selama di sekolah, toh Rakha juga tidak akan tahu apa yang dilakukannya selama berada di sekolah.
Rakha mencengkram erat stir mobil, dia berusaha menahan emosinya, dia juga berusaha berpikir positif pada Ayunda.
"Huhhft." Rakha menghela napas panjang.
Setelah itu dia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat istrinya menuntut ilmu.
__ADS_1
"Siapa yang mengantarmu?" tanya Baim saat mereka telah berada di kelas.
Baim tak dapat menahan rasa penasaran yang ada di hatinya. Kebetulan Erika belum datang, ini kesempatan dirinya untuk bertanya pada Ayunda.
"Mhm," gumam Ayunda gugup.
Dia terlihat bingung harus menjawab apa, Ayunda berusaha berpikir dengan kuat.
"I-itu, abangku," jawab Ayunda gugup.
Baim menautkan kedua alisnya, dia merasa tak percaya, tapi saat ini dia tidak bisa menyangkal ucapan Ayunda.
"Oh begitu, aku baru lihat," ujar Baim.
"Syukurlah, Baim percaya dengan apa yang aku katakan," gumam Ayunda di dalam hati.
"Ayun, kamu mau ke desa?" tanya Erika tiba-tiba datang menghampiri Ayunda.
Dia tak melihat keberadaan Baim yang sudah duduk di bangku seberang tempat Ayunda duduk saat ini.
"Mhm," gumam Ayunda mengiyakan ucapan Erika.
Baim mengernyitkan dahinya, dia mulai penasaran dengan kehidupan Ayunda, selama mereka dekat Baim belum pernah bertanya pada Ayunda tentang keluarganya, karena setiap kali dia mempertanyakan keluarganya, Ayunda langsung mengalihkan pembicaraan.
"Siapa sebenarnya Ayunda? Apa hubungannya dengan Erika, lalu apa maksud desa yang diucapkan Erika tadi," gumam Baim mulai bertanya-tanya di dalam hati.
"Kamu akan pergi bersama tuan muda?" tanya Erika lagi berbisik setelah menyadari keberadaan Baim.
"Iya," jawab Ayunda.
"Syukurlah kalau begitu, tadinya aku ingin ikut, tapi saat tuan besar mengatakan kamu akan pergi bersama tuan muda maka aku mengurungkan niatku," bisik Erika lagi.
Meskipun Erika sudah berusaha berbicara dengan pelan, tapi Baim masih tetap dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Erika.
Sehingga Baim semakin penasaran dengan siapa Ayunda sesungguhnya. Dia juga bertanya-tanya tentang sosok Tian muda yang dikatakan oleh Erika tadi.
"Siapa itu Tuan muda yang dikatakan oleh Ayunda," gumam Baim.
__ADS_1
Bersambung...