
"Oh, hebat ya, kamu berani bentak aku cuma demi wanita ini, memangnya siapa wanita ini?" tanya Ratih penasaran.
Ratih yakin Ayunda adalah wanita yang berarti buat Rakha.
"Dia istriku!" bentak Rakha.
Saat ini dia tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh Ratih, dia tak peduli dengan ancaman Ratih.
Rakha tidak terima Ratih berbuat kasar pada wanita yang sangat dicintainya.
Rakha membantu Ayunda berdiri, lalu mengajak Ayunda masuk ke dalam mobil.
Rakha hendak membuka pintu mobil bagian depan, tapi dengan sigap Ratih menahan Rakha, dia masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, Ayunda menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ratih.
"Bang, aku duduk di belakang aja," lirih Ayunda mencoba mengalah.
"Kamu yakin?" tanya Rakha.
Rakha takut istrinya akan tersaji oleh tingkah Ratih.
"Tidak apay, aku tidak mau dia berbuat yang tidak kita inginkan," ujar Ayunda.
Akhirnya Rakha pun melangkah mengitari mobil dan masuk mobil melalui pintu kemudi.
Rakha mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sesekali memperhatikan Ayunda dari kaca spion, dia sangat mengkhawatirkan perasaan Ayunda saat ini.
Terlihat Ayunda hanya fokus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ratih.
Dia harus waspada terhadap wanita licik seperti Ratih.
"Kamu mau diantar pulang ke mana?" tanya Rakha pada Ratih.
Raka sama sekali tidak tahu di mana rumah wanita licik itu, jadi dia tidak tahu kemana akan mengantarkannya.
"Ke Jalan Jati, dekat rumah sakit umum," jawab Ratih.
"Sayang, mulai hari ini kamu harus tahu di mana rumahku, dan bagaimana kehidupanku karena kamu adalah calon suamiku," ujar Ratih menatap dalam ke arah Rakha.
Wanita itu terlalu percaya diri memanggil Rakha dengan sebutan 'sayang'. Begitu lancar dia menyebut Rakha dengan sebutan itu.
Rakha mengabaikan ucapan Ratih, dia tak menghiraukan gadis itu.
Ratih pun merebahkan kepalanya ke lengan Rakha yang kini sedang memegang stir.
"Hei, apa yang kau lakukan. Aku sedang menyetir!" ujar Rakha dengan nada tegas.
Rakha muak melihat tingkah Ratih yang semakin kelewatan.
Ratih kaget mendapat bentakan dari Rakha, dia langsung menjauh kan tubuhnya dari lengan Rakha.
"Mampus, lagian kegatelan banget sama laki orang," gerutu Ayunda lirih.
__ADS_1
Tak berapa lama, Rakha menghentikan mobilnya.
"Di mana rumahmu?" tanya Rakha lagi, karena mereka telah berada di daerah Jati.
"Terus aja lurus, nanti ada gang belok kiri," ujar Ratih menunjukkan arah jalan menuju rumahnya.
Rakha kembali melajukan mobilnya mengikuti arahan wanita itu.
"Berhenti di sini," ujar Ratih saat kini mobil Rakha telah berada tepat di depan rumahnya.
"Kamu mampir dulu," tawar Ratih.
"Tidak usah, kasihan Ayunda lelah," ujar Rakha.
Kali ini Ratih tidak memaksa Rakha untuk masuk ke dalam rumahnya karena dia belum memiliki rencana apa-apa, tadinya dia sengaja mendekati Rakha saat berada di mall, agar dia bisa hemat ongkos taksi untuk pulang ke rumahnya.
"Sayang, kamu pindah ke depan, ya," ujar Rakha.
Rakha merasa tidak tega membiarkan istrinya duduk di belakang.
Ayunda pun turun dari mobil, lalu berpindah ke pintu depan.
Ratih melihat hal itu, dia pun mendorong tubuh Ayunda ke mobil. Kini dia meruncingkan telunjuknya tepat di depan wajah Ayunda.
"Kau akan kusingkirkan secepatnya, ingat itu!" ancam Ratih.
Rakha melihat hal itu, tapi dia tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Ratih pada Ayunda, dia hendak turun dan membela Ayunda, tapi Ayunda pun sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, Bang. Aku baik-baik saja." Ayunda mengangguk.
Setelah itu Rakha mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Ratih.
"Aku harus,--" Ayunda meletakkan telunjuknya di bibir membuat Rakha menghentikan ucapannya.
Rakha menautkan kedua alisnya heran, dan penasaran apa yang telah terjadi.
Ayunda mengeluarkan sebuah jepitan yang terselip di antara bangku dan pedal gigi.
Dia merasa aneh dengan jepitan itu, Rakha juga penasaran dengan benda itu, dia menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan.
"Apa,--" Lagi-lagi Ayunda meminta Rakha diam.
Diam menyalakan lampu mobil, lalu dia mencermati jepitan kecil yang baru saja ditemukan oleh Rakha.
"Bang, menurutku kamu harus menikahi Ratih, aku takut dia mengedarkan foto-foto dan video yang ada sama dia," ujar Ayunda sambil memberi kode pada Rakha.
Ayunda sengaja mengatakan hal itu agar Ratih mengira dirinya setuju dengan pernikahan yang dimintanya.
"Baiklah, kalau memang begitu menurutmu," balas Rakha.
Setelah itu Ayunda meletakkan jepitan itu di dashboard.
__ADS_1
Mereka pun hening tak ada lagi pembicaraan di antara mereka.
"Yes, aku berhasil. Sebentar lagi aku akan menjadi istri Rakha Adhitama Anugrah, pewaris satu-satunya perusahaan Anugerah," ujar Ratih yang mendengar percakapan Ayunda dan Rakha melalui headsetnya.
Ratih sengaja memasang sebuah alat perekam yang tersambung ke ponselnya agar dia dapat mengetahui apa yang direncanakan oleh Rakha.
Dia tidak ingin rencananya untuk mendapatkan Rakha hancur begitu saja. Ratih yang baru saja ditinggal oleh kekasihnya karena mengandung, kini melupakan segalanya demi harta yang dimiliki oleh Rakha.
Ayah Ratih sangat mengenal tuan Adhitama dan mengetahui seberapa banyak harta yang mereka miliki, makanya dia menghasut Ratih untuk menjebak Rakha dalam sebuah pernikahan agar dia bisa memiliki sebagian harta tuan Adhitama.
Ayah dan anak sama saja, sama-sama memiliki otak mafia.
****
Keesokan harinya, Rakha meminta Anton untuk mengganti mobil Rakha dengan mobil yang lain yang ada di rumah tuan Adhitama.
Dia sengaja membiarkan mobil yang diberi penyadap itu stay di rumah, dia juga akan berusaha keluar rumah dan kampus menggunakan masker hingga Ratih tidak menguber-uber dirinya.
Mereka tetap melakukan aktivitas seperti biasa, kali ini Rakha memarkirkan mobilnya di belakang gedung Fakultas agar dapat menghindar dari sosok Ratih.
Robby sudah menyuruh orang suruhannya untuk memantau gerak gerik Ratih, dan memberitahukan keberadaan Ratih padanya di setiap waktu sehingga wanita itu tidak bisa menemuinya dalam jangka waktu satu Minggu ini.
Satu mingu berlalu, Robby sudah membereskan semuanya, dia juga sudah meretas ponsel dan email Ratih sehingga dia bisa menghapus semua foto-foto tersebut.
Tak menunggu lama semua bukti-bukti yang dipegang Ratih lenyap begitu saja.
"Terima kasih, Robby. Kamu benar-benar sahabatku yang paling bisa diandalkan, andai saja kamu mau bekerja di perusahaan papa, kamu bisa hidup lebih layak dari sekarang," ujar Rakha.
"Rakha, kamu kan tahu bagaimana aku. Jika aku ingin aku bisa hidup bahagia dan memiliki berbagai mobil dan rumah mewah, tapi dengan hidup begini aku ingin tetap merendahkan hatiku seperti kedua orang tuaku," balas Robby.
Rakha hanya bisa menghela napas panjang, dia tahu betul bagaimana karakter sahabatnya yang satu ini.
"Terserah kamu, aku udah transfer sejumlah uang ke rekeningmu." Rakha menjabat tangan Robby.
Rakha tahu uang yang dikirimnya pada Robby tidak akan diambil Robby untuk dirinya, tapi untuk semua teman-temannya yang sudah dikerahkannya dalam menyelesaikan masalah ini.
Hingga saat ini, teman-teman Robby masih memantau setiap apa yang dilakukan oleh Ratih.
Di sebuah kafe di pantai Padang, Ratih terlihat menunggu Rakha yang sebagaimana janjinya mereka akan bertemu di kafe itu untuk merencanakan pernikahan mereka.
"Ke mana dia?" Kenapa dia tidak juga muncul hingga saat ini?" gumam Ratih kesal.
Ratih mencoba menghubungi telpon Rakha, tapi nomornya sudah diblokir oleh Rakha.
"Ini tidak mungkin, kau main-main denganku?" gumam Ratih semakin kesal.
Akhirnya Ratih pun bersiap untuk mengedarkan semua foto-foto yang disimpannya ke semua media sosialnya.
"Apa?" Ratih menggelengkan kepalanya tak percaya apa yang terjadi.
Bersambung...
__ADS_1