
Rakha keluar dari rumah tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu.
Dia langsung masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Sebenarnya dia tidak tahu ke mana akan mengarahkan stir mobilnya, kota Padang yang luas membuatnya tidak tahu ke mana terlebih dahulu.
Dia mengarahkan mobilnya ke sembarang arah, kini dia hanya mengikuti ke mana arah yang akan dituntun oleh hati nuraninya.
Rakha melihat seorang wanita yang berjalan di trotoar, postur tubuh dan tinggi wanita itu hampir sama dengan Ayunda.
Rakha bergegas memarkir mobilnya di pinggir jalan, setelah itu dia turun dari mobil lalu mengejar gadis itu.
"Ayun, Ayunda, tunggu aku!" teriak Rakha.
Rakha terus mengejar wanita yang sama sekali tidak menghiraukan panggilannya.
"Ayunda!" teriak Rakha lagi.
Raka mempercepat langkah kakinya mengejar si wanita, mengingat wanita itu sama sekali tidak menghiraukan panggilannya.
"Ayun, kamu ke,--" Raka tidak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat wanita yang dipanggilnya bukanlah Ayunda.
"Ada apa ya, Pak?" tanya wanita yang tadi dipanggil-panggil Rakha.
"Maaf, dek. Saya salah orang, Saya kira tadi kamu wanita yang aku cari," ujar Rakha.
Rakha merasa malu dengan apa yang baru saja dilakukannya. Saat ini dia merasa menjadi seorang pria yang sangat ceroboh.
Seharian Raka berkeliling kota Padang mencari sosok sang istri, saat ini istrinya bagaikan ditelan bumi. Dia tidak bisa menemukan keberadaan sang istri sejak kemarin malam.
Pada siang hari sebelum masuk waktu dzuhur, Rakha mengambil ponselnya lalu dia menghubungi Erika.
Sebenarnya Rakha sudah mencoba menghubungi Erika sejak tadi pagi, hanya saja gadis itu belum mengangkat panggilannya.
"Halo," ujar Erika saat panggilan telah tersambung.
"Di mana kamu, Rika? kenapa sejak tadi aku menghubungi tidak diangkat?" tanya Rakha menghujani Erika dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Maaf, Tuan muda. Sejak tadi ponselku mode silent. Jadi, aku tidak mengetahui panggilan dari tuan muda," ujar Erika merasa bersalah.
"Di mana kamu sekarang?" Rakha kembali mengulangi pertanyaannya.
"Mhm, Aku sedang di kampus tuan muda," jawab Erika.
"Apakah kamu saat ini bersama Ayunda?" tanya Rakha pada Erika.
"Hah? Ayunda? justru saat ini aku bertanya-tanya akan ketidakhadiran Ayunda di kampus, tidak seperti biasa anak itu bolos kuliah," ujar Erika.
Erika sama sekali tidak tahu menahu tentang kabarnya Ayunda dari kediaman Tuan Adhitama.
Rakha terdiam mendengar ucapan Erika, tanpa permisi dia pun memutus panggilan dari sahabat istrinya itu.
Pada saat waktu dzuhur tiba, Rakha memilih untuk shalat terlebih dahulu sekaligus beristirahat sejenak. Dia benar-benar merasa lelah mencari Ayunda seharian.
Setelah shalat dzuhur, Rakha mencari sebuah rumah makan untuk sekedar mengisi perutnya yang terasa sangat lapar karena sejak kemarin dibiarkan kosong.
Saat Rakha menyantap makanannya, Rakha mulai mengingat masa-masa bersama dengan istrinya selama satu setengah tahun ini.
"Mungkin selama ini memang tidak terjadi apa-apa di antara kita, tapi kini aku menyadari, ketiadaan dirimu disampingku membuat aku merasa kesepian," lirih Rakha.
"Ya Allah, hamba mohon jagalah Ayunda," lirih Rakha lagi.
Tanpa disadarinya kini buliran bening jatuh di sudut mata Rakha, dia pun mulai bersedih.
Setelah makan siang, Rakha kembali mencari Ayunda.
Meskipun hari ini dia telah lelah mencari Ayunda, tapi dia masih saja belum bertemu dengan gadis belia yang selama ini telah mengisi hari-harinya meskipun hanya sekadar teman tidur di atas tempat tidur.
Saat senja mulai datang, Rakha pun mulai putus asa, dia pun mulai mengarahkan mobilnya menuju jalan pulang.
Saat berada di daerah Tunggul Hitam, terjadi sebuah kemacetan panjang. Sehingga mobil Rakha terjebak di sana.
Rakha membuka kaca jendela mobilnya.
"Ada apa, Bang?" tanya Rakha pada seorang pria yang melintas di samping mobilnya.
__ADS_1
"Ada kecelakaan," jawab pria tersebut.
"Kecelakaan kenapa, Bang?" tanya Rakha lagi.
"Enggak tahu juga, sih. Sepertinya percobaan bunuh diri," jawab si pria itu.
"Apa? Bunuh diri?" tanya Rakha memastikan dia tak salah dengar.
"Iya, Bang. Ya, beginilah akhir zaman. Jika hidup mulai sulit, solusinya cuma bunuh diri," ujar si pria menyampaikan pendapatnya.
"Astaghfirullah," lirih Rakha menanggapi ucapan si pria yang ditanyakannya tadi.
"Mungkin gadis itu hamil di luar nikah, jadi enggak tahu jalan keluarnya, makanya bunuh diri," ujar si pria lagi terus mengoceh.
"Makanya, kalau jadi wanita harus bisa jaga diri, jangan gampang kasih yang diminta cowok," ujarnya lagi.
"Jadi yang bunuh diri itu cewek?" tanya Rakha lagi.
"Iya," sahut si pria.
"Apa? Jangan-jangan Ayunda," lirih Rakha.
Rakha pun bergegas turun dari mobil, dia mulai penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh si pria.
Dia pun mulai melangkah mendekati kerumunan banyak orang yang ingin melihat sosok wanita yang diperkirakan telah melakukan aksi bunuh diri, dengan menabrakkan dirinya pada sebuah mobil yang tengah melaju dengan keras.
Rakha mempercepat langkahnya, dia terus berlari berusaha agar cepat sampai ke tempat kejadian perkara.
Dengan susah payah, Rakha menerobos beberapa orang yang menghalangi langkahnya, mata Rakha membulat saat melihat sosok seorang wanita yang kini tergeletak di atas aspal dengan kepala yang bergelimpangan darah sehingga tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
Semua orang yang ada di sana hanya memperhatikan gadis yang tergeletak di aspal itu.
Tak ada satu orang pun yang berniat untuk menolongnya.
"Ayunda!" teriak Rakha.
Bersambung...
__ADS_1