
"Kamu kok jadi bawel gini?" tanya Rakha.
"Ya, seharusnya kita kan pulang ke rumah, tapi ini masih jalan entah ke mana?" ujar Ayunda memberi alasan protesnya.
"Yang penting kamu kan masih sama aku," ujar Rakha.
"Mhm," gumam Ayunda.
Setelah itu dia memilih untuk diam dan tidak banyak bicara lagi.
"Ngapain lagi ke sini, dia mau beli apa sih?" gumam Ayunda di dalam hati saat Rakha membelokkan mobilnya ke dalam kawasan parkir mall.
"Ayo, turun!" ajak Rakha setelah dia memarkirkan mobilnya.
Mau tak mau Ayunda pun turun dari mobil, Rakha langsung menarik tangan Ayunda dan mengajak masuk ke dalam mall.
Saat mereka telah berada di dalam mall, Raka langsung mencari sebuah konter HP.
Ayunda menawarkan kedua alisnya saat sang suami berhenti di sebuah konter HP.
"Kak, pilihkan ponsel terbaru yang terbaik di toko ini," Rakha pada penjaga toko.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Tuan," ujar si penjaga toko lalu dia pun membuka etalase yang ada di toko tersebut.
Si penjaga toko mengambil sebuah ponsel terbaru lalu menyodorkan ponsel itu pada Rakha.
"Apa kau suka dengan ponsel ini?" tanya Rakha pada Ayunda.
Ayunda mengernyitkan dahinya, dia tak percaya Rakha menanyakan itu pada dirinya.
"Suka," jawab Ayunda masih dalam keadaan bingung.
"Baiklah, saya ambil yang ini ya, Kak," ujar Rakha.
"Sekalian isikan SIM card-nya ya, Kak," ujar Rakha lagi.
"Baiklah, Tuan." Si petugas pun mengambil sebuah sim card.
Ayunda hanya diam memperhatikan si petugas memasang SIM card dan mengaply ponsel baru itu.
Tak berapa lama setelah itu, si petugas conter pun menyodorkan ponsel yang telah diaktifkannya pada Rakha.
"Ini Tuan, ponselnya sudah bisa digunakan," ujar si petugas toko.
Setelah itu Rakha pun menyimpan nomor ponselnya di ponsel itu, lalu menekan tombol panggil agar nomor baru Ayunda tersimpan di ponsel Rakha.
"Ini ponselmu, kamu tidak boleh menghubungi siapa pun kecuali aku, papa dan Erika," ujar Rakha sambil mengulurkan ponsel itu pada Ayunda.
__ADS_1
"Satu lagi, nomor ponselmu, tidak boleh diketahui oleh siapa pun kecuali aku, papa dan Erika," tambah Rakha.
Rakha merasa tersindir dengan apa yang dikatakan oleh Erika tadi siang, sehingga dia memutuskan untuk membelikan istrinya ponsel agar dia tidak perlu menghubungi Erika saat ingin berbicara dengan Ayunda.
"Apa? Jadi aku hanya boleh berkomunikasi sama dia, papa dan Erika? Dasar beruang kutub! Kalau tahu begini lebih baik aku tak punya hp," umpat Ayunda di dalam hati.
Dia merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Rakha.
Ayunda merasa kebebasannya dihalangi oleh sang suami yang sudah jelas-jelas tidak mencintainya.
"Huhhft." Ayunda hanya menghela napas panjang sambil memasang wajah kesal.
Dia menerima ponsel itu lalu melangkah menuju parkiran.
Dia meninggalkan Rakha yang masih melakukan proses pembayaran ponsel yang baru saja dibawa oleh Ayunda.
Ayunda terlihat kesal pada Rakha sejak dari pagi tadi saat dia mendapat jitakan, dan sekarang malah bersikap baik dengan memberinya sebuah ponsel, tapi persyaratan yang diberikan Rakha terasa begitu mengekang jalan hidupnya.
"Hei," panggil Rakha.
Ayunda mengabaikan panggilan sang suami, dia terus melangkah meninggalkan Rakha.
"Makasih ya, Kak," ucap Rakha tergesa-gesa.
Rakha pun mengejar Ayunda yang semakin jauh dari posisinya saat ini.
"Ayun," seru Baim.
Setelah tamat, hari ini mereka kembali bertemu.
Ayunda menoleh ke arah suara pria yang memanggil dirinya.
Saat itu, melintas seorang pria dengan langkah terburu-buru mendorong Ayunda sehingga Ayunda pun hendak terjatuh, beruntung Baim menangkap tangan Ayunda sehingga Ayunda jatuh ke dalam pelukan Baim.
Walaupun mereka pacaran hanya beberapa Minggu tapi, Ayunda tetap ada di hati Baim.
Baim belum bisa menghapus Ayunda dari hatinya, seketika jantung Baim berdegup begitu kencang.
Posisi mereka saat ini membuat Ayunda dan Baim kembali merasakan benih-benih cinta yang dulu pernah ada di hati mereka.
Ayunda dan Baim saling bertatapan, mereka kembali hanyut dalam cinta terlarang yang sempat terjadi di antara mereka.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Baim pada Ayunda saat mereka telah sampai di lantai satu.
Ayunda menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Baim.
"Syukurlah kalau begitu," lirih Baim lega.
__ADS_1
Beberapa orang mulai memperhatikan mereka.
"Kamu sama.siapa di sini?" tanya Baim pada Ayunda.
Belum sempat Ayunda menjawab pertanyaan Baim, tiba-tiba Rakha langsung menarik tangan Ayunda dan membawanya jauh dari kerumunan mata yang memandang istri itu.
Sontak Ayunda kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rakha, mata Rakha kini mulai memerah memendam amarah yang kini mulai memuncak di ubun-ubunnya.
Rakha dapat melihat apa yang telah terjadi antara istrinya dan pria yang selama ini selalu ingin mendekati Ayunda.
Rakha membawa Ayunda masuk ke dalam mobil, lalu dia pun melajukan mobil meninggalkan mall.
Ayunda masih kesal dengan Rakha, kali ini dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Rakha terhadap dirinya.
Sekian lama Ayunda berusaha menghindari Baim, dan kali ini dia bertemu di saat tidak tepat, tapi jika saja Baim tidak ada maka dia sudah dipastikan akan mengalami cidera.
Rakha menghentikan mobilnya setelah sampai di depan kediaman Tuan Adhitama.
Dia turun dari mobil, diikuti oleh Ayunda. Rakha langsung menarik tangan Ayunda dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.
Rakha menghempaskan tubuh Ayunda tepat di atas tempat tidur saat mereka telah berada di kamar.
"Kamu tahu kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" bentak Rakha dengan suara yang menggema di dalam kamar itu.
"Apakah kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan padamu!" bentak Rakha lagi.
Ayunda masih terbaring di atas tempat tidur dia tidak tahu harus melakukan apa, perlahan Rakha menghampiri Ayunda, dia mencengkram dagu istrinya dengan keras.
"Kamu ingin aku melakukan sesuatu, agar kamu mengerti status dirimu?" tanya Rakha penuh amarah.
Rakha menarik kemeja Ayunda di bagian tengah hingga kancingnya terlepas dan menampilkan bentuk tubuh Ayunda.
Ayunda terdiam, dia kini mulai menangis, buliran bening terus jatuh membasahi pipinya.
Rakha mulai me****s gunung kembar yang terlihat menantang di balik kaca mata hitam yang dikenakan oleh Ayunda.
Air mata Ayunda semakin deras mengalir begitu saja.
Rakha pun kini mendekatkan wajahnya ke wajah Ayunda yang semakin basah karena deraian air mata gadis belia itu.
"Apakah ini yang kamu inginkan?" tanya Rakha lagi sambil membungkam mulut istrinya dengan b***rnya.
Ayunda masih saja menangis, dan kini dia mulai sulit bernapas akibat apa yang dilakukan oleh Rakha.
"Aku akan jelaskan padamu bahwa aku adalah suami sah bagimu!" ujar Rakha penuh penekanan tepat di hadapan Ayunda.
Bersambung...
__ADS_1