Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Sampai di Rumah Somad


__ADS_3

Ayunda menikmati elusan lembut dari pria beruang kutubnya.


Dia yang terjaga gara-gara sang suami mengelus lembut kepalanya, kini sengaja pura-pura terlelap.


Saat setengah perjalanan sudah mereka tempuh, Anton menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobil di depan sebuah rumah makan.


Dia merasa sudah lapar, karena tadi sian belum sempat mengisi perutnya yang kosong.


"Hei," ujar Rakha.


Lagi-lagi Rakha bersikap datar pada Ayunda.


"Ya ampun tuan muda beruang kutubku, tadi aja lembut banget. Sekarang mulai kasar lagi, huhft. Menyebalkan," gerutu Ayunda di dalam hati.


Ayunda pura-pura baru terbangun.


"Eh, ma-maafkan saya, tu-tuan mu-muda," lirih Ayunda pura-pura gugup.


Ayunda langsung bangkit dan duduk.


"Kamu salah memanggilku," ujar Rakha dengan ketus.


"Eh, i-iya. Maafkan a-aku, Ba-bang," lirih Ayunda.


"Mhm," gumam Rakha.


"Ayo, turun. Kita makan sejenak," ujar Rakha.


"Mhm," gumam Ayunda.


Dia pun beranjak turun dari mobil, Rakha juga turun di sisi yang sama dengan Ayunda karena sisi tempat dia duduk ada mobil yang hendak keluar dari parkiran sehingga dia memilih turun di sisi yang sama dengan Ayunda.


Rakha tidak sengaja menghimpit ujung rok yang dikenakan oleh Ayunda sehingga Ayunda menghentikan gerakannya dan berbalik badan sehingga Rakha tak sengaja mengecup bibir Ayunda.


"Astaghfirullah," lirih Ayunda di dalam hati.


Ayunda ingin bergegas menghindar tapi entah mengapa tubuhnya terasa kaku dan tidak ingin bergerak sama sekali.


Kali ini tatapan mereka bertemu, Rakha juga terpaku menikmati kecantikan gadis belia yang kini sudah halal baginya.


Jantung mereka berdetak semakin kencang.


Entah apa yang mendorong Rakha, pria tampan itu menarik tubuh Ayunda lalu dia kembali mengecup b***r Ayunda. Rakha mulai terbuai dengan ni**tnya ke****n demi ke****n yang dirasakannya.


Ayunda hanya diam, dia tidak tahu harus melakukan apa. Ini pertama kalinya dia mendapat sebuah ci***n dari seorang pria.


Anton terpaksa bergegas keluar dari mobil.saat melihat apa yang dilakukan oleh tuan mudanya, dia tak menyangka pria dingin seperti tuan muda akan bertindak ceroboh melakukan hal itu di tempat yang masih bisa dilihat oleh orang lain.


Dengan susah payah Ayunda bernapas, akhirnya Rakha melepas bungkaman mulutnya dari Bi**r sang istri.

__ADS_1


"Huhhft." Ayunda menghela napas panjang.


Dia tersengal-sengal karena baru saja dapat bernapas dengan sempurna.


"Ayo, turun." Rakha menyuruh Ayunda lekas turun dari mobil.


"Ya ampun, nih orang manusia atau apa sih, baru saja dia melakukan hal yang tidak-tidak padaku, lalu dia langsung membentakku," gerutu Ayunda kesal di dalam hati.


"Kamu menghimpit rokku," lirih Ayunda.


"Apa? Benarkah?" lirih Rakha.


Dia pun berpindah, sehingga Ayunda pun bisa turun dari mobil.


"Ayo," ujar Rakha.


Dia menarik tangan Ayunda melangkah menuju rumah makan itu.


"Apa yang telah terjadi pada si beruang kutub? Tingkahnya kali ini benar-benar jauh berubah," gumam Ayunda bertanya-tanya di dalam hati.


Ayunda mengikuti langkah Rakha dengan susah payah, kakinya tak dapat menyeimbangi langkah Rakha.


Mereka pun duduk di sebuah meja yang terdapat di bagian pojok di pinggir rumah makan, mereka dapat melihat apa yang terjadi di luar rumah makan sambil menikmati makanan mereka.


Tak berapa lama pelayan pun datang menghidangkan makanan untuk mereka, begitulah tradisi di rumah makan khas Padang.


Mereka akan menghidangkan semua menu yang ada di rumah makan mereka, tapi nanti yang dibayar hanya makanan yang disentuh oleh konsumen.


Ayunda mengangguk, saat ini Ayunda tak berselera makan karena perutnya belum seratus persen stabil.


Namun, Ayunda tetap mengambil nasi lalu mulai menikmati makanan yang ada di dalam piringnya.


Rakha dan Anton terlihat makan dengan lahap.


"Tambah," ujar Rakha pada Ayunda sambil menyodorkan nasi pada Ayunda.


Ayunda hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah merasa cukup kenyang dengan porsi yang diambilnya tadi.


"Nona, rumah makan ini, rumah makan favorit bagi tuan muda dan tuan besar Adhitama," ujar Anton memberitahukan Ayunda.


"Setiap kita ke desa nona muda, kami pasti tidak pernah lupa untuk makan di sini," ujar Anton lagi.


Anton memang seorang pria bertubuh kekar, dan berpenampilan seperti preman tapi sebenarnya dia sangatlah ramah dan baik.


Ayunda hanya tersenyum mendengar cerita Anton.


Ayunda memandangi luar jendela setelah menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya.


Dia memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di depan rumah makan sambil menunggu dua pria yang bersamanya itu selesai menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, Rakha dan Anton pun selesai menghabiskan makanan mereka, mereka merasa sudah kenyang, mereka duduk sejenak bercerita menunggu nasi yang mereka makan benar-benar turun ke lambung mereka.


Anton dan Rakha mulai berbincang sementara itu Ayunda tidak mengerti dengan apa yang mereka perbincangkan saat ini sehingga dia merasa sangat bosan.


"Lama banget, sih?" gerutu Ayunda di dalam hati.


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan," ajak Rakha.


Baru saja Ayunda mengumpat di dalam hati, Rakha pun mengajak mereka keluar dari rumah makan itu.


Anton mengangguk, lalu berdiri. Begitu juga dengan Rakha, dia berdiri dan menoleh ke arah Ayunda.


Rakha langsung menarik tangan Ayunda setelah Ayunda berdiri, mereka melangkah menuju mobil.


Pria itu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa dia antara mereka berdua.


"Tidurlah lagi, supaya kamu tidak pusing di perjalanan," ujar Rakha pada Ayunda setelah mereka kembali memulai perjalanan.


"Mhm," gumam Ayunda menanggapi ucapan Rakha.


Ayunda berusaha memejamkan matanya, dan menyandarkan kepalanya ke jendela. Melihat hal itu Rakha pun menarik tubuh Ayunda lalu menyandarkan kepala Ayunda ke dada bidangnya.


Ayunda kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rakha, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Mau tidak mau dia membiarkan apa yang dilakukan oleh sang suami.


Saat ini Ayunda dapat merasakan aroma maskulin dari tubuh sang suami, aroma seorang pria sejati bagi Ayunda.


"Apa sebenarnya yang terjadi pada si beruang kutub ini, terkadang dia dingin, terkadang dia baik, aku jadi bingung harus bersikap bagaimana padanya," gumam Ayunda lagi di dalam hati.


"Tidurlah, aku tidak mau melihatmu muntah lagi," ujar Rakha.


Setelah itu Ayunda pun mulai kembali memejamkan matanya, berharap rasa kantuk membawanya ke alam mimpi yang indah.


Akhir-akhir ini Rakha mulai memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Ayunda, saat dia ingin marah pada gadis belia itu, dia teringat akan kata-kata papanya yang menceritakan kisah hidupnya.


Hidup Ayunda yang ditinggal seorang ibu sejak kecil, serta di usianya beranjak dewasa sang ayah menjual dirinya sebagai penebus hutang ayah dan ibu tirinya.


Jauh berbeda dengan kehidupan Rakha, saat ini Rakha memang sudah tidak memiliki seorang ibu, tapi kasih sayang ibunya di saat masih hidup sangat berlimpah, begitu juga dengan kasih sayang tuan Adhitama terhadap dirinya.


Dia tumbuh dengan kasih sayang yang sempurna dari kedua orang tuanya, meskipun pada usia 20 tahun ibunya terlebih dahulu pergi menghadap sang pencipta.


Rakha tidak tega lagi untuk memarahi Ayunda, tapi dia hanya bersikap tegas agar Ayunda tidak mengira bahwa dirinya menyukainya.


Ayunda pun terlelap di dalam pangkuan sang suami, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah kecil milik Somad.


Rakha membangunkan Ayunda, lalu mengajaknya turun, mereka sampai di rumah itu pukul 17.55 menjelang waktu maghrib masuk.


Ayunda mulai panik saat melihat rumah kecil milik ayahnya didatangi banyak warga.


"Apa yang terjadi pada ayah?" lirih Ayunda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2