
Rakha pun terdiam, dia menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Seketika suasana berubah hening, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya.
"Ternyata memang benar aku tidak akan pernah bisa menjadi istri terbaik buatnya, karena aku yakin dia tidak akan pernah suka padaku yang hanya seorang gadis desa yang sangat miskin, apalagi saat ini aku hanyalah seorang anak yatim yang mana ibuku tak tahu di mana rimbanya," gumam Ayunda di dalam hati.
"Maafkan aku," lirih Ayunda sedih.
Ayunda pun kembali membaringkan tubuhnya membelakangi Rakha.
"Ayun," lirih Rakha.
Rakha pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Ayunda, Rakha kembali memeluk tubuh Ayunda.
"Maafkan aku, untuk sekarang aku tidak tahu harus menjawab apa, saat ini aku belum bisa membuka hatiku untukmu, karena hatiku telah tertuju pada wanita lain," ujar Rakha jujur pada Ayunda.
"Lalu, kenapa kamu tidak melepaskan aku saja? Biarkan aku bebas," ujar Ayunda.
Ayunda lupa bahwa pernikahan antara dirinya dan Rakha adalah kehendaknya sendiri.
"Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang telah menjadi milikku, meskipun hatiku tak tertuju padamu setidaknya kamu mau bersikap sebagai istriku," pinta Rakha.
"Lalu kamu akan membiarkan aku terperangkap dalam pernikahan ini?" tanya Ayunda.
"Aku berjanji akan memberimu perlindungan, aku juga akan menjagamu, tapi aku minta jangan harapkan cinta dariku," pinta Rakha pada Ayunda.
Ayunda hanya diam, dia tak ingin menanggapi apa yang dikatakan oleh Rakha.
Ayunda pun memilih untuk memejamkan mata karena apa pun yang akan dikatakan Rakha itu akan membuat dirinya tersakiti.
Ayunda pun mulai mencoba tidur, dan meraih mimpi yang indah dalam selimut malam.
Rakha juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun mulai memejamkan mata, dia berharap suatu hari nanti dapat membahagiakan gadis belia yang kini ada di dalam dekapannya.
Pada pukul 02.15 dini hari, Ayunda pun terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya dihimpit beban yang berat, dia pun menyadari lengan kekar suami masih mendekap tubuhnya yang kecil.
Ayunda membalikkan tubuhnya perlahan lalu dia menatap wajah tampan sang suami.
"Sayang wajah tampan ini tidak akan menjadi milikku, dia hanya akan menjadi bayang-bayang dalam hidupku," lirih Ayunda.
Ayunda pun berusaha melepaskan diri dari dekapan Rakha, karena dia ingin ke kamar mandi untuk membuang hajat yang sedari tadi ditahannya.
__ADS_1
"Andini, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, aku akan melakukan apa pun untukmu," lirih Rakha kembali mendekap Ayunda dengan erat.
"Apa? Andini? Apakah wanita ini yang mengisi hati Bang Rakha?" gumam Ayunda.
"Baiklah, Bang. Aku akan berusaha untuk tidak berharap cinta darimu, asalkan kamu masih tetap berada di sisiku," lirih Ayunda pelan.
Gadis belia itu pun mengusap buliran bening yang tiba-tiba jatuh di pipinya.
Dia pun kembali berusaha lepas dari dekapan lengan kekar Rakha, setelah itu dia melangkah menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hajatnya yang tertunda.
"Ayun, Ayunda," panggil Rakha saat menyadari istri kecilnya tak lagi berada di dalam dekapannya.
Rakha terbangun dari tidurnya karena dia tak lagi merasakan kehangatan pelukan gadis kecilnya.
"Ke mana Ayunda? Apa dia ke kamar mandi?" gumam Rakha.
Rakha pun bangun lalu bersandar di sandaran tempat tidur, dia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
"Kamu bangun, Bang?" tanya Ayunda saat keluar dari kamar mandi mendapati Rakha sedang duduk di atas tempat tidur.
"Aku kira kamu ke mana, ayo tidur lagi," ajak Rakha."
Pria tampan itu sama sekali mengabaikan pertanyaan Ayunda.
Ayunda memasang wajah cemberut.
"Ya ampun, ayo cepat, sini!" ujar Rakha lagi.
Dia mengabaikan wajah Ayunda yang. cemberut karena ngambek.
Ayunda pun melangkah menuju tempat tidur, saat Ayunda baru saja berbaring di atas tempat tidur, Rakha langsung menarik tubuh Ayunda lalu memeluknya.
"Mungkin sejak hari ini aku harus membiasakan diri untuk menjadi guling si beruang kutub," gumam Ayunda di dalam hati.
Hari-hari terus berlalu, Ayunda mulai terbiasa dengan kehidupannya saat ini, dia berusaha menjauh dari Baim, dan Baim pun tidak mau mempersulit hidup Ayunda sehingga dia memilih untuk menjauh juga dari Ayunda.
Meskipun hatinya masih teruntuk untuk gadis desa yang imut dan anggun itu.
Ayunda menjalani hari-harinya seperti biasa, pagi pergi sekolah, lalu siang berada di rumah hingga malam tiba.
Di saat-saat ujian Akhir kelas 12 pun Ayunda memilih untuk belajar di rumah bersama Erika dari pada keluar dari rumah, Ayunda sengaja melakukan itu untuk menjaga harga diri suaminya dengan tidak keluyuran di luar sana.
__ADS_1
Sedangkan Rakha masih seperti biasa berperilaku yang sama tak lebih tak kurang.
Dia memberi perhatian kepada Ayunda layaknya sebagai suami tapi dia juga membatasi hatinya untuk tidak mencintai Ayunda.
Satu setengah tahun berlalu, Ayunda merasa baik-baik saja dengan apa yang terjadi. Dia yakin suatu hari nanti dia akan mendapatkan hati Rakha meskipun bertahun-tahun lamanya.
****
Kini Ayunda sudah tamat SMA dia akan masuk ke jenjang universitas, kali ini dia pun mendaftarkan diri di Universitas Andalas tempat Rakha mengajar.
Begitu juga dengan Erika, mereka mengambil jurusan yang sama dengan Ayunda.
Mereka memilih jurusan Administrasi Perkantoran di Fakultas Ekonomi, yang mana kebetulan Rakha juga mengajar di jurusan tersebut.
Hari pertama Ayunda dan Erika masuk kelas setelah menjalani masa orientasi mahasiswa selama satu Minggu.
Ayunda dan Erika datang terlambat di mata kuliah Manajemen Perkantoran karena dia lupa pada jam 10 akan ada jadwal mata kuliah lagi sehingga mereka asyik mengobrol di kantin Fakultas.
Ayunda dan Erika terlambat hanya 5 menit, saat dia sudah berada di pintu kelas Ayunda memberanikan diri mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Rakha yang baru saja hendak memulai mata kuliah pertama di kelas itu menoleh ke arah pintu.
Dia pun melihat dua sosok wanita yang sangat dikenalnya.
Dia tidak menyangka Ayunda dan Erika akan melakukan kesalahan di hati pertamanya belajar di kelas tersebut.
Ayunda dan Erika hanya bisa menundukkan kepalanya saat mereka telah berada di dalam kelas.
Mereka menyadari kesalahan mereka, tapi menurut mereka terlambat 5 menit bukanlah suatu kesalahan yang berat sehingga mereka berani masuk ke dalam kelas tersebut.
Rakha yang tadi duduk di kursinya memilih berdiri menghampiri mereka.
Tap tap tap.
Terdengar langkah Rakha yang semakin mendekat ke arah mereka, Ayunda dan Erika belum mengetahui siapa dosen mereka saat ini karena sejak mereka masuk kepala mereka tertunduk dan tidak melihat sosok dosen yang ada di kelas itu.
Tek.
Sebuah jitakan mendarat di kepala Ayunda, seketika Ayunda mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah," lirih Ayunda kaget saat melihat sosok yang ada di hadapannya.
Bersambung...