Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Kasih Sayang Ibu dan Ayah.


__ADS_3

"Nona muda kenapa menangis?" tanya Bi Nur bingung.


"Buk, hiks hiks hiks." Ayunda pun bangun lalu dia pun memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Hu hu hu." Ayunda mulai menangis tersedu-sedu.


"Ada apa, Nona muda, kenapa Nona muda menangis?" tanya Bi Nur pada Ayunda.


Ayunda tak menjawab pertanyaan dari Bi Nur, dia masih saja menangis. Akhirnya bi Nur membiarkan Ayunda menangis, dan meluapkan rasa sesak yang ada di dadanya.


Setelah beberapa menit, Ayunda pun berhenti menangis, dia melepaskan pelukannya dari tubuh wanita paruh baya itu.


Ayunda mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Maafkan aku ya, Bu," ujar Ayunda merasa bersalah sudah menangis di depan wanita paruh baya tersebut.


"Tidak apa-apa, Nona muda. Kalau boleh tahu, kenapa nona muda menangis?" tanya Bi Nur hati-hati.


Wanita paruh baya itu tidak gadis belia yang ada di hadapannya saat ini tersinggung.


"Bu, sudah puluhan tahun aku tidak pernah lagi disuapi makan oleh ibu kandungku, di saat aku memiliki ibu tiri dia juga tidak pernah menyuapiku, kali ini Ibu sudah menyuapi ku makan, Aku rindu kasih sayang seorang ibu, hiks." Ayunda kembali mengusap wajahnya.


"Aku rindu Bu, Aku rindu pada ibuku, hingga saat ini aku tidak tahu di mana dia berada. Ibuku telah meninggalkanku, dia tidak menyayangiku, hiks." Lagi-lagi Ayunda pun menangis.


Dia kembali mengingat kenangan yang telah pudar di hatinya tentang seorang wanita yang telah melahirkannya.


Ayunda mengingat terakhir kalinya Ayunda meminta disuapi oleh ibunya, tapi wanita yang disayangi Ayunda itu mengabaikan permintaannya.


Ibu Ayunda saat itu tengah terburu-buru hendak pergi yang Ayunda sendiri tidak tahu ibunya akan pergi.


Bi Nur tersenyum, dia menatap dalam pada gadis belia yang ada di hadapannya saat ini.


Wanita paruh baya itu membelai lembut kepala Ayunda.


"Jika Nona muda mau, anggaplah saya sebagai ibu Nona. Saya akan menyayangi nona seperti anak kandung saya sendiri," lirih Bi Nur penuh kasih sayang.


"Benarkah?" tanya Ayunda tak percaya.


Ayunda terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Bi Nur. Dia tak menyangka wanita paruh baya itu akan memberikan kasih sayang seorang ibu yang telah lama hilang dalam hidup Ayunda.


Ayunda kembali memeluk tubuh wanita paruh baya itu, dia bersyukur bisa bertemu dengan tuan Adhitama, karena dia dapat merasakan kasih sayang dari pria tua itu serta Bi Nur.


Kasih sayang seorang ayah dan kasih sayang seorang ibu, meskipun dia terjebak di dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.


"Iya, Nona." Bi Nur mengangguk.


Seketika Bi Nur terlihat melamun dia mengingat kejadian yang dialaminya beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Flash back on.


Bi Nur tengah bermain di taman bersama suami dan putrinya yang waktu itu masih berumur 5 tahun.


Mereka terlihat sangat bahagia, keluarga kecil dan hidup sangat sederhana tidak membuat mereka lupa untuk bahagia.


Keluarga kecil itu tengah bermain di taman yang terdapat danau di sana.


"Ibuk, Aira mau es krim," ujar Aira dengan suara yang sangat menggemaskan.


"Pak, Aira mau es krim. Bapak yang belikan, ya," pinta Bi Nur pada suaminya.


Suami Bi Nur mengangguk.


"Aira, ayo kita beli es krim," ajak Bapaknya.


Aira mengangguk lalu berlari menghampiri bapaknya, mereka pun melangkah menuju gerobak pedagang es krim yang ada di seberang jalan.


Saat mereka hendak membeli es krim, Bapak Aira melihat seorang pria yang tengah ditodong dengan sebilah pisau.


Kebetulan saat itu suasana taman terlihat sangat sepi.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" bentak bapak Aira lalu menghampiri orang yang tengah dalam bahaya itu.


Bapak Aira mulai melawan satu per satu penjahat yang hendak menodong pria itu.


Seketika Bapak Aira jatuh ke tanah.


"Bapaaaaak!" teriak Aira.


Aira berlari mengejar bapaknya dan di saat itu, sebuah mobil berkecepatan tinggi melintas dan menabrak Aira, hingga gadis kecil itu pun meninggal di tempat.


Sementara itu, tak berapa lama setelah itu polisi datang dan menangkap para penjahat.


Bi Nur hanya bisa mematung melihat apa yang terjadi pada suami dan putrinya, dia tak percaya akan kehilangan orang yang sangat disayanginya secara bersamaan.


Flash back off.


"Buk," panggil Ayunda membuyarkan lamunannya.


"Mhm," gumam Bi Nur dan menoleh ke arah Ayunda.


"Ibuk kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Ayunda pada Bi Nur.


Ayunda dapat melihat dengan jelas, air mata membendung di pelupuk matanya.


"Tidak, Nak. Ibu hanya teringat dengan gadis kecil ibuk yang sudah pergi jauh," jawab Bi Nur.

__ADS_1


Ayunda menautkan kedua alisnya, dia berusaha mencerna maksud dari Bi Nur.


"Apakah Bi Nur juga memiliki seorang anak?" tanya Ayunda perlahan.


"Iya, Nona. tapi، Putri saya sudah meninggal dunia," jawab Bi Nur jujur.


Wanita paruh baya itu tidak ingin menyembunyikan apapun di hadapan gadis belia yang sangat polos di matanya.


Ayunda mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi wanita paruh baya itu.


"Maafkan aku, Buk. gara-gara aku ibu menjadi sedih," lirih Ayunda.


Ayunda merasa bersalah telah membuat wanita paruh baya itu mengingat masa lalunya yang pahit.


"Tidak apa-apa, Nak. Ini sudah takdir," lirih Bi Nur lagi.


Dia yakin takdir inilah yang terbaik dalam hidupnya.


Pria yang ditolong oleh ayah Aira adalah tuan Adhitama, sebagai tanda terima kasih dan tanggung jawab atas hal yang menimpa bi Nur, tuan Adhitama menjamin kehidupan Bi Nur, meskipun begitu wanita paruh baya itu tidak mau menerima kebaikan Tuan Adhitama begitu saja sehingga dia pun mengabdi di keluarga Tuan Adhitama sebagai seorang pelayan kepercayaan bagi mereka.


Ayunda kembali memeluk erat wanita paruh baya tersebut.


"Mulai hari ini, aku akan menganggap ibu sebagai ibuku, dan dengan senang hati aku bersedia dianggap Putrimu," lirih Ayunda.


Dua wanita beda usia itu pun tersenyum, mereka merasa terharu dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


Setelah itu mereka pun bercerita sejenak, hingga waktu maghrib pun tiba.


"Sudah magrib, Ibu ke bawah dulu ya, Nak," ujar Bi Nur.


Wanita paruh baya itu pun keluar dari kamar majikannya.


Tinggallah Ayunda seorang diri di dalam kamar tersebut, dia tidak tahu di mana keberadaan Rakha saat ini.


Akhirnya Ayunda pun memilih untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, setelah menghabiskan makanan yang disuapi oleh Bi Nur, Ayunda mulai memiliki tenaga dan dapat melaksanakan shalat maghrib.


Setelah salat magrib gadis langsung merebahkan dirinya Di atas sajadah, lalu dia pun tidur di lantai karena dia takut neraka akan marah padanya jika dia terbaring di atas tempat tidur miliknya.


Tak menunggu lama Ayunda pun mulai tertidur dengan pulas, dia tidur Masih mengenakan mukena dan sarungnya sebagai selimut untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin.


tak berapa lama setelah itu Raka masuk ke dalam kamar, dia kaget melihat Ayunda yang sudah tertidur pulas Di atas sajadah sesudah shalat maghrib.


Pria tampan itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kecilnya.


"Hei!" teriak Raka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2