Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Malam pertama Ayunda.


__ADS_3

Rakha menghempaskan tubuh sang istri di atas tempat tidur, setelah itu dia kembali melakukan aksinya, kini Rakha pun memulai aksinya.


Malam ini Ayunda pun sudah resmi dimiliki oleh Rakha, mereka telah menjadi pasangan suami istri yang utuh.


Mereka pun menikmati malam panas yang membara di hati mereka. Akhirnya Ayunda pun dapat merasakan malam pertama setelah satu setengah tahun menjadi istri Rakha.


Rakha menghempaskan tubuhnya tepat di samping Ayunda setelah melepaskan hasrat yang terpendam selama ini.


Dia memeluk istrinya yang kini tak mengenakan sehelai benang pun dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di kamar itu.


Akhirnya Ayunda merasakan sentuhan suaminya dengan perasaan yang sama-sama menginginkan satu sama lain.


Mereka pun saling berpelukan hingga akhirnya mereka terlelap dalam rasa yang bahagia.


Akhirnya Ayunda dan Rakha dapat merasakan nikmatnya surga dunia yang bernilai ibadah atas satu sama lain.


Keesokan harinya, Ayunda terbangun dari tidurnya. Dia mendapati sang suami masih memejamkan matanya sambil memeluk erat tubuh p***snya.


Ayunda menatap setiap sudut wajah tampan yang memiliki jarak tak beberapa Sentimeter dari wajahnya.


"Ya Allah, aku tak menyangka akan dapat merasakan hal ini, kini aku sudah seutuhnya menjadi milik si beruang kutub. Aku akan melupakan semua perasaan tentang siapa pun selain dirinya," lirih Ayunda.


"Siapa beruang kutub?" lirih Rakha yang sempat mendengar ucapan Ayunda yang pelan.


Sontak Ayunda kaget dan malu mendapat pertanyaan dadakan dari sang suami, sejak tadi dia mengira suaminya masih tidur pulas.


"Mhm, kamu menyebut beruang kutub? Siapa beruang kutub?" tanya Rakha pada Ayunda.


Lagi-lagi Rakha bertanya pada istrinya.


"Mhm, bu-bukan siapa-siapa," jawab Ayunda gugup.


"Kamu tidak bisa bohong, kamu mengatai diriku beruang kutub?" tanya Rakha.


Rakha masih ingin tahu sosok beruang kutub yang disebut istrinya tadi.


"Mhm, udah subuh. Aku siap-siap dulu," ujar Ayunda.


Ayunda bersiap melepaskan diri dari Rakha. Dia tak ingin menjawab pertanyaan dari Rakha.


"Auuw," pekik Ayunda saat dia hendak turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Ayunda merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.


Seketika Rakha cemas dengan apa yang terjadi pada sang istri.


"Ada apa?" Seketika Rakha melupakan pertanyaannya tadi.


"Sakit," ringis Ayunda sambil memegangi pangkal pahanya.


Rakha mengingat cerita teman-temannya yang sudah menikah, menurut mereka setiap wanita akan merasakan sakit yang bersangkutan di bagian pangkal paha setelah belah duren.


Rakha pun langsung bangun, lalu menggendong tubuh p***s sang istri menuju kamar mandi, Rakha membaringkan Ayunda di bathtub, setelah itu Rakha mengalirkan air hangat ke dalam bathtub.


"Dengan mandi air panas, rasa sakit yang kamu rasakan akan berkurang, kamu sabar ya, Sayang," lirih Rakha sambil mengelus lembut kepala Ayunda.


Ayunda terdiam dan menatap sang suami, dia merasa tersanjung saat mendengar sang suami memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.


Rakha pun menuangkan sabun aroma terapy ke dalam bathtub agar sang istri dapat merasakan rileks dan rasa remuk tubuh Ayunda akan hilang.


Di saat Ayunda berendam di bathtub, Rakha pun membersihkan dirinya di bawah shower.


Setelah mereka selesai membersihkan diri, mereka pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Subuh karena sebentar lagi waktu subuh akan masuk.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Rakha, tubuh Ayunda terasa lebih ringan dari sebelumnya bahkan terasa sakit di pangkal pahanya pun tak lagi terasa.


Ini merupakan shalat subuh berjamaah pertama kali yang mereka lakukan setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri.


Rakha memimpin istrinya dalam menunaikan ibadah shalat subuh.


Setelah selesai menunaikan ibadah salat subuh, Raka memimpin berdoa bersama setelah itu Ayunda pun menyalami dan menciumi punggung tangan sang suami.


"Ayo, bersiap. Kita harus ke rumah papa untuk mengambil perlengkapan yang kita butuhkan untuk berangkat ke kampus," ujar Rakha setelah mereka selesai melaksanakan shalat subuh.


Rakha dan Ayunda pun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah baru mereka, mereka berencana nanti sore mereka akan pindah ke rumah baru mereka, dan mereka akan memulai hidup rumah tangga layaknya sepasang suami istri biasanya.


Mereka keluar dari kamar lalu melangkah keluar rumah dan langsung menaiki mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


Rakha mulai melajukan mobilnya Setelah dia memanaskan mesin mobil, dia mengarahkan laju mobilnya menuju kediaman Tuan Adhitama.


Sesampai di rumah tuan Adhitama, mereka pun menyiapkan barang-barang yang mereka butuhkan untuk memulai aktivitas hari ini.


Setelah itu mereka pun ikut sarapan bersama tuan Adhitama yang kini telah duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Pagi, Pa," sapa Ayunda saat mereka memasuki ruang makan.


Ayunda tersenyum lebar, hal ini membuat tuan Adhitama yakin saat ini hubungan putra dan menantunya sudah mulai membaik.


"Ternyata benar, Rakha memang harus diberi pelajaran sehingga dia bisa merubah sikapnya terhadap istrinya, apa yang sudah aku lakukan berhasil," gumam Tuan Adhitama bahagia.


Pria tua itu ikut bahagia melihat wajah menantunya yang berseri-seri, dia pun berdo'a di dalam hati agar kebahagiaan selalu menyertai putra dan menantunya.


"Bang, kamu mau sarapan apa?" tanya Ayunda pada sang suami saat melihat ada beberapa menu sarapan yang terhidang di atas meja.


"Nasi goreng, aja," jawab Rakha.


Setelah itu, Ayunda mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.


Melihat piring papa mertuanya yang masih kosong, Ayunda pun berinisiatif untuk mengambil makanan untuk papa mertuanya itu.


"Papa, mau makan apa pagi ini?" tanya Ayunda pada papa mertuanya.


"Mhm, pagi ini papa seleranya sup ceker," jawab Tuan Adhitama.


Setelah itu Ayunda pun mengambilkan nasi beserta sup ceker yang telah terhidang di atas meja.


"Ini, Pa." Ayunda meletakkan piring yang sudah berisi makanan itu ke hadapan papa mertuanya.


Setelah melayani suami dan papa mertuanya, Ayunda pun menyendokkan nasi ke dalam piringnya, lalu mereka pun menyantap makan pagi mereka dengan lahap serta dengan hati bahagia.


Entah mengapa ruang keluarga itu berubah menjadi hangat yang menghangatkan hati semua orang yang ada di sana.


Bi Nur yang melihat kebersamaan mereka ikut bahagia saat melihat wajah Ayunda yang ceria.


Tak ada terdengar suara dari mereka bertiga kecuali d ntingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring mereka.


Mereka menikmati makanan mereka dengan serius tanpa ada yang berbicara.


"Pa," lirih Rakha setelah dia menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya.


Tuan Adhitama menoleh ke arah sang putra, menanggapi panggilan dari sang putra.


"Ada yang mau aku bicarakan dengan papa," ujar Rakha hendak membuka topik pembicaraan.


"Apa?" tanya tuan Adhitama sambil menautkan kedua alisnya penasaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2