Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Dugaan Yang Salah


__ADS_3

Claire meletakkan tangannya di dada Sean lalu mendorongnya untuk memberikan jarak di antara mereka berdua. "Sean, berhenti. Kau sedang mabuk. Lebih baik kau mau tidur."


Tatapan Sean menjadi dingin saat mendapatkan penolakan dari istrinya. "Kau tidak bisa menolakku Claire. Aku berhak atas dirimu." Sean kembali memagut Claire dengan kasar.


Ketika mengigat kalau Sean bersama dengan Helena kemarin, Claire seketika merasa jijik. Dia kembali mendorong tubuh Sean. "Cari Helena jika kau menginginkannya. Jangan lakukan padaku. Aku tidak mau menjadi pelampiasanmu."


Tubuh Sean menjadi kaku, sorot matanya membeku, diikuti aura yang dingin.


Helena? Bagaimana bisa dia mendorongnya pada wanita lain disaat dia mengingingkannya? Apa dia sungguh berniat menjaga tubuhnya demi mantan kekasihnya dan tidak sudi disentuh olehnya?


"Kau menyuruhku menyentuh wanita lain?" Akhirnya Sean bisa mengembalikan kewarasannya setelah terdiam selama 2 detik.


Claire memalingkan wajahnya ke samping. "Bukankah selama ini kau juga sudah terbiasa melakukan hal itu dengannya?"


Selama ini Sean tidak pernah pulang ke apartemennya, kalau bukan ke tempat Helena, lalu ke mana lagi dia akan pergi. Dua kali dia melihat Sean sedang berada di hotel bersama dengan Helena. Kemarin juga dia mendatangi Helena. Bukankah sudah jelas apa saja yang sudah mereka lalukan di belakangnya?.


Rahang Sean mengetat dan tatapannya menjadi semakin dingin. "Claire, jangan karena kau tidak mau disentuh olehku, kau menuduhku sembarangan." Penolakan Claire disalah artikan oleh Sean.


Claire mengerutkan kening. Sudah jelas kemarin saat dia menelpon Sean dan sedang bersama dengan Helena. "Claire, jangan harap kau bisa pergi dariku. Pendam saja mimpimu untuk kembali pada mantan kekasihmu itu karena aku tidak membiarkan kau kembali padanya dan hidup bahagia bersamanya setelah menghancurkan hidupku."


Detik kemudian Sean memegang tangan Claire lalu menahannya di atas kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lain melepaskan pakaian istrinya. "Sean, berhenti!" Bukannya menolak, tapi Claire hanya tidak mau Sean melakukannya dalam keadaan marah.


Sean tidak mendengar perkataan Claire. Dia mulai mencumbu tubuh istrinya dengan kasar. Kemarahan sudah menghilangkan akal sehatnya. Memikirkan Claire masih mencintai mantan kekasihnya membuatnya marah. Belum lagi saat memikirkan kalau Felix ternyata menyukai istrinya.


Claire tidak berdaya karena tangannya dia tahan oleh Sean. Dia hanya bisa pasrah membiarkan Sean melakukannya. Lagi pula, Sean memang suaminya. Dia berhak atas dirinya.


Claire hanya bisa mengerang dengan tubuh bergetar, menahan sakit saat merasa sesuatu terkoyak dibawah sana. Kuku jarinya, dia tancapkan dipunggung Sean ketika merasakan sakit yang luar biasa pada intinya.


Sean sempat berhenti sejenak ketika merasa dirinya merobek sesuatu saat dia memaksa memasuki Claire. Dia mengerutkan keningnya sejenak menatap wanita yang berada di bawahnya yang sedang merintih menahan sakit.

__ADS_1


Tidak mau banyak berpikir, Sean kembali melanjutkannya tanpa memperdulikan rintihan Claire. Sean tidak tahu kalau dirinya baru saja mengambil sesuatu paling berharga milik istrinya.


Claire merasakan ada yang salah dengan dirinya saat Sean menyentuhnya tadi. Dia tidak mengerti kenapa dia masih merasakan sakit tidak tertahan, padahal dia sudah pernah melakukan dengan Sean sebelum mereka menikah.


Apakah karena saat itu dia sedang mabuk, jadi tidak merasakan sakit seperti yang saat ini dia rasakan ketika Sean menyentuhnya waktu itu. Kata orang, di awal-awal memang sakit, tetapi dia tidak menyangka kalau sakitnya seperti tubuhnya seolah akan terbelah.


Mungkin karena mereka baru melakukannya beberapa kali, sehingga dia masih merasakan sakit yang luar biasa. Begitulah pikir Claire. Apalagi, dia melakukannya dalam keadaan sadar sehingga rasa sakitnya lebih nyata.


Sean baru berhenti ketika dia sudah merasa lelah dan ambruk di atas tubuh Claire setelah melakukannya beberapa kali. Sean langsung tertidur tidak lama setelah dia berhenti. Mungkin karena dia juga mabuk sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur.


Sementara Claire masih belum tidur. Dalam diam, memandang wajah pria yang sedang terbaring di sampingnya. Dia melihat tubuh Sean bersih. Tidak ada tanda apapun di tubuhnya. Jika dia melakukannya dengan Helena kemarin, bukankah seharusnya ada tanda ditubuhnya? Atau mungkinkah Helena sengaja tidak melakukannya karena Sean melarangnya? Atau jangan-jangan .... Claire mulai menerka-nerka.


Saat sedang termenung, tangan kokoh melingkar di pinggang dan menariknya dalam pelukannya. Claire seketika mendongak menatap Sean. Matanya masih terpejam. Karena terus merasakan sakit pada intinya, Claire berusaha untuk memejamkan matanya dan ikut tertidur setelah beberapa menit kemudian.


Pagi harinya, dia terbangun lebih dulu. Saat dia akan turun dari tempat tidur. Sakit luar biasa kembali dia rasakan pada intinya. Claire meringis dan berusaha untuk menahan sakitnya. Dia turun dari tempat tidur lalu meraih pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian dengan kaki gemetar dia melangkah ke arah kamar mandi.


Sean baru saja terbangun dan sedang duduk di tepi tempat tidur saat Claire keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Keningnya mengerut saat melihat cara jalan Claire yang tidak biasa. Dia berpikir sejenak. Mungkin dia melakukannya dengan kasar semalam sehingga membuatnya seperti itu?


Claire yang sedang berjalan ke arah meja rias dengan langkah sangat pelan menoleh sejenak pada Sean. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasakan sedikt sakit."


Tatapan Sean tidak henti menatap ke arah kaki Claire yang terlihat gemetar. Tatapannya semakin lama semakin dalam. Ada sedikit gejolak dalam sorot matanya. Kemudian Sean menyingkap selimut yang ada di tempat tidur, dia melihat ada noda darah pada seprai itu.


Sean kembali mengingat kejadian semalam. Emosi tidak jelas muncul dalam sorot matanya. Sean lalu menutup bercak darah itu dengan selimut tanpa diketahui Claire. "Apa kau sedang datang bulan?"


Claire yang sedang mengeringkan rambutnya seketika menoleh pada Sean. "Tidak. Aku baru saja selesai 4 hari yang lalu," jawab Claire.


Aura dingin dibalik mata Sean semakin pekat. "Claire, kejadian saat kita menghabiskan malam di hotel. Benarkah kau tidak ada kaitannya dengan hal itu?"


Claire mematikan alat pengering rambut lalu membalik tubuhnya menghadap Sean. "Kau masih berpikir kalau aku sengaja menjebakmu malam itu agar kau menikahiku?"

__ADS_1


"Aku hanya bertanya. Aku tidak menuduhmu."


Sean kembali berpikir. Kalau bukan Claire lalu siapa yang sudah menjebaknya. Saat itu, tubuh mereka berdua sama-sama polos. Hanya bedanya sekarang, tubuh Claire dipenuhi oleh tanda merah yang dibuat olehnya, sementara waktu itu tidak ada satu pun tanda di tubuh Claire.


Saat itu, Sean memang berpikir kalau Claire sengaja menjebaknya dengan tidur dengannya untuk bisa menikahinya, tapi setelah kejadian semalam dan melihat bercak merah serta melihat cara berjalan Claire, Sean merasakan ada kejanggalan.


Sebenarnya Sean juga merasa heran. Saat itu, dia tidak bisa mengingat apapun yang sudah mereka lakukan malam itu. Berbeda dengan kali ini. Meskipun dia mabuk, dia masih mengingat dengan jelas kejadian semalam.


Dulu, dia sempat berpikir kemungkinan Claire sudah tidak suci sebelum bertemu dengannya. Pertemuan mereka di kota A pertama kali membuatnya menilai buruk Claire. Saat itu Claire terlihat sangat agresif padanya. Dia bahkan menciumnya lebih dulu, tapi ternyata dugaanya salah. Claire masih suci saat dia menyentuhnya semalam.


Melihat Sean nampak melamun, Claire kembali menghadap meja rias. "Claire, siapkan air hangat untukku," pinta Sean setelah terdiam beberapa saat.


Claire menoleh pada Sean dengan cepat. "Kau ingin berendam pagi-pagi?" Tentu saja Claire merasa heran. Biasanya orang akan berendam pada malam hari sekalian melepas penat setelah seharian bekerja.


"Apa tidak boleh?" tanya Sean dengan alis terangkat.


"Bukan begitu." Claire lalu berdiri. "Aku akan menyiapkannya."


Setelah Claire masuk ke kamar mandi, Sean berdiri lalu menyingkap selimutnya. Dia memadangi sejenak bercak merah di seprai putih itu lalu buru-buru melepasnya kemudian menaruhnya keranjang pakaian kotor sebelum Claire kembali.


Claire yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran pada Sean yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Kenapa kau melepas seprainya?"


Apa dia jijik karena melakukannya denganku?


Sean mendongak lalu berjalan ke arahnya. "Apa kau ingin menunjukkan sisa-sisa percintaan kita semalam pada bibi Mey?"


Wajah Claire seketika memerah seperti tomat. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajah malunya. Perkataan frontal Sean pagi ini, di luar dugaannya.


"Aku akan mandi. Jika kau tidak mau melanjutkan yang semalam, cepat pakai bajumu." Sean lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan wajah acuh tak acuh.

__ADS_1


Dengan wajah heran, Claire menoleh sejenak pada Sean yang sudah memasuki kamar mandi. Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap seperti itu?"


Bersambung..


__ADS_2