Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Keanehan Sean


__ADS_3

Claire menatap heran pada suaminya ketika melihatnya keluar dari ruangan VIP sendirian. "Sean, kau mau ke mana?"


Sean menoleh pada istrinya lalu menghampirinya. "Ayo kita pulang. Aku sudah selesai bicara dengan Casandra."


"Secepat itu?"


Mereka baru saja tiba di sana sekitar 15 menit dan Sean sudah mengajaknya pulang dan tentu saja Claire merasa heran karenanya.


"Untuk apa berlama-lama di sini. Urusanku sudah selesai dengannya." Sean melingkarkan tangan ke pinggang istrinya lalu mengajaknya pergi dari sana.


"Tapi aku belum bertemu dengannya," ucap Claire sambil menoleh ke arah pintu VIP yang sudah tertutup.


"Tidak perlu berurusan dengannya lagi," balas Sean kemudian berjalan ke arah pintu keluar.


"Aku harus memberikannya pelajaran karena sudah berani menipuku." Claire menghentikan langkahnya karena menolak untuk pulang.


"Aku sudah memberikannya pelajaran, Sayang. Kau tidak perlu melakukannya lagi."


Mendengar panggilan sayang dari mulut Sean, Claire langsung menatap suaminya dengan dahi berkerut dan wajah heran. "Ada apa denganmu? Tiba-tiba memanggilku seperti itu, membuatku merinding saja."


Sean tersenyum tipis melihat Claire berlalu dari hadapannya dengan langkah cepat dan wajah memerah. Saat dia akan menyusul Claire menuju mobilnya, Helena tiba-tiba menghadangnya.


"Sean, kau mau ke mana?"


"Pulang," jawab Sean.


"Kenapa sudah mau pulang? Aku baru saja datang. Temani aku makan dulu, oke?" Helena maju dua langkah lalu meraih lengan Sean, berniat untuk mengajak Sean masuk kembali ke dalam restoran.


"Helena, tanga...." Sebelum Sean menyelesaikan ucapannya, Claire ternyata kembali lagi setelah melihat Helena mendatangi suaminya.


"Singkirkan tanganmu dari suamiku! Jangan berani memegangnya tanpa seijinku." Claire menepis tangan Helena lalu menggeser tubuhnya agar menjauh dari Sean.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" Helena beralih menatap Sean lalu berkata, "bukankah yang akan datang ke sini Casandra? Kenapa jadi dia yang ada di sini?" tunjuk Helena dengan raut wajah tidak suka pada Claire.


"Helena, dia istriku. Sebut dia dengan benar. Apa kau lupa apa yang aku katakan padamu waktu itu?" ujar Sean dengan wajah tidak senang.


Helena menampilkan wajah cemberutnya lalu berkata, "Sean, bukankah kalian akan bercerai? Kenapa kau masih bersamanya?"


Claire mendengus mendengar nada manja dari Helena. "Helena, sepertinya kau ingin sekali menggantikan posisiku menjadi Nyonya Sean."


Helena mengangkat dagunya dengan wajah angkuh lalu berkata, "Memangnya kenapa? Kalau kalian bercerai, itu tandanya Sean bisa dimiliki siapa saja, bukan?"


Sean hanya diam melihat strinya dan Helena berdebat. "Mimpimu itu tidak akan pernah terwujud." Claire lalu tersenyum mengejek, "kau tahu kenapa?" Dia memajukan tubuhnya lalu berbisik pada Helena, "karena aku sedang mengandung anaknya. Mengandung penerus keluarga Louris. Kau tidak akan bisa menggeser posisiku sampai kapanpun."


Setelah mengatakan itu, Claire menjauhkan tubuhnya lalu tersenyum dengan puas saat melihat wajah tercengang Helena.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang." Claire menarik tangan Sean dengan cepat setelah memberikan senyuman kemenangan pada Helena.


"Apa yang kau bisikkan pada Helena tadi?" tanya Sean seraya mengikuti langkah kaki Claire yang masih setia menarik tangannya menuju mobil.


"Aku tidak mengatakan apa-apa."


Tentu saja Sean tidak akan percaya semudah itu pada istrinya. "Tidak mungkin dia sampai terkejut seperti itu."


Claire menghentikan langkah setelah mereka tiba di mobil dekat mobil Sean. "Aku hanya mengatakan padanya kalau kau sudah cinta mati padaku jadi tidak mungkin berpaling dariku." Setelah menjawab pertanyaan Sean, Claire membuka pintu mobil yang duduk di kursi samping kemudi.


Sean menyungging senyum tipis di bibirnya melihat kepercayaan diri Claire yang barusan dia tunjukkan padanya. "Aku memang sudah cinta mati padamu, maka dari itu, tetaplah di sampingku selamanya."


Sebelum pulang, mereka makan terlebih dahulu di salah satu restoran terkenal di tengah kota. "Sean, tadi apa saja yang kau bicarakan dengan Casandra?" tanya Claire saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Tidak banyak. Hanya memperingatkannya agar dia tidak mengganggu kita lagi," jawab Sean tanpa menoleh pada Claire.


"Sean, dia bilang akan melakukan apapun untuk merebutmu dariku jika aku tidak mau melepasmu."


Sean seketika menoleh pada Clair mendrngar itu. "Kapan dia bicara seperti itu?"


Claire mencoba mengingat-ingat kembali. "Saat dia menemuiku dan mengatakan dia sedang hamil anakmu."


Pandangan mata Sean sangat tenang. Tidak ada gejolak apapun dari sorot matanya. "Jangan khawatir, dia tidak akan berani mengganggumu lagi. Aku sudah menyuruh orang untuk membawanya ke pinggiran kota Richmond."


******


Saat tengah malam, Claire terbangun ketika tidak mendapati Sean di sampingnya. Dia terus memanggil nama Sean, tetapi tidak ada jawaban apapun dari suaminya. Claire akhirnya keluar dari kamar dan mencari suaminya di lantai 2.


Saat sedang berjalan ke arah dapur bersih, dia melihat Sean sedang duduk membelakangi meja panjang yang ada di depan dapur. "Sean, kau sedang apa?" Claire menghampiri suaminya dan bertanya dengan wajah heran ketika melihatnya nampak sedang memakan sesuatu.


"Makan mamoncillo." Sean kembali mengunyah setelah menjawab pertanyaan istrinya.


Claire nampak mengerutkan keningnya lalu berdiri di hadapan suaminya masih dengan tatapan heran. "Sean, bukanlah kau tidak suka dengan mamoncillo? Kau bilang tidak suka dengan buah yang asam."


"Beberapa hari ini aku merasa sedikit mual dan mulutku terasa pahit. Aku ingin memakan buah-buahan yang segar seperti mamoncillo ini," terang Sean sambil terus memasukkan buah mamoncillo ke dalam mulutnya.


"Tapi buah ini terasa asam, Sean. Kau bisa sakit perut jika memakannya di tengah malam seperti, apalagi kalau kau tidak mengisi perutmu dengan yang lain dulu. Kalau mulutmu terasa pahit, makanlah buah yang manis, kenapa kau justru makan buah yang asam?"


Sean menghentikan tangannya ketika dia akan memasukkan buah mamoncillo ke dalam mulutnya. "Aku juga tidak tahu. Aku ingin sekali makan buah yang rasanya asam."


"Jangan makan banyak-banyak buah asam ini, kau bisa sakit perut dan muntah nanti."


*********


Pagi harinya, Claire terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara dari dalam kamar mandi. Suara itu adalah suara Sean. Hanya saja yang membuatnya merasa heran, suaranya seperti sedang memuntahkan sesuatu.

__ADS_1


Claire langsung ke kamar mandi dan melihat Sean sedang berdiri di depan wastafel dengan wajah sedikit pucat sambil mengeluarkan isi perutnya. "Sean, kau kenapa?" Claire mengusap lembut punggung suaminya yang terlihat masih berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Aku juga tidak tahu. Ketika aku bangun tidur, aku merasa sangat mual." Sean membasuh mulutnya dengan air keran yang mengalir.


"Kalau begitu berbaringlah. Aku akan membuatkan minuman teh jahe untukmu." Claire merasa iba melihat kondisi Sean yang nampak lemas.


Sean tidak membantah dan akhirnya berbaring kembali ke tempat tidur. Saat Claire kembali ke kamarnya, Sean terlihat baru keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu.


"Kau habis muntah lagi?" tanya Claire sambil meletakkan secangkir teh dan sepiring sandwich di atas nakas.


"Seperti ingin muntah, tapi tidak ada yang keluar." Sean duduk di tepi tempat tidur, bersebelahan dengan istrinya.


"Minumlah agar perutmu terasa hangat dan tidak mual lagi."


Sean meraih cangkir tersebut lalu meneguknya secara perlahan, sementara Claire duduk di samping Sean. "Sean, apa kau sering mengalami mual di pagi hari?"


Sean menoleh pada istrinya dengan wajah terkejut. "Iyaa, beberapa hari ini, setiap pagi aku selalu merasa mual dan pusing, tapi akan membaik setelah siang hari. Aku hanya merasakan di pagi hari saja."


"Semenjak kapan kau merasakan ini?"


Sean berpikir sejenak lalu menjawab. "Seminggu setelah kepergianmu."


"Selain, mual apakah kau mengalami gejala lain?" tanya Claire dengan wajah penasaran.


"Maksudmu?" tanya Sean sambil menoleh.


"Maksudku apa kau merasa lemas, mudah marah, sakit kepala, perut kembung atau lainnya?"


Sean berpikir sejenak lalu menjawab, "Aku hanya merasa kepalaku terkadang suka sakit, perutku kembung dan aku sering menginginkan makanan aneh juga sering mual dan sedikit lemas saja. Sudah 2 hari ini aku tidak bisa melakukan apapun di pagi hari karena merasa sangat mual dan pusing, tapi anehnya saat siang hari aku merasa segar kembali."


Benar sudah dugaan Claire, kalau Sean mengalami Couvade Syndrome.


"Apa kau sudah memeriksakan dirimu ke Dokter?" tanya Claire lagi.


"Sudah, dan kata Dokter aku baik-baik saja."


Claire kemudian mengulum senyumnya. "Kalau begitu, kau harus sedikit bersabar karena kau akan mengalami ini untuk sementara waktu dan mungkin saja akan lebih parah nantinya."


Sean menoleh pada Claire dengan wajah heran. "Maksudmu?"


"Sean, aku rasa gejala yang kau alami karena...."


"Aku tahu. Sepertinya aku keracunan makanan," potong Sean cepat sambil menye-sap kembali teh jahe hangatnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2