
"Berani sekali kau berdansa dengan Felix di depanku. Menempel dengannya begitu mesranya. Claire, apa kau sengaja ingin membuatku marah?" Suara dingin Sean membuat Claire bergidik ngeri.
Claire mengangkat kepalanya lalu menatap mata hitam Sean sambil tersenyum tipis kemudian mengalungkan tangan pada leher suaminya. "Ini hanyalah dansa. Kau juga melakukan hal yang sama dan aku tidak keberatan sama sekali. Lalu kenapa kau harus marah padaku disaat kau sendiri berdansa dengan wanita lain?"
Mereka berdua mulai berdansa lagi ketika yang lain juga bergerak. "Aku dan kau berbeda, Claire. Kau itu...."
"Istrimu?" Claire tidak bisa menahan senyum mengejek di wajahnya. Dia menunduk sebentar lalu menatap Sean dengan wajah dingin. "Jangan pernah bilang pada orang lain kalau aku adalah istrimu atau mereka akan menertawakanmu, karena kau sendiri yang sudah bilang pada mereka kalau kau belum menikah dan sudah memiliki tambatan hati yang lain."
Saen terdiam sambil menatap mata hazel Claire. "Kau marah karena aku tidak mengakuimu sebagai istriku?"
"Tidak, sama sekali tidak. Hanya sedikit kecewa saja."
"Claire, dari awal kaulah yang tidak menganggapku sebagai suamimu. Kau yang sudah berbohong padaku."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Rahang Sean mengetat dan tatapannya menjadi tajam. "Claire berhenti bersandiwara. Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu?"
Dahi Claire mengerut sebentar lalu berkata, "Memangnya siapa aku?" tatap Claire dengan berani.
Sean langsung merapatkan tubuh mereka setelah merengkuh pinggang Claire dengan tangan kanannya. "Claire Avariella Kerrin, anak dari Tuan Zeno Yanaci. Penerus dari JK Group sekaligus salah satu dokter yang terkenal di negeri Paman Sam. Mantan tunangan Wild Jeferson." Sean berhenti sejenak lalu meraih dagu Claire, "sejauh mana lagi kau akan menipuku dan menyembunyikan identitasmu?"
Wajah Claire membelalak. "Semenjak kapan kau tahu tentang diriku?"
"Kau tidak perlu tahu," jawab Sean dengan wajah dingin, "tadinya aku ingin menunggumu untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi sepertinya kau tidak berniat untuk jujur padaku. Kita memang sama-sama menyembunyikan sesuatu, tapi dari awal aku sudah mengatakan kalau aku tidak mau pernikahan kita diketahui publik dan kau menyetujuinya, sementara kau menyembunyikan identitasmu sendiri dari semua orang, termasuk dariku. Kau tidak mempercayaiku dan lebih memilih menyembunyikan identitasmu. Kau sudah merendahkan harga diriku sebagai seorang suami dengan tidak jujur padaku tentangmu."
Claire tidak berkutik mendengar penuturan Sean. "Apa kau tahu Claire? Wanita yang paling aku benci adalah wanita yang berani menipuku demi kepentingannya sendiri."
Kata-kata Sean langsung menusuk hatinya. "Hubungan kita dimulai dengan ketidakjujuran dan ketidakpercayaan. Kau menggunakan aku demi kepentinganmu tanpa memperdulikan bagaimana perasaanku. Karena kau ingin bermain-main denganku, maka akan aku temani sampai akhir. Kau sudah mempermainkan pernikahan ini, mari kita lihat apa kau bisa bertahan dengan permainanmu sendiri."
Claire masih diam sambil memandang wajah Sean. Sorot mata terluka dan kemarahan ditangkap oleh Claire dari mata hitam Sean. "Sean, aku tidak...."
__ADS_1
"Jangan katakan apapun untuk saat ini."
Di sisi lain, Helena yang sedang berdansa dengan Felix, tidak bisa berhenti menatap penuh benci pada Claire.
"Berhenti menatap ke sana, Helena. Kau bisa melubangi wajah Claire dengan tatapanmu itu," ucap Felix sambil tersenyum mengejek.
Helena mengalihkan pandangannya pada Felix. "Sebaiknya kau urus saja Claire agar tidak selalu menempel dengan Sean. Aku tahu kau menyukainya," ujar Helena dengan wajah sebal.
Felix nampak santai menanggapi kekesalan Helena. "Aku harus bagaimana? Mereka sudah menikah, jika yang diinginkan Claire adalah Sean, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Menyerahlah Helena, kau tidak akan bisa mendapatkan Sean. Dia tidak mencintaimu."
"Kata siapa? Kau salah Felix, Sean mencintaiku. Dia hanya sedikit goyah dengan kedatangan Claire."
"Jika dia mencintaimu lalu kenapa Claire yang menjadi istrinya dan tidak menikahimu sampai sekarang?"
Helena terdiam sesaat. "Itu karena kakeknya yang memaksa Sean untuk menikahi Claire."
Felix mendesis. "Sean bukanlah orang yang bisa dikendalikan oleh orang lain, Helena. Sekalipun itu oleh kakekku sendiri. Tidak ada yang bisa memaksanya kecuali dia memang menginginkannya."
Helena mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
Helena menoleh ke arah Sean yang berada di samping kirinya. Alisnya menyatu dan dahinya berkerut. Helena mulai mencerna maksud dari perkataan Felix padanya.
Selesai berdansa, Sean langsung menghampiri Helena dan mengabaikan Claire yang ingin berbicara dengannya. Maksud dari Claire mendekati Sean adalah ingin meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Sean, tapi saat melihat sikap dingin Sean, Claire memutuskan untuk berbicara dengannya ketika mereka tiba di rumah.
Karena malam semakin larut, Claire memutuskan untuk segera pulang. Ketika dia akan keluar dari gedung tersebut, tangannya ditarik oleh seseorang ke tempat yang sepi di dekat pintu samping gedung itu.
"Wild, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Claire dengan mata terbelalak.
"Claire, aku berhasil menemukanmu." Wild memeluk erat tubuh Claire sambil berkata, "aku sangat merindukanmu, Claire."
Claire langsung melepaskan diri dari Wild lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua. "Wild, kenapa kau ada di sini?"
__ADS_1
Tatapan penuh kerinduan terlihat sangat jelas dalam sorot mata Wild. "Aku datang untuk menemuimu."
Claire merasa tidak tenang berada di dekat Wild. Dia takut nanti ada yang melihat dan akan salah paham padanya. "Wild, aku sudah menikah. Kita tidak bi...."
Wild memegang kedua bahu Claure dengan lembut. "Aku tahu Claire, aku sudah tahu semuanya. Kau menikah karena terpaksa, kan? Kau tidak mencintai suamimu dan suamimu juga tidak mencintaimu, bukan?"
Claire menghembuskan napas pelan. "Wild, pada saat dijodohkan dengannya, aku memang tidak mencintainya, tapi...."
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Aku sudah tahu, mau masih mencintaiku, kan? Aku juga masih sangat mencintaimu. Berpisahlah dengan suamimu, aku akan berusaha meyakinkan ayahmu. Akan kupastikan kali ini akan mendapatkan restu dari orang tuamu, Claire."
Claire memiringkan kepalanya ke kiri sambil menutup matanya dengan telapak tanganya sebentar. "Wild, ayahku tidak akan pernah menyetujui hubungan kita. Aku sangat mengenal bagaimana sifat ayahku."
"Kalau ayahmu merestui hubungan kita, apa kau mau bercerai dengan suamimu?"
Claire bungkam untuk sesaat. "Wild, aku bukanlah Claire yang kau kenal dulu. Aku sudah berubah dan hatiku ju...."
"Aku akan menerima apapun keadaanmu. Aku tidak akan mempermasalahkan apapun itu, asalkan kau mau kembali padaku." Wild menatap serius pada Claire, "sekarang aku tanya padamu, apa kau mau mencintaiku?"
Claire berpikir sebentar lalu berkata, "Iyaa."
"Aku tahu kalau kau masih mencintaiku, Claire," ucap Wild sambil memeluknya.
Setelah mendengar jawaban Claire, Sean yang sedari tadi mendengarkan dari balik tembok, seketika meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah. Sean memang melihat saat Wild menarik Claire pergi dari ruangan pesta, maka dari itu, dia mengikuti mereka berdua dari belakang.
"Tunggu dulu Wild, aku belum selesai bicara." Claire mendorong tubuh Wild agar menjaga jarak dengannya.
"Apa lagi?"
"Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi Wild."
Senyuman di wajah Wild langsung menghilang. "Claire, jangan berbohong padaku. Aku tahu kau masih marah padaku. Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkan aku."
__ADS_1
"Wild, perasaanku padamu sudah berubah. Rasa cinta itu memang masih ada, tapi tersisa sedikit. Aku tahu kau tidak bersalah mengenai Gloria. Dia menipumu, tapi sungguh Wild, aku sudah tidak mencintaimu lagi."
Bersambung...