Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Tawaran Wild


__ADS_3

Helena hanya bisa diam, tanpa bisa menolak permitaannya. "Tuan Jeferson, silahkan bawa dia. Tidak perlu terburu-buru. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan bebas," ucap ayah Helena seraya mendorong Helena ke arah Wild.


Wild hanya tersenyum mengejek. Orang seperti ayah Helena, Wild jelas bisa membaca pikirannya. Demi perusahaannya dia rela mengorbankan anaknya asalkan bisa menguntungkan baginya.


"Helena, ayo pergi." Wild memutar tubuhnya ke arah lift lalu melangkah.


Melihat Helena bergeming, Ayah Helena menjadi marah. "Dasar anak bodoh! Cepat pergi! Jangan sampai Tuan Muda Jeferson berubah pikiran," ucap Ayah Helena seraya mendorongnya ke arah lift dengan kuat hingga dia hampir terjatuh, jika saja tidak ditangkap oleh Wild.


"Kau tidak apa-apa?" Wild menahan lengan Helena seraya menatap ke arahnya.


Helena meringis menahan sakit karena kakinya terkilir akibat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh tadi. "Tidak apa-apa," ucap Helena seraya menggelengkan kepalanya.


Wild menatap sejenak ke arah pergelangan kaki Helena yang sedang dipegang olehnya kemudian kembali menatap Helena kembali. "Apa kau bisa berdiri?" tanya Wild lagi.


Helena kembali mengangguk seraya meringis.


"Kalau begitu bangunlah." Wild membantu Helena untuk berdiri setelah itu menatap ke arah ayah Helena. "Tuan Jason, lain kali berhati-hatilah. Jangan berlaku kasar lagi pada Helena. Kau tahu sendiri apa profesinya. Tidak akan menguntung baginya kalau sampai dia cidera."


Wajah ayah Helena berubah menjadi takut setelah mendapatkan peringatan dari Wild. "Baik, baik. Aku akan mengingatnya. Aku tidak sengaja mendorongnya tadi. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Wild sudah setuju membantunya, kalau sampai dia berubah pikiran, maka dia sendiri akan rugi. Maka dari itu, dia berusaha bersikap sangat sopan pada Wild.


"Ayo, pergi."


Wild mulai melangkah dan diikuti oleh Helena dengan langkah tertatih menuju lift. Selama dalam lift, mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Helena sibuk dengan pikirannya. Setelah tiba di lantai 20, Helena mengikuti langkah Wild dengan sangat pelan.


Karena melihat Helena sulit berjalan, Wild berhenti lalu berkata, "Helena, lebih baik lepaskan sepatumu. Kau bisa saja jatuh lagi dan membuat kaki satumu terkikir juga."


Sepatu Heels Helena sangat tinggi, akan sangat mudah terjatuh dan membuat pergelangan kakinya terkilir.nHelena berpikir sejenak, kemudian melepaskan sepatu heelsnya. Meskipun sudah dilepas, ternyata Helena masih kesulitan untuk berjalan.


Dia berhenti sejenak kemudian berjongkok dan memegang pergelangan kakinya yang terasa sakit. Wild yang menyadari kalau Helena tidak mengikutinya, akhir berbalik dan melihat Helena nampak kesakitan. Dia pun menghampiri Helena dan tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan itu membuat Helena terkejut.


"Wild, turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri." Meskipun dia berkata seperti itu, tapi tangannya dia kalungkan di leher Wild secara tidak sadar.


"Hari akan gelap jika aku menunggumu berjalan dengan kaki terkilir."


Helena tidak membantah lagi. Setibanya di kamar Wild, dia langsung menurunkan Helena di atas tempat tidurnya.


"Aku akan memanggil Dokter."


"Tidak perlu. Ini akan membaik nanti. Aku hanya perlu memijatnya sebentar," ucap Helena seraya menekan pelan dia area pergelangan kakinya yang memerah.

__ADS_1


"Baiklah." Wild berjalan ke arah jendela kaca dan membuka tirainya.


"Wild, seharusnya kau...."


"Aku tidak memiliki maksud apapun terhadapmu. Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan mengambil keutungan darimu," potong Wild cepat sebelum Helena melanjutkan ucapannya.


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menerima bantuanmu. Aku bisa mengurus masalahku sendiri. Kau tidak perlu ikut campur lagi. Aku tidak mau berhutang budi pada seseorang. Aku akan mengatakan pada ayahku kalau kau berubah pikiran dan tidak jadi membantu kami."


Helena menurunkan kakinya berniat untuk bangkit dari duduknya.


"Dengan cara apa kau mengatasi masalah perusahaan ayahmu? Dengan cara menikah dengan tua bangka Zo itu? Atau kau memilih untuk dijual oleh ayahmu, dari pada menerima bantuan dariku?" Wild menatap ke arah Helena dengan tatapan dingin.


"Itu lebih baik. Setidaknya aku tidak berhutang apapun pada seseorang. Ada timbal-balik antara kami," jawab Helena seraya mengalihkan pandangannya ke samping menghindari tatapan Wild.


"Apa kau bilang?" Wild mengerutkan keningnya dengan dinginnya. Wild terlihat sedang menahan amarahnya. Entah apa yang membuatnya marah.


"Aku hanya tidak mau memiliki hutang budi dengan orang lain." Helena masih memalingkan wajahnya ke samping.


Wild berjalan menghampiri Helena dan berdiri di depannya. "Helena, kau pernah menolong wanita yang aku cintai jadi anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menolong Claire dan anaknya waktu itu."


Mendengar Wild menyebutkan nama Claire, sudut bibinya berkedut. "Itu adalah hutang budi Claire padaku. Tidak ada hubungannya denganmu. Jadi kau melakukan ini karena takut aku akan memanfaatkan Claire karena hutang budinya?"


"Wild, dari dulu, aku memang tidak menyukai Claire sampai saat ini pun masih, tapi aku tidak pernah berniat untuk memanfaatkannya karena hutang budinya itu. Lagi pula, aku bukan menolong Claire, tapi aku menolong anaknya. Anak itu juga milik Sean jadi aku mau membantunya. Kau jangan berpikiran terlalu jauh."


Wild terdiam. Sejujurnya dia merasa lega mendengar pengakuan Helena. "Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi denganku, aku akan pergi." Helena kemudian bangkit. Dengan susah payah dia mulai berjalan, tapi dihentikan oleh Wild.


"Tunggu dulu!" Wild menahan lengan Helena agar dia menghentikan langkah kakinya.


"Apa lagi?" Helena menatap Wild dengan wajah sedikit kesal.


Wild menunduk dan menatap Helena dengan lekat. "Kau sungguh tidak mau menerima bantuan dariku?"


"Iyaa."


"Hanya karena kau tidak mau berhutang budi padaku?" tanya Wild dengan nada yang ditekan.


Helena memalingkan wajahnya ke samping sambil berkata, "Iya."


Wild melepaskan lengan Helena lalu berkata dengan dingin, "Baiklah. Kalau kau ingin adanya timbal-baik, aku setuju. Sekarang, kau tentukan sendiri apa yang akan kau lakukan untukku sebagai imbalan karena aku menolong perusahaan keluargamu," ucap Wild dengan wajah dinginnya.


Helena langsung tertegun. Dia jadi bingung hal apa yang akan dia berikan pada Wild untuk membalas kebaikannya. "Aku menunggumu Helena. Apa kau hanya akan berdiam diri sampai esok hari?" sambung Wild lagi setelah melihat Helena terdiam dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"A-aku...." Helena masih terlihat bingung, tapi setelah beberapa saat berpikir, Helena mendekati Wild dan berdiri di hadapannya.


"Kau sudah memikirkannya?" tanya Wild seraya menatap Helena dengan wajah penasaran.


Helena mengangguk dengan yakin. "Iya."


Helena mendongakkan kepalanya, kemudian menangkup pipi Wild lalu menyatukan bibir mereka berdua dan seketika pupil mata Wild melebar. Dia terlihat sangat terkejut ketika Helena menyatukan bibir mereka berdua. Matanya bahkan masih terbuka saat Helena mulai melu-mat bibirnya.


Karena Wild hanya diam, perlahan tangan Helena mulai terulur menyentuh kancing kemejanya dan mulai membukanya dengan tangan gemetar. Bahkan kini, tidak hanya tangannya yang gemetar, tapi kakinya pun ikut gemetar. Beberapa kali Helena mencoba untuk membuka kancing kemeja Wild, tapi tidak berhasil karena tangannya terus gemetar.


Helena mencobanya lagi hingga dia berhasil membuka semua kancing kemeja Wild dan saat Helena akan melepaskan kemejanya, Wild menangkap tangan Helena lalu menghentikan pagutan mereka.


"Helena cukup. Berhentilah." Wild menjauhkan tubuh dan melihat wajah Helena sudah dibasahi oleh air mata dan itu membuat Wild merasa iba.


"Kenapa? Apa kau jijik padaku?" tanya Helena seraya menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Helena, bukan seperti itu maks...."


"Kau tenang saja. Aku belum pernah disentuh pria manapun. Aku masih menjaga diriku," potong Helena cepat.


Dengan susah payah Helena mengatakan itu. Dia sebenarnya malu pada Wild. Dia juga terpaksa melakukan itu. Baginya, lebih baik dia menyerahkan diri pada Wild dari pada menikah dengan pria beristri apalagi harus dijual pada pria tidak jelas. Setidaknya, Wild pria yang berhati baik.


Melihat Helena terus menunduk seraya menahan tangisnya, Wild ikut menunduk lalu memegang kedua bahunya. "Dengar Helena, aku membantumu bukan karena menginginkan tubuhmu."


Helena mendongakkan kepalanya dengan mata yang tertutupi oleh air mata. "Aku tahu kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan. Aku tahu kalau aku tidak bernilai apapun di matamu, sama seperti di mata ayahku."


Wild menghela napas halusnya karena merasa kalau Helena salah paham padanya. "Alasanku menolakmu bukan karena itu Helena. Aku tidak mau melakukan hal seperti itu sebelum menikah."


Wild berjalan ke arah jendela seraya mengancungkan kembali kemejanya. "Biar aku yang tentukan apa yang harus kau lakukan untukku sebagai imbalan karena aku membantu keluargamu."


Helena langsung berbalik menghadap Wild lalu bertanya dengan cepat. "Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untukmu?"


Wild menoleh sedikit ke belakang lalu menjawab. "Bekerjalah padaku."


Helena terlihat bingung. "Tapi aku hanya seorang model, aku tidak mengerti mengenai urusan perusahaan."


Wild menunduk lalu memasukkan satu tangannya ke saku, setelah itu berrjalan ke arah Helena. "Kau bisa bekerja di anak perusahaanku. Kau bisa menjadi brand ambasador perusahaan kami. Jika kau merasa itu belum cukup, kau bisa menjadi asisten pribadiku."


Helena nampak berpikir selama beberapa saat kemudian berkata, "Baiklah. Aku setuju."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2