
Claire manggut-manggut sambil tersenyum sinis. "Fungsimu ternyata itu, tapi sayang sekali Nona Helena, kau hanya bisa menjadi teman wanitanya dan tidak bisa menjadi istrinya."
Senyum di wajah Helena langsung menghilang mendengar itu.
"Sean, lebih baik kita mulai acaranya sekarang." Felix mengajak Sean untuk segera pergi dari sana sebelum suasana semakin memanas.
Sean mengangguk. Sebelum pergi, dia menatap ke arah Claire sejenak tanpa berkata-kata, kemudian berbalik mengikuti langkah Felix bersama dengan Helena. Senyum kemenangan kembali merekah di bibir merah Helena sesaat sebelum melangkah.
Claire mencibir. "Ciiiih. Wanita tidak tahu malu, dengan bangganya dia pergi dengan suamiku. Ambil saja Sean jika kau mau, aku juga tidak peduli. Kau pikir pria di dunia ini hanya dia seorang."
Dengan wajah kesal, Claire melangkah ke arah meja yang menyajikan minuman. Meskipun dia sudah berjanji dengan Sean untuk tidak menimum, tapi dia berubah pikiran. Sean tidak bisa mengaturnya jika dia saja berprilaku seperti itu.
Claire kemudian meraih gelas yang terisi minum berwarna putih lalu duduk di salah satu kursi di dekatnya saat Sean sedang memberikan pidato dan kata sambutan di depan semua orang.
"Disaat berbicara di depan umum saja, wajahnya tetap datar dan dingin. Apa jangan-jangan dia terlahir di Antartika, maka dari itu, wajah dan sikapnya selalu dingin?"
Claire kembali berpikir. "Sepertinya Helena pengecualian. Dia selalu berbicara hangat dan lembut jika dengannya." Memikirkan itu membuat Claire semakin kesal.
Dia menyesal karena sudah datang ke acara tersebut. "Seharusnya aku memang tidak datang ke sini." Claire mengalihkan pandangannya ke samping karena merasa kesal melihat wajah Sean.
Selesai memberikan kata sambutan, Sean menghampiri Felix dan berbicara dengannya bersama dengan Helena. Claire memilh untuk bersikap acuh tak acuh dan kembali menikmati minum yang ada di tangan kanannya.
Saat dia akan menghabiskan sisa minumannya, seseorang menangkap pergelangan tangannya. "Bukankah aku sudah bilang kalau kau tidak boleh minum lagi?" Sean menahan tangan Claire kemudian meraih gelas lalu meminumnya sampai habis.
"Untuk apa kau ke sini? Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu olehmu." Claire mengabaikan kemarahan Sean padanya.
"Claire, jangan menantang kesabaranku," ucap Sean disertai tatapan tajam.
Claire mengabaikan Sean dan berdiri meninggalkan suaminya. Saat Sean akan menyusul Claire, seseorang mencegahnya. "Sean, beberapa reporter ingin mewawancarimu. Mereka sudah menunggu. Ayo." Tanpa menunggu persetujuan Sean, Helena menarik tangan Sean pergi dari sana.
Claire yang melihat itu, hanya tersenyum miring. Dia kemudian duduk di salah satu tempat duduk dan menanti drama apa yang akan ditampilkan oleh Helena.
Sean dan Helena nampak dikelilingi oleh beberapa orang dari berbagai media. "Tuan, Sean, perusahaanmu kembali berada di puncak kejayaan. Aku dengar Anda akan bekerja sama dengan perusahaan yang berasal dari luar negeri, apa itu benar?" tanya salah satu reporter yang berdiri di depan Sean.
"Benar."
"Kali ini Anda datang bersama dengan Nona Helena lagi, apa ini berarti ada hubungan khusus antara kalian berdua?"
__ADS_1
"Kami memang dekat dari kecil," jawab Sean.
"Ada berita yang mengatakan kalau kau sudah menikah, apa itu benar?"
Dari kejauhan Claire menatap ke arah Sean. Dia ingin tahu apa jawabannya atas pertanyaan tersebut. "Itu tidak benar," bantah Helena dengan cepat
Claire langsung tersenyum sini saat mendengar jawaban dari Helena. Bahkan Helena sudah menjadi juru bicara Sean saat ini, sepertinya sebentar lagi Helena akan menggantikan posisinya.
"Jadi Anda belum menikah?"
Pertanyaan kembali ditujukan pada Sean. Sebelum menjawab Sean mengangkat kepalanya dan tidak sengaja bertatapan dengan Claire. Lidahnya seketika menjadi kelu. "Belum."
Claire langsung mengangkat kelopak matanya dengan cepat. "Baiklah. Karena kau sudah bilang begitu, maka jangan salahkan aku nanti jika ucapanmu menjadi bumerang untukmu," gumam Claire dalam hati.
"Anda sudah memiliki semuanya, tapi masih ada satu yang kurang yaitu pendamping. Posisi Nyonya Sean masih kosong, apa sudah ada wanita yang akan menempati posisi itu?"
Tatapan Sean terarah pada Claire lalu berkata, "Sudah."
Suasana menjadi riuh setelah mendengar jawaban dari Sean. "Siapakah wanita itu?"
Wajah Sean seketika berubah. "Aku tidak bisa memberitahu karena aku ingin menjaga privasinya."
"Sudah cukup untuk wawancaranya. Ini adalah acara kantor, sebaiknya kalian jika ingin bertanya, tanyakan mengenai perusahaan kami di akhir acara nanti." Felix menghentikan wawancara tersebut tepat waktu.
Felix kemudian membawa Sean menuju ruangan khusus tamu VIP. Dia tahu kalau Sean tidak suka kehidupan pribadinya dikorek oleh orang lain.
"Felix, bukankah sudah aku bilang kalau aku tidak mau ada media yang datang ke sini?" Sean duduk dengan wajah kesal setelah berada di ruang khusus VIP.
"Bukan aku yang memanggil orang media. Aku juga tidak tahu siapa yang mendundang mereka ke sini."
Sean kemudian beralih menatap Helena. "Apa kau yang membawa mereka ke sini?"
Helena langsung menggeleng. "Bukan aku Sean. Aku kira kau yang memanggil mereka ke sini, maka dari itu, aku mengajakmu untuk wawancara saat mereka tadi memintaku untuk memanggilmu."
Sean beralih pada sepupunya. "Felix, sebaiknya kau suruh mereka pergi dari sini."
Saat di wawancara, Sean berusaha untuk menahan kekesalannya dan berusaha untuk menjawab dengan baik, meskipun dalam hatinya dia merasa kesal.
__ADS_1
Felix akhirnya menyuruh orang media untuk keluar dari gedung tersebut. Setelah itu, dia menghampiri Claire yang sedang duduk sendirian. "Apa kau bertengkar dengan Sean?" Felix bertanyah setelah dia duduk di samping Claire yang terlihat sedang menikmati minuman yang ada di tangannya.
"Tidak. Kami baik-baik saja," jawab Claire dengan acuh tak acuh.
"Claire, Sean tidak akan pernah mencintaimu. Sudah ada wanita yang dia cintai. Aku mangatakan ini karena aku peduli padamu. Kau bisa menilai sendiri bagaimana sikap Sean terhadapmu. Dia menyembunyikan pernikahan kalian dari publik karena memang dia tidak menganggapmu istrinya. Hanya butuh waktu sampai dia menceraikanmu, dia bertahan hanya karena kakek."
Claire merenung sejenak. "Aku tahu. Aku tidak bisa mengakhiri pernikahan ini, Felix, kecuali Sean yang menginginkannya. Semua keputusan ada di tangannya. Ada alasan kenapa aku masih bertahan dengan pernikahan ini."
Felix menghembuskan napas halusnya. "Dia bukankah Sean yang kau temui saat kau kecil. Dia sudah berubah. Apa kau tahu alasan kakek tiba-tiba menjodohkanmu dengan Sean, padahal aku sudah menyetujui mengenai perjodohan kita?"
Beberapa tahun lalu, kakek Sam memang memberitahu pada Felix kalau dia akan dijodohkan dengan seseorang. Saat itu, Kakek Sam sudah memperlihatkan foto Claire saat remaja. Makanya, saat pertama kali melihat Claire duduk di halte, dia merasa tidak asing dengan wajahnya.
"Apa alasannya?"
"Karena Kakek belakang ini sering sakit-sakitan dan Sean tidak tahu itu karena kakek sengaja menyembunyikan darinya. Sean adalah satu-satunya penerus dari keluarga Louris, kakek ingin memastikan Sean menikah lebih dulu dan memiliki anak sebelum dia tiada. Kakek tidak menyukai Helena dan Sean juga tidak mau menikah dengan wanita lain. Kakek juga belum menemukan wanita yang tepat untuk menjadi istri Sean. Hanya kau satu-satu wanita yang disukai kakek waktu itu. Makanya, kakek akhinya menjodohkanmu dengan Sean dan bukan dengan diriku. Jika kau tidak berhenti sekarang, maka kau akan terikat selamanya dengan Sean."
Claire kembali merenung. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. Tiba di mana acara akan selesai. Acara tersebut ditutup dengan acara dansa. Beberapa orang terlihat mulai memasuki lantai dansa ketika musik mulai mengalun.
Claire menatap ke arah lantai dansa dan tatapannya tertuju pada salah satu pasangan yang sedang disorot oleh lampu. " Felix, apa kau mau berdansa denganku?" Claire berdiri lalu tersenyum penih arti pada Felix.
"Baiklah."
Felix meraih tangan Claire lalu membawanya ke lantai dansa. Di sana sudah ada Sean dan Helena yang sedang berdansa. Saat Felix dan Claire memasuki lantai dansa, Sean melirik pada mereka berdua. Dengan wajah acuh tak acuh, Claire memegang bahu Felix dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya disatukan dengan telapak tangan Felix.
Tubuh mereka berdua mulai mengayun ke kanan dan ke kiri sesuai irama musik. Wajah Sean berubah menjadi dingin ketika melihat Felix merapatkan tubuhnya dengan Claire dengan memegang pinggangnya.
"Sean, apa yang kau lihat?" Helena merasa kesal ketika melihat Sean sedari tadi terus menarap ke arah lain dan tidak fokus padanya.
"Tidak ada."
Tiba saat gerakan memutar pada putaran terakhir. Claire memutar dengan anggun dan itu membuat yang ada di ruangan itu menatap kagum pada Claire. Beberapa orang nampak terpesona saat melihat kepiyawaian Claire ketika berdansa.
Ketika waktunya berganti pasangan, Claire berputar dan ternyata Sean yang menangkap tubuhnya. Sean melingkarkan tangannya di pinggang Claire dengan posesif dan merapatkan tubuh mereka berdua hingga tidak ada jarak diantara mereka berdua.
"Berani sekali kau berdansa dengan Felix di depanku. Menempel dengannya begitu mesranya. Claire, apa kau sengaja ingin membuatku marah?" Suara dingin Sean membuat Claire bergidik ngeri.
Bersambung...
__ADS_1