
Sean mulai hilang kesabaran, dia menangkap pergelangan tangan istrinya lalu berkata, "Claire, kau jangan membuatku kesal. Jika tidak, aku akan menghukummu malam ini."
"Kau berani menghukumku? Apa kau tidak tahu siapa suamiku? Dia orang yang sangat mengerikan. Hanya dengan melihat tatapannya saja, sudah membuat orang takut. Aku saja takut dengannya."
Claire bergidik secara tidak sadar, kemudian berjalan mendekati Sean dengan langkah tidak seimbang, menarik bajunya hingga dia membungkuk ke depan ke arahnya. "Tapi walaupun begitu, dia itu tampan. Hihhi." Claire tertawa kecil sambil menjauhkan mulutnya dari telinga suaminya setelah selesai berbisik.
Sean yang tadinya akan marah, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Claire. Saat mabuk ternyata dia bisa berbicara apa saja. Berbeda saat dia sadar yang terkesan acuh tak acuh.
"Jadi, kau suka pria tampan?" Sean memegang kedua bahu Claire sambil menunduk menatapnya.
"Tentu saja. Mana ada wanita yang tidak suka pria tampan. Wild juga tampan sama seperti Sean."
Mendengar Claire menyebut nama mantan kekasihnya, wajah Sean menggelap dan peganganya pada bahu Claire mengencang. "Jangan pernah menyebut nama pria lain saat bersamaku, terlebih lagi membandingkan aku dengannya."
Selesai mengatakan itu, Sean langsung menyatukan bibir mereka berdua dan melahap bibir Claire dengan kasar. Api kemarahan terlihat jelas di bola mata Sean. Claire bahkan tidak bisa menolak ketika Sean menyentuhnya malam itu.
Kemarahan Sean baru reda setelah Claire setelah menumpahkan semua benihnya di dalam rahim istrinya dan Claire terlelap di pelukannya.
********
Pintu kamar Claire terbuka dan memunculkan bibi Mey di pintu. "Nyonya Muda, kau sudah bangun?"
Claire yang baru saja bangun dari tidurnya seketika duduk dengan rambut yang berantakan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar lalu berkata, "Bibi Mey, di mana Sean?"
Bibi Mey menghampiri Claire lalu berdiri di dekatnya. "Tuan Muda sudah di bawah. Dia memintaku untuk membangunkan Anda, Nyonya Muda." Bibi Mey menyodorkan cangkir pada Claire, "Minumlah Nyonya Muda, ini akan meredakan mabukmu."
"Badanku sakit semua. Seperti habis dipukuli." Dia tidak tahu kalau itu ulah suaminya semalam. "Pukul berapa sekarang?" Claire merenggangkan tubuhya setelah bertanya pada bibi Mey.
"Pukul 7 pagi, Nyonya Muda."
Claire terperanjat. "Astaga, aku telat. Bagaimana ini?" ujar Claire dengan wajah panik.
"Kata tuan muda, Anda tidak perlu bekerja hari ini. Tuan muda sudah mengatakan pada tuan muda Felix untuk memberikan Anda libur hari ini."
"Benarkah?"
"Iyaa, Nyonya Muda."
Claire menghela napas lega. Ketika menunduk, dia mengerutkan keningnya saat melihat bajunya sudah diganti, karena bingung dia pun bertanya pada Bibi Mey. "Bibi Mey, apa kau yang sudah menggantikan bajuku?" tanya Claire.
Dia tidak bisa mengingat kejadian semalam. Jika sudah mabuk berat, dia tidak akan mengingat apapun. "Bukan aku, tapi tuan muda."
Claire membelalak untuk sesaat. "Tapi kenapa dia mengganti bajuku?" tanya Claire dengan wajah heran.
Ini sama kejadiannya ketika dia pertama kali bertemu dengan Sean di kota A. Dulu Sean juga mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Karena pakaianmu kotor, Nyonya Muda. Kau muntah dan mengenai pakaianmu dan pakaian tuan muda."
"Apa???" Mulut Claire terbuka lebar dengan bola mata yang membesar.
Bibi Mey tidak tahu bahwa bukan hanya itu alasan Sean mengganti pakaian Claire. Setelah melakukanya semalam, Claire tidur dengan tubuh polos. Baru tadi pagi, Sean memakaikan pakaian pada istrinya sebelum turun ke bawah.
"Tidak hanya itu, kau juga memaki tuan muda dan mengatakannya bodoh. Kau juga terus meneriakinya dan memukulnya. Yang lebih parah lagi, kau bersikeras ingin masuk ke kamar tuan muda Felix, padahal tuan muda sudah mencegahmu," terang Bibi Mey.
"Matilah aku." Claire menepuk jidatnya lalu membenamkan wajahnya pada bantal yang ada di pangkuannya.
"Selama ini tidak ada yang berani memperlakukan tuan muda seperti itu. Bahkan Nyonya pun tidak pernah."
Claire memukul kepalanya berkali-kali sambil merutuki kebodohannya. Claire kemudian mengangkat kepalanya dengan wajah frustasi lalu berkata, "Bibi Mey, kesalahan apalagi yang aku perbuat semalam?"
Bola mata bibi Mey menatap ke atas sejenak. "Kau mengatakan tuan muda orang yang pemarah dan tidak memiliki perasaan."
Claire menghela napas dengan wajah frustasi. "Bibi Mey, biasanya jika ada yang membuat kesalahan padanya, apa yang biasanya dilakukan oleh Sean?"
"Tuan Muda akan langsung memecat orang itu," jawab Bibi Mey.
"Apa dia akan memecat dan mengusirku dari sini juga?" tanya Claire dengan wajah polosnya.
Bibi Mey terkekeh mendengar itu. "Kau ini bicara apa Nyonya Muda. Tidak mungkin tuan muda melakukan itu. Kau adalah istrinya, mana mungkin tuan muda mengusirmu, Nyonya Muda."
Wajah Claire yang semula layu seketika menjadi bersemangat. "Benar juga. Tidak mungkin dia mengusirku. Aku adalah istrinya." Claire berusaha untuk meyankinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja.
Tidak mungkin dia merasa senang setelah apa yang sudah aku lakukan padanya semalam.
"Aku tidak tahu, Nona Muda, tuan muda hanya diam sedari tadi."
Wajah Claire kembali kusut. "Bibi Mey, beritahu aku bagaimana caranya mengambil hati Sean agar dia tidak marah lagi denganku?"
Bibi Mey tersenyum. "Berprilakulah baik di depannya. Layani tuan muda dengan baik. Jangan membantah apapun yang tuan muda katakan padamu. Cukup turuti dia."
"Baiklah. Aku mengerti."
"Lebih baik Nyonya Muda mandi. Jangan biarkan tuan muda menunggu terlalu lama."
"Baiklah. Aku akan mandi dengan cepat."
Selesai mandi dan merias diri, Claire turun dengan perasaan cemas. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk membuat hati Sean senang.
Saat Claire memasuki ruang makan, dia melihat hanya Sean yang duduk di meja makan. "Sean, ke mana semua orang?" tanya Claire sambil berjalan ke arah meja makan.
Sean meletakkan cangkir teh setelah menyesapnya. Dengan wajah datar, dia menoleh pada Claire. "Semua orang sudah selesai sarapan. Nyonya Sean, sepertinya kau menikmati sekali tidurmu."
__ADS_1
Claire tersenyum kaku lalu berjalan ke arah Sean dan duduk di sampingnya. "Maafkan aku. Aku sedikit pusing. Apa kau sudah sarapan?" Claire berusaha bersikap baik pada Sean agar tidak memancing kemarahannya.
"Bagaimana aku bisa sarapan, kalau istriku saja belum bangun," sindir Sean tanpa segan.
Claire berusaha untuk tetap bersikap lembut meskipun Sean terang-terang sedang menyindirnya. "Seharusnya kau sarapan lebih dulu, tidak usah menungguku."
Sean menampilkan wajah datarnya lalu berkata, "Kakek menyuruhku untuk menunggumu."
Claire hanya bisa menunduk dengan wajah bersalah. "Maafkan aku, Sean."
"Bibi Mey," panggil Sean dengan suara agak keras.
Bibi Mey berlari kecil ketika mendengar Sean mamanggilnya."Iya, Tuan Muda."
"Siapkan sarapan untuk kami."
"Baik, Tuan Muda." Bibi Mey berlalu dari ruang makan dan memanggil beberapa pelayan untuk membantunya. Setelah semua makanan terhidang. Mereka semua berdiri di belakang.
"Kau mau makan apa? Aku akan mengambilkannya untukmu," tanya Claire sambil menoleh pada suaminya.
Sean mengerutkan kening sebentar, kemudian berkata, "Ingin menjadi istri yang baik atau kau merasa bersalah atas insiden yang semalam?"
Ternyata niat baiknya sudah terbaca oleh suaminya. "Sean, semalam aku sungguh-sungguh tidak bermaksud melakukan itu semua padamu. Aku... aku tidak sadar saat melakukannya," ucap Claire sambil menunduk.
"Apa kau ingat apa saja yang sudah kau lakukan padaku?" Suara Sean terdengar datar, tidak terdapat emosi apapun dari nada bicaranya.
"Aku... tidak ingat," aku Claire jujur.
"Sama sekali tidak ada yang kau ingat?" tanya Sean lagi untuk memastikan.
Claire menggeleng lemah. "Tidak."
"Claire, lihat aku."
Claire yang sedari tadi menunduk, akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap Sean yang ada di samping kanannya.
"Jangan pernah berani minum seperti semalam jika tidak ada aku," ucap Sean seraya memegang dagu Claire dan menatapnya dari dekat.
Mata Claire berkedip pelan 3 kali dengan wajah bingung. "Aku tidak mau kau membuat masalah dan membuat malu keluarga jika sampai kau mabuk lagi," lanjut Sean.
Tentu saja aku tahu. Selamanya, hanya nama keluarganya yang kau pikirkan.
"Iyaa," jawab Claire singkat.
"Jadi, dengan apa kau membayar kesalahanmu yang semalam?" tanya Sean tanpa memalingkan wajahnya dari Claire.
__ADS_1
Bersambung...