
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Jack memandang Claire yang sedang duduk di dekat jendela kamarnya.
Claire terdiam dengan wajah pucatnya sambil merenung. "Claire, kau tidak bisa bersembunyi terus darinya. Sean tidak akan tinggal diam kalau sampai dia tahu kau pergi dengan membawa benihnya."
Claire masih terdiam sambil memandang pemandangan kota dengan wajah dinginnya. "Kau tidak bisa menceraikannya dalam keadaan hamil, Claire."
Claire baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil. Dia seketika menjadi bingung langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya setelah mengetahui dirinya sedang mengandung anak Sean.
"Tapi aku juga tidak bisa kembali padanya disaat Casandra juga sedang mengandung bayinya."
"Kau tidak bisa bercerai dengannya, juga tidak bisa kembali padanya. Lalu kau mau bagaimana?" tanya Jack dengan wajah frustasi.
"Aku akan membesarkannya sendiri dan menggugatnya setelah anak ini lahir."
Jack menghela napas lalu berdiri di sebelahnya. "Bagaimana caranya kau bersembunyi dari Sean? Kau bahkan tidak akan bisa bersembunyi darinya selama sebulan," ucap Jack, "Ingat, Claire. Anak dalam kandunganmu itu adalah anak Sean, penerus dari keluarga Louris. Dia tidak akan mengampunimu kalau dia tahu tentang keberadaan anak ini. Kau tidak bisa menjauhkan dia dari anaknya."
Melihat Claire masih diam, Jack berkata lagi. "Aku tidak akan bisa membantumu lagi kalau sudah menyangkut anak dalam perutmu. Sebelumnya aku berjanji akan membantumu karena aku tidak tahu kau hamil. Sekarang masalahnya sudah berbeda, Claire. Anak ini, bukan hanya milikmu, tapi Sean juga berhak atas anak ini."
Claire menoleh pada Jack. "Aku juga tidak tahu kalau aku sedang hamil saat aku mengirimkan surat gugatan itu. Lagi pula, dia juga tidak akan mencintai anak ini. Sudah ada anak Casandra yang akan menjadi penerusnya nanti. Anak ini tidak akan berarti apa-apa baginya." Claire kembali memalingkan wajahnya dan menatap ke arah luar.
"Claire, apa kau yakin kalau Casandra hamil anak Sean? Bagaimana kalau kau salah?" tanya Jack lagi.
Claire kembali terdiam sambil merenung. "Claire, kenapa kau tidak belajar dari masalah yang sebelumnya yang menimpa Wild? Bagaimana kalau kali ini Casandra juga sengaja menjebak Sean? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jack dengan wajah kesal, "kalau kau sampai salah, bagaimana caranya kau menebus kesalahanmu pada Sean dan keluarganya?"
Claire berpikir sejenak lalu berkata, "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir apapun saat ini."
"Claire, meskipun keluargamu berpengaruh, mereka juga tidak akan bisa menghadapi kemarahan keluarga Louris kalau sampai mereka tahu kau membawa pergi penerus keluarga mereka. Pikirkan juga keluargamu. Hutang budi keluargamu di masa lalu pada keluarga Louris, tidak akan bisa dibayar hanya dengan menikahi Sean. Keluargamu bisa begini atas bantuan keluarga Louris."
"Aku tahu, Kak. Tapi dia sudah menghianatiku."
__ADS_1
"Claire, kau harus bertanya langsung pada Sean. Jangan mendengarkan dari sisi Casandra saja. Kenapa kau jadi tidak bisa berpikir jernih seperti ini? Biasanya kau memikirkan dengan matang semuanya sebelum bertindak."
Jack menarik napas panjang lalu menghembuskan cepat. "Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir selama seminggu. Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan. Ayahmu sudah menghubungiku ratusan kali dan sudah menyebar orang untuk mencarimu. Cepat atau lambat, entah itu ayahmu atau Sean, salah satu dari mereka pasti akan menemukan keberadaanmu."
*******
Sean segera mengangkat telpon ketika ponselnya berbunyi. "Bagaimana, apa kau sudah menemukannya?"
Wajah Sean langsung terlihat kecewa setelah mendengar jawaban dari si penelpon. "Baiklah."
"Aku sedang berada di kantor. Sepertinya aku harus cuti sebelum perusahaan ini hancur di tanganku. Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini."
Si penelpon kembali berbicara. "Baiklah. Segera kabari aku kalau kau mendapatkan informasi tentang istriku."
Sean menghela napasnya setelah panggilan telpon terputus, setelah itu meletakkan ponselnya di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia merasa mengantuk sekali, sudah beberapa hari dia tidak tidur. Urusan kantor pun terbengkalai karena pikirannya selalu tertuju pada istrinya.
Setelah tertidur selama 2 jam, Sean akhirnya terbangun secara tiba-tiba. Wajahnya terlihat berkeringat padahal ruangannya sangat dingin. "Kau kenapa?" Nicko masuk ke dalam ruangan Sean tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Nicko duduk di samping Sean dengan santai. "Sepertinya kau mulai berhalusinasi. Bagaimana bisa kau bermimpi dia siang hari sepert ini?"
Sean meraih tisu lalu menyeka keringat di wajahnya. "Aku juga tidak tahu."
Nicko menatap acuh tak acuh pada Sean sambil membuka minuman kaleng yang dia bawa. "Memangnya kau bermimpi apa?" tanya Nicko seraya menenguk minuman kaleng yang ada di tangan kanannya.
"Ada anak kecil yang memanggilku ayah dan wajahnya mirip sekali denganku. Dia menyuruhku menjemputnya."
Nicko langsung menyemburkan minuman yang baru saja dia teguk hingga mengenai meja dan celananya. "Apa kau tidak bisa minum dengan benar? Menjijikkan sekali," ucap Sean dengan wajah kesal.
"Kau membuatku terkejut." Nicko meraih tisu lalu membersihkan mulut dan celananya.
__ADS_1
"Lagi pula, apa yang membuatmu terkejut?" tanya Sean dengan malas.
"Tentu saja kata-katamu, apalagi?" ujar Nicko dengan wajah kesal, "aku tahu kau sangat ingin memiliki anak, tapi jangan terlalu berharap, Sean. Claire saja belum tentu mau kembali padamu, jangankan anak, dia saja belum tentu bisa kau dapatkan kembali. Sadarlaaah. Lama-kelaman sikapmu mulai aneh belakangan ini. Seperti orang linglung dan bodoh."
Sean menyandarkan tubuhnya di sofa dengan malas. "Diamlah."
"Aku hanya ingin kau berpikir dengan baik."
Sean tidak membalas ucapan Nicko lagi, dia justru berjalan menuju meja kerjanya lalu meraih jasnya.
"Kau mau ke mana lagi?" tanya Nicko ketika melihat sahabatnya sedang berjalan ke arah pintu. "Aku akan ke kota A. Aku akan mencarinya lagi."
Nicko segera bangun dari duduknya lalu menghadang Sean. "Sean, kau baru saja ke kota A kemarin, kenapa kau ke sana lagi? Apa kau tidak lelah ke sana kemari tidak tentu arah? Kau sudah 5 kali ke kota A dalam seminggu ini. Jangan menyusahkan diri sendiri. Aku tahu kau cemas dengan istrimu, tapi biarkan orang lain yang mencarinya. Kau tunggu saja di sini. Mereka pasti mengabarimu kalau berhasil menemukannya."
Sean tidak memperdulikan ucapan Nicko dan mulai memakai jasnya. "Bagaimana aku bisa diam saja, sementara aku tidak tahu di mana istriku berada. Wild tidak bersamanya. Dia juga tidak kembali ke rumah orang tuanya lalu ke mana dia pergi? Bagaimana kalau dia kesulitan dan hidup susah diluar sana? Bagaimana kalau dia tidak memiliki tempat berlindung yang aman? Aku takut dia dalam bahaya."
Nicko membuang napasnya dengan kasar melihat sikap keras kepala sahabatnya. "Kenapa kau jadi bodoh seperti ini? Otakmu itu apa gunanya? Memangnya sudah tidak bisa dipakai berpikir?" ujar Nicko kesal, "Istrimu itu memiliki banyak uang. Dia pewaris JK Group. Tidak mungkin dia kesulitan dalam pelariannya. Dia bisa menyewa orang untuk melindunginya. Dia pasti baik-baik saja. Kau jangan khawatir."
Tiba-tiba ponsel Sean kembali berbunyi. "Benarkah? Kapan terakhir dia di sana?" Sean terlihat sangat antusias.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Sean mematikan panggilan telponnya lalu berjalan melewati Nicko.
Melihat itu, Nicko menyusul Sean dan menghadangnya. "Kau mau ke mana lagi?"
Sean terlihat kesal karena dihalangi oleh Nicko. "Minggir Nicko. Aku harus ke kota Z, ada seseorang yang bilang pernah melihat Claire di sana. Aku harus memastikan sendiri."
Nicko nampak sangat frustasi sekaligus sangat kesal dengan sahabatnya itu. "Sean, lebih baik kau pulang ke rumahmu dan tidur dulu. Kau bisa mencarinya besok lagi. Kau sudah tidak tidur 4 hari. Tubuhmu juga butuh istirahat dan juga butuh makan. Kau itu manusia, bukannya robot. Kalau kau terus-terusan mencarinya tanpa memperdulikan dirimu, kau akan tumbang sebelum berhasil menemukannya."
"Aku tidak peduli, Nicko. Aku harus pergi ke kota Z. Lebih baik kau minggir sebelum kesabaranku habis."
__ADS_1
Nicko menghela napas kasar lalu berkata, "Aku akan menemanimu ke sana. Aku takut kau akan pingsan di jalan sebelum sampai di kota Z."
Bersambung....