
"Sudah sampai, Nyonya Muda."
Seorang supir yang ditugaskan untuk mengantar-jemput Claire berkata padanya setelah mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan kediaman utama keluarga Louris.
"Ayo Gretta, turun." Claire berniat meraih pintu, tetapi kembali menoleh karena Gretta masih tidak bergerak di tempatnya, "Gretta, kenapa kau malah melamun?" Claire memegang bahu sahabatnya itu untuk membuyarkan lamanunannya.
"Iyaa, tapi bagaimana kalau suamimu ...."
"Tidak apa-apa, Gretta. Suamiku tidak akan marah. Percaya padamu." Claire meraih tangan Gretta lalu menariknya dengan lembut.
Hari ini, tiba-tiba Sean mengijinkannya untuk menghabiskan waktu dengan Gretta sampai sore hari dan mengatakan dia tidak perlu ke kantornya lagi untuk menyusulnya. Padahal, semalam, Sean hanya mengatakan kalau dia boleh menemui Gretta sebentar saja.
Claire juga tidak tahu apa alasan Sean tiba-tiba berubah pikiran. Yang pasti, dia senang bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Gretta, terlebih lagi, Sean mengijinkannya Gretta untuk menginap di kediaman keluarga Louris.
Mereka tiba di rumah pukul 5 sore dan Sean belum pulang dari kantor. Claire akhinya mengajak Gretta untuk bersantai di lantai 2 sambil menonton televisi.
"Aku tahu kalau keluarga Louris itu sangat kaya, tapi aku tidak menyangka kalau keluarga suamimu sekaya ini."
Claire tersenyum seraya mengambil cemilan yang tadi dibawa oleh bibi Mey. "Bukankah keluargamu juga kaya."
Kekayaaan keluarga Louris di luar ekspektasi Gretta. Dia pikir kekayaan keluarga Louris tidak jauh berbeda dengan keluarga Jeferson, nyatanya, perbedaan mereka terlihat sangat jelas hanya dengan melihat kediaman keluarga Louris.
Gretta yang sedang duduk di kursi single, menoleh seketika pada sahabatnya. "Iyaa, tapi aku rasa, tidak ada yang bisa mengalahkan kekayaan suamimu. Kau beruntung sekali, Claire. Hidupmu sangat sempurna. Semuanya sudah kau miliki."
Claire merebahkan tubuhnya di sofa panjang lalu menyangga perutnya dengan bantal seraya mengelus perut yang yang sedikit terasa mengencang. Dia merasa lelah setelah seharian berkeliling di mall bersama dengan sahabatnya.
"Kau bilang suamiku menakutkan."
Gretta berpikir sejenak lalu berkata, "Iyaa. Seandainya suamimu itu tidak sedingin es dan sedikit bersahabat, pasti dia akan jadi sangat sempurna."
"Jika dia terlalu bersahabat dengan orang lain, terurama wanita, orang lain akan salah paham nantinya."
"Claire, jam berapa suamimu pulang?"
Claire meraih ponselnya di atas meja lalu meletakkannya kembali. "Sebentar lagi." Claire kemudian bangun dari tidurnya, "ayo, aku antarkan ke kamar tamu. Lebih baik kau mandi. Aku juga ingin mandi."
Sesudah menunjukkan kamar tamu pada Gretta, Claire kembali ke kamarnya setelah memberikan pakaian ganti pada Gretta.
******
__ADS_1
Baru saja tiba di rumah, Sean langsung mencari istrinya. "Bibi Mey, di mana istriku?" Sean berhenti tepat di dekat tangga saat melihat bibi Mey baru saja turun menuruni tangga terakhir.
"Nyonya Muda sedang mandi, Tuan Muda."
"Baiklah." Sean langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kau baru pulang?" Masuknya Sean ke dalam kamar, bertepatan dengan Claire yang keluar dari kamar mandi.
"Iyaaa, Sayang." Sean memeluk istrinya dari belakang seraya membuka tali jubah mandi istrinya.
"Sean, mandi dulu." Claire menghentikan tangan suaminya yang sudah berhasil melepaskan tali jubah mandi istrinya.
"Nanti, sayang. Aku ingin mengayapa anakku dulu." Sean menarik diri dari Claire lalu berjongkok di depan istri seraya memegang perutnya, "Sayang, katakan pada ayah, apa ibumu bertemu dengan pria lain saat dia pergi ke mall tadi?"
Sean berpura-pura menunggu jawaban dari anaknya dengan menempelkan telinganya di perut istrinya. "Tidak Ayah." Claire menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Sean tersenyum lalu mendongakkan kepalanya menatap istri sebentar lalu kembali menatap perut istrinya "Banyak sekali pria yang menyukai Ibumu. Tolong jaga ibu selama ayah tidak ada. Jangan biarkan pria lain mendekati Ibumu."
Claire menunduk dan tersenyum. "Ibu tidak tertarik dengan pria lain, Ayah. Ibu, istri yang setia." Claire kembali menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Sean berdiri lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. "Bagaimana harimu dengan Gretta?" tanya Sean dengan lembut.
"Hanya ini saja? Tidak ada yang lain?"
Claire tersenyum seraya membuka kancing kemeja suaminya. "Memangnya kau mau apa?"
Sean menarik tangannya dari pinggang istirnya lalu memegang dagunya, lalu berbisik, "Aku ingin dirimu." Sean menjauhkan wajahnya dari telinga istrinya sambil tersenyum penuh arti.
"Sean, kita sudah melakukanya semalam."
Claire melepaskan kemeja Sean, setelah semua kancingnya terbuka, dia berjalan menuju keranjang baju kotor dan memasukkan pakaian suaminya ke dalam keranjang itu.
Sebelum Claire sempat berbalik, Sean lebih dulu memeluknya dari belakang. "Tubuhmu wangi sekali, Sayang." Sean membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
"Sean, mandilah. Sebentar lagi akan gelap," ucap Claire seraya menoleh ke belakang.
Sean mengabaikan perkataan istrinya dan mulai memberikan kecupan ringan di leher sehingga membuat tubuh Claire meremang.
"Seharian ini aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku karena pikiranku selalu tertuju padamu."
__ADS_1
Tangan Sean mulai memegang kerah jubah mandi istrinya lalu menurunkan sedikit hingga menampilkan bahu dan punggung bagian atas istrinya.
"Sean, hentikan." Claire terlihat memejamkan matanya setiap Sean memberikan kecupan basah pada bahu dan punggungnya secara bergantian.
"Sayang, kau bilang jangan menahannya."
"Iyaa, tapi kita baru saja melakukannya kemarin malam, lagi pula, ini masih jam berapa, Sean. Sebetar lagi kita akan makan malam."
Sean tidak mengubris ucapan Claire dan dengan perlahan membalik tubuh istrinya. "Temani aku mandi. Kita sudah lama tidak mandi bersama." Belum juga Claire menyetujuinya, Sean sudah mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
******
"Bibi Mey ... Bibi Mey." Felix berteriak seraya menutup pintu kamarnya dari luar.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Bibi Mey seraya menghampiri Felix.
"Di mana kau letakkan barang-barang Aletha yang waktu itu dia tinggalkan di sini? Dia mencarinya. Dia akan ke sini dan mengambilnya malam ini."
Bibi Mey berpikir sejenak lalu berkata, "Sepertinya diletakkan oleh nona Aletha di kamar tamu yang biasa dia tempati. Nanti akan saya ambilkan." Saat bibi Mey akan berbalik, Felix langsung menghentikannya.
"Tidak perlu, Bibi Mey. Aku akan mengambilnya sendiri. Kau boleh pergi."
Bibi mengangguk lalu Felix berjalan menuju kamar yang biasa ditiduri oleh Aletha jika sedang menginap di kediaman utama. Felix membuka pintu lalu memasuki kamar itu tanpa mengetuk. Dia melihat ada tas seseorang di atas ranjang dan pikir itu milik adiknya.
Felix berjalan ke arah lemari dan saat dia akan meraih sebuah kotak ukuran sedang, pintu kamar mandi terbuka dan seketika Felix menoleh. "Aaaaaaaa," pekik Gretta dengan suara nyaring. "Siapa kau? Kenapa kau masuk ke kamar ini?" Handuk yang tadi Gretta gunakan untuk menutupi tubuhnya sudah terjatuh ke bawah saat dia berteriak dengan kencang.
Sementara Felix terlihat mengerjapkan matanya dengan wajah bingung saat melihat ada wanita di dalam kamar tersebut dengan tubuh polos. "Jangan-jangan kau pria mesum, ya?" tuduh Gretta seraya menyilang kedua tangannya di depan dadanya dan setelah itu dia meraih handuk dan melilitkan kembali pada tubuhnya.
Setelah kesadaran Felix kembali, dia membuka mulutnya. "Bukan, aku bukan... Kau salah paham."
"Claiiiireee... tolong aku! Ada pria mesum yang mengintipku," teriak Gretta dengan suara melengking, "Dia ingin...."
"Ssssttttt." Felix membekap mulut Gretta dengan telapak tangannya karena panik saat mendengar lengkingan suaranya. Dia takut semua orang akan masuk dan salah paham pada mereka.
Gretta menatap pada Felix dengan bola mata yang membesar saat dia mendekatkan wajahnya. "Jangan berteriak. Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu. Aku hanya...."
Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar. "Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Felix dan Gretta seketika menoleh bersamaan dengan wajah terkejut. Di sana sudah ada Sean, Claire, dan ibu Sean. Posisi keduanya yang saling menempel membuat semua orang salah paham, terlebih lagi Gretta hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung ....