Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Pertemuan Dua Sahabat


__ADS_3

Sean memasuki kamarnya setelah sarapan pagi di bawah. Claire tidak bersamanya karena dia masih tertidur pulas di kamar karena kelelahan. Sean hampir saja lupa diri jika saja dia tidak melihat perut istrinya yang sudah membesar. Dia langsung menghentikannya setelah melakukannya pelepasan semalam.


Meskipun hanya melalukannya sekali, tapi Claire masih merasa lelah. Maka dari itu, pagi ini dia masih tertidur. "Claire, bangun. Ini sudah siang. Aku akan berangkat ke kantor sekarang." Sean duduk di tepi ranjang seraya mengusap lembut pipi istrinya.


"Hhmmm." Claire hanya bergumam tanpa membuka matanya.


"Apa kau masih lelah?"


"Aku masih mengantuk," jawab Claire dengan suara rendah, "hari ini aku ingin tidur seharian." Meskipun dia berbicara, tapi matanya masih tetutup.


"Baiklah. Istrirahat saja di kamar. Aku akan meminta bibi Mey untuk membawakan sarapan dan susu hangat untukmu."


Claire kembali bergumam dan itu membuat Sean tersenyum. "Jangan lupa sarapan, kau bisa melanjutkan tidurmu setelah sarapan pagi."


Claire tidak merespon. Sean lalu menyingkirkan selimut dan menyingkap baju tidur milik istrinya. "Sayang, ayah bekerja dulu. Hari ini, ibu sedang lelah, jangan merepotkan ibu ya?" Sean mengusap lembut perut istrinya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi hingga Claire membuka matanya.


"Kau sudah mau berangkat?" Ritual Sean sebelum berangkat kerja adalah memberikan ciuman bertubi-tubi pada perut istrinya dan Claire sudah hafal akan hal itu. Maka dari itu, dia bertanya pada Sean saat melihatnya mencium perutnya.


"Iyaaa, Sayang." Sean lalu menegakkan duduknya kemudian menurun baju Claire untuk menutupi perutnya.


"Tidurlah kembali setelah kau sarapan pagi. Sarapan akan diantar oleh bibi Mey nanti. Kau tunggu di sini saja. Tidak perlu turun ke bawah."


Claire bangun dari tidurnya sambil mengangguk. "Sean, bolehkah aku menemui Gretta sebentar?" Claire kembali teringat dengan sahabatnya itu. Gretta sudah menunggu jawaban dari Claire sedari semalam, tapi Claire belum memberikan jawaban pasti pada Aletha.


"Kau bilang masih lelah?"


"Aku bisa tidur kembali setelah sarapan dan akan bertemu dengannya siang nanti."


Sean mengangkat tangannya lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Apakah Wild ikut bersama Gretta?"


"Gretta tidak mengatakan apapun padaku. Sepertinya tidak ada." Jawaban kurang yakin dari istrinya membuat Sean memicingkan matanya.


"Claire, kau tahu bu...."


"Aku tahu. Aku tahu, Sayang," potong Claire cepat, "kalaupun ada Wild, kami bertemu di tempat umum. Tidak bisakah kau memberikan sedikit kelonggoran padaku untuk bertemu Wild sebentar?"


Wajah Sean berubah menjadi dingin dan Claire sudah tahu apa penyebabnya. "Kau memintaku untuk menjaga jarak dengan Helena sudah aku lakukan. Kau memintaku untuk menjauhi wanita lain, sudah aku lakukan juga. Aku bahkan selalu mengajakmu ikut bersamaku jika aku bertemu dengan clientku yang wanita. Jika kau ingin bertemu dengan Wild harus ada aku juga di sana. Aku hanya takut rasa cinta diantara kalian kembali tumbuh setelah sekian lama tidak bertemu."


Claire memegang tangan Sean yang ada di wajahnya. "Itu tidak akan terjadi, Sean. Tidak bisakah kau ...."


"Baiklah. Temui saja dia, aku tidak akan melarangmu lagi." Sean berdiri lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Claire turun dari tempat tidur lalu menyusul suaminya. "Sean, tunggu!"


Sean berhenti lalu berbalik. "Jangan berlari-lari, Claire. Kau bisa terpeleset nanti."


"Apa kau marah denganku?" tanya Claire seraya mengapit lengan suaminyan dengan manja.


"Tidak. Kembalilah ke kamar. Aku berangkat dulu." Sean memberikan kecupan di kening istrinya setelah itu pergi.


********


Claire meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang setelah tiba di loby utama salah satu mall terbesar di kota S. Dia sudah sepakat bertemu dengan Gretta pukul 1 siang. "Halo, Gretta, kau di mana?"


"Baiklah. Aku segera ke sana."


Claire memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya lalu berjalan menuju lift. Dari arah belakang terlihat seseorang sedang mengikutinya. Orang itu adalah orang suruh Sean. Dia meminta orang untuk mengawasi sekaligus melindungi istrinya. Dia tidak mau kalau sampai kejadian buruk menimpa istri dan calon anaknya nanti.


Setibanya di lantai 5, Claire langsung menuju salah satu restoran yang sangat terkenal di kota S. Gretta sudah menunggunya di sana, di meja yang dekat dengan pintu masuk.


"Claire, perutmu kenapa sudah sebesar ini? Aku tidak menyangka akan segera memiliki keponakan." Gretta menatap tidak percaya pada perut sahabatnya yang kini sudah berdiri di sampingnya.


Dengan senyum manisnya, Claire berkata, "Itu karena kau kita sudah lama tidak bertemu," jawab Claire sambil duduk.


Claire ternyum geli mendengar penuturan sahabatnya itu. Pasalnya, di kota A, tidak ada satupun orang yang membuat Gretta takut mengingat keluarga keluarga Wild berkuasa di sana. "Kenapa harus takut? Suamiku itu manusia, Gretta, bukan hantu."


Gretta mengedarkan pandanganya ke sekitar setelah itu memajukan tubuhnya ke depan lalu berbicara dengan suara rendah. "Suamimu bahkan lebih menakutkan dari hantu."


Claire kembali terkekeh mendengar perkataan sahabat kecilnya itu. "Siapa yang tidak tahu Sean Alexander Louris. Orang yang paling ditakuti di negara M. Pria yang irit bicara, tidak tersentuh dan sedingin es. Manusia berwajah malaikat, tapi berhati kejam dan berlidah tajam. Mendengar namanya saja membuatku bergidik."


Claire menggelangkan kepalanya sambil tersenyum. "Gretta, dia tidak seperti yang kau bicarakan barusan. Dia memang tampak dingin dan menakutkan dari luar, tapi sebenarnya dia baik. Dia bahkan sangat lembut padaku, terlebih setelah aku hamil."


Gretta mendengus. "Itu karena kau adalah wanita yang dicintainya. Berbeda dengan orang lain, terlebih denganku, yang memiliki hubungan dekat dengan Wild. Dia pasti tidak menyukaiku juga."


"Kau bicara seperti itu karena kau belum mengenalnya. Lain kali, akan aku kenalkan padamu. Bagaimana kalau kau ikut aku pulang ke rumahku? Menginap selama semalam, maka kau akan tahu bagaimana pribadi aslinya."


Gretta melambaikan tangannya dengan cepat. "Tidak. Terima kasih." Gretta menggeleng dengan cepat, "Bisa jadi tinggal nama saja jika aku pergi ke kandangan macam," ucap Gretta dengan asal.


"Gretta, Sean tidak semenakutkan itu, dia sangat baik."


"Aku yakin, dia tidak sebaik kakakku. Wild adalah pria terbaik yang sangat cocok denganmu."


Saat Gretta membahas Wild, Claire seketika teringat dengan mantan kekasihnya itu. "Gretta, bagaimana kabar, Wild?" tanya Claire sambil menyanggah dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja.

__ADS_1


Gretta menghela napas dengan wajah sedih. "Dia menjadi pribadi yang tertutup dan tidak seceria dulu. Dia jadi gila kerja. Hidupnya hanya dia sibukkan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sampai dia pernah masuk rumah sakit selama seminggu karena kelelahan bekerja."


Mendengar penuturan Gretta, Claire seketika merasa bersalah. Dia tidak menyangka Wild menjadi seperti itu. "Dia sangat sedih dan kecewa, Claire," lanjut Gretta lagi.


Di tempat lain, tidak jauh dari restoran yang didatangi Claire, berdiri seseorang yang sedang menatap ke Claire dan Gretta. Tatapan pria itu memancarkan kesedihan yang mendalam. Setelah berdiri selama kurang lebih 15 menit, dia berbalik dan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Maafkan aku, Tuan, aku tidak sengaja." Helena berbicara dengan raut wajah bersalah ketika tidak sengaja menyenggol bahu seorang pria ketika dia akan memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Pria yang memakai topi itu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Helena. "Nona Helena, Lama tidak berjumpa." Pria itu menyapa Helena sambil melepaskan kacamata hitamnya.


"Kau, kenapa kau bisa ada di sini?" Helena menunjuk pria yang ditabraknya itu dengan mata terbelalak.


Aletha yang berada di samping Helena nampak terpana dengan wajah tampan yang ada di depannya. "Aku rasa kita berjodoh. Kita selalu bertemu di tempat tidak terduga."


Helena mendengus dengan wajah kesal "Siapa juga yang mau berjodoh denganmu. Aku masih menyukai Sean, meskipun aku tidak bisa memilikinya."


"Jangan sia-siakan hidupmu hanya karena satu orang pria yang tidak mencintaimu," ucap Pria dengan wajah serius.


"Simpan saja kata-kata itu untumu sendiri. Sepertinya kata-kata itu lebih cocok untukmu," sindir Helena tanpa segan.


"Tidak lagi, karena aku sudah menemukan seseorang yang sepertinya cocok untukku."


"Baguslah kalau begitu," ujar Helena dengan wajah acuh tak acuh.


"Nona Helena, karena aku masih ada urusan, jadi aku harus pergi. Sampai jumpa lagi nanti."


Helena hanya diam dan segera mengajak Aletha pergi dari sana. "Kenapa dia selalu bilang sampai jumpa lagi... sampai jumpa lagi. Memangnya siapa juga yang mau bertemu dengannya lagi," gerutu Helena dengan wajah kesal.


"Kak, siapa pria tampan tadi? Dia benar-benar tipeku. Kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau memiliki kenalan setampan dia?" tanya Aletha seraya menyamai langkah Helena menuju lift.


"Aku juga tidak mengenalnya, Aletha. Dia adalah mantan kekasih, Claire. Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya dulu."


Helena melangkah masuk ke dalam lift saat pintunya sudah terbuka kemudiam disusul oleh Aletha.


"Apa? Mantan kekasih, Claire?"


Aletha tidak bisa menyembuyikan keterkejutannya dari Helena. Baru saja dia menemukan pria idamannya, tapi seketika dia merasa lesu setelah tahu kalau pria itu mantan kekasih kakak iparnya.


"Ya. Jika kau penasaran dengannya, tanya saja dengan Claire karena aku juga tidak mengenal pria tadi."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2