
Claire menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari kamar ganti seraya membawa kemeja di tangan kanannya. Pagi-pagi sekali, Sean sudah terbangun dan bersiap untuk pergi ke kantor. Hari ini dia akan melakukan rapat tahunan sehingga dia berangkat lebih awal dari biasanya.
Dia berdiri di depan suaminya yang sedang memakai kemeja. "Biar aku bantu." Claire mengancing kemeja suaminya secara perlahan lalu mendongakkan kepalanya menatap suaminya setelah selesai sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya, "apa kau sudah mau berangkat setelah ini?"
Sean mengangguk. "Iyaa. Ada rapat di kantor."
Usia kehamilan Claire sudah memasuki 6 bulan dan perutnya sudah terlihat membuncit. Jika biasanya wanita hamil memiliki tubuh gemuk, berbeda dengan Claire, tubuhnya tetap ramping dan hanya perutnya saja yang terlihat membesar meskipun bobot tubuhnya terus bertambah. Padahal, dia memiliki nap-su makan yang besar semenjak usia kehamilannya memasuki trimester kedua.
"Besok bolehkah aku tidak ke kantormu? Aku ingin pergi ke suatu tempat besok," ucap Claire dengan suara manja.
Setiap hari, Claire selalu pergi ke kantor suaminya untuk megantarkan makan siang serta menemaninya bekerja hingga jam kerja berakhir. Karena merasa bosan di rumah jadi Claire memutuskan untuk selalu ikut suaminya ke kantor. Di sana ada Lea yang terkadang menemaninya mengobrol saat Lea sedang senggang.
Meskipun Aletha bekerja di sana juga, tapi sampai saat ini, hubungan Aletha dan Claire masih tidak baik. Aletha masih bersikap sinis padanya setiap mekeka bertemu, meskipun begitu, Claire nampak tidak begitu peduli terhadap sikap buruk Aletha itu.
"Perut sudah sebesar ini kau ingin pergi ke mana, Sayang?"
Sean memiringkan sedikit kepalanya, merapihkan anak rambut istrinya, setelah itu, melingkarkan tangan kanannya di pinggang Claire lalu menariknya hingga tubuh mereka tidak berjarak.
Claire tersenyum, menurunkan tangannya dari leher suaminya kemudian menaruh kedua telapak tangannya di dada suaminya ketika Sean merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Aku ingin bertemu dengan Gretta di salah satu mall dekat sini. Dia sedang ada di kota S jadi aku ingin bertemu dengannya sebentar," terang Claire sambil memainkan jemari tangannya yang lentik di dada suaminya.
"Minta saja di datang ke kantorku. Kau bisa bertemu dengannya di sana," usul Sean.
Semenjak perut Claire mulai membesar, Sean sangat protektif terhadapnya. Banyak sekali hal yang tidak boleh dilakukan olehnya sehingga membuat Claire terkadang kesal pada Sean. Bahkan untuk sekadar berjalan-jalan di mall saja, Sean harus ikut dengannya. Dia tidak memperbolehkan Claire pergi ke manapun jika tidak dengannya. Rasa trauma akibat ulah Casandra membuat Sean lebih berhati-hati sekarang.
"Aku bosan sekali di rumah. Sekali ini saja, tolong ijinkan aku keluar bersama dengan Gretta. Aku ingin menghilangkan jenuhku sebentar dan juga aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Boleh ya, Sayang?" bujuk Claire dengan manja.
Sean terdiam selama beberapa detik sambil berpikir. "Aku janji tidak akan macam-macam. Lagi pula, mana ada pria yang suka dengan wanita yang memiliki perut sebesar ini," lanjut Claire lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.
Sean semakin merapatkan tubuh mereka berdua mendengar ocehan istrinya. "Justru semenjak hamil dan perut membesar, kau terlihat semakin seksi dan menarik. Aku tidak mau ada orang yang menatapmu dengan bebas saat aku tidak ada."
Claire memutar bola matanya seraya menghela napas karena tidak habis pikir dengan suaminya. "Itu hanya menurutmu saja, kau pikir di mall sebesar itu, tidak ada wanita yang lebih menarik dari pada aku apa?"
"Tidak ada. Tidak ada satupun wanita yang lebih menarik dari istri Sean Alexander Louris," jawab Sean dengan tegas.
__ADS_1
Bahkan saat hamil besar pun rasa cemburu Sean tidak berkurang sama sekali, terlebih jika sudah menyangkut Wild. Sampai sekarang pun dia masih mewaspadainya hingga tidak memperbolehkan istrinya menyimpan nomor ponsel mantan kekasihnya itu.
"Sean, jangan bercanda," ucap Claire sambil memukul pelan dada suaminya.
"Aku tidak bercanda, Sayang. Kau tidak boleh pergi jika tidak denganku. Aku akan menyuruh Kenz untuk menjemput Gretta jadi kalian tetap bisa bertemu."
Melihat Sean nampak tidak akan merubah keputusannya, Claire mulai berpikir dan mencari cara agar suaminya berubah pikiran. Setelah terdiam selama 2 detik, Claire menangkup wajah suaminya lalu memberikan kecupan singkat.
"Boleh ya? Aku janji tidak akan lama. Setelah bertemu dengannya, aku akan langsung ke kantormu," bujuk Claire lagi.
Sean menggeleng. "Tidak. Aku tetap tidak menginjinkanmu menemuinya di luar."
Sean berjongkok di depan istrinya, setelah itu, menyingkap bajunya. Dia tersenyum seraya menatap penuh cinta perut istrinya. "Sayang, ayah berangkat kerja dulu? Jangan nakal, oke? Jangan merepotkan ibumu." Sean memberikan kecupan bertubi-tubi pada perut istrinya setelah mengatakan itu.
"Iyaa, Ayah," ucap Claire sambil menirukan suara anak kecil.
Sean tersenyum lalu mengusap lembut perut istrinya. "Ayah pergi ya, Sayang." Sean memberikan kecupan untuk terkakhir kalinya lalu berdiri.
"Untuk hari ini, tidak usah ke kantorku. Aku akan rapat sampai sore dan mungkin akan pulang sedikit terlambat. Istirahat saja di rumah, aku akan menelponmu jika sudah sampai di kantor."
*******
Setelah makan malam, Claire langsung naik ke kamarnya dan menunggu Sean pulang bekerja. Saat dia baru saja akan memasuki kamar mandi, pintu kamarnya terbuka. "Kau sudah pulang?"
"Iyaa. Maaf Sayang, pekerjaanku sangat banyak hari ini."
"Iyaa, aku mengerti." Claire mendekati suaminya lalu membantunya untuk melepaskan pakaiannya, "Sean, Gretta bilang dia tidak mau bertemu di kantormu."
Sean menunduk dan memperhatikan ekspresi kecewa istrinya. "Kenapa?"
"Dia merasa tidak nyaman. Mungkin karena ada kau," jelas Claire, "jadi ijinkan aku untuk bertemu dengannya di luar, ya?" Claire belum juga menyerah dan masih ingin membujuk suaminya agar dia berubah pikiran.
"Tidak bisa. Kalau kau ingin bertemu dengannya, hanya boleh di sekitar gedung kantorku atau kau bisa bertemu dengannya di cafe yang ada lantai bawah kantorku." Sean berjalan ke arah kamar mandi tanpa menunggu respon istrinya.
Selesai mandi, Sean duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa email di ponselnya. Dia tidak menyadari kalau istrinya baru saja keluar dari ruang ganti dan sedang berdiri di dekat meja rias. "Sean, kau sedang apa?" Claire berjalan ke arah Sean lalu berdiri dekatnya.
__ADS_1
"Memeriksa pekerjaan, Sayang."
Sean mengangkat kepalanya dan langsung tebelalak saat melihat penampilan istirnya. Tubuh istrinya hanya dibalut oleh kain tipis berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Perutnya yang membesar dengan tubuh sedikit berisi memberikan kesan seksi di mata Sean.
"Sayang, kau sengaja menggodaku dengan pakaian itu, ya?" Sean meletakkan ponselnya di atas nakas tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari tubuh istrinya.
Claire tersenyum saat melihat tatapan liar suaminya. Dia sudah menduga kalau suaminya pasti akan jatuh ke dalam jebakannya. "Tidak. Belakangan ini aku merasa gerah." Claire mendekati suaminya dan duduk di pangkuannya sambil menggatungkan kedua tangannya di leher suaminya dengan tatapan menggoda.
"Memangnya aku tidak boleh mengenakan baju seperti ini?" ujar Claire dengan nada sesual, "bukannya kau sangat menyukainya?" Tangan Claire mulai bergerak membelai dada suaminya.
Sean nampak memandang wajah istrinya dengan tatapan dalam. "Claire, jangan memancingku. Selama ini aku memang bisa menahan diri, tapi jika kau seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku membuatmu tidak tidur malam ini."
"Aku tidak keberatan, asalkan kau mengijinkan aku untuk bertemu dengan Gretta sebentar."
Sean sudah menduganya, istrinya pasti memiliki maksud lain dengan mengenakan pakaian seperti itu. "Sayang, kau tidak akan bisa merubah keputusanku, meskipun kau melakukan ini." Suara Sean mulai terdengar berat dan sedikit serak.
Claire mengulum senyumnya lalu berkata, "Benarkah?" Kini tangannya berpindah ke ujung baju suaminya dan dengan cepat melepaskan kos berwarna hitam itu dari tubuh Sean, "kita lihat saja, siapa yang akan kalah." Jemari tangan Claire mulai bergerak menelusuri dada bidang suaminya hingga berakhir di perut bawahnya.
"Claire, berhentilah. Ini tidak akan baik untukmu. Kau tahu bukan, aku sudah menahannya selama sebulan. Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah jika kau masih ingin melanjutkannya."
Tubuh Sean menegang ketika jemari tangan istrinya bermain-main di bawah pusarnya. "Sean, aku tidak pernah melarangmu untuk melakukannya. Kau sendiri yang menahannya. Sudah aku bilang tidak masalah jika kau ingin melakukannya," bisik Claire dengan suara menggoda.
Gerakan jemari tangan Claire sangat lembut dan nada bicara Claire sangat sensual dan itu membangkitkan sesuatu yang ada di dalam diri Sean.
"Claire, berhenti." Sean menangkap tangan istrinya saat akan kembali meraba tubuhnya.
"Anakmu merindukanmu, Sean. Apa kau tidak mau menengok anakmu?"
"Mana mungkin aku tidak mau." Sean menyeringai, "Claire, kau akan menyesalinya nanti. Mulai saat ini dan seterusnya aku tidak akan menahan diri lagi. Kau sendiri yang bilang untuk tidak menahannya. Maka dari itu, aku akan mewujudkan keinginanmu." Sean mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di tempat tidur dengan hati-hati.
Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya sebelum memulainya. "Jangan menyesali ini." Detik kemudian Sean merobek lingeri milik istrinya yang langsung memperlihatkan tubuh polos istrinya. "Jangan harap kau bisa lepas dariku malam ini, Claire."
Claire hanya tersenyum. "Lakukanlah. Jangan menahannya. Aku juga menginginkanmu, Sean."
Bersambung....
__ADS_1