Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Tidak Memahami Diri Sendiri


__ADS_3

Nicko berjalan memasuki night club yang paling terkenal di kota S dengan langkah pelan. "Di mana dia berada?" Nicko bertanya pada Kenz yang sedang menyambutnya di pintu masuk club.


"Ada di ruang VIP," jawab Kenz sambil mensejajarkan langkahnya dengan Nicko.


"Dia selalu saja merepotkan aku." Nicko menampilkan wajah kesalnya sambil terus melangkah ke ruangan VIP.


Saat dia membuka pintu ruangan yang dimaksud Kenz, Nicko dibuat terkejut dengan pemandangan di depannya. Sean terlihat terduduk dengan tubuh bersandar sofa dan kepala menghadap ke langit-langit dengan mata terpejam. Di sekelilingnya sudah ada beberapa wanita menempel padanya dan sedang mencoba untuk merayunya dan membuka kemejanya.


"Tuan Muda, Nicko. Kau di sini." Seseorang gadis dengan penampilan seksi menyapa Nicko dengan manja. Dia kemudian berjalan menghampiri Nicko lalu menempel padanya.


"Baby, saat ini aku sedang sibuk jadi tidak bisa meladenimu. Lebih baik kau pergi sebelum Sean terbangun. Kau tidak akan bisa menanggung akibatnya jika sampai Sean tahu apa yang kau lakukan saat dia tidak sadar," ucap Nicko sambil memegang bahu wanita itu dengan wajah seriusnya.


Wanita itu langsung pucat dan tangannya gemetar. "Baiklah. Aku pergi." Wanita bertubuh seksi itu keluar sendiri, sementara yang lain masih setia di sisi Sean.


Nicko kemudian menoleh ke kanan. "Kenapa kau membiarkan gadis-gadis ini masuk ke sini?"


"Tidak ada siapapun di sini tadi. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk menemuimu dan mereka semua sudah ada di sini sekarang."


Nicko seketika mengerti. Wanita ini sudah tahu kalau Sean sendirian di dalam ruangan itu, maka dari itu, mereka berani untuk masuk. Nicko lalu melangkah mendekat. "Ladies, lebih baik kalian keluar dari sini. Jika sampai Sean sadar. Kalian pasti akan mendapatkan masalah besar. Kalian masih ingin tinggal di kota S, bukan?"


Mendengar perkataan Nicko, semua wanita itu langsung menyingkir dan berjalan meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat. Nicko menghela napas kemudian memasukkan kedua tangannya di saku saat melihat Sean tidak bergerak sedikitpun, bahkan tadi saat beberapa gadis sedang meraba wajah dan dadanya, Sean tidak menyadarinya.


"Sudah berapa lama dia begini?" tanya Nicko sambil menoleh pada Kenz.


"Sudah empat hari."


Nicko kembali menghela napasnya panjang. "Apa istrinya tahu mengenai keadaannya?" tanya Nicko sambil mengarahkan pandangannya ke arah Sean.

__ADS_1


"Tidak tahu. Tuan Muda melarangku untuk memberitahu Nyonya muda."


Nicko lalu berjalan dan duduk di samping Sean. "Jadi selama itu dia tidak pernah pulang?"


Stein mengangguk. "Iyaa."


Setelah pergi dari pesta perusahaan itu, Sean memang tidak pernah kembali ke apartemennya. Dia juga tidak pernah bertemu dengan Claire. Beberapa kali Claire mencoba menghubunginya, tetapi tidak direspon oleh Sean. Bahkan Claire sampai meminta bantuan Felix untuk menghubungi Sean dan menanyakan di mana keberadaannya. Hasilnya swma saja. Sean juga tidak merespon panggilan Felix.


"Nasibku sungguh sial. Kenapa aku harus ikut terlibat dalam permasalahan rumah tangganya. Aku bahkan tidak bisa mengurusi diriku sendiri. Tidak bisakah mereka selesaikan permasalahan mereka di ranjang saja? Bukankah biasanya mereka akan berbaikan setelahnya?"


Kenz hanya diam sambil mengedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu hal itu karena dia jga belum menikah.


"Makanya segeralah menikah agar kau juga tahu." Setelah mengatakn itu, Nicko kembali berpikir, "tapi lebih baik kau pikirkan matang-matang sebelum menikah. Jangan sampai sepertinya. Dia menyiksa dirinya sendiri dengan pernikahan ini. Jika orang lain tahu bagaimana lemahnya dia karena seorang wanita, aku yakin dia akan ditertawakan oleh banyak orang. Sean Alexander Louris, pria yang paling disegani di kota S yang memiliki segalanya, bahkan menjadi incaran banyak wanita, bertekuk lutut pada seorang wanita yang tidak mencintainya. Omong kosong apa ini? Aku bahkan yang melihatnya sendiri tidak percaya Sean akan seperti ini." Ada kekesalan dalam nada bicara Nicko.


"Tuan Muda sudah terbiasa sendiri. Sedari kecil dipaksa untuk dewasa lebih cepat dari umurnya, terlebih setelah kedua orang tuanya meninggal. Diumurnya yang sangat muda, dia harus memikirkan dan melindungi keluarga serta perusahaannya. Banyak orang yang bergantung padanya sehingga dia tidak sempat untuk memikirkan dirinya dan berakibat ketidakpekaannya pada perasaannya sendiri. Sisi emosionalnya belum cukup matang kala itu, tapi sudah dipaksa oleh keadaan untuk bisa memikul tanggung jawab besar. Dia jadi tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan tepat atau terkadang bisa berlebihan. Apa yang ingin diutarakan oleh Tuan Muda, tidak pernah sampai dengan baik kepada nona muda," ucap Stein.


Jadi emosi atau emosional bukan tentang marah-marah saja, tapi segala ungkapan dari perasaan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jadi jika Author menyebutkan kata emosi dalam cerita ini, bukan merujuk pada kata marah saja ya. Karena emosi banyak macamnya, seperti bahagia juga termasuk emosi jadi silahkan diartikan sesuai dengan apa yang sedang dibahas.


"Iyaa, aku tahu. Itulah sebabnya aku tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya. Karena aku juga tidak pernah mengalami seperti yang dia alami. Hanya saja menurutku dia itu terlalu bodoh untuk bisa memahami perasaannya sendiri. Sudah tahu cinta mati, tapi masih saja tidak mengakuinya. Dia sendiri yang menyiksa dirinya sendiri. Apa susahnya mengungkapkan perasaan pada istri sendiri? Kalau aku jadi dia ...." Nicko menjeda ucapannya beberapa detik kemudian melanjutkannya, "aku tidak akan pernah jadi dia. Sudahlah lupakan saja."


Nicko kemudian menoleh pada Sean lalu mengguncang tubuhnya dengan pelan, "Sean, bangun."


Sean tidak merespon. Nicko kembali membangunkan Sean, tapi masih tidak bergerak. "Dia mabuk atau tertidur?" tanya Nicko lagi pada Kenz.


"Sepertinya tertidur. Sudah 2 hari Tuan Muda tidak tidur dan dia baru minum satu botol malam ini jadi dia belum mabuk," terang Kenz.


Nicko nampak sangat frustasi melihat sahabatnya. "Baiklah. Biarkan saja dia dulu. Temani aku minum saja."

__ADS_1


"Maaf Tuan, aku menyetir jadi tidak bisa ikut minum," tolak Kenz dengan sopan.


Nicko juga tahu itu. Kenz tidak pernah menyentuh minuman alkohol selama bekerja Sean karena dia harus siaga dalam keadaan apapun. "Baiklah. Aku akan minum sendiri."


Dua jam berlalu, Sean mulai membuka matanya dan melihat Nicko sedang duduk dan mengobrol dengan Kenz. "Kau sudah bangun?" Nicko melirik ke arah Sean ketika melihatnya duduk lalu menatap ke bawah sambil memegang lehernya yang terasa pegal.


"Semenjak kapan kau datang?"


"Tiga jam lalu," bohong Nicko.


Sean kemudian berdiri. "Kau mau ke mana?" tanya Nicko ketika melihat Sean akan melangkah.


"Toilet."


Setelah membasuh wajahnya, Sean kembali ke ruangannya. "Kenapa kau bisa di sini?" tanya Sean sambil duduk di samping Nicko setelah menyugar rambutnya dengan jemari tangannya.


Nicko bersandar dengan wajah malas. "Tentu saja karena aku mengkhawatirkanmu. Aku bahkan bukan istrimu, tetapi selalu saja berada disisimu saat kau ada masalah."


Sean mengabaikan gerutuan Nicko dan justru menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Ketika Sean akan meminumnya, Nicko merebut gelasnya dengan cepat. "Tidak bisakah kau tidak minum selagi kita mengobrol?" tanya Nicko dengan wajah kesal.


Sean melirik sekilas pada Nicko lalu merebut kembali gelasnya. "Jika hanya ingin mengganguku, maka pergilah." Sean kemudian menghabiskan minuman yang ada di gelasnya.


"Sean, sekarang apalagi yang terjadi denganmu? Semenjak kedatangannya dalam hidupmu, aku lihat emosimu tidak stabil. Jujur saja padaku, pertama kali kau bertemu dengannya di hotel kota A, kau sudah mencintainya, bukan?" tebak Nicko dengan alis terangkat.


Sean tidak menjawab, melainkan kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya lalu meminumnya.


Melihat Sean mengabaikannya, Nicko kembali berkata, "Kau bilang dulu ingin memberikan pelajaran pada istrimu karena sudah mempermainkanmu. Kalau kau hanya ingin membuatnya pergi dari hidupmu dan mengakhiri pernikahan kalian, ada banyak cara yang bisa kau lakukan. Tidak perlu sampai melibatkan dirimu. Kau hanya menyiksa dirimu sendiri dengan melakukan itu. Kau ingin menyakitinya karena dia sudah mempermainkan perasaanmu, tapi lihat sekarang, kau menyakitinya atau dia menyakitimu?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2