
Wajah Sean terlihat muram. Semenjak menikah dengan Claire, Nicko mulai sering melihat wajah seperti itu. Dia tidak menyangka kalau wanita yang dia nikahi karena perjodohan mampu mengacaukan hidup Sean.
"Wanita itu butuh perhatian lebih. Perlakukan dia dengan lembut, manjakan dia. Jangan bersikap dingin seperti saat kau bersama dengan Casandra. Lihatlah akibat sikap acuh tak acuhmu pada Casandra dulu, dia akhirnya mencari pria yang lebih perhatian darimu."
Sean kembali menyesap minumannya. "Aku bisa saja membuatnya tidak bisa berpisah dariku, tapi aku tidak mau itu. Aku tidak mau dia bertahan hanya karena terpaksa."
Nicko menyerongkan duduknya menghadap Sean lalu berkata, "Apa kau yakin dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu?"
"Yaa, tentu saja aku yakin. Dia menjalani rumah tangga denganku karena terpaksa. Aku sengaja membiarkan Helena mendekatiku karena aku ingin tahu, bagaimana perasaan Claire padaku, tapi reaksinya biasa saja. Dia sudah sering melihatku dengan Helena, tapi dia terlihat tidak peduli sama sekali denganku. Alasan kenapa aku membiarkan gosipku dan Helena menyebar karena aku ingin tahu apakah dia cemburu atau tidak, ternyata tidak. Dia tidak memberikan reaksi apapun. Bahkan saat Helena pergi ke apartemen kami, Claire terlihat sangat santai setelah mengusir Helena pergi. Dia masih bisa makan dengan lahap setelahnya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya."
"Ternyata hati istrimu lebih dingin dari pada kau. Bagaimana bisa dia bersikap sesantai itu setelah melihat suaminya dekat dengan wanita lain? Nasibmu sungguh sial, mencintai wanita sedingin itu." Nicko berucap sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kau lepaskan saja dia? Masih banyak wanita yang menginginkanmu. Kau adalah Sean Alexander Louris. Tidak ada yang akan menolakmu. Kau tinggal tunjuk saja siapa yang kau inginkan. Mereka pasti dengan senang hati menerimamu. Jika tidak, ada Helena yang selalu setia di sampingmu."
"Aku tidak mau. Yang aku inginkan hanya dia, aku tidak mau yang lain." Sean kembali meminum isi di dalam gelasnya hingga habis.
"Besok temani aku ke kota S untuk menemui Casandra. Aku sudah melacaknya, dia ada di apartemen Valery."
"Kenapa tidak kau temui dia sendiri? Aku tidak mau terlibat dengan masalah kalian."
"Aku tidak mau Claire salah paham padaku lagi, apalagi, saat aku berada di apartemen Jony, Casandra hampir saja menjebakku. Dia memasukkan sesuatu keminumanku dan masuk ke dalam kamarku dengan hanya mengenakan lingerie untuk menggodaku. Jony bersekongkol dengan Casandra untuk menjebakku."
"Berani sekali Jony melakukan itu. Apa kau sudah membuat perhitungan dengannya?"
"Tentu saja. Aku mengambil alih perusahaannya. Dia berhutang banyak padaku. Perusahaan kecilnya bahkan tidak bisa menutup semua hutangnya padaku."
"Lalu apa yang akan kau lakukan terhadap Casandra? Aku tidak yakin kau bisa membuat perhitungan dengannya. Dari dulu, kau sangat lemah jika sudah berhadapan dengannya. Sean, sejujurnya, kau tidak perlu merasa terbenani oleh janji yang pernah kau buat dengan Mattew. Kau sudah berusaha menjaganya, bahkan kau menjadikannya kekasihmu, tapi dia menghianatimu lebih dulu. Dia tahu kau tidak mungkin tega padanya, maka dari itu dia semena-mena padamu. Jadi, bersikap tegaslah pada Casandra, jika tidak kau benar-benar akan kehilangan istrimu."
******
Sean memasuki kamar Claire dengan pelan. Dia baru saja pulang pukul 9 malam. Dia sudah mengabari Claire kalau dia akan pulang terlambat, tapi ternyata nomor istrinya tidak bisa dihubungi. Itu karena Claire sudah mengganti nomor ponselnya dengan yang baru.
Saat dia memasuki kamar, Claire terlihat sudah tertidur. Sean meletakkan beberapa barang di atas nakas lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu, dia berjalan ke arah tempat tidur sambil memandang wajah istrinya.
Dia terdiam beberapa saat kemudian meraih sebuah kotak yang dia letakkan tadi di atas nakas. Setelah membuka kotaknya, dia meraih benda yang ada di dalam kotak itu, meraih tangan Claire dan menyematkan sebuah cincin berlian di jemari manis istrinya kemudian mengecupnya dengan lembut.
Sean kembali meletakkan tangan Claire di tempat semula lalu berbaring di samping istrinya. "Claire, aku sangat mencintaimu." Sean meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat, "aku mohon maafkan aku kali ini saja."
*******
Ketika terbagun di pagi hari, Claire terlihat memeluk tubuh Sean sangat erat dan itu membuat Sean merasa senang. Dia membiarkan Claire memeluknya hingga dia sendiri yang melepasnya. Sean hanya diam seraya terus memandang wajah istrinya.
__ADS_1
Ketika melihat bibir merah istrinya, Sean tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Dia memberikan luma-tan lembut pada bibir istrinya sebentar. Saat dia akan melepaskannya, Claire membalas pagutannya. Sean membuka matanya dan melihat Claire masih memejamkan matanya, tetapi Sean tahu kalau istrinya itu sudah bangun.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Sean terus melu-mat bibir istrinya dengan penuh gai-rah seraya merubah posisinya menjadi di atas istrinya. Tubuh mereka berdua sudah saling menempel dan mereka saling memagut dengan semangat tanpa ada rasa canggung lagi.
Tidak bertemu lebih dari 3 minggu lamanya, membuat Sean sangat merindukan istrinya. Dia ingin melepaskan kerinduan yang selama ini dia tahan. Begitu pun dengan Claire, selama hamil dia merasa sangat merindukan suaminya.
Lu-matan demi lu-matan terus diberikan oleh Sean hingga membuat Claire hanyut dalam permainannya. Dia sudah lupa tujuannya untuk tidak memaafkan Sean dulu. Claire bahkan membalas pagutan Sean dengan liar dan terlihat sangat bergai-rah pagi itu. Sean tentu saja senang. Itu artinya, Claire sudah mau menerima dirinya.
Tangan Sean perlahan membuka satu persatu pakaian istrinya tanpa melepas pagutan mereka. Setelah itu, dia membuka pakaian miliknya seraya menjelajahi leher serta tubuh bagian depan istrinya sampai membuat istrinya melenguh.
"Claire, aku menginginkanmu."
Claire tidak menjawab, melainkan menarik tengkuk suaminya dan menyatukan bibir mereka kembali. Sean tentu saja tahu kalau istrinya sudah mengijinkannya untuk menyentuhnya. Perlahan, Sean mulai mencoba memasuki tubuh istrinya, belum sepenuhnya melakukan penyatuan, pintu kamar mereka diketuk seseorang.
Sean berhenti sejenak ketika ketukan pintu semakin keras. "Tunggu sebentar, aku akan membuka pintu."
Sean terpaksa menarik kembali dirinya lalu menyelimuti tubuh istrinya, setelah itu turun dari tempat tidur, meraih handuk lalu membungkus tubuh bagian bawahnya kemudian berjalan ke arah pintu.
"Kakek, apa yang kau lakukan di kamar kami? Tidak bisakah kau tidak menggangguku?" Sean terlihat sangat kesal saat melihat kakeknya yang ada di depan pintu.
"Kakek hanya takut kalian bertengkar. Sudah sesiang ini, tapi kalian belum juga keluar. Kakek khawatir dengan kalian." Kakek Sam terlihat acuh tak acuh saat melihat wajah kesal cucunya.
"Kakek, ini baru pukul 6 pagi, siang dari mana? Jangan mengganggu kami lagi. Aku baru saja akan membuatkanmu cicit, tapi kau sudah mengganggu kami. Kami akan sarapan di kamar jadi jangan ada yang datang ke kamar kami lagi."
"Kakek sudah pergi. Aku akan mandi lebih dulu. Kau tidur saja jika kau masih mengantuk."
Perlahan Claire menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. "Aku sudah tidak mengantuk."
Sean menatap Claire sejenak lalu berkata, "Apa kau mau mandi lebih dulu?"
"Kau saja. Aku akan mandi setelahmu."
Wajah Claire terlihat malu. Mungkin dia teringat kejadian tadi sehingga dia tidak berani menatap wajah Sean secara langsung.
"Baiklah."
******
Seharian ini, Sean menemani Claire untuk berjalan-jalan di salah satu mall yang ada di kota A. Sean terus mengikuti istrinya ke mana pun dia pergi. Dia juga membelilan banyak barang untuk istrinya.
"Kenapa kau membeli semuanya?" tanya Claire ketika melihat banyaknya tas belanja dengan merk ternama yang dipegang oleh Kenz.
__ADS_1
"Bukankah kau menyukainya? Aku lihat kau menyentuh barang dan baju-baju itu dan menatapnya cukup lama jadi aku membelinya. Aku pikir kau menyukainya," jawab Sean santai.
Claire menghela napas panjang. "Kalau aku menunjuk mall ini dari luar dan menatapnya sangat lama, apa kau juga akan membeli mall ini untukku?" tanya Claire dengan wajah kesal.
"Kalau kau menginginkannya, maka, akan aku belikan mall ini untukmu."
Claire menggelengkan kepalanya dengan wajah frustasi. "Sudahlah. Aku tidak mau berdebat denganmu. Lebih baik kita pulang. Aku takut kalau kita lebih lama lagi di sini, semua barang yang ada di mall ini akan berpindah ke rumahku."
Sean nampak tersenyum tipis mendengar gerutuan istrinya. "Iyaaa, Sayang."
******
Malam harinya, setelah makan malam, mereka berdua kembali ke kamar. Claire terlihat berjalan ke arah balkon kamar dan berdiri seraya menatap ke depan. Melihat itu, Sean menyusul istrinya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Hanya menikmati suasana malam yang sunyi.
Mereka terus diam sampai akhirnya mereka kembali masuk ke dalam kamar. Sean pergi ke kamar mandi, sementara Claire naik ke tempat tidur. Tidak lama berselang, Sean keluar dari kemar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur saat melihat istrinya nampak sudah berbaring membelakanginya.
Sean ikut berbaring dan menghadap punggung Claire. "Claire, apa kau sunggguh ingin berpisah denganku?" Dadanya terasa perih ketika dia bertanya itu pada Claire.
"Apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?" lanjut Sean lagi ketika melihat Claire masih diam.
"Apa kau sungguh bisa bahagia jika berpisah dariku?" Sean kembali bertanya.
"Tolong jawab Claire. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya yang kau inginkan? Kalau kau sunggguh ingin berpisah dariku, aku akan mengalah. Asalkan itu memang kemauanmu dan kau bisa bahagia karena itu. Aku akan melepasmu jika memang hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi."
Claire tidak menjawab, sayup-sayup Sean mendengar suara isakan. Sean membalik tubuh istrinya agar menghadapnya. Ternyata istrinya sedang menangis. Dengan wajah bersalah, Sean menarik tubuh Claire dalam dekapannya.
"Maafkan aku Claire, jangan menangis. Aku memang hanya bisa menyakitimu. Dari awal kita menikah, tidak ada satupun kebahagiaan yang pernah aku berikan padamu. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf."
Sean terus berusaha menenangkan istrinya hingga Claire berhenti menangis. "Jika aku memohon padamu untuk kembali padaku, bisakah kau memberikan satu kesempatan lagi untukku? Asal kau tahu, hidupku akan hancur jika tidak bersamamu, Claire. Tidak bisakah kita mulai dari awal lagi?"
Claire masih diam dalam dekapan hangat suaminya. Perlahan, Sean mengurai pelukannya, menatap serius wajah istrinya. "Aku mohon Claire, tolong berikan aku satu kesempatan lagi."
Claire berpikir cukup lama dan itu membuat Sean mengartikan kalau istrinya ragu terhadapnya.
"Aku tahu kesalahanku sangat fatal bagimu. Seharusnya aku jujur padamu saat aku akan menemui Casandra."
Melihat Claire tidak merespom ucapannya, Sean berkata lagi, "Claire, jangan diam saja. Katakan padaku, apa kau masih ingin melanjutkan pernikahan kita dan mulai dari awal lagi atau berhenti sampai di sini. Aku akan berusaha menerima apapun keputusanmu, meskipun itu berat bagiku."
"Aku lelah." Claire melepaskan diri dari Sean dan memunggunginya.
Hati Sean terasa perih melihat sikap dingin istrinya. "Baiklah, tidurlah. Kita bicara lagi besok."
__ADS_1
Sean akhirnya hanya diam seraya menatap puggung istrinya sebentar lalu turu dari tempat tidur kemudian tidur di sofa.
Bersambung....