
"Claire, banguuun." Sean berbisik di telinga istrinya agar dia membuka matanya, "cepatlah bangun. Kau bilang ingin melihat sunrise," ucap Sean lagi saat melihat Claire masih menutup matanya.
Setelah melakukannya kemarin sore hingga malam, mereka kembali melakukannya lagi saat tengah malam hingga dini hari. Itulah sebabnya Claire masih merasa lelah dan belum membuka matanya saat Sean membangunkannya di pagi hari.
"Claire," panggil Sean lagi.
Claire tidak bergerak sama sekali dan matanya masih tertutup. Sean akhirnya membungkus tubuh istrinya dengan selimut kemudian mengangkatnya keluar dari kamar menuju pinggir pantai dan merebahkannya di kursi panjang pantai.
Claire mulai membuka matanya saat merasakan udara segar masuk ke dalam hidungnya dan angin segar menyapu wajahnya dan serta hangatnya sinar matahari menerpa wajah putihnya.
Claire tersenyum senang saat melihat sunrise ketika dia membuka matanya. "Sudah bangun?"
Claire menoleh ke samping kanan saat mendengar suara Sean masuk ke telinganya. "Iyaa." Claire tersenyum lembut pada Sean lalu berkata, "terima kasih karena sudah menepati janjimu untuk menemaniku melihat matahari terbit."
Sean menjawab dengan anggukan. Claire baru menyadari kalau Sean sebenarnya tidak sedingin yang selama ini dia pikir. Dia hanya sulit didekati, jika bisa menembus hatinya, Sean sebenarnya orang yang hangat.
Saat menyadari kalau tubuhnya hanya terbungkus selimut saja, Claire lalu menampilkan wajah cemberutnya. "Kenapa kau membawaku ke sini dengan mengenakan ini?"
"Kau sulit dibangunkan," jawab Sean datar.
"Tapi setidaknya pakaian aku baju dulu. Bagaimana kalau aku bergerak secara tidak sadar lalu selimutnya terbuka dan ada yang melihat?"
Sean menatap ke depan dengan wajah tenang. "Aku akan membenahinya. Lagi pula, tidak ada orang di sekitar sini."
Sean memang meminta pada pemilik pulau itu untuk menjauhkan orang-orangnya di sekitar vila tempatnya menginap agar privasinya lebih terjaga dan tidak mau diganggu oleh orang lain.
Selain mengantarkan makanan dan hal mendesak, mereka dilarang mendekati vila tempat Sean menginap. Jika dia memerlukan sesuatu, Sean akan menghubungi penjaga vila atau salah satu pegawai pemilik pulau itu.
Selesai sarapan, Claire mengajak Sean untuk berjalan-jalan di sekitar pantai lalu duduk di hamparan pasir di bawah pohon yang rindang. "Sean, selain pakerjaan, apalagi yang kau sukai di dunia ini?" tanya Claire sambil menoleh pada suaminya.
"Kau," jawab Sean spontan.
Claire terlihat tertegun selama dua detik mendengar jawaban tidak terduga dari Sean. Setelah berhasil menyingkirkan keterkejutannya, Claire bertanya lagi. "Kalau waktu diputar kembali, kau ingin kembali ke masa apa?"
Sean menatap lurus ke depan dengan wajah tenangnya. "Waktu kecil. Masa di mana ketika aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya."
Mata Claire membelalak sempurna. "Aku ingin mengulang masa itu agar aku tidak kehilangan jejakmu lagi."
__ADS_1
"Kau sudah tahu kalau aku anak perempuan yang pernah kau tolong sewaktu kecil?" tanya Claire dengan wajah terkejut.
Sean menoleh pada Claire dan mengangguk. "Ya. Aku baru tahu saat aku menyuruh Kenz menyelidikimu."
*******
Sean yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa isi ponselnya, seketika mengangkat kepalanya saat pintu kamar mandi terbuka. Dia nampak terperangah saat melihat penampilan istrinya. "Claire, apa yang...." Sean tidak bisa merangkai kata-katanya karena sangat terkejut.
"Kenapa? Apa kau tidak suka kalau aku memakai ini?" Claire berjalan ke arah Sean dengan langkah pelan dan melemparkan tatapan menggoda padanya.
Sean menelan salivanya tanpa sadar saat melihat Claire mengenakan lingerie hitam yang sangat tipis dan seksi. Lingerie itu bahkan tidak bisa menutupi lekuk tubuh serta area sensitif istrinya dan bisa melihat dengan jelas tubuh istrinya, meskipun dari jarak jauh.
"Kau sengaja memakai itu untuk menggodaku?"
Claire duduk di pangkuan suaminya, melingkarkan tangannya ke leher Sean lalu tersenyum nakal padanya. "Tidak. Aku hanya ingin menyenangkan suamiku dan menciptakan momen indah bersamamu yang tidak akan pernah bisa kau lupakan."
Claire mendekatkan wajahnya pada Sean lalu mengecup singkat bibir suaminya. "Claire, jangan menyesalinya. Kau yang lebih dulu memancingku. Jangan salahkan aku kalau aku tidak mau berhenti," ucap Sean dengan suara berat.
"Lakukan semaumu karena aku memang milikmu," bisik Claire dengan nada sen-sual.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Sean meraih tubuh Claire, merebahkannya di tempat tidur kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Malam itu mereka kembali mengulang kegiatan yang menguras keringat seperti yang malam sebelumnya mereka lewati.
*******
Hari ketiga, mereka tidak pergi keluar dan hanya berdiam di kamar sampai sore hari. Claire terlihat sangat lelah akibat ulahnya sendiri yang sengaja memancing Sean kemarin malam. Dari pagi hingga sore, mereka hanya makan, bersantai dan bermalas-malasan di tempat tidur sambil menonton televisi.
Setelah mandi, mereka berdua akhirnya keluar dari kamar menuju kolam renang yang berada di samping vila yang menghadap ke pantai. Claire mengajaknya berenang sambil menikmati pemandangan pantai di sore hari.
"Tidak terasa sudah 3 hari kita di sini. Aku rasanya tidak ingin pulang," ucap Claire sambil memandang ke depan seraya memegang pembatas pinggir kolam renang.
"Kita bisa tinggal beberapa hari lagi kalau kau masih mau di sini," ucap Sean sambil memandang Claire yang berada di samping kirinya.
Claire berpikir sebentar lalu berkata, "Meskipun aku mau, tapi aku tidak bisa."
Sean menatap wajah Claire dengan tatapan heran. "Kenapa?"
Claire menoleh pada Sean lalu tersenyum. "Aku harus bekerja, kau juga memiliki tanggung jawab besar pada perusahaanmu. Kau menghabiskan masa mudamu untuk membawa perusahaanmu hingga mencapai puncak kejayaan. Kau tidak boleh mengorbankan hal kecil demi kepentingan orang banyak."
__ADS_1
Sean terdiam dan termenung selama beberapa saat lalu berkata, "Lain waktu aku akan mengajakmu lagi ke sini."
Claire tersenyum tipis tanpa menoleh pada Sean. "Jangan membuat janji yang mungkin tidak akan bisa kau tepati, Sean."
*******
Malam harinya, mereka makan malam di pinggir pantai. Sean sengaja menyuruh penjaga vila dan beberapa orang lainnya untuk menyiapkan makan malam romantis dan mendekorasi meja serta menghias sekeliling tempat mereka akan makan malam.
"Kau yang menyiapkan semua ini untukku?" tanya Claire dengan wajah bahagia sekaligus terkejut.
Sean mengangguk lalu menarik kursi untuk Claire. "Iya."
"Terima kasih."
Sean duduk di depan Claire dan tidak lama setelah itu, seorang pria datang dengan membawa makanan serta minum untuk mereka berdua. "Silahkan dinikmati."
"Terima kasih," jawab Sean dan Claire bersamaan.
"Makanlah."
Claire mengangguk dan mulai meraih sendok serta garpunya. Selesai makan, Claire membuka suaranya. "Aku tidak akan melupakan setiap momen yang sudah kita lewati berdua selama di sini. Aku akan merindukan masa-masa ini nantinya. Rasanya berat sekali meninggalkan tempat ini. Akan aku simpan baik-baik kenangan ini dalam ingatanku."
"Aku janji akan mengajakmu berlibur lagi. Kita bisa ke sini lagi nanti. Jangan sedih."
Claire tersenyum hangat pada suaminya. "Kau benar, kita bisa ke sini lagi, itupun kalau kita masih bersama."
Bulu mata Sean terangkat dengan cepat dan tatapannya menajam setelah mendengar ucapan istrinya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah kau sangat sibuk dengan urusan perusahaan. Pekerjaanmu sangat banyak. Apa mungkin kau masih bisa menemaniku berlibur ke sini dengan pekerjaan sebanyak itu?"
"Aku akan mengusahakannya."
Claire mengangguk sambil tersenyum, setelah itu memegang tangan Sean lalu berkata, "Sean, terima kasih karena sudah memberikan aku kebahagiaan selama kita di sini. Terima kasih juga sudah menciptakan kenangan yang sangat indah bersamaku."
Sean terdiam, menatap Claire dengan tatapan tidak terbaca selama beberapa detik. "Claire, apa kau...."
Claire terlihat menunggu kelanjutan ucapan Sean, tapi dia hanya menggantungkan ucapannya. "Apa? Kau ingin mengatakan apa?"
__ADS_1
Sean terdiam selama beberapa saat lalu berkata, "Tidak jadi."
Bersambung...