Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Kemarahan Sean


__ADS_3

Claire dengan susah payah mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang berdiri di depannya. Setelah melihat wanita itu, Claire lalu berkata, "Helena, aku mohon, tolong aku."


Helena berdiri dengan wajah angkuhnya saat mendengar perkataan Claire. Dengan tangan terlipat di depan dada, dia berkata, "Untuk apa aku menolongmu? Kau adalah musuhku. Kau pikir aku sudah tidak waras menolong orang yang menjadi sainganku?"


Claire berusaha bangkit, tapi rasa sakit pada perutnya membuatnya tidak bisa berdiri. "Helena, aku mohon kali ini saja, bantu aku. Aku akan memberikan apapun yang kau minta asalkan kau mau menolong aku."


Mendengar itu, Helena menatap pada Claire yang terlihat sedang memegang perutnya sambil merintih. "Benarkah? Janji?" tanya Helena antusias.


"Kecuali Sean, aku akan memberikan apapun untukmu."


Wajah Helena langsung berubah menjadi masam setelah mendengar ucapan Claire. "Justru itu yang sangat aku inginkan. Kalau begitu, lebih baik aku pergi, percuma saja aku di sini, membuang-buang waktuku saja."


Claire berusaha meraih kaki Helena ketika dia akan melangkah. "Helena, tunggu. Aku mohon, aku sangat membutuhkan bantuanmu."


Saat pergi ke rumah sakit, ponsel Claire tertinggal di rumah karena dia buru-buru ke rumah sakit jadi dia tidak bisa menelpon Sean ataupun orang lain.


Helena berbalik ketika kakinya ditahan oleh Claire. "Ada apa denganmu?" tanya Helena saat menyadari ada keanehan di wajah Claire. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tangan yang memegang kakinya terasa gemetar.


"Tolong aku, Helena."


Tiba-tiba Helena menatap ke arah betis Claire dan melihat ada cairan berwarna merah di sana. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa ada darah di kakimu?" Helena terlihat gemetar dan panik saat melihat darah keluar dari pangkal paha Claire.


"Tolong anakku," ucap Claire dengan suara lemah.


"Anak?" ulang Helena dengan dahi berkerut.


"Casandra berusaha melenyapkan anakku."


Mendengar itu, mata Helena langsung membelalak.


"Casandra berusaha mencelakai anakku, tolong cepat bawa aku ke rumah sakit," terang Claie sambil menahan sakit di perutnya.


Helena nampak bimbang selama beberapa saat. Dia terlihat sedang berpikir keras. Kalau dia menolong Claire, itu artinya dia membantu musuhnya dan kesempatannya untuk mendapatkan Sean akan semakin kecil.


"Helena, cepat bawa aku ke rumah sakit, jika tidak, anakku tidak akan selamat."


Setelah terdiam beberapa saat, Helena kemudian berjongkok di depan Claire dan berkata, "Baiklah, aku akan menolongmu. Hutang budi ini, harus kau bayar dengan mahal nantinya."

__ADS_1


Helena lalu membantu Claire untuk berdiri dan memapahnya masuk ke dalam mobilnya. Setelah Claire duduk di kursi belakang, Helena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Helena menghubungi Sean melalui panggilan telpon dan menyuruhnya datang ke rumah sakit dengan cepat. Dia tidak menjelaskan dengan detail kejadian yang menimpa Claire. Helena hanya mengatakan kalau Claire dalam perjalanan ke rumah sakit bersamanya.


"Apa kau masih bisa menahannya?" tanya Helena sambil menoleh sejenak ke arah Claire.


"Berkendaralah dengan benar, jika tidak, kita hanya akan berakhir di kamar mayat."


Tentu saja Claire juga panik, Helena berkendara dengan kecepatan tinggi, tetapi dia beberapa kali menoleh ke belakang. Bisa saja mereka mengalami kecelakaan sebelum tiba di rumah sakit.


"Aku ini mencemaskan anak dari pria yang aku cintai," ucap Helena dengan kesal.


"Ini anakku juga Helena, jangan lupa itu."


"Sudah diamlah, Kau mengganggu konsentrasiku saja!"


Helena menancap gas lagi agar lebih cepat sampai di rumah sakit. Entah kenapa dia juga merasa khawatir ketika melihat darah di kaki Claire tadi. Setibanya di rumah sakit, Helena langsung menghentikan mobilnya tepat di depan IGD dan ternyata sudah ada Sean dan beberapa perawat medis berdiri di sana.


"Apa yang terjadi? Kenapa ada darah di kakimu?" Dengan panik, Sean menghampiri Claire sudah dipindahkan ke ranjang pasien dorong.


"Selamatkan anakku. Tolong selamatkan dia." Beberapa perawat mendorong Claire ke dalam ruangan IGD diikuti oleh Sean di sampingnya.


Claire menoleh pada Sean dan berusaha memegang tangannya. "Sean, anak kita, selamatkan anak kita," ucap Claire dengan suara rendah.


"Anak kita? Apa maksudmu, Claire?"


Sebelum Claire sempat menjawab, seorang Dokter bersama dengan beberapa perawat datang setelah Claire di pindahkan di ranjang pasien di ruangan IGD. "Tuan, silahkan tunggu di luar, kami akan memeriksanya dulu."


"Selamatkan istriku, jangan sampai terjadi apa-apa denganya," ucap Sean dengan wajah panik.


"Ya, silahkan tunggulah di luar." Setelah mengatakan itu, tirai ditutup dan bersamaan dengan itu, seorang perawat mengarahkan Sean menuju pintu keluar IGD.


Sean kemudian menghampiri Helena yang sedang berbicara dengan Kenz di depan pintu IGD. "Helena, apa yang terjadi dengan istriku? Apa kau yang sudah mencelakainya?" tanya Sean dengan sorot mata mengerikan.


"Bukan aku, tapi Casandra, dia yang sudah mencelakai Claire. Dia bermaksud melenyapkan anakmu."


Sean menjadi lebih bingung lagi. Claire menyebutkan anak, Helena juga begitu. "Anakku? Maksudmu Claire sedang hamil anakku?" tanya Sean dengan wajah penasaran sekaligus terkejut.

__ADS_1


"Tentu saja, memangnya kau tidak tahu Claire sedang hamil?" tanya Helena dengan wajah heran.


Mata Sean membesar. "Aku tidak tahu," jawab Sean seraya menggelengkan kepalanya.


Helena menghela napas. "Casandra berusaha melenyapkan anak kalian. Aku tidak sengaja melihatnya di jalan jadi aku menolongnya."


Mendengar itu, rahang Sean seketika mengeras. Tubuhnya langsung mengeluarkan aura yang menakutkan. "Jadi maksudmu, Casandra berusaha membunuh anakku?" tanya Sean seraya menggertakan gigi. Suaranya dipenuhi oleh amarah.


Helena mengangguk. "Itulah yang aku dengar dari Claire."


Aura Sean semakin gelap, terlihat api berkobar dari sorot matanya sehingga membuat auranya semakin mengerikan.


"Kenz, cari sekarang juga di mana keberadaan Casandra, temukan dia secepatnya! Aku tidak peduli kau mau melakukan dengan metode apa, tapi yang aku inginkan, dalam satu jam, kau harus berhasil menemukan keberadaannya. Aku tidak akan mengampuninya kali ini," ucap Sean dengan tatapan berkilat. Aura membu-nuh terlihat jelas dari wajahnya


"Baik, Tuan Muda."


Setelah kepergian Kenz, Sean langsung menghantam tembok beberapa kali hingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah. Helena yang berada di sana tidak berani menghentikannya karena dia tahu kalau saat ini, kemarahan Sean sudah mencapai titik tertinggi.


"Aarrrgggghh!" teriak Sean sambil mengusap kasar wajahnya.


"Casandra, beraninya kau menargetkan anakku. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan anakku, akan kubuat kau menyesal pernah dilahirkan." Suara Sean dipenuhi amarah. Ucapannya seperti sebuah peringatan akan terjadi bencana besar.


Tidak lama setelah itu, kakek dan ibu Sean tiba di depan IGD. "Sean, apa yang terjadi dengan Claire?" Ibu Sean bertanya dengan wajah panik.


"Apa terjadi sesuatu dengan janin dalam kandungannya?" sela Kakek Sam cepat.


Sean dan ibunya langsung menoleh pada kakek Sam dengan wajah terkejut setelah mendengar pertanyaan kakeknya. "Kakek, jadi kau tahu kalau Claire sedang mengandung anakku?" Suaranya terdengar berat dan dingin.


"Iyaa," jawab Kakek Sam dengan suara rendah.


"Kakek, kenapa kau bisa merahasiakan hal sebesar ini dariku!!" Sean berucap dengan nada tinggi, "kau lihat, apa yang sudah terjadi dengan istriku? Jika Kakek sudah tahu dia sedang hamil, Kakek seharusnya tidak mengijinkan dia pergi keluar sendirian, apalagi tanpa sepengetahuanku!"


"Sean, kendalikan amarahmu." Ibu Sean berusaha menenangkan anaknya yang terlihat sangat marah.


"Maafkan kakek, tadi Claire meminta ijin ke rumah sakit sebentar untuk memeriksakan kehamilannya. Kakek sudah menawarkan diri untuk menemaninya, tetapi dia tidak mau."


Kakek Sam berusaha memaklumi kemarahan cucunya. Itu juga salahnya, jadi dia hanya bisa menerima kemaran dari cucunya. "Seharusnya, aku menyuruh orang untuk mengawasinya, ini salahku."

__ADS_1


Sean bersandar di tembok dengan tubuh lemas. "Inikah kejutan yang ingin kau berikan padaku?" Sean menunduk dengan wajah sedih dan bersalah, "maafkan aku, Claire, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu dan anak kita."


Bersambung.....


__ADS_2