Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

"Sean, kapan kau pulang?" tanya Ibu Sean saat melihat anaknya memasuki ruangan makan bersama dengan Claire.


"Pukul 12 malam, Ibu." Sean dan Claire duduk bersamaan.


"Pantas saja ibu tidak melihatmu. Lain kali, aktifkan ponselmu dan beri kabar pada kami atau setidaknya pada istrimu agar kami tidak khawatir," kata Ibu Sean lagi.


"Yaa."


Dari arah belakang, datang kakek Sam dan Felix. "Selamat pagi, Kakek," sapa Claire ketika kakek Sam baru saja duduk di kursinya.


Kakek Sam mengangguk. "Pagi."


"Claire, kau tidak menyapaku juga?" tanya Felix.


Sean terlihat melirik Felix sebentar dengan wajah datarnya. "Selamat pagi, Felix."


"Selamat pagi juga, Sayang." Mendapatkan lirikan tajam dari Sean, Felix berkata lagi, "maksudku, Claire," ralat Felix cepat.


"Felix, kau ini selalu saja menggoda mereka," sahut Ibu Sean.


Felix terlihat tersenyum lebar pada bibinya itu lalu menampilkan wajah acuh tak acuhnya pada Sean.


"Kakek, Sean sudah setuju untuk berlibur selama 5 hari bersamaku."


Mendengar itu, kakek Sean merasa sangat senang. "Bagus... bagus sekali. Semoga ada kabar baik setelah kepulangan kalian dari berlibur nanti."


Claire tersenyum kaku mendengar itu, sementara Sean hanya diam. "Kapan kalian akan berangkat?" tanya Ibu Sean.


"Kami akan berangkat siang ini," jawab Claire.


"Aku ikut dengan kalian. Aku juga sudah lama tidak berlibur," sahut Felix.


Sean langsung menatap Felix dengan wajah mencibir. "Kau sanggup melihat kemesraan kami nanti di sana?"


Felix berdecak kesal. "Kau ingin pamer denganku?" ujar Felix dengan wajah tidak suka.


"Yaa," jawab Sean dengan wajah acuh tak acuh.


"Ciiiih. Semenjak kapan kau jadi tukang pamer?" Felix mendengus kesal melihat sikap acuh tak acuh sepupunya.


Selesai sarapan, mereka kembali ke kamar mereka berdua. "Kenapa tiba-tiba ingin berlibur?" Sean bertanya ketika baru saja memasuki kamar mereka berdua.

__ADS_1


Claire berjalan menuju meja rias, sementara Sean duduk di atas tempat tidur. "Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu." Claire kemudian memutar tubuhnya menghadap Sean. "Apa kau berubah pikiran?"


Wajah Sean terlihat tenang, tidak mengandung ekspresi apapun. "Tidak. Aku hanya bertanya."


"Aku akan berkemas sekarang." Claire berdiri lalu berjalan menuju ruangan walk in closet.


Sean kemudian menyusul Claire dari belakang. "Tidak perlu membawa banyak barang. Bawa seperlunya saja."


Claire menoleh lalu tersenyum. "Iyaa."


Siang harinya, setelah berpamitan dengan semuanya, Claire dan Sean pergi ke bandara diantar oleh Kenz. Sean sengaja menggunakan pesawat pribadinya untuk berlibur agar lebih memudahkannya. Butuh waktu 6 jam untuk sampai di tempat tujuan.


Liburan kali ini, Kenz tidak ikut dengan mereka. Itu adalah permintaan Claire pada Sean. Dia bilang hanya ingin berlibur berdua saja dengannya tanpa ada orang lain yang mengikuti mereka berdua. Tempat liburan mereka adalah salah satu pulau pribadi yang sangat terkenal dengan keindahannya.


Itu adalah tempat yang dulu ingin Claire kunjungi setelah menikah. Pulau itu tidak terlalu ramai dan sangat tenang. Bisa dihitung penduduk yang tinggal di sana karena itu adalah pulau pribadi milik seseorang yang hanya boleh dikunjungi oleh orang tertentu saja.


Beruntung Sean mengenal pemilik pulau itu sehingga dia meminta bantuan pemiliknya untuk mengatur segala sesuatunya di sana. Untuk sampai ke pulau itu, mereka harus menaiki kapal. Mereka tiba di sana pukul 5 sore.


Setibanya di sana, mereka sudah disambut oleh beberapa orang. Mereka diantarkan ke vila yang sudah disiapkan untuk mereka. Vila itu letaknya tidak jauh dari pantai. Claire terlihat sangat bahagia saat melihat pemandangan di depannya.


"Kau tahu Sean, ini adalah salah satu tempat yang ingin aku datangi setelah menikah," ucap Claire sambil menoleh pada Sean setelah membuka jendela-jendela kaca kamarnya yang bisa langsung melihat pemandangan pantai di depannya.


Sean yang sedang duduk di atas tempat tidur hanya diam sambil menatap Claire dengan tatapan tidak terbaca. "Ayo kita keluar." Claire menghampiri Sean, menarik tangannya menuju pintu belakang.


"Claire, apa terjadi sesuatu saat aku pergi?"


Sikap Claire sangat aneh menurut Sean. Tiba-tiba bersikap lembut dan selalu tersenyum itu terasa janggal baginya.


"Tidak, memangnya kenapa?" Claire menoleh pada Sean seraya menarik tangannya menuju bibir pantai.


"Tidak apa-apa."


Claire berhenti dan menoleh pada suaminya. "Sean, bisakah selama di sini, jangan memikirkan hal apapun selain aku?"


Sean mengerutkan keningnya sesaat, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.


"Maksudku, fokuslah pada kita berdua. Matikan ponselmu, aku ingin yang ada di pikiranmu hanya tentang kita berdua. Jangan pikirkan yang lain. Aku ingin membuat kenangan indah bersamamu selama kita tinggal di sini. Anggap saja kita sedang berbulan madu. Hanya itu yang aku minta padamu."


Sean menatap Claire dengan dalam tanpa mengatakan apapun kemudian mengangguk.


"Akan aku buat bulan madu ini tidak akan pernah terlupakan olehmu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Claire maju dia langkah, melingkarkan kedua tangannya di leher Sean lalu menempelkan bibir mereka berdua. Sean sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Claire berinisiatif menciumnya lebih dulu. Claire terlihat sangat berhas-rat dan tidak terlihat canggung lagi.


Di bibir pantai, dengan pemandangan pantai yang sangat indah, mereka saling memagut penuh gai-rah. Sean tentu tidak tinggal diam, dia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Claire kemudian merapatkan tubuh mereka sambil membelit lidahnya dan setelah itu, gigitan kecil mulai diberikan Sean pada bibir mungil Claire, begitupun sebaliknya.


Beberapa detik saling memagut, tapi belum ada tanda kalau mereka akan berhenti, justru mereka terlihat semakin bersemangat. Tangan Claire bahkan sudah bergerak membuka kancing kemeja Sean. Tidak lama setelah itu, Sean mengangkat tubuh Claire dan membawanya ke dalam kamar.


Sean menutup semua jendela dan pintu, setelah itu melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Sean mengungkung tubuh istrinya di bawahnya dan kembali melu-mat bibir istrinya dengan rakus. Claire tidak hanya diam, dia justru sudah melepaskan pakaian suaminya dan membuangnya kesembarang arah.


Tidak mau kalah, Sean juga melucuti pakaian yang melekat di tubuh istrinya hingga polos dan mulai menjelajahi leher sang istri dengan lembut dan memberikan kecupan-kecupan ringan di sana hingga membuat Claire melenguh.


"Sean, aku mencintaimu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Claire disaat dia sudah terbuai dengan sentuhan suaminya.


Sean menghentikan kegiatannya lalu menatap Claire dengan sorot mata penuh has-rat. "Aku juga mencintaimu." Detik kemudian Sean kembali melu-mat bibir istrinya selama beberapa detik lalu menyatukan tubuh mereka berdua dengan hati-hati.


Lenguhan Claire mulai terdengar setelah Sean berhasil memasuki tubuhnya. Sore itu, hanya suara lenguhan dan era-ngan yang terdengar dari kamar itu hingga malam tiba. Setelah melakukannya dua kali, Sean akhirnya berhenti.


"Sean, apa kau menyesal menikah denganku?" tanya Claire saat Sean memeluknya dari belakang.


"Tidak," jawab Sean sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Benarkah?" tanya Claire lembut.


"Hhhmmm," gumam Sean sambil mengangguk.


Claire berbalik lalu memeluk Sean dari depan. "Baiklah. Aku percaya padamu. Aku ingin sekali tinggal di sini selamanya bersamamu, bersama anak-anak kita nanti, tapi...."


Tak kunjung mendengar kelanjutan ucapan Claire, Sean akhirnya bertanya, "Tapi apa?"


"Tapi itu tidak akan pernah terjadi," jawab Claire dengan suara rendah.


"Kenapa?"


"Karena...." Claire mendongakkan kepalanya, menatap suaminya dengan tatapam sendu, "itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud."


Sean mengerutkan keningnya mendengar itu.


"Maksudku, kau harus bekerja dan banyak sekali kepala yang bergantung padamu. Kau tidak akan bisa memimpin perusahaan jika tinggal tinggal di sini, bukan?" ujar Claire sambil tersenyum.


Sean hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Claire.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2