
Acara lelang terus berlangsung hingga tiba saat sebuah cincin berlian berwarna pink menjadi benda yang selanjutkan akan dilelang. Beberapa orang terlihat sedang meneriakkan angka untuk mendapatkan cincin berlian itu.
Helena dan Aletha ikut dalam perebutan cincin berlian itu. "Claire, apa tidak ada benda yang kau sukai?" Ibu Sean akhirnya bertanya pada menantunya karena sedari tadi, Claire nampak diam dan tidak pernah ikut untuk dalam penawaran.
Claire tersenyum. "Tidak Ibu. Aku tidak menginginkan apa-apa."
Ibu Sean melirik sekilas pada penampilan Claire kemudian menghela napas secara diam-diam. Dia sedikit merasa kasihan pada menantunya. Meskipun penampilan menantunya sudah mencerminkan dari keluarga kaya, tapi dia tidak memakai perhiasan apapun saat menghadiri pesta ataupun pergi ke mana pun.
Dia sudah menikah, tapi Sean tidak pernah membelikan hadiah apapun pada istrinya. Jangankan hadiah, cincin pernikahanpun tidak ada. Itulah yang membuat Ibu Sean sedikit merasa bersalah.
"Pilihlah salah satu perhiasan yang akan dilelang selanjutnya. Anggap saja hadiah pernikahan dari ibu. Meskipun sudah terlambat, tapi lebih baik memberikan sekarang dari pada tidak sama sekali."
Pada awlanya dia memang tidak begitu menyukai Claire, tapi dia juga tidak membencinya. Sekarang dia sudah bisa menerima Claire sebagai menantunya karena merasa Claire adalah gadis yang baik dan sangat sopan padanya, meskipum diawal dia sempat bersikap acuh tak acuh pada menantunya.
Claire merasa tersentuh menfengar itu. "Ibu, aku sungguh tidak memerlukan hadiah. Dengan ibu menerimaku sebagai menantumu, itu sudah cukup bagiku," ucap Cliare dengan lembut.
Claire sudah memiliki segaalanya dan dia memang tidak membutuhkan hadiah apapun dari ibu mertuanya. Harapan satu-satunya adalah dia bisa diterima di keluarga Louris.
"Ibu memaksa. Pilihlah jika ada yang kau sukai atau jika tidak ada, ibu akan membelikannya di tempat lain."
Takut ibu mertuanya tersinggung karena penolakannnya, Claire akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ibu mertuanya untuk memilih salah satu perhiasan yang selanjutnya akan di lelang, yaitu sebuah cincin bermakotakan batu ruby berwarna semerah darah dan kilau yang mempesona.
Saat Claire mengajukan penawaran terhadap cincin itu. Beberapa orang juga terlihat ikut dalam penawaran cincin itu, termasuk Helena. beberapa orang nampak sudah menyerah ketika harga sudah menjadi semakin tinggi setiap kali Helena memberikan harga. Sepertinya Helena sangat ingin memiliki cincin berlian yang diingkan oleh Claire.
Tiba pada penawaran tertinggi yang diberikn oleh Helena, Claire akhirnya menyerah. Dia tidak mau menghabiskan uang hanya karena cincin seperti itu. Sebenarnya dia sudah memiliki cincin yang sedikit mirip dengan cincin itu, tapi karena Claire senang melihat kilau warnanya, sehingga dia memutuskan untuk ikut penawaran dan ternyata Helena juga mengincarnya.
Jadilah, Claire memutuskan untuk melepasnya. Claire merasa kalau Helena sengaja ingin mengambil cincin itu untuk membuatnya kesal.
"Claire, ibu akan memesan secara khusus cincin untukmu. Tidak perlu ikut lagi dalam penawaran selanjutnya."
Dia bukannnya tidak tahu kalau tadi Helena dan Claire sedang bersaing memperebutkan cincin merah itu, tapi ibu Sean nampak hanya diam. Sebenarnya Ibu Sean bisa saja ikut dalam penawaran tadi dan tidak akan bisa ada yang mengalahkannya, jika dia memang berniat untuk membeli cincin itu. Hanya saja ibu Sean tidak ingin ikut campur. Bagaimana pun dia juga dekat dengan Helena dan tidak ingin hubungan mereka akan canggung nantinya.
__ADS_1
"Baik Ibu, terima kasih." Claire mengangguk dengan patuh dan berkata dengan lembut.
Saat akan pulang, Helena sengaja merapatkan diri pada Claire, kemudian berbisik padanya. "Claire, aku akan merebut Sean darimu sama seperti aku merebut cincin yang kau inginkan hari ini." Saat Helena menjauhkan tubuhnya dari Claire, dia memberikan senyum jahatnya.
"Coba saja kalau kau bisa merebutnya." Claire kemudia pergi dengan wajah acuh tak acuh.
Setibanya di rumah, Claire merasa tubuhnya semakin tidak enak. Kepalanya masih sedikit pusing. "Ada apa, Claire?" Ibu Sean nampak memandang dengan heran saat melihat Claire memijat kepalanya.
"Tidak apa-apa Ibu. Aku hanya sedikit pusing."
"Kau belum minum obat dari tadi pagi?"
Claire menggeleng dengan lemah. "Belum. Aku hanya butun istrirahat Ibu."
"Kalau begitu istirahatlah. Besok pagi tidak usah bekerja dulu jika kau masih tidak enak badan."
Setelah berpamitan dengan ibu mertuanya, Claire pergi ke kamarnya. Karena merasa tubuhnya lemas, Claire akhirnya hanya memberisihkan wajahnya lalu kemudian naik ke tempat tidur. Dia mengecek ponselnya untuk melihat apakah ada pesan dari Sean dan ternyata ada pesan darinya yang mengatakan kalau dia sudah sampai di negara K.
Pagi harinya, Claire terbangun karena merasa kepalanya sakit. Dia termenung sesaat sambil berpikir kemudian turun dari tempat tidur. Selesai mandi, Claire turun ke bawah. Ibu Sean dan kakeknya belum menampakkan diri di ruangan makan, Claire akhirnya memanggil bibi Mey setelah dia duduk di meja makan.
"Bibi Mey, tolong buatkan teh hangat jahe seperti kemarin."
"Apa Nyonya Muda, masih tidak enak badan?"
Claire meletakknya telapak tangan kirinya di atas dadanya. "Aku baik-baik saka Bibi Mey. Aku hanya merasa mulutku terasa pahit dan sedikit mual."
Bibi Mey menyipitkan matanya. "Nyonya Muda, apa tidak sebaiknya memanggil Dokter saja? Tuan Muda memintaku untuk menjaga Nyonya muda dengan baik. Dia akan marah, jika sampai tahu kalau Nyonya Muda sakit."
Claire tersenyum memdengar kecemasan bibi Mey. Dia tidak memerlukan seorang Dokter untuk memeriksanya, karena sebenarnya dia juga berporfesi sebagai Dokter. Tentu saja dia bisa mengobati dirinya sendirinya. hanya saja, dari dulu, meskipun Claire seorang Dokter, dia jarang sekali minum obat jika dia terkena sakit yang ringan dan masih bisa menggunakan tanaman-tanaman herbal.
Saat sedang menikmati teh hangatnya, inu mertua dan kakek Sam masuk ke dalam ruangan makan. "Selamat pagi Ibu, Kakek."
__ADS_1
"Pagi," jawan mereka serempak.
"Claire, apa kau memiliki waktu besok malam? Ibu ingin mengajakmu untuk menghadiri pesta di kota L. Seharusnya Sean yang pergi, tetapi dia tidak bisa. Ini adalah salah satu teman baik almarhum ayahnya jadi salah satu perwakilan dari keluarga kita harus datang."
"Ada bisa Ibu. Aku akan menemanimu besok malam."
Kakek Sam terlihat senang saat melihat menatu dan cucu menatunya terlihat akur. "Menginaplah di sana selama 2 hari. Anggap saja liburan," timpak Kakek Sam.
"Baik, Ayah."
Malam harinya setelah selesai mandi, Claire mencoba menghubungi ponsel Sean untuk memberitahu perihal dia akan pergi ke kota L bersama dengan ibunya besok pagi. Bagaimana pun dia harus memberitahunya agar Sean tidak marah.
Telponnya tidak angkat setelah melakukan panggilan beberapa kali. Claire akhirnya memutuskan untuk mengerjakan tugas kantornya karena dia harus mengambil cuti selama 2 hari untuk menemani ibu mertuanya.
Setelah selesai mengerjakan urusan kantornya, Claire kembali menghubugi
Sean. Dia menunggu selama beberapa saat dan panggilan Claire akhirnya dijawab oleh Sean. "Ada apa?" Suara masih sedingin biasanya. Nampaknya Sean merasa terganggu dengan panggilan telponnya.
"Aku ingin pergi ke kota L bersama dengan ibu besok pagi."
Hening, tidak sda suara apapun di telpon sebrang selama 3 detik. "Ya." Singkat hanya itu yang diucapkan oleh Sean.
Saat Claire akan berbicara, terdengar suara seorang wanita memanggil suaminya. "Sean, apa kau sudah selesai mandi?"
"Sssssst." Terdengar suara desisan dari mulut Sean meminta orang tersebut untuk diam. "Claire, aku tutup dulu."
Panggilan telpon langsung terputus. Claire terlihat diam mematung. Suara seorang wanita di malam hari? Pukul 11 malam bukanlah waktu untuk seorang wanita berkunjung ke kamar seorang pria, terlebih lagi seorang pria beristri.
Bukankah dia bilang ke sana untuk urusan pekerjaan, lalu kenapa bisa ada suara perempuan di kamar Sean?
Bersambung...
__ADS_1