
Sebelum turun dari mobil, Helena mengenakan kacamata hitam besarnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia berjalan sambil menunduk agar tidak ada yang mengenalinya. Ketika dia akan berbelok menuju lift, seseorang tidak sengaja menabraknya dari arah belakang hingga tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.
"Apa kau tidak punya mata!" ujar Helena dengan kesal setelah berhasil berdiri dengan tegak.
"Maafkan aku, Nona. Aku sedang terburu-buru."
"Kau pikir hanya kau yang terburu-buru. Setidaknya gunakan matamu saat berjalan." Helena lalu menoleh ke belakang dan terkesiap saat melihat wajah di depannya.
"Maafkan aku. Ini memang salahku. Apa kau terluka?"
Helena memandang wajah pria di depannya tanpa berkedip. Mulutnya terbuka lebar karena terpana dengan wajah tampan pria di depannya.
"Nona, apa kau baik-baik saja." Pria itu melambaikan telapak tangannya di depan wajah Helena karena tidak mendapatkan respon darinya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Helena dengan ketus.
"Maafkan aku." Pria itu kembali meminta maaf pada Helena dengan wajah bersalah.
"Lain kali, jangan berlarian di rumah sakit. Ini bukan taman bermain."
Helena melangkah maju ke arah lift dengan wajah kesal meninggalkan pria yang masih berdiri mematung di tempatnya sambil menatap ke arahnya
"Baik, Nona. Sampai jumpa lagi."
Helena hanya menatap angkuh pria itu. "Siapa juga yang ingin berjumpa denganmu lagi. Membuatku kesal saja." Helena buru-buru menekan tombol di lift agar pintunya segera tertutup.
"Kita lihat saja nanti." Setelah pintu lift tertutup, senyum tipis tersungging di wajah pria itu.
Setelah tiba di depan ruangan VIP, Helena langsung membuka pintu ruangan ini dan berjalan masuk ke dalam dengan wajah angkuhnya. "Di mana Sean? Kenapa kau sendirian?" tanya Helena sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Dia sedang berada di bawah," jawab Claire lembut.
Helena berdiri tepat di samping Claire lalu membuka kacamata hitamnya dengan wajah angkuhnya. "Sean, bilang ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Iyaa," jawab Claire lembut.
"Kau pikir siapa dirimu bisa memanggilku seenaknya?" ujar Helena dengan ketus.
Claire tersenyum melihat wajah kesal Helena. Dia baru menyadari satu hal tentang Helena. Meskipun dia selalu bersikap angkuh dan sombong, tetapi setidaknya dia masih memiliki kebaikan hati sedikit. Sebenarnya, Claire tidak menduga kalau Helena akan menolongnya kemarin, tapi ternyata dia mau membawanya ke rumah sakit bahkan dia mengendara dengan cepat agar bisa menyelematkan bayinya.
Selama ini, Helena memang membenci dirinya, tetapi Helena tidak pernah sekalipun mencelakainya. Tidak seperti, Casandra, Aletha dan teman-temannya. Helena cendrung mengintimidasinya dengan kata-kata pedasnya. Kebenciannya, tidak membuat Helena hingga gelap mata seperti Casandra.
"Aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menyelematkan bayi dalam perutku," jelas Claire dengan lembut, "aku tahu, aku tidak akan bisa membalas kebaikanmu ini, tapi aku akan berusaha untuk memenuhi keinginanmu. Katakan saja apa yang kau inginkan dariku sebagai balas budi karena sudah menolongku kemarin."
Helena duduk dengan malas di kursi samping tempat tidur Claire sambil menyilangkan kakinya. "Kalau aku meminta suamimu, apa kau akan memberikannya padaku?" tanya Helena angkuh.
"Tidak untuk yang satu itu. Aku tidak bisa memberikan Sean karena dia bukan barang. Aku sangat mencintainya, Helena. Lagi pula, Sean tidak mencintaimu. Percuma saja kau mengharapkannya."
__ADS_1
Helena mencibir. "Kau pikir mudah untuk melupakan orang yang sedari dulu kau sukai? Sean adalah cinta pertamaku. Bagaimana bisa aku menyerah begitu saja. Kau saja yang baru mengenalnya tidak bisa melepasnya, apalagi aku yang sudah menyukainya dari dulu."
Claire masih tersenyum. "Aku sudah mengenalnya sejak kecil, Helena," ungkap Claire, "aku hanya ingin kau menerima kenyataan yang ada. Jika Sean memang tertarik padamu, sudah lama dia menjadikanmu kekasih, tapi nyatanya dia memang tidak mencintaimu. Aku yakin kau pasti akan menemukan pria baik yang bisa mencintaimu nanti."
Helena mendesis dengan wajah sinisnya. "Tidak akan ada pria yang bisa membuatku jatuh cinta selain Sean. Dia itu pria satu-satunya yang bisa membuatku bahagia."
Claire terlihat sangat tenang saat menghadapi sikap keras kepala Helena. "Itu karena kau belum bertemu dengan pria yang tepat." Claire meraih sebuah map di atas meja nakas lalu menyodorkannya pada Helena, "ini lihatlah. Mungkin ini tidak sebanding dengan pertolonganmu kemarin, tapi setidaknya kau bisa menerima niat baikku."
Helena menatap map yang ada di tangan Claire. "Apa ini?" Helena terlihat belum mau menerima map tersebut dan hanya memandangnya dengan enggan.
Claire menaruh map itu ke pangkuan Helena. "Bukalah. Kau akan tahu apa isinya."
Helena menunduk lalu membuka map itu dan dia terlihat terkejut setelah melihat isinya. "Bukankah ini...."
"Itu berkas pemindahan sahamku yang ada di perusahaan JK Group."
Helena menutup map itu lalu menatap Claire. "Kau memberikan saham ini agar aku mau menjauhi Sean? Kau pikir bisa membeliku dengan saham ini?" Helena terlihat marah pada Claire.
"Helena, maafkan aku kalau sudah membuatmu tersinggung. Jangan salah paham dulu. Aku tidak bermaksud begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan Sean. Ini hanya sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah menyelamatkan anakku. Janin dalam perutku ini lebih berharga dari apapun di dunia ini dan kau yang sudah menyelamatkannya. Terlepas dari ini, kalau kau masih ingin mendekati Sean, itu terserah padamu, tapi aku hanya akan menegaskan sesuatu, bahwa Sean tidak akan mencintaimu. Percuma saja kau membuang waktumu demi dia."
Helena terlihat diam sambil berpikir.
"Aku tahu perusahaan ayahmu sedang dalam krisis. Kau bisa menggunakan ini untuk membantu perusahaan ayahmu," lanjut Claire lagi.
"Kau menyelidiki keluargaku?" Mata Helena terlihat membesar.
"Tidak. Sean yang memberitahuku."
Claire tidak mau memaksa lagi. Dia tahu kalau Helena memiliki harga diri yang tinggi. "Baiklah, jika kau memerlukan bantuanku atau jika suatu saat kau memiliki kesulitan yang tidak bisa kau hadapi terutama di kota A. Katakan saja padaku. Aku akan membantumu."
Helen mendesis lalu berkata, "Ternyata kau tidak mau memiliki hutang budi sedikitpun padaku. Apa kau takut aku akan merebut suamimu nanti karena hutang budi ini?"
Claire tersenyum. "Tidak. Aku tidak takut karena aku tahu kalau Sean hanya mencintaiku."
Helena mendesis kembali dengan wajah sinis. "Dengar Claire, aku menolongmu kemarin bukan karena ingin memanfaatkan hutang budimu padaku. Aku menolongmu karena itu menyangkut dengan nyawa seseorang, meskipun aku membencimu, tapi aku bukanlah wanita berhati dingin yang tidak memiliki rasa kemanusian sedikitpun."
"Aku tahu, Helena. Maka dari itu, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menolongku dan anakku."
Helena menghela napas lalu memakai kembali kacamata hitamnya. "Sudahlah, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan lagi padaku, aku akan pergi sekarang."
"Baiklah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan anakku."
Saat Helena akan berbalik, pintu kamar Claire terbuka. Helena kembali terkejut ketika melihat orang yang membuka pintu. "Kau... kenapa bisa ada di sini? Kau mengikutiku ya?" ujar Helena pada pria yang sedang tersenyum sambil berjalan ke arahnya.
"Sudah aku bilang kalau kita akan bertemu lagi, Nona Helena." Pria itu tersenyum misterius pada Helena.
"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Helena, namun tidak dijawab oleh pria itu.
__ADS_1
"Kalian saling mengenal?" Claire memandang Helena dan pria itu secara bergantian.
Helena menoleh Claire dengan wajah terkejut. "Tidak," jawab Helena cepat, "memangnya kau mengenalnya?"
Pria itu hanya tersenyum penuh arti pada Helena.
"Namanya Wild. Dia adalah mantan kekasihku.".
"Apa? Mantan kekasihmu?" Helena nampak sangat terkejut mendengar ucapan Claire.
"Iyaa, kenapa?" tanya Claire dengan wajah heran.
"Kalau kau memiliki mantan kekasih setampan dia, kenapa kau justru menikah dengan Sean?"
Claire dan Wild tersenyum mendengar pertanyaan konyol Helena. "Akan aku anggap ini sebagai pujian, Nona Helena," ucap Wild dengan senyum tipisnya.
"Jangan tersenyum sepert itu. Kau sengaja ingin menggodaku ya?" ujar Helena dengan kesal.
Claire mengulum senyumnya diam-diam melihat perdebatan mereka berdua.
"Aku bukanlah pria penggoda, Nona Helena. Aku pria baik-baik. Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku tanpa menggodamu."
"Kau memang tampan, tapi kepercayaan dirimu itu tinggi sekali."
"Aku bukanlah pria yang buruk. Kenapa kau tidak mencoba untuk mengenalku lebih dalam dari pada kau mengejar pria yang sudah berisitri. Sayang sekali wanita secantik dirimu jika melakukan itu."
Helena mencibir dengan wajah masam. "Memangnya kau tidak sama denganku? Kau datang ke sini menjenguk mantan kekasihmu, bukankah karena kau masih mencintainya dan berharap masih bisa kembali dengannya?"
Wild memasukkan tangannya di saku celana lau menatap ke bawah sebentar sambil tersenyum, setelah itu mengangkat kepalanya menatap Helena dengan yakin.
"Aku sudah menyerah saat tahu dia mencintai Sean dan sedang mengandung anaknya. Aku ke sini sebagai teman. Teman yang mengkhawatirkan keadaannya," terang Wild dengan tenang, "lalu bagaimana denganmu Nona Helena, apa yang membuatku datang kemari? Bukankah hubunganmu dengan Claire tidak baik selama ini?"
Helena menatap Wild dengan wajah kesal. Dia merasa kesal karena pria di depannya itu sepertinya sudah mengetahui tentang dirinya. "Dia yang memanggilku ke sini. Kau pikir aku datang ke sini untuk mencelakainya?" ujar Helena, "meskipun aku tidak menyukainya, tapi aku tidak pernah berniat mencelakainya. Kau pikir aku wanita jahat seperti Casandra?"
Claire akhirnya angkat bicara untuk menengahi perdebatan mereka berdua. "Wild, Helena yang sudah menyelamatkan anakku."
"Benarkah?"
"Iyaa," jawab Claire.
Wild menoleh pada Claire kemudian beralih pada Helena. "Tidak aku sangka Nona Helena selain cantik, juga baik hati, meskipun dari luar terlihat angkuh."
Mendengar itu, Helena mengangkat dagunya dengan angkuh dan menatap Wild dengan wajah kesal. "Memang apa pedulimu? Jangan mengkritikku jika kau tidak tahu apa-apa tentangku."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling mengenal satu sama lain?"
"Tidak. Terima kasih. Aku sangat sibuk. Tidak memiliki waktu untuk berkenalan denganmu."
__ADS_1
Claire diam-diam hanya mengulum senyumnya melihat perdebatan mereka berdua.
Bersambung...