
Setelah semuanya duduk di dalam kamar Claire, ibu Sean langsung membuka suaranya. "Sekarang jelaskan pada ibu, kenapa kau bisa berada di dalam kamar hotel ini bersama dengan pria ini? Ada hubungan apa kau dengannya?"
Mendengar itu, Helena langsung menyela. "Bibi Kate, dia tidak mungkin mau mengakui hubungan gelapnya dengan pria ini. Dia pasti akan berbohong."
Ibu Sean menoleh sebentar pada Helena kemudian berkata, "Helena, biarkan Claire berbicara dulu. Aku ingin mendengar jawaban darinya."
Helena nampak kesal karena ibu Sean masih ingin memberikan kesempatan pada Claire untuk menjelaskannya semuanya. "Ibu, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Sean juga mengenal siapa Jack sebenarnya. Dia sudah seperti kakakku."
"Bibi, jangan percaya dengan ucapannya. Dia pasti berbohong," sela Helena lagi.
"Claire, ucapan tanpa bukti yang kuat hanyalah isapan jempol belaka. Semua orang bisa mengarang cerita jika berada dalam keadaan terdesak."
"Claire, biar aku yang menjelaskannya. Kau diam saja." Jack tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi melihat Claire disudutkan terus-menerus.
"Nyonya Kate, perkenalkan, namaku adalah Jack. Aku berasal dari kota A dan aku bekerja di keluarga tuan Zeno. Anda pasti pernah mendengar nama itu, bukan? Aku rasa nama itu tidak asing bagi Anda."
Ibu Sean mengerutkan keningnya saat mendengar nama ayah Claire. "Tuan Zeno, pemilik dari perusahaan JK Group?" tebak Ibu Sean dengan wajah terlejut.
"Benar, aku adalah salah satu orang kepercayaan tuan Zeno."
"Lalu apa hubungannya dengan masalah saat ini?"
"Kak ...." Claire terlihat menggelengkan kepalanya. "Biar aku saja yang ...."
"Diamlah. Sudah aku bilang dari awal, kau harusnya memberitahu keluarga suamimu mengenai hal ini agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari." Jack berbicara dengan tegas sehingga membuat Claire langsung terdiam.
"Nyonya Kate, sebenarnya Claire adalah anak dari tuan Zeno dan nyonya Rosalie. Claire adalah putri tunggal sekaligus penerus dari JK Group dan aku adalah pengawal pribadi, Nona Claire."
"Apa??" Di dalam ruangan itu, Helena yang nampak sangat terkejut hingga tidak bisa mengontrol nada bicara sehingga berucap dengan suara keras. "Tidak mungkin. Mana mungkin dia putri dari pemilik perusahaan JK Group. Dia hanyalah gadis desa. Kau pasti sedang mengarang cerita, kan?"
Ibu Sean terlihat menatap Claire dengan wajah tidak percaya. "Ibu maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan identitasku yang asli. Aku ...."
"Apa Sean juga tahu mengenai hal ini?" potong Ibu Sean dengan cepat.
"Iyaa, tapi Sean belum lama mengetahui hal ini. Hanya Kakek yang dari awal yang sudah mengetahui identitasku yang asli."
__ADS_1
"Bohong ...." pekik Helena dengan suara tinggi. "Bibi, dia pasti berbohong. Jangan percaya padanya. Tidak mungkin dia berasal dari keluarga itu."
"Nona Helena, tolong jangan ikut campur. Kau hanyalah orang luar di sini," ucap Jack dengan tegas.
"Memangnya kau tidak?" Helena menatap tajam pada Jack, tapi diabaikan olehnya.
"Selain Sean dan kakeknya, siapa lagi yang sudah mengetahuinya?" tanya Ibu Sean lagi dengan wajah tenangnya.
"Felix," jawab Claire cepat.
"Jadi, kau adalah anak perempuan yang pernah diselamatkan oleh Sean sewaktu kecil?"
Claire menunduk dengan wajah bersalah. "Iyaa, Ibu. Aku adalah anak perempuan itu. Maafkan aku karena tidak memberitahu Ibu lebih dulu sehingga membuatmu salah paham."
Ibu Sean tidak menjawab, melainkan langsung berdiri dan pergi dari kamar Claire. "Rasakan itu. Kau sudah menipu bibi Kate. Dia tidak akan memaafkanmu." Helena kemudian pergi menyusul ibu Sean setelah mengatakan itu.
Sebelum pintu kamar tertutup, Claire berjalan cepat dan melewati Helena begitu saja. "Ibu, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Ibu berhak marah padaku, tapi tolong jangan mendiamkan aku," ucap Claire sambil meraih tangan ibu Sean.
"Claire, ibu tidak marah denganmu. Ibu hanya kecewa padamu. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, tetapi kau merasahasiakan hal sebesar ini dari ibu."
"Ibu, aku tidak akan mencari pembenaran atas kesalahanku ini. Aku memang salah. Tolong hukum aku jika memang aku sudah menyakiti hati Ibu."
Belakangan ini hubunganya mereka memang sudah sangat dekat dan itu membuat Claire merasa seperti mendapatkan pengganti ibunya setelah sekian lama berjauhan dengan orang tuanya.
"Claire, kembali ke kamarmu. Ibu lelah dan ingin beristirahat. Kita bicara lagi besok."
Claire akhirnya tidak lagi mencegah kepergian ibu mertuanya. Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. "Makanlah sebelum tidur. Jangan sampai sakit. Aku pergi dulu. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Jack sambil berdiri.
Tidak lama setelah kedatangan Helena dan Ibu Sean, makanan yang dipesan oleh Jack juga datang. Claire hanya meminta petugas hotel untuk meletakkanya di atas meja setelah itu meminta ibu mertuanya dan Helena untuk bicara di dalam kamarnya.
"Terima kasih, Kak," ucap Claire dengan wajah lesu.
Setelah kepergian Jack. Claire pergi ke kamar mandi dan keluar setelah 30 menit kemudian. Karena merasa lelah, Claire langsung naik ke tempat tidur lalu mengecek ponselnya. Tidak ada satu pesan dari Sean.
Setelah menutup telpon kemarin malam, Sean belum menghubunginya atau sekedar mengirimkan pesan padanya. Sebenarnya, Sean memang tidak pernah mengirimkan pesan pada Claire semenjak mereka menikah, begitupun sebaliknya. Mereka tidak pernah berkomunikasi, selain jika ada kepentingan.
__ADS_1
Setelah termenung beberapa saat, Claire akhirnya menghubungi ponsel Sean, tapi tidak aktif. Akhirnya, Claire memutuskan untuk tidur.
********
Claire membunyikan bel kamar ibu mertuanya setelah sampai di depan pintu kamarnya. Dia ingin tahu apakah ibu mertuanya masih marah atau tidak padanya. "Ibu," sapa Claire dengan lembut saat pintu kamar sudah terbuka.
"Ibu mengenai semalam, aku ...."
"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi. Lebih baik kita pergi sarapan."
Ibu Sean lalu maju beberapa langkah kemudian menutup pintu kamarnya. "Ibu, sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Claire sambil melangkah menuju lift.
"Ibu tidak marah. Ibu yakin kau memiliki alasan tersendiri kenapa kau menyembunyikan identitasmu. Apalagi, kakek Sean juga terlibat. Ibu tidak bisa menyalahkanmu, sementara Sean juga melakukan hal yang sama padamu yaitu menyembunyikan pernikahan kalian."
"Terima kasih, Ibu. Maaf karena sudah menyembunyikan identitasku selama ini."
Selesai sarapan, Claire kembali ke kamarnya dan menghubungi seseorang. "Kenz, kenapa ponsel Sean tidak bisa dihubungi?" tanya Claire setelah panggilan telponnya diangkat oleh asisten Sean.
"Tuan Muda sedang sibuk Nyonya Muda. Nomer ponselnya tidak akan aktif selama beberapa hari ke depan. Apakah ada hal penting yang ingin Nyonya Muda sampaikan pada Tuan Muda?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran kenapa ponselnya tidak aktif."
Selesai menelpon asisten Sean, ponselnya berbunyi. "Halo Carl, bagaimana?"
"Seperti yang dikatakan oleh Wild. Dia memang berada di negeri Paman Sam bersama dengan seorang wanita. Dia menginap di hotel yang bersebelahan dengan apartemen wanita itu," ucap pria yang sedang berbicara dengan Claire di telpon.
"Apa wanita itu, wanita yang sama dengan yang pernah aku minta kau selidiki?"
"Iyaa."
Claire menutup matanya sebentar sambil menarik napas dalam. "Baiklah, terima kasih. Kau tidak perlu menyelidikinya lagi." Claire memutuskan panggilan telponnya lalu termenung selama beberapa saat.
Kau pernah menyelamatkan hidupku sekali, Sean, maka dari itu, aku akan memberikanmu satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku harap kau tidak menyakiti aku.
Bersambung...
__ADS_1