
Ketika Sean memasuki ruangan Claire, dia melihat istrinya sedang duduk bersandar sambil tersenyum. "Sayang, kenapa kau tersenyum sendiri?" Sean menghampri istrinya lalu duduk di tepi ranjang.
"Tidak ada apa-apa." Claire seketika teringat akan sesuatu, "Sean, bagaimana Casandra? Apa sudah diketahui bagaimana keadaannya?"
Sean menggeser sedikit duduknya menghadap istrinya. "Sudah. Saat ini dia sedang berada di rumah sakit kota N. Saat kecelakan terjadi, dia langsung ditolong oleh warga sekitar, tapi dia mengalami luka yang serius. Dia dalam keadaan kritis saat ini. Kemungkinan untuk bertahan sangat kecil, kalaunpun dia bisa selamat dia akan koma ataupun cacat seumur hidup. Kepala dan kakinya mengalami luka yang sangat serius dan dia terancam lumpuh."
Claire langsung menutup mulutnya dengan mata membesar. "Aku tidak menyangka dia akan berakhir seperti itu."
"Sudahlah. Jangan membahasnya lagi."
Claire akhirnya mengangguk lalu meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian menatap serius pada suaminya. "Sean, tadi Wild ke sini," ucap Claire dengan hati-hati.
Mendengar nama saingannya, wajah Sean langsung mengeras dan ekspresi wajahnya menjadi dingin. "Bukankah kau bilang tidak akan menemuinya tanpa sepengetahuanku? Claire, kau sudah berjanji akan membuka lembaran baru denganku, tapi kenapa kau masih berhubungan dengannya?"
Claire sudah menduga kalau reaksi Sean akan seperti itu, makanya dia berbicaranya dengan hati-hati agar Sean tidak salah paham. "Sean, dengarkan aku dulu. Dia datang ke sini tanpa memberitahuku. Setelah mendengar aku masuk rumah sakit, dia langsung ke sini. Lagi pula, aku tidak bertemu dengannya berdua saja. Ada Helena juga tadi di sini," jelas Claire sambil memegang lengan suaminya.
Sean nampak terdiam dengan sorot mata dingin. "Dia bilang tadi ingin bicara denganmu juga, tapi tiba-tiba dia mendapatkan telpon dari Gretta, jadi dia langsung pergi tanpa menemuimu dulu," sambung Claire lagi dengan wajah cemas ketika melihat Sean masih diam.
"Wild sudah menyerah saat dia mengetahui kalau aku sedang mengandung anakmu. Dia bilang akan melepasku jika aku bisa hidup bahagia denganmu," ungkap Claire, "Sean, aku sungguh sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya."
Sean menghilangkan wajah dinginnya lalu menatap kembali istrinya. "Jangan pernah menemuinya lagi tanpa sepengetahuanku. Kau seharusnya tahu kalau aku tidak menyukainya."
Claire mengangguk sambil tersenyum. "Iyaaa, aku mengerti. Dia bilang akan kembali lagi besok untuk berbicara denganmu."
"Hhhmmmm."
Claire kemudian berbaring dan meminta suaminya ikut berbaring di sampingnya. "Bagaimana dengan konsultasimu?" tanya Claire setelah mereka sama-sama berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Sean memeluk istrinya dari belakang seraya mengusap perut istrinya dengan penuh kasih sayang. "Dokter bilang akan menghilang sendiri. Gejalanya akan berkurang setelah memasuki trimester kedua. Dia hanya memberikan aku obat sakit kepala dan pereda mual jika aku masih mengalami mual setiap pagi," terang Sean.
Sean baru saja pergi berkonsultasi dengan Dokter kandungan masalah dia mengalami gejala hamil. Dan, Dokter menjelaskan kalau Sean terkena couvade syndrome atau kehamilan simpatik, di mana suami yang merasakan tanda-tanda kehamilan seperti mual, muntah, sakit kepala, perubahan suasana hati dan lainnya.
Claire tersenyum. "Kalau begitu, bersabarlah. Ini mungkin akan sedikit menyiksamu, tapi kau harus tetap menjalaninya."
"Iyaaa, aku tahu. Mungkin anak kita marah padaku karena aku sering mengabaikanmu, tapi sejujurnya, aku tidak pernah berniat mengabaikanmu. Aku hanya tidak bisa mengekspresikan perasaan cintaku padamu, terlebih lagi, waktu itu aku mengira kalau kau tidak mencintaiku jadi aku hanya bisa memendamnya saja."
Claire berbalik lalu memeluk suaminya dari depan. "Iyaa, seharusnya aku juga tidak bersikap acuh tak acuh padamu. Waktu itu aku belum memahami dirimu jadi aku pikir kau membenciku. Apalagi, sikapmu selalu dingin padaku jadi aku juga tidak mau mencoba untuk dekat denganmu."
Sean mempererat pelukannya. "Claire, kau tahu? Setelah aku menemui Casandra, aku sudah bertekad untuk memperbaiki hubungan kita. Aku sangat senang saat kau mengajakku untuk berbulan madu, terlebih sikapmu waktu untuk sangat hangat dan lembut padaku. Aku pikir kau sama sepertiku, ingin memperbaiki hubungan kita. Ternyata aku salah, kau justru meninggalkanku disaat aku sudah sangat mencintaimu. Saat kau hilang, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku bahkan hampir menghancurkan Wild karena aku pikir dia yang membawamu pergi. Aku tidak tahu kalau kau melakukan itu karena kesalahanku," ungkap Sean.
"Biarkan itu menjadi masa lalu dan menjadi pelajaran untuk kita berdua. Kedepannya aku harap kita bisa saling terbuka."
"Hhhmm." Sean mengangguk seraya membelai rambut istrinya. "Sayang, kapan kita bisa melihat jenis kelamin anak kita?"
"Baiklah, aku akan menunggu."
Claire melepaskan pelukannya dan mendongak ke atas menatap Sean. "Kau ingin anak perempuan atau laki-laki?"
"Akan lebih lucu kalau memiliki anak perempuan, tapi jika nanti yang lahir anak laki-laki dulu, itu juga bagus. Dia bisa menjaga adik-adiknya nanti."
"Memangnya kau ingin memiliki anak berapa?"
"Aku ingin anak yang banyak. Keluarga kami dari dulu sangat sulit memiliki anak. Untuk mendapatkanku saja, orang tuaku sampai harus melakukan program bayi tabung ke luar negeri. Sebelum aku lahir, mereka sudah melakukan program bayi tabung sebanyak 15 kali dan semuanya gagal. Hanya aku yang berhasil. Makanya, setelah aku lahir, keluarga Louris mengadakan perayaan sangat besar dan mengundang banyak anak dari panti asuhan. Perayaan besar itu dilakukan selama beberapa hari."
"Luar biasa." Claire terkesiap mendengar penuturan suaminya, "itukah sebabnya ibu tidak pernah memarahimu karena kau sangat sulit didapatkan?"
__ADS_1
"Hhhhmmm," gumam Sean sambil mengangguk, "Ibu dan kakek yang selalu membelaku jika aku melakukan kesalahan, berbeda dengan ayahku, dia sangat keras padaku sedari aku kecil karena aku satu-satunya harapan keluarga Louris jadi dia mendidikku sangat keras," ungkap Sean.
"Aku tidak menyangka kau bisa hamil secepat ini. Aku sempat putus asa waktu itu. Aku sudah berusaha untuk membuatmu hamil, tapi kau belum juga menunjukkan gejala hamil. Aku kira, kita akan berakhir seperti orang tuaku, sulit memiliki anak. Saat mengetahui kau hamil, justru anak kita dalam bahaya karena ulah Casandra. Aku hampir saja hilang akal saat itu."
Claire seketika merasa bersalah karena dia tidak berhati-hati dengan Casandra. "Maafkan aku, Sean. Itu karena kecerobohanku karena tidak mewaspadai Casandra."
Sean menarik tubuhnya dengan pelan ketika melihat wajah bersalah istrinya. "Ini bukan salahmu, Sayang. Ini salahku. Casandra seperti itu karena aku."
********
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Sean bertanya pada Wild ketika mereka baru saja duduk di kantin rumah sakit.
"Aku yakin kau sudah mendengar dari Claire kalau aku sudah memutuskan untuk melepasnya." Wild menatap Sean dengan wajah serius.
Dengan wajah datar Sean berkata, "Kenapa? Berubah pikiran?" Nada bicaranya sangat sinis.
Wild tersenyum miring. "Sejujurnya, aku belum bisa melepasnya sampai saat ini. Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama 3 tahun lebih. Tidak mudah bagiku untuk melupakannya. Dia wanita yang sangat istimewa bagiku. Terlalu banyak kenangan indah saat aku menjalin hubungan dengannya jadi sangat sulit untuk melepasnya."
Rahang Sean mengetat mendengar itu, tapi tatapannya masih terlihat tenang. "Kau ke sini sengaja untuk memancing kemarahanku atau kau ingin mengibarkan bendera perang denganku?"
"Aku hanya ingin memperingatkanmu. Aku akan mencoba melepasnya, tapi sekali kau sakiti dia, maka aku akan merebutnya dengan cara apapun."
Sean mendengus dengan wajah dinginnya. "Wild Jeferson, merebutnya dariku, itu hanya akan menjadi mimpi bagimu karena aku tidak akan pernah melepasnya mulai sekarang. Sejak dia mengandung anakku, kesempatanmu sudah tidak ada lagi, jadi lebih baik kau lupakan dia dan cari wanita lain. Selamanya, dia akan menjadi Nyonya Sean Alexander Louris dan nama keluargaku akan selalu melekat di nama belakangnya."
Sean merubah posisi duduknya dengan santai. "Hari ini, aku akan berbaik hati denganmu. Kau boleh menemuinya untuk terakhir kalinya, setelah itu, jangan harap kau bisa bertemu ataupun melihatnya tanpa seijinku."
Bersambung...
__ADS_1