
"Apa kau sudah menemukan di mana keberadaan, Claire?" Sean bertanya pada Kenz ketika dia baru saja masuk ke dalam mobil ketika Kenz menjemputnya di bandara.
"Belum, Tuan Muda. Saya sedang menyebar orang ke seluruh tempat," jawab Kenz sambil melirik ke belakang lewat kaca spion.
Kenz sedikit terkejut ketika pertama kali melihat penampilan bosnya saat keluar dari pintu keluar bandara. Rambut berantakan, wajahnya lesu, baju seadaanya dan kusut. Terlihat seperti orang yang tidak terurus. Tidak ada lagi penampilan rapi, gaya elegan dan berwibawa yang sering dia tunjukkan dalam kesehariannya.
"Bagaimana dengan si brengsek Wild?"
"Saya juga belum menemukan keberadaannya, terakhir kali dia berada di di kota L."
Dahi Sean langsung mengerut kening ketika mendengar itu. "Kota L? Kapan dia berada di kota L?"
"Seminggu yang lalu saat Anda masih di luar negeri."
Sean berpikir sejenak lalu berkata, "periksa apa saja yang Wild lakukan saat berada di kota L."
Kenz menoleh ke belakang sejenak untuk menjawab pertanyaan Sean. "Baik, Tuan Muda." Setelah itu, dia kembali fokus menyetir.
Setibanya di kediaman utama, Sean langsung turun dan berjalan masuk ke dalam. "Sean, kenapa kau sudah pulang?" Ibu Sean langsung menghampiri anaknya ketika melihatnya berjalan menuju lift, "dan, ada apa dengan penampilanmu?" tanya Ibu Sean sambil menatap penampilan Sean dari atas sampai bawah.
Sean berhenti sejenak, menatap ibunya. "Ibu, di mana Claire? Apa dia ada di kamar?"
Mendengar pertanyaan Sean, ibunya langsung mengerutkan keningnya. "Bukankah kalian pergi bersama untuk berbulan madu?" tanya Ibunya dengan wajah heran.
"Claire menghilang, Bu. Dia tidak ada saat aku bangun di pagi hari." Sean terlihat linglung, "mungkin dia sedang di kamar. Aku akan melihatnya dulu."
Saat Sean akan berbalik, ibu Sean berkata, "Sean, Claire tidak ada di kamar. Dia tidak pernah pulang ke sini."
Sean mengabaikan ucapan ibunya dan melangkah menuju lift dan setelah itu berjalan ke kamarnya. Saat dia masuk ke dalam kamarnya, dia tidak melihat keberadaan siapapun di sana. Kemudian melangkah menuju walk in closet dan ternyata juga kosong.
Sean lalu melangkah keluar dan berjalan ke arah ruang kerja. Baru saja dia masuk, pintu ruangan sudah di ketuk seseorang. "Permisi Tuan Muda. Ada paket untukmu."
"Paket?" tanya Sean sambil berbalik dengan wajah heran.
Kenz melangkah maju dan memberikan map berwarna coklat pada Sean. "Seseorang mengirimkan ini ke kantor," jelas Kenz.
Sean segera mengambil dan membuka amplop coklat itu. Ada 2 lembar kertas di dalam amplop itu. Sean meraih salah satu dan membaca setelah itu mengambil kertas satu lagi dan ternyata itu surat gugatan perceraian. Selesai membacanya, Sean langsung merobek surat itu, setelah itu dia membanting kursi yang ada di dekatnya.
"Braaaaak."
"Praaang."
__ADS_1
Sean kembali melampiaskan amarahnya dengan menghacurkan barang-barang di kamarnya. Kenz, memutuskan untuk keluar dari ruangan kerja karena tidak ingin terkena sasaran kemarahan bosnya.
"Kenz, apa yang terjadi dengan Sean? Kenapa dia seperti itu?" Ibu Sean baru saja tiba di depan ruangan kerja Sean bersama dengan kakek Sean ketika Kenz membuka pintu.
"Nyonya muda menghilang dan tuan muda belum bisa menemukannya." Kenz sengaja tidak memberitahu mengenai masalah perceraian karena bukan kewenangannya.
"Kenz, apa terjadi sesuatu dengan mereka ketika sedang berbulan madu? Apa mereka bertengkar?" Kali ini, Kakek Sean yang bertanya dengan wajah cemas.
"Mereka tidak bertengkar, Tuan Besar. Hubungan mereka justru membaik setelah di sana. Bahkan 3 hari yang lalu tuan muda memesan cincin berlian secara khusus untuk nyonya muda dan meminta saya untuk mempersiapkan pesta mewah untuk mengenalkan Nyonya Muda kepada publik sebagai istrinya."
Kakek Sean menghela napas. "Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api."
Di dalam ruangan masih terdengar suara gaduh dan mereka sangat yakin kalau semua barang sudah hancur di dalam saat mendengar suara keras yang terdengar dari dalam ruangan itu.
Karena tidak tahan mendengar suara itu, Ibu Sean akhirnya membuka pintu ruangan kerja itu. "Sean, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghancurkan semua barang-barang ini!" Ibu Sean berbicara dengan nada tinggi.
Sean menoleh pada ibunya. "Bu, kenapa semua meninggalkan aku? Aku baru saja ingin memperbaiki hubungan kami. Dia akhirnya bilang mencintaiku, tapi kenapa dia justru pergi meninggalkan aku? Aku sudah hancur, Bu... hancuur."
Wajah kecewa dan teluka yang semula di tampilkan oleh Sean, seketika berubah menyeramkan. "Aku tidak akan hancur sendiri. Aku akan menghancurkan mereka semua. Semuaaanya." Sean menyeringai setelah itu membanting guci besar yang ada di dekatnya.
"Sean, apa kau sudah tidak waras?? Kau ...."
Dengan wajah frustasi kakek Sam berkata, "Kate, sudahlah. Jangan memarahinya di saat seperti ini. Biarkan dia meluapkan kemarahannya. Setelah kepergian ayahnya dan dikhianati Casandra, dia tidak pernah sekalipun meluapkan perasaannya, entah itu dia sedang marah, sedih, tertekan. Tidak pernah sekalipun dia memperlihatkan pada kita. Aku bahkan khawatir karena dia memendamnya sendiri. Dia bisa gila jika terus memendamnya, Kate."
"Tapi Ayah, dia bisa menghancurkan semuanya. Seharusnya dia berpikir dengan kepala dingin."
"Sekalipun dia ingin menghancurkan rumah ini, biarkan saja. Itu lebih baik dari pada melihatnya memendam perasaannya seperti dulu. Setelah dia tenang, baru kau bisa mengajaknya bicara. Percuma saja kalau kau bicara sekarang."
Setelah berpikir sebentar, ibu Sean lalu berkata, "Baiklah."
Kakek Sean kemudian menoleh pada asisten Sean. "Kenz, tolong awasi Sean."
Kenz membungkuk sejenak. "Baik, Tuan Besar."
*******
Kenz kembali masuk ke dalam ruang kerja setelah keadaan tenang. "Apa mereka belum juga menemukan di mana keberadaannya?" Sean menatap Kenz dengan raut wajah dingin dan sorot mata tajam.
"Belum, Tuan Muda. Mereka masih mencarinya."
Sean memejamkann matanya seraya memijat pangkal hidungnya. "Aku tidak peduli dengan cara apa mereka mencarinya, tapi aku ingin mereka menemukan istriku secepatnya."
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda."
"Bagaimana tentang Wild?"
"Saya sudah menyelidikinya. Tuan Wild bertemu dengan nyonya muda ketika berada di kota L."
Mata Sean langsung terbuka dan nyala api kembali terlihat dalam sorot matanya. "Sudah aku duga. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat aku pergi sehingga dia tiba-tiba ingin bercerai denganku."
Kenz maju selangkah kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. "Ini rekaman CCTV di hotel tempat nyonya muda menginap waktu itu."
Sean mengambil ponsel Kenz lalu memutar vidio CCTV itu. Di dalam vidio itu terlihat Wild dua kali mengantarkan Claire kembali ke hotel. "Praaang." Sean melemparkan ponsel Kenz ke arah lemari kaca yang ada di ruangan kerjanya secara tidak terduga.
Kenz menoleh dengan pelan ke belakang dan melihat ponselnya sudah tergeletak dalam keadaan mati dan layar retak. Kenz tidak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya, meskipun dia melihat ponselnya sudah hancur.
Setelah bisa menguasai dirinya, Sean berkata, "Ganti ponselmu dengan yang baru. Pakai ini." Sean meletakkan sebuah kartu di atas meja.
Kenz lalu maju dan mengambilnya. "Terima kasih, Tuan Muda."
"Di mana lokasi ayah dan ibu mertuaku?"
"Tuan Zeno dan nyonya Rosalie ada di kediaman mereka, Tuan Muda."
"Siapkan pesawat pribadiku sekarang juga. Aku akan pergi ke kota A untuk mengunjungi mereka."
"Apa kita perlu memberitahukan pada tuan besar?"
"Tidak perlu. Jangan membebani kakek."
"Baik, Tuan Muda."
Baru saja Kenz berbalik dan akan melangkah, Sean berbicara lagi, "Tunggu dulu."
Kenz kembali berbalik. "Ada apa, Tuan Muda?"
"Pakaian apa yang cocok aku kenakan untuk menemui ayah dan ibu mertuaku?"
"Hhaaaaah." Kenz menampilkan wajah bingung dan bodohnya setelah mendengar pertanyaan konyol Sean.
"Sudahlah, kau pasti juga tidak tahu. Pergilah. Aku harus bersiap untuk menjemput istriku. Aku yakin dia pasti ada di sana."
Bersambung...
__ADS_1