Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

"Plaaaaaak."


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Helena. Rasa pusing dan telinga berdegung membuatnya hampir saja terjatuh jika tangannya tidak segera menggapai tembok yang berada di samping kanannya.


"Kenapa kau menolak lamaran Tuan Zo? Bukankah sudah aku bilang cuma itu caranya untuk menyelematkan perusahaan kita?" Suara seorang pria berumur sekitar 60 tahun menggema di lorong sebuah hotel di dekat restoran yang berada di lantai 2 sebuah hotel ternama di kota S.


Helena mengangkat kepalanya seraya memegang pipinya yang terasa kebas akibat tamparan pria tersebut. "Ayah, aku tidak bisa menikah dengannya. Dia lebih pantas menjadi ayahku. Aku akan mencari cara untuk menyelamatkan perusahaan kita," ucap Helena dengan suata rendah.


"Dengan apa kau akan membantu perusahaan kita? Menjual dirimu?" hardik Pria yang berada di depan Helena.


Helena tidak berani menatap ayahnya dan hanya bisa menunduk. "Ayah, aku akan bekerja lebih keras lagi. Asalkan mendapatkan uang yang banyak, aku akan melakukanya, meskipun aku tidak tidur, tapi menikah dengan tuan Zo, aku tidak bisa. Pria tua itu sudah beristri dan lagi aku tidak mencintainya."


Ayah Helena berdecak kecal. "Kalau kau tidak mau menikah dengan tuan Zo, kenapa kau tidak menikah dengan Sean saja? Dia memiliki segalanya. Kita tidak akan kesulitan jika kau menikahinya."


Helena mengangkat kepalanya dengan raut wajah tidak berdaya. "Ayah, aku tidak bisa menikahinya. Da tidak mencintaiku. Sudah ada wanita lain yang dia cintai."


Mendengar bantahan dari Helena terus menerus, ayah Helena semakin murka. "Dasar bodoh... bodoh... bodoh. Pakai otakmu!" Ayah Helena terlihat mengetuk kepala Helena berkali-kali dengan jari telunjuknya.


"Jika dia tidak mencintaimu, buat dia jadi milikmu. Peduli apa dia mencintai wanita lain. Sudah dari dulu ayah bilang, cukup jebak dia dan tidur dengannya, maka kau akan bisa menikah dengannya. Kenapa kau tidak pernah mendengarkan ayah?"


Helena berusah tetap sabar menghadapi kemarahan ayahnya. "Ayah, aku akan melakukan apapun untuk selain itu. Selama ini aku sudah menuruti semua keinginan ayah, tapi sungguh aku tidak bisa menjebak Sean. Dari dulu, dia sangat baik denganku. Karirku bisa seperti saat ini atas bantuannya. Bagaimana bisa aku membalas kebaikannya dengan menghianati pertemanan kami. Aku memang mencintainya, tapi aku tidak bisa melakukan hal kotor seperti itu, apalagi dia sangat baik padaku."


Wajah ayah Helena semakin memerah karena marah. "Lalu bagaimana dengan keluarga kita? Kau ingin melihat perusahaan kita bangkrut dan menjadi pengemis dijalanan! Kami membesarkan dan menghabiskan banyak sekali uang untukmu agar suatu saat kau bisa membantu kami. Bukannya terus melawanku."


"Ayah, aku tidak bisa melakukan hal seperti itu. Sean dan keluarganya sangat baik padaku."


Ayah Helena menghembuskan napas kasaranya. "Kalau begitu menikah saja dengan tuan Zo. Meskipun tua, tapi dia juga memiliki banyak uang. Dia bisa membantu perusahaan kita agar tidak bangkrut atau kalau tidak minta saja bantuan pada Sean. Kau bilang hubungan kalian sangat baik. Bahkan rumor kalian berkencan sudah santer terdengar di kota S. Kenapa tidak memanfaatkan kedekatanmu dengannya?"


Hubungan mereka memang baik. Kalau dulu sebelum Sean menikah, mungkin Helena bisa meminta tolong pada Sean, tapi sekarang sudah berbeda. Dia sudah menikah dengan Claire. Dia tidak mauenjatuhkan harga dirinya di depan Claire.


"Ayah, tolong kali ini jangan paksa aku. Aku tidak mau menikah dengan tuan Zo dan juga tidak bisa melibatkan Sean pada dengan urusan keluarga kita. Relakan saja perusahaan Ayah. Aku masih bisa bekerja sebagai model. Aku akan menghidupi kalian semua. Aku janji akan bekerja sangat keras agar kalian tidak hidup susah," mohon Helena dengan wajah mengiba.


Ayah Helena mendecak kesal. "Dasar tidak berguna! Sia-sia saja aku membesarkanmu dengan kemewahan, tapi kau bahkan tidak bisa melakukan hal kecil seperti ini. Aku tidak akan melepaskan perusahaanku. Jika kau tidak mau meminta bantuan pada Sean, aku akan tetap menikahkanmu dengan tuan Zo. Jika kau berani macam-macam. Aku akan menjualmu pada bos besar yang memiliki banyak uang."

__ADS_1


Helena langsung berlutut di kaki ayahnya untuk memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya. "Ayah, aku mohon jangan lakukan itu. Aku akan mencari cara lain untuk menyelamatkan perusahaanmu. Beri aku waktu 2 minggu."


Ayah Helena menepis tangan Helena yang sedang memegang lengan bajunya. "Tidak bisa! Bahkan jika kau menjual dirimu, itu tidak akan bisa membantu perusahaanku. Menikah saja dengan tuan Zo. Dia sudah berjanji untuk membantu perusaan kita jika kau menikah dengannya."


"Ayah aku tidak mau," ucap Helena seraya menggelengkan kepalanya dengan kuat


"Jangan membantah ayah. Cepat bangun! Kita temui tuan Zo lagi di kamarnya. Lakukanlah apa yang harus kau lakukan. Kalau perlu rayu dia agar dia mau memberikan suntikan dana yang besar di perusahaan kita." Ayah Helena berusaha membangunkan Helena dan menyeretnya dari lorong menuju lift.


"Ayah, tolong. Jangan paksa aku. Aku tidak mau menikah dengan tuan Zo." Helena berusaha untuk melepaskan tarikan tangan ayahnya, tetapi tidak bisa.


Saat mereka akan tiba di depan lift, tanpa di duga, Helena melihat Wild sedang berdiri di dekat kamar yang tidak jauh dari lift. Helena hanya bisa menunduk, berpura-pura tidak melihatnya bisa dan hanya bisa mengikuti ke mana ayahnya menariknya.


"Tunggu!" Suara tegas Wild berhasil menghentikan langkah ayah Helena dan membuatnya berbalik dan menatap heran padanya.


"Anak muda, apa kau sedang berbicara denganku?" Ayah Helena terlihat menatap Wild dengan wajah tidak senang.


Wild melangkah mendekati Helena dan ayahnya. Sebelum menjawab pertanyaan ayah Helena, Wild lebih dulu menatap wajah Helena setelah itu kembali menatap ayahnya. "Ke mana kau akan membawanya pergi?"


Helena menatap ke arah Wild sejenak lalu membuang wajahnya ke samping. "Tidak."


Setelah mendengar itu, ayah Helena menatap ke arah Wild kembali. "Anak muda, ini bukan urusanmu, jadi lebih baik jangan campuri urusanku."


Wild terlihat tenang, tapi sorot matanya menjadi tajam. "Jika aku membantu masalah perusahaanmu. Apa kau akan melepaskanya?" Wild menatap Ayah Helena setelah itu menatap ke arah Helena yang terlihat sedang menatap juga ke arahnya dengan wajah terkejut.


"Apa maksudmu?" tanya Ayah Helena dengan wajah bingung.


"Bukankah kau bilang kau butuh dana? Aku bisa memberikannya padamu, tapi lepaskan Helena. Jangan mengganggunya lagi."


Wajah ayah Helena semakin bingung. "Jangan bermain-main denganku. Lebih baik kau pergi. Aku sedang terburu-buru." Ayah Helena berbalik dan kembali menarik tangan Helena. "Ayo, temui tuan Zo. Dia pasti sudah menunggu di kamarnya."


Saat akan melangkah, tangam ayah Helena ditahan oleh Wild. "Tunggu dulu!"


"Jangan ikut campur urusanku," ucap Helena sebelum ayahnya semakin marah, tapi terlambat, ayah Helena sudah berbalik dengan wajah marah.

__ADS_1


"Jika aku berani menghen...."


"Ini kartu namaku. Lihat dulu agar kau tahu siapa aku." Wild menyodorkan kartu namanya pada ayah Helena sebelum ayah Helena sempat meluapkan kemarahannya.


Ayah Helena terlihat menatap ke arah kartu yang ada di hadapannya lalu beralih pada Wild.


"Kau akan menyesal jika tidak melihatnya," lanjut Wild lagi sambil menggerakkan kartu nama di tangannya.


Perlahan, pegangan tangan ayah Helena mulai mengendur, dia kemudian meraih kartu nama yang disodorkan oleh Wild dan saat melihatnya, pupil mata ayah Helena membesar. "CEO City Corp, Wild Jeferson." Ayah Helena membaca dengan pelan kartu nama di tangannya itu.


"Jadi kau anak dari keluarga Jeferson, pemilik City Corp yang berasal dari kota A?" Ayah Helena menatap Wild dengan wajah terkejut.


"Benar," jawab Wild dengan wajah datarnya.


Wajah ayah Helena seketika berubah menjadi ramah. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau adalah Wild Jeferson. Aku sering mendengar namamu, hanya tidak pernah melihat wajahmu. Sekali lagi aku minta maaf."


Tentu saja ayah Helena tahu siapa keluarga Wild hanya dengan mendengar namanya. Ayah Wild terkenal sebagai orang paling berpengaruh di kota A dan perusahaan mereka menduduki peringkat pertama di kota A setingkat lebih tinggi dari perusahaan ayah Claire.


Wild terlihat menatap malas pada ayah Helena mendengar ucapan basa-basinya. Setelah tahu siapa dirinya, sikap ayah Helena langsung berubah menjadi senanh. "Bagaimana tawaranku tadi?"


Ayah Helena tersenyum lebar. "Tentu saja aku tidak akan menolaknya. Bagaimana bisa aku menolak kebaikan hatimu." Ayah Helena kemudian menoleh pada anaknya, "kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau mengenal tuan muda Jeferson. Kita tidak perlu repot-repot menemui tuan Zo kalau kau memberitahu ayah dari awal."


Helena hanya diam, tidak menanggapi ucapan ayahnya. Dia menatap ke arah Wild dengan wajah bingung. Mereka tidak dekat, bahkan tidak saling mengenal secara pribadi, tapi kenapa dia mau menolongnya.


"Kau bisa menghubungiku mengenai masalah perusahaanmu," ucap Wild dengan wajar datar, "sekarang, bisakah aku membawa Helena bersamaku?"


Ayah Helena mengangguk dengan cepat seraya tersenyum lebar pada Wild. "Tentu saja bisa. Silahkan bawa saja dia."


Ayah Helena menoleh pada anaknya, "Helena, karena Tuan Muda Jeferson sudah mau membantu kita, maka kau harus berprilaku baik padanya. Akhirnya kau berguna juga. Ingat, jangan sampai menyinggungnya. Lakukan apa saja yang dia mau. Senangkan dia. Hanya ini caranya jika kau tidak mau menikah dengan tuan Zo," bisik Ayah Helena dengan suara yang sedikit ditekan.


Helena hanya bisa diam, tanpa bisa menolak permitaannya. "Tuan Jeferson, silahkan bawa dia. Tidak perlu terburu-buru. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan bebas," ucap Ayah Helena seraya mendorong Helena ke arah Wild.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2